Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 29



Suara dari lagu Can’t Sleep Love memanggil Raka dari alam tidurnya, setelah tiga malam tidak bisa tidur akhirnya malam ini Raka bisa tertidur pulas dan harus dibangunkan oleh alarm.


Pria itu hendak bangun akan tetapi sebuah lengan melingkar di dadanya yang tak terbungkus apapun menghentikannya, ia lirik wanita yang masih terlelap dengan memeluk tubuhnya, peluh masih terlihat di bahu dan keningnya.


Ia cium kening itu dan sedikit memindahkan rambut-rambut yang menutupi wajah ayu istrinya, "By, bangun," ucap Raka sambil terus mengecup kening Adhisti.


"Mmmhh." Hanya itu yang keluar dari bibir mungil yang sedikit bengkak.


"Bangun, By."


"Jam berapa sekarang, Mas?"


"Jam tiga pagi."


"Argghh" Adhisti yang masih belum sepenuhnya sadar langsung menggerakan tubuhnya, dan sengatan dari inti tubuhnya membuat wanita itu refleks berteriak.


"Masih sakit?" tanya Raka.


Adhisti hanya bisa mengangguk menahan malu, ia naikan kembali selimut yang sedikit merosot menampilkan bahu yang putih hingga tulang selangka dan lehernya yang penuh akan label dari suaminya.


"Aku minta maaf sudah menyakitimu," sesal Raka.


"Sebentar." Pria itu langsung berdiri, dan menggendong istrinya hingga di ambang pintu kamar mandi.


"Aku bisa sendiri, gak perlu di gendong, Mas. Lagian kenapa gak pake baju sih?" Adhisti kesal sendiri, lebih tepatnya malu sendiri ketika kulitnya harus bersentuhan langsung dengan kulit sang suami.


"Memang kenapa?"tangan Raka langsung mengunci Adhisti yang bersandar pada pintu kamar mandi. Ia sangat senang melihat wajah sang istri yang selalu merah jika berdekatan dengannya, mungkin menggoda Adhisti menjadi rutinitas Raka saat baru bangun tidur.


Tatapan Raka langsung membuat jantung Adhisti berdegup lebih cepat, di tambah dengan sebuah seringaian membuat Adhisti semakin salah tingkah. Adhisti hanya bisa meremat selimut yang menjadi penutup tubuhnya, saat sang suami semakin mendekat Adhisti di paksa untuk berpikir secara cepat. Ketika hidung mereka sudah bertemu Adhisti langsung memutar handle pintu, ia melesat masuk dan menutup rapat-rapat pintu itu.


"Maaf, Maaaass," teriaknya dari dalam sana.


Raka hanya bisa terkekeh, mentertawakan Adhisti yang selalu salah tingkah dan juga dirinya sendiri yang entah kenapa bisa semesum itu.


Salat Subuh kali ini Raka lakukan di kamar, Adhisti benar-benar tidak ingin turun ke bawah. Raka saja menyadari cara jalannya yang berbeda bagaimana dengan umi? Adhisti belum siap di goda habis-habisan oleh Delia dan di pandang dengan senyum yang penuh arti oleh umi.


Bahkan seluruh pakaian beserta seprai dan bad cover Adhisti simpan di kamar mandi, ia berniat mencucinya nanti saja ketika Delia sudah pergi ke kampus dan kedua mertuanya sibuk di taman belakang. Padahl suaminya sudah hendak mencuci ketika subuh tadi, akan tetapi Adhisti terus melarang dan akhirnya Raka hanya membasuh noda yang tertinggal di seprai itu.


Ketika hendak berangkat Raka di tanya oleh sang umi tentang keadaan istrinya, Raka bilang Adhisti kelelahan karena sudah waktunya transfusi darah dan ia akan membawa Adhisti ke rumah sakit nanti sore.


Adhisti keluar kamar menuruni tangga menuju ruang mencuci, ia diam mengamati mesin cuci yang tengah berputar. Pikirannya terus menerus di hantui oleh senyuman Raka dan kejadian semalam,


Plak plak plak


"Astaghfirullah, Adhisti sadar. Mikirin apa sih kamu?" gumamnya sambil menampar pipinya sendiri beberapa kali.


Adhisti baru selesai menjemur cucian ketika Umi Dahlia datang dari arah belakang membawa semangkuk bunga telang, ia hendak membuatkan Adhisti puding karena memang itu menjadi salah satu makanan kesukaan Adhisti.


"Umi, aku bisa bantu apa?" tanya Adhisti yang berjalan perlahan mendekati sang mertua.


