
Mentari seperti tengah memamerkan keindahannya, terbukti langit kota Jakarta pagi ini sangat cerah dengan semburat biru membentang tanpa ada sedikit pun awan yang menutupi.
Seorang gadis dengan rambut tergerai tengah melangkah menyusuri jalan di kampusnya, kulitnya yang putih semakin bersinar terkena pantulan cahaya matahari. Ia lewati satu persatu koridor hingga tiba di depan sebuah ruangan untuk mencari seseorang yang merupakan dosen pembimbingnya. Namun, setelah melihat ke dalam ruangan pun bertanya pada beberapa orang yang ada di sana, gadis itu tak menemukan seseorang yang dicarinya itu.
Adhisti sengaja mencari Raka karena ia ingin meminta maaf sekaligus ingin menanyakan soal pengajuan judul skripsinya yang di ACC atau tidak, pasalnya ia sudah mulai mengerjakan dua bab awal dari skripsi itu jika tidak di ACC maka dia harus mengganti judul dan mengulang lagi dari awal.
Gadis itu bingung harus mencari sang dosen kemana, apakah ia harus pergi ke NarArt atau ke cafe tempo hari? Adhisti memutuskan pergi ke perusahaan yang menjadi tempat magangnya itu dan berharap bisa bertemu Raka.
Saat tiba di NarArt yang bisa Adhisti temui hanya sahabat dari sang dosen, mau tak mau akhirnya Adhisti bertanya kepada bule yang memiliki gelar cassanova itu.
"Bapak yakin Pak Raka tidak ada di sini?"
"Iya, apa kamu tidak menghubungi ponselnya?" Yang di jawab gelengan oleh Adhisti.
Rendy menyeringai, ia jadi memiliki ide yang mungkin bisa membantu Raka mendapatkan gadis pujaannya.
"Berarti kamu juga nggak tau kalau Raka masuk rumah sakit?"
"Hah? Pak Raka sakit apa?" Adhisti mulai khawatir.
"Entahlah, akhir-akhir ini Raka susah makan. Makanan seperti nggan masuk ke dalam tenggorokannya, dia sudah seperti tak memiliki semangat hidup. Abi dan uminya berniat membawa Raka pengobatan ke luar negeri." Rendy bercerita dengan wajah serius sampai-sampai Adhisti terlihat sangat percaya oleh perkataan pria itu. Dalam hati ,Rendy sejujurnya kasihan melihat raut wajah Adhisti yang berubah sedih dan dipenuhi kekhawatiran. Namun, ia juga ingin tertawa karena aktingnya terlalu di dramatisir.
Raka memang sedang tidak berada di NarArt hari ini, tetapi ia tidak sakit. Raka tengah menemui client di luar dan izin tidak kembali ke NarArt karena hendak mengantar sang umi menjenguk sahabat sang abi.
"Apa separah itu, Pak? Sampai harus ke luar negeri?" Adhisti sudah ingin menangis membayangkan kondisi Raka.
"Maaf Adhisti saya harus kembali bekerja. Jika kamu mencari Raka hanya untuk menanyakan soal skripsimu, lebih baik lain waktu saja. Karena Raka saat ini ingin fokus kepada kesehatannya." Rendy memutar badannya memunggungi Adhisti, ia menghitung sampai tiga di dalam hatinya sambil berjalan pelan meninggalkan Adhisti berharap gadis cantik itu akan memanggil namanya kembali.
"Satu ... dua ... ti-" Rendy mulai menghitung. Belum genap Rendy berhitung sampai tiga Adhisti sudah memanggil.
"Emm, Pak Rendy tunggu."
Senyuman Rendy semakin lebar, jangan pernah remehkan Rendy soal wanita. Karena mudah bagi Rendy membuat wanita bertekuk lutut bahkan menyerahkan diri padanya.
"Ada apa lagi?" Rendy berbalik.
"Pak Raka dirawat di rumah sakit mana? Apa saya boleh meminta alamatnya?"
"Untuk apa? Saya sudah bilang, Raka sedang fokus kepada kesehatannya. Jika tentang sekripsimu bi-" Rendy belum menyelesaikan ucapannya ketika Adhisti bersuara dengan sedikit meninggi.
"Ini bukan tentang sekripsi saya, Pak."
"Lalu?"
