Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 44



Cup


Sebuah kecupan di pipi bergantian Umi Dahlia dan Adhisti rasakan saat mereka berada dapur, kemudian sebuah suara yang sangat nyaring terdengar. "Aku berangkat ngampus dulu ya, Umi, Mbak, Assalamualaikum."


"Deek, salim dulu," protes Umi Dahlia.


Delia menurut, ia cium kedua wanita yang sangat gadis itu sayangi. "Assalamualaikum, Umiku, Mbakku."


"Waalaikumsalam,"


Adhisti tiba-tiba meringis, sebuah tendangan yang lumayan kuat ia rasakan.


"Kenapa, Nduk?" Umi Dahlia yang tengah memisahkan daun bayam dari tangkainya, langsung dilanda rasa khawatir.


"Gak papa, Umi. Cuma kaget, nendangnya kenceng banget."


"Umi kirain udah ada kontraksi, Nduk." Wanita bergamis coklat itu memberikan segelas air putih untuk sang menantu.


Bisa Umi Dahlia lihat kaki dan tangan menantunya semakin membengkak, sudah seminggu Umi Dahlia memperhatikan kaki Adhisti. Istri Abi Faruq itu pun sudah memberikan beberapa tips agar bengkaknya bisa hilang, akan tetapi bukannya hilang bengkaknya malah semakin membesar.


Adhisti sudah susah beraktivitas, untuk jalan saja harus ada benda yang menjadi pegangan. Sendal jepit yang talinya longgar pun tak masuk di kaki Adhisti.


Umi Dahlia bahkan menghubungi nomor pribadi dokter Nanda untuk menanyakan hal itu, akan tetapi jawaban dari dokter Nanda tak bisa menepis rasa khawatirnya begitu saja.


Hingga malam harinya Raka mendapatkan telepon dari dokter Nanda jika besok Adhisti sudah bisa melakukan operasi SC, Dokter Nanda juga menyarankan agar Raka segera menghubungi pihak PMI serta komunitas thalassemia untuk menyediakan beberapa kantong darah untuk berjaga-jaga jika keadaan Adhisti membutuhkan banyak darah.


Semalaman suntuk Raka tak bisa tidur, kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran terus menghantuinya. Sebentar saja ia terpejam mimpi buruk akan kehilangan istrinya datang menghampiri, Abi Faruq terus mencoba menenangkan putra sulungnya sedangkan di kamar Adhisti tidur di temani Umi Dahlia dan juga Delia.


Pria paruh baya itu sampai menelepon Rendy untuk membantu menenangkan pikiran Raka, selepas subuh Raka baru bisa terpejam di sofa ruang keluarga. Namun, tidurnya harus terganggu ketika sebuah usapan lembut Raka rasakan di bagian pipinya.


Perlahan mata Raka terbuka, bisa ia lihat sang istri tengah tersenyum menatapnya. "Maaf ya, Mas. Gara-gara aku, Mas jadi susah tidur."


Raka masih menikmati senyuman dan usapan Adhisti, ingin rasanya ia menghentikan waktu untuk beberapa saat.  Sampai hatinya benar-benar bisa yakin jika Adhistinya tidak akan pernah pergi dan akan baik-baik saja.


Raka lirik sofa di depannya, terlihat Rendy yang masih tertidur meringkuk. Raka tak menyangka Rendy selalu ada untuk dirinya dalam keadaan apapun, meski semua orang menilai Rendy adalah pria yang buruk. Namun, Raka selalu yakin bahwa Rendy laki-laki yang baik. Dan dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Rendy.


"Jam berapa sekarang, By?"


"Jam tujuh, Mas."


Raka langsung bangkit dan duduk di samping sang istri, ia pijit pangkal hidungnya.


"Pusing ya? Sini aku pijitin, Mas."


"Gak usah, By."


