
"Kamu pulang ke rumah kami saja," celetuk Abi Faruq ketika selesai membereskan administrasi Raka dan Rendy kala itu, Abi Faruq tak tega membayangkan pemuda itu harus tinggal seorang diri. Apalagi Rendy sampai patah tulang gara-gara menolong anaknya.
Satu bulan Rendy tinggal bersama keluarga Abi Faruq, ia di perlakukan layaknya keluarga meski dirinya masih berbeda kala itu. Rendy bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam keluarga Abi Faruq, apalagi ketika ia bisa mendengar suara merdu dari kamar yang bersebelahan dengannya setiap malam dan Subuh ada kedamaian dan ketentraman tersendiri dalam hati Rendy yang menariknya ingin terus dekat dengan sang pemilik suara. Ia merasa setan dalam dirinya terhempas entah kemana karena lantunan ayat-ayat yang keluar dari suara lembut Adelia Nararya.
Dari rasa damai itu Rendy mencoba mengorek informasi dari sahabatnya, Raka tak banyak merespon ia hanya berkata "adikku hanya bisa dimiliki oleh orang yang seiman dengannya."
Meski mendapat tentangan dari kedua orang tua dan di depak dari kartu keluarga, Rendy tetap mengambil langkah untuk mengikuti keyakinan Raka. Dengan di bimbing ustaz Anwar dan disaksikan oleh Abi Faruq, Raka serta Zaki. Rendy akhirnya membaca dua kalimat syahadat.
Pria bermata hanzel itu pikir masalah selesai ketika mereka sudah satu iman, ternyata tidak. Rendy bagaikan disambar petir ketika Raka berkata "Kamu belum suci, mana bisa memiliki adikku."
What? Apa maksud Raka dengan suci? Apa Raka tahu kalau dirinya sering bergonta-ganti wanita? Kehidupan bebas di Belanda dulu membuat Rendy remaja terjerat akan dua hal yaitu minuman dan wanita, ketika hendak melanjutkan perguruan tinggi orangtua Rendy akhirnya mengirim Rendy ke Indonesia bersama sang paman yang sudah lama menetap di sini karena sudah pusing oleh tingkah laku Rendy.
Nama Rendy pun ia peroleh dari Ustaz Anwar. Pada awalnya nama Rendy adalah Danique Xander lalu Ustaz Anwar mengganti dengan nama Qautsar Abimanyu, akan tetapi Rendy menolak ia merasa tidak pantas menggunakan kata Qautsar. Akhirnya tercetuslah nama itu, meski berat Rendy akhirnya menerima ia tetap ikhlas membuang nama yang di berikan keluarganya dulu.
Rendy yang tidak mengerti akan apa yang di maksud Raka akhirnya bertanya, "Maksud lo dengan suci apaan?"
"Sunat," tutur Raka.
"Gila lo," Rendy merasa ada gempa lokal dalam jantungnya. Tangannya refleks memegang ATM limited edition miliknya.
Namun, akhirnya Rendy pun tetap melaksanakannya dengan dalil demi cinta apapun akan ia lakukan.
Raka yang melihat tingkah sang sahabat hanya bisa tersenyum, apalagi saat anastesi hilang dan rasa sakit mulai menyerang Rendy serasa ingin mati saja.
"Makan tuh cinta," Itu kalimat yang Raka ucapkan.
Hampir satu tahun Rendy berguru pada Raka tentang dasar-dasar islam, dan ia mulai berani mendekati Delia yang kala itu baru duduk di bangku SMA.
Namun, jiwanya tersadarkan ketika banyak pria yang mengirimi Delia CV Ta'aruf dan mereka semua jauh di atas Rendy dalam hal ilmu agama, seketika ia merasa kerdil dan merasa tidak pantas untuk bersanding dengan Delia. Rendy memutuskan mundur sebelum berperang, dan kembali pada dunianya yang dulu yaitu minuman dan wanita. Semakin ia mengenal Delia semakin ia merasa ingin melindunginya. Delia adalah wanita yang istimewa yang harus ia jaga dari pemangsa di luar sana, akhirnya Rendy hanya bisa mengagumi tanpa rasa ingin memiliki. Entah jika nantinya ia melihat Delia bersanding dengan laki-laki lain apa ia akan tetap diam dan menerima?