"Eh, eh. Bukannya kamu lagi gak enak badan, Nduk? Istirahat aja, ya." Wanita paruh baya itu terlihat mengamati cara berjalan Adhisti yang sedikit aneh. Dan Umi Dahlia mengerti kenapa Adhisti bisa kelelahan, ia hanya bisa berucap Alhamdulillah dalam hati karena hubungan anak dan menantunya sudah banyak kemajuan.


"Udah agak mendingan ko, Umi. Gak papa Adhisti bantuin Umi aja. Boleh?"


Akhirnya siang itu Adhisti dan Umi Dahlia membuat puding bersama.


"Mula-mula kamu rebus air dulu, Nduk. Terus cuci bunga telangnya," tutur Umi.


Saat air mendidih Umi Dahlia langsung menyuruh Adhisti kembali. " Matiin kompornya terus masukin bunga telangnya, Nduk."


Seketika air itu berubah warna, Adhisti terus menyimak apa saja yang di ucapkan sang mertua. Ia sisihkan air yang tercampur bunga telang itu. Dan memulai membuat adonan puding lalu ia campurkan air bunga telang yang sudah disaring ke dalam adonan puding.


Memang tidak butuh waktu lama membuatnya, tetapi baik Adhisti maupun Umi Dahlia sangat menikmati momen kebersamaan mereka. Abi Faruq pun terlihat sangat senang melihat keakraban dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah sang istri dan menantunya.


"Terima kasih, Mas, sudah memberikan kebahagiaan untuk malaikatku. Kamu sudah berhasil mengabulkan keinginan Umimu, Le," gumam Abi Faruq.


❄️❄️❄️


"Nih tiket kereta apinya, aneh-aneh aja kemauan bini lo. Di kasih enak malah pengen yang ribet," cerocos Rendy sebari menyodorkan amplop.


"Ini keinginan Delia bukan keinginan Adhisti, Ren."


"Hadeuhh, bocil."


"Tapi gue pernah tergila-gila sama itu bocil, Haha ...." Ralat Rendy.


"Aku gak bisa lembur lagi, Ren." Raka tak menanggapi ucapan Rendy.


"Kenapa?"


"Nanti sore aku harus mengantar Adhisti ke rumah sakit, dan mungkin sampai aku pergi aku tidak akan ke NarArt lagi."


"Hm. Oke itu bisa diatur, lo utamain aja istri lo. Kerjaan di sini biar gue yang urus, lo yakin bakal bawa Delia?"


"Ya, dia memaksa ikut. Dan mungkin kami juga akan mampir ke makam Eyang di Malang."


"Buset, perjalanan jauh itu. Lo yakin sama kondisi Adhisti?" Tersirat kekhawatiran dari nada bicara Rendy.


"Mending naek pesawat aja deh, jangan yang aneh-aneh. Ntar gue bantuin ngomong ke Delia," lanjutnya.


Pria berkemeja hitam itu menghembuskan napas. "Adhisti malah menyutujui bahkan terlihat sangat antusias, Ren. Aku tidak tega melarangnya. Karena hal itu pula aku mengajaknya mengecek kondisinya dulu sekaligus transfusi darah, aku juga sudah menghubungi komunitas thalassemia yang ada di Yogyakarta dan Malang agar mudah ketika Adhisti membutuhkan darah di sana." Raka memang se-over protektif itu pada Adhisti. Sejak ia dan Rendy kelimpungan mencari darah untuk Adhisti dulu, ia benar-benar menjadi tameng untuk Adhisti. Raka yang tidak pernah menggunakan media sosial sampai membuat akun, ia mencari dan bergabung dengan komunitas-komunitas thalassemia entah itu di Jakarta atau luar kota. Al hasil ketika Adhisti membutuhkan darah ia tidak perlu bingung melangkah, ia bisa ke PMI atau langsung memberikan info kepada sang admin jika ia membutuhkan darah.


"Aku hanya ingin mengabulkan keinginan-keinginan kecilnya, melihatnya bisa merasakan kebebasan dan kehidupan normal lainnya tanpa harus berpikir dia berbeda."


❄️❄️❄️


Hay hay hay babang tamvan nan mempesona datang menyapa izin ngiklan bentar yaa ....


Selamat menjalankan ibadah puasa ya ... tolong yang puasa skip dulu part ini karena sahabat gue lagi menikmati kemesumannya ...


Gue mau bawa rekomendasi cerita nih datangnya dari calon kakak ipar si Attar yang kagak jadi ...


tadaaaa judulnya Lantunan Tasbih Annaya masih seger baru di brojolin sama authornya cus di baca❤️❤️❤️