
Hari ke tiga Raka memutuskan untuk berangkat ke NarArt, ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Waalaikumsalam, beda bener ini aura pengantin baru," sambutan itu yang Raka terima saat ia membuka pintu ruangannya. Pria bule dengan stelan navy sudah duduk di sofa panjang, memberikan seringaian.
"Bagaimana rasanya? Amazing dan bikin nagih bukan?" tanya Rendy dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Raka tak ingin meladeni Rendy kepalanya sudah cukup pusing karena terlalu lama menahan sesuatu, ia bersikap senormal mungkin karena ia tak ingin Rendy tahu bahwa dirinya sama sekali belum menyentuh sang istri. Ia lewati sahabatnya begitu saja dan duduk di kursi kerjanya.
"Heh gimana?" Rendy yang penasaran terus mengikuti Raka hingga ia duduk di meja kerja Raka.
Raka yang mencoba bersikap normal malah di pandang tidak beres oleh Rendy, "Ada yang aneh," selidiknya, ia memicingkan mata menatap curiga pria di depannya.
"Aneh apa? Itu bukan sesuatu hal yang bisa dijadikan bahan cerita, Ren."
"Yakin? Lo gak mau cerita apa emang gak bisa cerita karena belum nyobain?"
Raka menatap Rendy jengah disusul tawa Rendy yang menggema mengisi ruangan itu. "Hahha ... gue udah tau jawabannya."
"Berisik."
"Jangan bilang ATM lo gak berisi? atau jangan-jangan lo gak normal?" Rendy bergidik ngeri dengan semua tebakan yang ia arahkan pada Raka.
"Jangan sembarang bicara kamu! Aku cuma mengutamakan kenyamanan Adhisti." Ya, itu yang selama ini ada dalam pikiran Raka, ia menyampingkan nafsunya demi kenyamanan sang istri. Selama tiga malam ini ia selalu mengamati tingkah Adhisti yang masih segan terhadapnya, bahkan hanya untuk menatapnya pun Adhisti masih terus menghindar.
"Oke, oke. Bagus kalo lo emang ngasih dia waktu, tapi apa lo yakin dia juga berpikir hal yang sama dengan lo?"
"Kalo dia mikir lo emang gak mau nyentuh dia karena kondisinya gimana?"
"Wanita itu penuh misteri, Ka. Mending lo ajak dia kemana kek. Biar kerjaan disini gue yang urus."
"Sebelum kamu menyuruh, aku sudah mengajaknya. Tapi dia malah mengajak Delia," keluh Raka frustasi.
"Awalnya aku hendak bertukar pekerjaan denganmu. Aku yang pergi ke Yogyakarta melihat proses perkembangan cabang baru di sana dan kamu yang di sini, tapi jika sudah begini entahlah." Raka menyugar rambut hitamnya.
"Sepertinya Delia juga membutuhkan pawang supaya dia gak gangguin lo disana." Rendy tersenyum penuh arti.
"Jangan macam-macam, Ren! Dia adikku."
"Gue tau dia adik lo, gue juga gak akan berani ngerusak Delia." Rendy mengerti jika Raka memiliki tingkat kewaspadaan terhadapnya, akan tetapi sungguh Rendy tidak pernah sedikitpun memiliki niatan untuk merusak Delia. Ia benar-benar ingin melindungi Delia, meski ia tahu bukan laki-laki macam dirinya yang dibutuhkan gadis itu.
Rendy tersenyum masam, ia jadi teringat betapa bodoh dirinya dulu mengejar cinta Delia hingga merelakan dirinya di buang orang tuanya dan berpindah keyakinan tanpa berpikir apa dia pantas untuk Delia atau tidak.
Dan sekarang kejadian itu terulang kembali, apa dirinya juga harus menggadaikan keimanannya hanya untuk bersanding dengan wanita yang ia sukai. Rendy masih teringat ketika dulu Raka mewanti-wantinya. "Jangan pernah main-main dengan sebuah keimanan, Ren. Jangan hanya karena seorang wanita kamu rela melakukan yang membuat tuhanmu marah."
Raka melihat raut wajah Rendy yang berubah keruh. "Kenapa? Ada apa?"
"Haaahhh, sudahlah lo gak perlu tau, runyam, Ka."
"Wanita?" Raka masih terus mendesak Rendy untuk bercerita, Raka tahu pria yang sudah lama menjadi sahabatnya ini pasti sedang ada masalah.
"Hm."
"Hamil?"
"Yakali gue hamilin anak orang, Ka. Lo kalo ngomong pake filter kek, omongan tuh doa. Gue emang sering gesekin ATM tapi gak sampe hamil juga."
"Terus?"
"Kadang gue iri sama lo, kebaikan apa yang lo lakuin di kehidupan sebelumnya sampe di kehidupan sekarang Allah baik banget ke lo. Terlahir sebagai seorang anak yang keluarganya harmonis, ilmu agama oke sampe lo gak perlu minder milih cewe mana yang mau lo jadiin istri. Allah ngasih jalan idup lo lempeng-lempeng aja gitu, sedangkan gue begini."
"Mau milih cewe aja gue bingung sendiri, mau ngejar cewe yang seiman mikir seribu kali karena gue jauh dibawah dia. Sampai melupakan adalah cara satu-satunya yang bisa gue lakuin. Sekarang saat gue mencoba melupakan dan mendapatkan pengganti sampai gue ngerasa dia adalah seseorang yang Allah ciptain buat gue, takdir mulai mengajak gue maen kucing-kucingan lagi."