Raka tersadar dari ingatannya tentang sang sahabat, ia berdoa semoga Rendy bisa mendapatkan kebahagiaannya bukan dengan bersenang-senang sesaat seperti sekarang ini. Melainkan kebahagiaan yang sebenarnya, memiliki wanita yang sesungguhnya sebagai rumah baginya.
❄️❄️❄️
Cafe milik Rendy menjadi saksi bagaimana dua sejoli itu mencoba menahan rasa yang bergejolak di dalam dada hanya untuk sebuah kata profesional, Adhisti mencoba profesional sebagai mahasiswi yang sedang berkonsultasi sedangkan Raka juga mencoba profesional sebagai seorang dosen pembimbing.
Riuhnya suara pengunjung cafe yang sedang ramai tak membuat konsentrasi Raka pecah, ia tetap membaca judul demi judul yang Adhisti ajukan.
"Kamu sudah punya bahan tentang ini?" Raka menyodorkan sebuah judul skripsi yang menurutnya menarik.
Adhisti yang tengah menyantap chessecake itu hanya menggeleng. Boro-boro bahan, ia bisa mendapatkan judul itu saja sudah syukur Alhamdulillah, karena semalaman pikiran dan hatinya hanya menuju ke satu titik dan tidak bisa di ajak berkonsentrasi pada skripsinya. Ketika mengingat itu rasa nyeri datang lagi menyerang hati Adhisti, air mata sudah berlomba-lomba ingin terjun hanya saja ia masih bisa menahannya.
Raka menarik napas dalam-dalam, mengubah duduknya lebih condong ke depan. "Oke, kita pakai judul milikmu yang kemarin saja, besok kita ketemu lagi untuk membahas perbabnya."
"Tidak bisa langsung sekarang saja, Pak?" tanya Adhisti, ia ingin segera menyelesaikan urusannya bersama Raka. Tidak baik untuk kesehatan hati dan jantungnya jika ia sering-sering bertemu dengan sang dosen pembimbing. Jantungnya berdetak cepat jika berdekatan dengan Raka apalagi jika tatapan mereka bertemu, sedangkan hatinya berdenyut nyeri menyadarkan Adhisti bahwa Raka sudah memiliki calon istri. Adhisti sudah cukup dengan sakit thalassemianya ia tidak ingin memiliki tambahan penyakit jantung dan gagal hati.
Raka semakin mencondongkan wajahnya lebih dekat dengan wajah ayu milik Adhisti, "Apa kamu tidak apa-apa pulang larut malam dan berganti tempat?"
Adhisti langsung menelan ludah di perlakukan seperti itu saja dirinya langsung salah tingkah, ia edarkan pandangannya ke arah lain dan ia baru menyadari diluar sana matahari sudah tidak terlihat lagi berganti dengan lembayung senja yang sudah mulai kehitaman. Mungkin sebentar lagi suara azan Maghrib akan berkumandang, ia yang malu hanya bisa menundukkan kepalanya.
Raka tersenyum samar ketika mengetahui jika Adhisti telah menyadari situasi, ia membenarkan kembali posisi duduknya. "Lebih baik sekarang kamu pulang, dua hari lagi kita bertemu di sini atau dimana pun yang kamu mau kita langsung bahas tiga bab yang sudah kamu siapkan kemarin."
"Baik, Pak." Adhisti buru-buru membereskan kertas di atas meja.
"Kamu pulang naik apa? Apa perlu saya antar?"
"Tidak perlu, Pak. Saya tidak ingin calon istri Bapak salah paham. Assalamualaikum." Setelah mengucapkan itu Adhisti pergi dengan terburu-buru.
"Apa meninggalkan saya seperti ini adalah hobby baru kamu, Adhisti?" Raka bergumam sembari tersenyum samar.
Namun, sedetik kemudian ia langsung teringat akan ucapan Adhisti. "Calon istri? Ada yang tidak beres dan sepertinya harus segera diluruskan."
❄️❄️❄️