
Melupakan, satu kata yang mungkin bagi semua orang tidak mudah untuk di lakukan. Begitu pula dengan seorang Tisyabina Adhisti, akal sehatnya sungguh ingin melupakan seorang Caraka Nararya. Namun, hatinya selalu menjawab tak bisa, Bagaimana ia bisa melupakan sang dosen jika hampir satu bulan ini mereka semakin sering bertemu. Raka pun tak segan beberapa kali meminta waktu Adhisti untuk bicara di luar masalah skripsi, akan tetapi Adhisti selalu menolak dan menghindar.
Jujur saja Adhisti lelah dengan semua ini. Ia lelah secara fisik maupun psikisnya, bahkan karena terlalu memikirkan skripsi dan perasaannya Adhisti sampai melupakan waktu transfusi darahnya. Tubuhnya sudah mulai nampak kekuningan dan wajahnya yang ayu sudah mulai memucat. Adhisti belum bisa bernapas lega karena masih ada dua pertemuan lagi yang harus ia lakukan dengan sang dosen pembimbing untuk membahas bab terakhir sekaligus mengeditnya, ingin rasanya ia menyudahi pertemuannya dengan Raka agar rasa dalam hatinya tak semakin tumbuh. Namun, Adhisti sadar ia masih membutuhkan Raka agar dirinya bisa cepat sidang.
Sore ini ketika sampai di rumah Adhisti langsung pamit kepada sang bunda untuk beristirahat dan tidak ingin di ganggu, ia merasa ada yang salah dengan kondisi badannya. Hingga waktu makan malam Adhisti tak kunjung turun membuat Maya naik untuk memastikan kondisi sang putri.
"Sayang," panggil Maya sambil membuka pintu kamar anak semata wayangnya.
Dalam keadaan kamar yang temaram, tampak Adhisti tengah bergulung dalam selimut. Maya mendekat mencoba membangunkan gadis mungil itu, akan tetapi alangkah kagetnya Maya ketika menyentuh kening Adhisti yang berkeringat dingin dan panas.
"Mas, Mas ... Mas Pandu." Maya langsung berlari sambil memanggil-manggil suaminya.
"Ada apa, Bun?" Pandu kaget mendengar teriakan sang istri.
"A-adhisti, Mas. Adhisti," tutur Maya terbata dengan air mata yang sudah melimpah ruah.
Jujur saja Maya selalu khawatir dan memiliki rasa ketakutan yang teramat sangat jika Adhisti demam atau sakit. Pandu gegas berlari ke kamar sang anak lalu membawa Adhisti ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Adhisti langsung mendapat penanganan, selang infus terpasang di tangan kanannya. Orang tua gadis itu tak sekejap pun berhenti melantunkan doa-doa. Adhisti sendiri kesulitan mengenali kondisi tubuhnya, jatungnya berdetak tak beraturan, napasnya sesak dan ia merasakan jika badannya merasakan kelelahan yang amat luar biasa. Ia hanya ingin cepat pagi, tetapi jarum jam kenapa terasa lambat sekali berputarnya pada saat-saat seperti ini.
Di saat seperti ini Adhisti merasa sangat dekat dengan kematian. Dulu Adhisti akan meminta tuhan untuk segera mencabut nyawanya, akan tetapi sekarang berbeda ada perasaan takut menghadapi kematian. Ia memiliki ketakutan karena merasa belum memiliki bekal apapun untuk ia bawa jika tuhan membawanya pulang hari ini, Adhisti ingin berubah, Adhisti ingin mencari bekal dulu sebelum pulang.
❄️❄️❄️
Fajar menyingsing dari ufuk timur membawa cahaya orange kehangatan menembus kamar inap Adhisti, akan tetapi dalam ruangan itu terasa dingin. Hanya ada Maya yang diam mematung, mata sayunya tak pernah ia alihkan dari sosok cantik yang tengah terpejam. Maya tak meninggalkan sang putri barang sejenak pun, ia selalu setia duduk di kursi samping ranjang Adhisti memandangi sang putri yang pasti tengah menahan sakit.
Tubuh Adhisti masih terus menunggu tetes darah yang sangat ia butuhkan untuk kelangsungan hidupnya, dini hari tadi harusnya Adhisti sudah bisa melakukan transfusi darah. Namun, karena stok darah yang Adhisti butuhkan lumayan sulit akhirnya Pandu mencari ke PMI terdekat.
Pandu yang frustasi akhirnya menelepon Raka bermaksud menanyakan soal PMI mana yang Raka datangi dulu, hanya butuh satu nada sambung untuk Pandu menunggu.
"Assalamualaikum, Pak Pandu,"
"Waalaikumsalam, Pak Raka, saya ingin bertanya tentang kantor PMI mana yang Pak Raka datangi ketika mencari darah untuk Adhisti," tanya Pandu dengan nada frustasi.