"Aku minta maaf ya, Mas. Selama ini udah nyusahin kamu, nyiksa kamu malah. Terus doain aku ya,"


"Aku selalu memaafkan dan mendoakanmu, By." Raka baru tersadar jika Adhisti sudah bersiap, make up natural sudah menghiasi wajah ayu Adhisti. Raka sedikit tersentak saat melihat pakaian yang Adhisti kenakan.


"By, ini?" tanya Raka, ia genggam ujung kain yang sangat Raka kenal.


Adhisti tersenyum entah kenapa Raka merasa hari ini Adhisti amat sangat cantik dan senyum itu sangat manis. "Iya, aku ingin menyambut kedatangan anak kita dengan pakaian yang Mas berikan untuk pertama kali dan menjadi pakaian syar'iku yang pertama juga."


Bukannya senang, hati Raka malah berdenyut nyeri. Setetes air mata Raka lolos begitu saja tanpa bisa Raka cegah.


"Loh kok nangis, Mas, kenapa? Aku jelek ya?"


Ia rengkuh tubuh mungil Adhisti, ya meski porsi makan Adhisti bertambah. Namun tubuhnya tetap mungil dan kurus.


Raka gelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir. "Kamu cantik, Sayang, selalu cantik. Kamu bidadariku yang amat sangat cantik, mungkin juga yang tercantik."


"Dih, gombal banget. Pasti Pak Rendy kan yang ngajarin ini?" Adhisti ingin melepas rengkuhan sang suami dan melihat wajah Raka.


Namun, Raka cegah. " Gini aja dulu, aku kangen pengen peluk kamu yang lama."


Untuk beberapa saat mereka berpelukan, Adhisti hanya diam mengusap punggung sang suami yang masih menangis.


"By,"


"Ya, Mas."


"Gak kok, Mas gak cengeng."


"By,"


"Ya, Mas."


"Berjanjilah kamu akan tetap baik-baik saja, berjanjilah kamu akan terus menemaniku sampai akhir hayat,"


"Mas, ketakutanmu udah gak wajar dan berlebihan. Aku gak akan kenapa-kenapa, aku akan baik-baik saja. Aku di kelilingi orang-orang yang sangat hebat seperti kamu, abi, umi, ayah, bunda, Delia bahkan Pak Rendy. Aku aja gak takut, masa kamu takut, Mas." Ada nada bercanda yang Raka dengar dari nada bicara Adhisti.


"Aku serius, By, kamu harus berjanji."


Adhisti mengurai pelukan, ia tatap wajah tampan sang suami. Guratan kecemasan terlihat jelas di mata Raka yang di hiasi lingkaran hitam di kantung matanya, Adisti usap air mata Raka. "Iya, aku janji, Mas. Kita akan terus sama-sama."


"Udah ah, anaknya mau keluar malah nangis gini. Jelek tau, sana mandi biar ganteng. Ntar kalah ganteng sama anaknya, terus siap-siap kita langsung ke rumah sakit, Dokter Nanda udah nungguin itu."


Raka terkekeh, ia bangkit dan melangkah ke kamar untuk membersihkan diri. Tanpa Raka tahu sang sahabat ternyata sudah bangun sejak Adhisti tak sengaja mendorong meja untuknya berpegangan, Rendy hanya bisa memperhatikan sepasang makhluk yang saling mencintai hendak berperang melawan sang malaikat maut.


Hatinya sakit mendengar ucapan-ucapan Raka, selama ini ia mengenal Raka sebagai seorang pria yang paling tenang tak pernah Rendy lihat sisi rapuh Raka. Namun, perihal Adhisti Raka sampai mengeluarkan sisi terapuhnya.


❄️❄️❄️


Rendy dan Delia menawarkan diri untuk mengambil persediaan darah, sedangkan Raka sendiri langsung mengemudikan mobil milik Abi Faruq ke rumah sakit.


