
Kebahagiaan serta kebanggaan tersendiri bisa melihat dan ikut berperan dalam tumbuh kembang si buah hati. Begitu pula Adhisti, meski ia harus direpotkan dengan tingkah Satya yang sudah tak bisa diam.
Satya kecil tumbuh dengan penuh kasih sayang dari Adhisti, balita berumur delapan belas bulan itu tengah berlarian mengejar sepasang kelinci pemberian Abi Faruq di taman belakang yang sudah disulap menjadi taman bermain oleh sang yangkung setahun yang lalu.
"Sini, Kak, isi bensinnya dulu ya biar kuat nangkep kelincinya."
Satya yang mendengar ucapan sang mommy langsung berlari kearahnya dengan wajah ceria.
"Mom, Mom," ucap Satya.
"Iya ini, Mommy. Buka dulu ya mulutnya, aaaa," Adhisti menyodorkan nasi tim yang dicampur wortel dan bayam.
"Waahh, cucu Yangti lagi mam apa ini?" Umi Dahlia yang baru datang langsung memeluk serta menciumi sang cucu.
"Mom, mom." Hanya kata itu yang Satya bisa ucapkan.
"Ini Yangti, Sayang, bukan Mom," tutur Adhisti.
Umi hanya bisa tersenyum, ia cium pipi gembul cucunya dengan gemas. "Gak papa, Nduk. Maklum Satya baru bisa kata itu."
Satya memang baru bisa mengucapkan kata mom saja, bahkan Raka sampai cemburu akan hal itu. Pria itu sampai mengatakan jika Satya hanya ingat dan menyayangi ibunya saja, padahal sejak Satya ada di dalam kandungan Raka yang paling tersiksa.
"Kamu pasti capek. Sini Satya sama Umi, biar kamu bisa istirahat, Nduk."
"Gak usah, Umi, kerjaan Adhisti juga cuma ngurus Satya doang kok. Umi juga pasti capek baru pulang dari kajian, maaf ya, Umi, Adhisti belum bisa ikut kajian lagi."
"Gak papa, Nduk, insyaallah nanti ada waktunya kamu bisa ikut kajian lagi." Umi Dahlia mulai menelisik wajah sang menantu.
"Justru ngurus Satya juga bukan perkara gampang loh, Nduk, gak bisa disepelein. Apa lagi seumuran Satya gini lagi lasak-lasaknya, Nduk." Umi Dahlia mulai khawatir dengan kondisi sang menantu. Wajah Adhisti sudah mulai kembali memucat, dengan kulit yang tampak kekuningan.
"Tapi aku bahagia, Umi, rasa lelahku hilang seketika saat melihat senyum Satya." Adhisti mengusap rambut lebat sang putra yang sedang duduk dipangkuan mertuanya.
"Assalamualaikum," suara salam dengan derap langkah kaki yang panjang terdengar, Satya mengangkat tangannya seraya tersenyum pada sumber suara meminta digendong membuat Adhisti serta Umi Dahlia menengok ke sumber suara.
"Waalaikumsalam," jawab dua wanita yang tengah kompak memakai gamis cream itu dan secara spontan mengulurkan tangan untuk mencium tangan Abi Faruq.
"Cucu Eyang udah mandi belum?" tanya Abi Faruq, ia raih tubuh mungil cucunya.
"Belum, Yangkung, baru selesai mamam sama mommy," Umi Dahlia menjawab dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
Satya yang berada digendongan Yangkungnya tidak bisa diam, mau tak mau Abi Faruq terpaksa menurunkannya. Tanpa diduga Satya menarik tangan sang kakek ke arah taman belakang.
"Mom, mom. Uuhh, uuhh," celotek Satya.
Balita berhidung mancung itu tergelak ketika Abi Faruq meraihnya lalu berlari mengejar kelinci putih dan abu yang terus berlari kesana kemari. Bukan hanya Satya yang tertawa, tetapi Abi Faruq pun sampai terbahak.
Netra milik Umi Dahlia memanas, semakin lama memperhatikan interaksi kedua laki-laki kesayangannya itu membuat matanya mengembun.
'Ya Allah, Ya tuhanku, terima kasih untuk semua ini. Setelah dua puluh tahun akhirnya aku masih bisa melihat dan mendengar tawa kekasihku yang dulu.'
Adhisti sendiri tak percaya dengan penglihatannya, seorang Abi Faruq Nararya yang terkenal tenang dan datar bisa tertawa hingga terbahak seperti itu. Ia bisa melihat diri Raka dalam Abi Faruq, tampan dan berwibawa dua kata itu yang menurut Adhisti masih melekat dalam diri mertuanya. Apa suaminya juga akan seperti sang abi jika sudah berumur nanti?