"Memang kenapa, Pak?"
"Adhisti kolapsh, Pak. Dia butuh darah."
"Astagfirullah! dia ada di rumah sakit mana?" terdengar suara Raka yang sangat cemas.
"Baik, Saya akan segera ke sana dan membawa darahnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, terima kasih, Pak." Pandu menutup sambungan telponnya, ia bisa bernapas lega karena sekarang ada seseorang yang membantunya menjaga Adhisti.
Dua jam kemudian Raka datang dengan hanya menggunakan kaos hitam lengan pendek berbalut celana joger rumahan berwarna senada, jangan lupakan sendal jepit dan rambut lepek yang terbungkus topi. Tak ada lagi sosok Caraka Nararya yang berwibawa dan di segani, yang ada hanya seorang pria dengan raut wajah keruh penuh kecemasan dan mata merah berair.
Transfusi bisa langsung di lakukan dengan darah yang Raka bawa, Raka menyaksikan langsung bagaimana kantung infus itu di ganti dengan kantung darah. Hatinya teriris, sudah berapa ratus kantung yang Adhisti habiskan untuk dirinya tetap bisa bertahan hidup? Apakah benar-benar tidak ada obat yang bisa menyembuhkan seorang penderita thalassemia?
"Masukin 1 kantung perhari ya, Sus," terdengar suara sang dokter di telinga Raka yang memberi perintah kepada suster.
"Pak Pandu dan Bu Maya, bisa ikut ke ruangan saya sebentar," lanjut dokter yang berjenis kelamin laki-laki itu.
Pandu mengikuti sang dokter. Harusnya Maya juga ikut, akan tetapi ia sudah tidak ingin mendengar berita apapun lagi tentang sang putri. Dirinya hanya ingin berada di sisi Adhisti, menikmati setiap detik wajah yang entah sampai kapan bisa terus membuka matanya. Raka akhirnya menawarkan diri untuk ikut ke ruangan sang dokter, ia sangat penasaran dengan keadaan Adhisti.
"Bagaimana, Dok?" tanya Pandu yang duduk bersisian dengan Raka.
"Bapak tahu sendiri penderita Thalassemia Mayor hanya bisa bergantung pada tuhan, Adhisti termasuk salah satu pasien yang kuat. Kita pernah memprediksi umur Adhisti hanya sampai 19 tahun, tetapi tuhan berkehendak lain hingga sekarang Adhisti masih bisa hidup. Saya hanya bisa mengingatkan dan terus mengingatkan agar Adhisti jangan sampai terlalu kelelahan, jangan berhenti berdoa dan bapak juga harus bisa menyiapkan diri karena Adhisti bisa pergi kapan saja,"
Deg
Raka terasa di cekik, sesuatu dalam dadanya terasa dihujam oleh tombak. Rasa ini lebih sakit daripada ketika Adhisti menolaknya atau ketika ia mengetahui Adhisti akan menjadi calon istri sahabatnya.
"Apa tidak ada cara lain, Dok, agar pasien bisa sembuh?" Raka mulai bertanya.
Sang dokter malah menggeleng, "Tidak ada, Pak. Transfusi darah dan obat-obatan yang kami berikan hanya bisa menjadi alat penyambung kehidupannya bukan menjadi penyembuh bagi pasien Thalassemia Mayor."
Dunia Raka seakan runtuh, apa maksud dari ini semua? Apa ini yang Rendy maksud dulu ia harus bisa mendampingi Adhisti sampai akhir, lalu bagaimana dengan dirinya jika sewaktu-waktu Allah mengambil Adhisti?
Raka bersama Pak Pandu keluar dari ruangan dokter dengan sama-sama memasang wajah murung, ketika memasuki kamar inap ia lihat Adhisti belum membuka matanya. Raka berinisiatif menjaga Adhisti dan menyuruh orang tua gadis itu beristirahat, Maya awalnya menolak. Namun, dengan bujukan sang suami akhirnya ia mau meninggalkan Adhisti hanya untuk sekedar sarapan di kantin rumah sakit.
Pemuda itu duduk di kursi, ia membuka topinya lalu menyugar kebelakang rambut yang sedikit panjang itu. Raka tidak menyangka akan seperti ini jadinya, ia kira Adhisti hanya mengidap Thalassemia Minor yang resikonya tidak sampai sebesar ini. Apa karena ini Adhisti menolaknya?
Ia tatap wajah ayu yang masih terlelap itu, ingin rasanya Raka menggenggam tangan sang gadis. Namun, ia masih tahu batasannya. "Adhisti, izinkan aku menjagamu di sisa waktumu," ucapnya lirih.
❄️❄️❄️