Raka hanya diam mendengarkan, ia tahu Rendy bukan membutuhkan teman untuk mencari solusi melainkan teman yang mau menjadi pendengar semua keluh kesahnya.
"Wanita yang kamu bawa ke resepsi kemarin?" Raka bertanya ketika sang sahabat tak melanjutkan cerita.
"Namanya Bellin, dia dokter gigi di rumah sakit tempat Adhisti selalu transfusi darah."
"Dia berbeda denganku, Ka. Dia umat yang sangat taat kepada tuhan-Nya."
"Jangan bilang kalo kamu mau melakukan hal bodoh lagi?" Raka mulai sedikit was-was.
"Ya gak lah, gila dua kali apa gue sampe main-main sama iman," sentak Rendy.
"Kesimpulannya?"
"Lo ngomong irit amat, gue tuh cerita karena pengen dapet pencerahan. Lo malah begitu doang ngomongnya. Tau gitu gue curhat sama Abi Faruq aja sekalian minta Delia langsung."
"Emang berani?" pancing Raka.
"Ya kagak. Ntar gue di minta baca surat Ar Rahman buat mahar Delia gimana? Kalo surat Al ikhlas sih gue bisa."
"Makanya udah ikhlasin aja," celetuk Raka.
"Udeh gue ikhlasin itu juga."
"Yakin?"
"Masih dikit sih ikhlasinnya."
Raka hanya bisa tertawa ia tahu perasaan Rendy terhadap sang adik sudah cukup dalam. "Kamu sudah pernah dengar cerita Zulaikha dan nabi Yusuf AS?"
"Zulaikha sangat menginginkan Yusuf karena ketampanan yang dimiliki Yusuf, ia mengejar Yusuf sampai memberikan segala yang dimilikinya untuk Yusuf tetapi Allah menjauhkan Yusuf darinya."
"Namun, saat Zulaikha mengejar Allah. Allah berikan Yusuf untuknya."
"Tau kesimpulan yang bisa di ambil cerita ini?"
Rendy menggeleng. "Perbaiki saja imanmu kejarlah Allah, maka Allah akan memberikan semua yang kamu mau."
❄️❄️❄️
Raka sampai di rumah ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam ia harus lembur karena memang NarArt sangat butuh belaiannya, Raka hanya melihat abi dan uminya di ruang tengah. Ketika Raka bertanya sang umi bilang setelah makan malam Adhisti langsung masuk ke kamar dan tidak keluar lagi, Raka pikir istrinya sudah tidur.
Namun, saat Raka membuka pintu kamar. Terlihat Adhisti yang duduk bersila di atas sofa sambil memangku laptopnya dengan keadaan kamar yang sudah temaram.
Ia menyuruh Adhisti tetap duduk ketika Adhisti hendak mendekatinya, Raka langsung membersihkan diri dan keluar hanya mengenakan kaos putih polos dengan celana selutut.
Raka duduk di samping sang istri yang masih fokus menatap layar, matanya menangkap sebuah toples di nakas samping tempat tidur yang berisi coklat. Ia berdiri dan mengambil toples itu.
"Aku tadi pesen lewat aplikasi, Mas. Soalnya pas liat di dapur es batunya abis, jadi aku beli itu. Boleh kan?" tutur Adhisti sebelum Raka bertanya, ia ikut berdiri mengambil toples yang ada di tangan Raka lalu membukanya.
Ia ambil satu buah coklat, lalu membuka kemasannya dan coklat itu langsung melesat ke dalam mulut wanita yang memakai piama berbahan satin itu. Raka hanya diam mengamati sang istri, fokusnya hanya tertuju pada satu bagian yaitu bibir ranum istrinya.
"Mas mau?" Adhisti menawari.
"Boleh?" Raka balik bertanya, yang di angguki oleh Adhisti.
Adhisti menaruh kembali toples itu ke nakas, ia ambil satu coklat untuk sang suami, membukanya lalu mengulurkan tangannya hendak menyuapi Raka.
Namun, bukannya menerima coklat yang ada di tangan sang istri Raka malah melewatinya begitu saja, merangsek maju dan langsung menangkup kedua pipi istrinya.
Tangan Adhisti masih menggantung di udara, matanya membelalak ketika sebuah benda lembut dan basah mendarat sempurna di bibir miliknya. Jantungnya seperti akan meledak mendapatkan serangan dadakan dari sang suami, coklat yang berada di tangannya langsung jatuh karena Adhisti sudah tidak bisa berkonsentrasi. Sengatan demi sengatan listrik yang Raka berikan menghantarkan hawa panas pada tubuh Adhisti, otaknya sudah tak bisa berpikir jernih ia hanya bisa memejamkan mata ada sebuah rasa yang baru Adhisti rasakan dan menuntut meminta lebih ketika Raka melepaskan diri.
"Boleh?" tanya Raka dengan tatapan yang sangat sayu dan penuh harap.
Adhisti hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu, ia sangat malu. Kenapa dalam hal seperti ini Raka harus meminta izinnya dulu?
Mendapat jawaban dari sang istri Raka langsung tersenyum bahagia. Ia tangkup kedua pipi sang istri melantunkan doa yang di tutup oleh sebuah kecupan di kening dan seluruh wajah Adhisti.
Daaaaaaannnnn kejadian selanjutnya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang profesional. Maafkan haluku belum sampai sana karena diriku masih 10 tahun. Ngertinya cuma minta THR sama baju lebaran 🤭🤭🤭🤭