❄️❄️❄️
Adhisti baru selesai menidurkan Satya ketika ponsel miliknya berdering, pelakunya siapa lagi jika bukan sang suami. Ia dorong tombol hijau itu untuk mengangkat panggilan video dari Raka.
"Assalamualaikum, By."
"Waalaikumsalam, Mas. Lagi dimana? Udah makan?"
Raka mengerutkan dahinya, ketika di layarnya hanya terlihat langit-langit kamar.
"Aku ngajakin vc karena kangen istri sama anakku bukan kangen sama langit-langit kamar loh, By," rajuk Raka.
Terdengar Adhisti terkekeh, sedetik kemudian kamera berganti menampilkan wajah sang putra.
"Gak ada yang ngajak main sama usil, jadi aku bisa istirahat cepet, Mas."
Mendengar jawaban sang istri membuat Raka terkekeh. "Aku gak jail loh, By, jahat kamu mah. Pilih kasih banget sekarang."
"Diihh, gak jail tapi anaknya lagi tidur pasti di gigitin tangannya sampe bangun."
"Tapi kan aku tanggung jawab ngasuh dia sampe tengah malem, By." Raka mencoba membela diri.
"Iya juga sih."
"By," panggil Raka lembut.
"Ya?"
"Kangen."
Bluusssss
Cukup satu kata itu saja sudah membuat jantungnya tak baik-baik saja, Adhisti yang mendengar ungkapan rindu dari sang suami langsung salah tingkah, untung saja kamera masih mengarah ke Satya jadi Raka tak bisa melihat semburat merah di pipinya.
"Mas belum jawab pertanyaan aku tadi, loh. Mas lagi dimana? Udah makan belum?" Adhisti mencoba mengalihkan pembicaraan.
Wajah Raka langsung berubah ketika ungkapan rindunya tak terbalas oleh Adhisti, terkadang Raka masih berpikir jika Adhisti masih terpaksa menikah dengannya. Apa sikapnya yang selalu mengalah demi Adhisti tak bisa membuat Adhisti memiliki perasaan yang sama? Raka hanya ingin mendengar ucapan rindu atau cemburu dari Adhisti.
'Apa rasamu sama sepertiku, By? Aku bahkan tidak pernah tau sedalam apa rasamu, bahkan untuk menunjukan wajah pun kamu enggan. Apa memang aku yang terlalu berlebihan? Astagfirullah ingat, Ka, yang berlebih-lebihan itu gak baik'
Raka langsung mencoba berpikir realistis, sudah ada Satya diantara mereka. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal yang tidak penting.
Saat ini Raka memang tengah berada di Yogyakarta bersama Rendy. Sudah tiga hari mereka berada di sana, dan rasa rindu terhadap anak istrinya tak bisa Raka bendung lagi.
Bisa Adhisti lihat Raka yang sedang memaksakan senyumnya. "Aku sudah di hotel, habis salat Isya. Ini mau makan, nungguin bule jomblo dulu lagi pesen makanan tambahan tapi kok lama banget. Kamu udah makan, By?"
"Udah tadi, Mas."
"By, apa boleh aku melihat wajahmu meski hanya sebentar? Aku beneran rindu." Terselip nada pilu di ucapan Raka.
Sekajap kemudian kamera itu penuh oleh jawah Adhisti, Raka tersenyum simpul.
"Daddy kenapa melow gitu ish? masa kalah sama Satya, aku malu ada jerawat di idungku, Mas. Makanya gak nunjukin muka," rengek Adhisti yang membuat Raka terbahak.
"Astagfirullah, cuma jerawat doang, By. Mommy tetep cantik kok." Raka semakin membuat muka Adhisti merah padam.
"Cie mukanya merah cie ... haha."
"Maaass! Udah ah aku bete,"
"Sstt. Jangan teriak-teriak itu si kakak bangun nanti, mau siapa yang nemenin begadang kalo bangun?"
"Ya, Mas lah. Siapa lagi?"
"Nemenin lewat vc gitu?"
"Au ah, udah liat kan? Cepet makan sekarang."
"Iya, Mommy, temenin ya?"
"Masya Allah, manjanya ngelebihin anaknya,"
Akhirnya Adhisti menemani Raka makan, tak segan wanita itu mengomel saat makanan Raka berantakan. Wanita yang memiliki masalah dengan satu jerawat itu menceritakan kegiatan Satya hari ini, Adhisti juga menanyakan kapan Raka pulang karena sudah waktunya Satya imunisasi lanjutan. Kerinduan yang sedang Raka rasakan bukannya terobati malah semakin menggerogoti relung hatinya.
Raka berjanji jika besok akan menyelesaikan semua pekerjaannya dan pulang, ia juga melarang Adhisti berangkat tanpa dirinya. Sungguh laki-laki posesif.
❄️❄️❄️