"Ini tentang hal lain, saya mohon berikan saya alamat rumah sakitnya, Pak." Air mata Adhisti mulai menetes.
"Oke oke, kamu jangan nangis gitu. Nanti orang-orang menyangka saya yang membuat kamu menangis," ujar Rendy. Kenyataannya memang benar Adhisti menangis karena ulahnya mengarang cerita.
Setelah mendapat alamat rumah sakit dan berterima kasih kepada Rendy, Adhisti langsung pergi memesan taksi online. Rendy yang melihat tingkah Adhisti hanya bisa tertawa dan langsung mengirimi sahabatnya pesan.
Good luck, Bro.
Peran gue udah selesai.
Sekarang giliran lo ...
Rendy memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana lalu berjalan memasuki NarArt dengan bersenandung kecil.
❄️❄️❄️
Sinar matahari tepat berada di atas kepala Adhisti ketika gadis itu sampai di rumah sakit sesuai arahan Rendy, dengan air mata yang terus menetes ia berlari ke arah lift lalu memasukinya. Menurut info yang diberikan Rendy, Raka dirawat di bangsal VIP. Sepanjang jalan Adhisti terus digerogoti oleh rasa bersalah, ia merutuki kebodohannya yang telah menyakiti Raka.
Adhisti tidak menyangka penolakannya bisa mempengaruhi kesehatan Raka sampai seperti ini, Adhisti juga bertekad jika nanti dirinya sudah meminta maaf dan Raka melamarnya lagi ia akan langsung menerima tanpa harus berpikir panjang.
Ketika lift terbuka Adhisti keluar dan langsung menuju ke meja nurse station VIP. Ia usap pipi yang basah lalu bertanya, "Permisi, Sus, saya ingin bertanya pasien atas nama Caraka Nararya ada di ruangan berapa?"
"Atas nama Pak Caraka Nararya ya, Bu, sebentar yaa ...." Suster jaga langsung mengecek.
"Maaf, Bu, tetapi di sini tidak ada pasien atas nama Pak Caraka Nararya," lanjutnya
Adhisti mengernyit, apa ia salah rumah sakit?
"Maaf, sus. Tapi ini benar kan rumah sakit pelita?"
"Benar, Bu, tetapi memang tidak ada pasien atas nama Pak Caraka Nararya," jelas suster.
"Bentar-bentar sus." Adhisti menjauh dari nurse station itu, ia sedikit menepi lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tas kecilnya.
Adhisti mencoba menghubungi Rendy, akan tetapi tidak diangkat. Pada saat Adhisti mencoba untuk kedua kalinya, tak sengaja kedua netra indah itu terarah ke ujung koridor. Ia melihat Umi Dahlia tengah mendorong kursi roda yang di duduki seorang wanita bernikab, di samping kirinya ada seorang wanita paruh baya dan di samping kanannya seorang pria yang sangat ia kenali.
Tanpa bisa ditahan air mata Adhisti mengalir, rasa khawatirnya menguap begitu saja berganti dengan rasa sakit yang bergemuruh di dadanya. Pemandangan macam apa ini? Jadi Raka baik-baik saja? Adhisti merasa dirinya menjadi gadis paling bodoh di dunia ini, mau-maunya ia di bodohi oleh bule mesum itu.
Pandangan Adhisti dan Raka bertemu, ia cepat-cepat mengusap air matanya. Adhisti melihat Raka seperti tengah meminta izin kepada sang umi, terbukti Umi Dahlia langsung menatapnya lalu memberikan senyum manis padanya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Raka, saat sudah di hadapan Adhisti.
"Sa-saya ingin bertanya soal judul skripsi saya, Pak," jawab Adhisti parau.
"Jangan di sini, kita cari tempat yang nyaman untuk membahasnya."
"Terserah Bapak saja."
Raka mengajak Adhisti mendekati Umi Dahlia, pria itu langsung meminta izin untuk ke kantin rumah sakit sebentar baru mengantarkan gadis yang bernama Maharani dan umanya pulang. Mata Adhisti tak bisa berpaling dari gadis yang duduk di kursi roda, terlihat sangat anggun dan cantik meski wajahnya tertutup nikab. Setelah mendapat izin Raka berpamitan dan mengajak Adhisti pergi.
❄️❄️❄️❄️