Ayah Pandu, Bunda Maya serta seorang perawat dengan sebuah kursi roda sudah menunggu di lobby rumah sakit, Raka langsung menelpon saat dirinya sudah sampai di depan rumah sakit.


Adhisti yang sudah duduk di kursi roda langsung dibawa ke IGD dan di lanjutkan Ke PONEK yaitu Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif yang merupakan salah satu kegiatan pelayanan dalam Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi.


Setelah di periksa beberapa hal di ruangan itu Adhisti dibawa ke ruang rawat kebidanan.


Dokter Nanda mengatakan agar Adhisti berpuasa selama enam jam, untuk mengatasi efek mual saat di anastesi nanti. Raka terus mengusap tangan Adhisti yang sudah tertancam jarum yang mengalirkan darah ke dalam tubuh istrinya, dokter berdarah aceh itu memutuskan untuk melakukan transfusi darah karena memang sudah waktunya Adhisti melakukan transfusi..


Sebelum masuk Adhisti menyempatkan diri meminta maaf kepada kedua orang tua serta mertuanya, dan meminta doa agar proses operasinya berjalan lancar.


Dengan ucapan bismillah dan sebuah tarikan napas akhirnya Adhisti masuk ke dalam ruangan operasi setelah enam jam menunggu, Raka melepas genggaman tangannya. Jika diizinkan ingin rasanya Raka menemani sang istri di dalam sana, agar Adhisti tak merasa sendiri.


Bunda Maya sudah tak kuat menahan tangisnya, dalam pelukan Ayah Pandu ia meluapkan semuanya. Isakannya terdengar sangat menyayat hati dari seorang ibu yang telah melahirkan Adhisti itu.


Tak berbeda jauh dengan sang besan, Umi Dahlia terus melantunkan dzikir untuk keselamatan sang menantu. Ia sama takutnya, akan tetapi Umi Dahlia sadar jika yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa.


Raka hanya bisa mondar mandir di depan pintu ruang operasi dengan hati yang terus melantunkan dzikir dan melangitkan nama sang istri.


Sekitar dua puluh menit, seorang perawat keluar memberitahu seluruh keluarga jika bayinya sudah lahir dan menyuruh Raka masuk untuk mengazani.


Saat masuk perhatian Raka terpusat pada bayi merah yang tengah menangis kencang, sang perawat memberikan bayi tampan itu kepada Raka. Dengan sedikit canggung Raka menggendong putranya dan langsung mengazaninya dengan suara yang bergetar. Jika suami lainnya akan merasa lega saat sudah melihat bayinya terlahir selamat, akan tetapi tidak dengan Raka perasaannya masih carut-marut karena belum tahu keadaan sang istri.


Melihat si kecil yang sangat tampan, Raka jadi teringat obrolannya dengan sang istri di suatu malam.


"Mas udah punya nama buat anak kita?" tanya Adhisti pada suatu malam.


Raka menggeleng. "Kamu udah punya?" Raka balik bertanya, seraya menciumi kening Adhisti yang masih dipenuhi keringat karena ulahnya.


Adhisti langsung mengangguk. "Kalo laki-laki aku ingin memberinya nama Abisatya Arkadewa Nararya."


Raka masih asyik dengan kegiatannya. "Kalo perempuan?"


"Kalo perempuan aku ingin memberinya nama Ayunasya Arkadewi Nararya."


Raka mengerutkan keningnya. "Kenapa ujungnya Nararya semua, By? Kenapa gak Rahandika?"


"Aku suka aja, Mas, tapi ada satu alasan kenapa aku memakai namamu semua."


"Apa?"


"Karena aku ingin anakku sepertimu."


Obrolan-obrolan itu terus berlarian dalam benak Raka, tanpa terasa matanya kembali memanas ia tatap bayi merah dalam gendongannya. Tangan Raka refleks mengusap pipi sang putra.


"By, Satya sudah selamat, sekarang giliranmu, Sayang. Kamu harus kuat demi Satya dan aku, By."