Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 10



Degg


Raka tiba-tiba mematung, dunianya seakan runtuh. Seketika dadanya di serang oleh rasa yang teramat nyeri. Baru saja ia menyakiti hati seorang wanita, tanpa menunggu lama Allah langsung berikan balasan untuknya.


Salat Maghrib pun ia kerjakan dengan sangat berat, di tambah hujan turun begitu deras membuat suasana hatinya semakin buruk. Rasa penyesalan muncul begitu saja. Kenapa tidak sejak dulu Raka mendekati Adhisti. Kenapa rasa ini baru ada sekarang. Kenapa dia dengan bodohnya tidak berfikir jika di luar sana banyak pria yang menginginkan Adhisti.


Dzikir dan doa setelah salat Raka lewatkan dengan mata yang basah, pikirannya di penuhi oleh gadis penakut yang beberapa bulan ini selalu memenuhi hati dan pikirannya. Beginikah rasanya patah hati? Sungguh Raka baru merasakannya.


Raka memaksa Rendy untuk pulang saat hujan tidak kunjung reda, Rendy yang awalnya ingin mendapat wejangan dari ustaz Anwar mengerti dengan kondisi temannya. Ia langsung mengiyakan dan mulai berlari menuju mobil.


Perjalanan pulang mereka di hiasi dengan keheningan, hanya terdengar suara lagu patah hati yang Rendy putar.


Rendy merutuki kebodohannya, kenapa dia harus menyalakan musik. Sekarang ia malah membuat raut muka sahabatnya semakin dingin. Ketika Rendy mencoba untuk mematikan, Raka malah mencegah.


Ingatan Raka berputar saat ia pertama kali memarahi Adhisti di kampus dulu, gadis itu ketakutan sampai hendak menangis. Semua kejadian antara dirinya dan Adhisti mulai muncul di benaknya silih berganti. Rasanya baru kemarin ia merasakan bahagia bisa mewujudkan keinginan gadis itu, akan tetapi sekarang ia malah harus merasakan sebalikannya.


"Sabar, Ka. Mungkin dia emang bukan jodoh lo." Rendy tidak tega melihat sahabatnya diam saja. Ini pertama kalinya Raka jatuh cinta tapi langsung patah sebelum mekar.


"Nanti gue cariin penggantinya buat lo," lanjutnya.


"Bukannya salah satu tanda jodoh itu adalah mudahnya mendapat restu, Ren? Tapi kenapa jadi seperti ini?" Raka mulai mau berbicara. Pikirannya masih tertuju pada Adhisti. Apa lagi melihat Adhisti mengenakan hijab seperti tadi sungguh sangat cantik, tetapi kenapa harus pria lain yang memilikinya.


"Bodoh! Lo baru dapet restu dari umi, sedangkan abi lo, gaimana?"


Si bule bermulut lemes dan pedas itu memang benar, Raka lupa jika sang abi belum memberi restu. Raut wajah pria itu makin terlihat keruh jika sudah mengingat ucapan sang abi yang menginginkan menantu yang baik agamanya.


Waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan kesakitan yang belum ada obatnya untuk Raka. Selama dua bulan lebih dia sama sekali tidak pergi ke Narart, segala sesuatu yang menyangkut Adhisti sengaja Raka titipkan kepada Rendy.


Rasa peduli Raka terhadap Adhisti tidak bisa hilang begitu saja, ia hampir setiap hari menanyakan kondisi Adhisti pada Rendy. Apa dia sudah makan, apa dia kelelahan bahkan Raka sampai bertanya kepada Rendy apakah Adhisti sudah transfusi darah.


Rendy yang awalnya memaklumi malah di buat emosi "Emang gue ini bapaknya hah?  Sana tanya sendiri sama orangnya. Gue sibuk!"


Ada rasa rindu ingin bertemu dan melihat wajah ayu milik gadis itu, akan tetapi ia tahan karena ia tahu Adhisti sudah akan menjadi milik orang lain.


❄️❄️❄️


Malam begitu sunyi, Raka terjaga dari tidurnya sebab tenggorokannya meminta di aliri air. Setelah minum, Raka melirik jam di nakas yang menunjukan angka dua dini hari.


Raka mengambil wudhu dan mulai melaksanakan salat tahajud. Doa serta dzikir ia panjatkan meminta yang terbaik kepada Allah, jika dia bukan jodohnya maka Raka meminta agar rasa ini cepat di hilangkan. Sungguh rasa sakit ini sangat menyiksa, bagaikan nikotin yang membuat candu dan sakau si pemakai begitulah Adhisti bagi Raka.


Ting ...


Terdengar suara pesan masuk dari ponsel di atas nakas. Raka yang sedang melipat sarung dan baju koko itu langsung melangkah ke arah nakas.


"Tadi siang Adhisti mencarimu." Isi pesan dari Rendy membuat Raka termenung. Raka mulai menggerakan jari untuk membalas pesan.


"Ada apa? Apa dia baik-baik saja? Kamu tidak macam-macam padanya'kan?"


"Kami bertemu atau tidak, tapi dia selalu ada di setiap do'aku. Meski aku tidak berani menyebut namanya. Semoga dia selalu dalam lindungan Allah " Setelah membalasnya Raka langsung menekan tombol on off di sisi kanan seketika layar ponselnya pun mati.


Tidak lama layar kembali menyala menampilkan pesan dari sahabatnya yang mengatakan bahwa Raka sudah gila.


"Aku memang layaknya Majnun yang mencintai Laila." Raka bergumam sambil berlalu pergi mengambil buku untuk mengalihkan pikirannya dan menunggu waktu subuh tiba.


Raka selalu ingin menghindar, tetapi takdir selalu menariknya agar berdekatan dengan Adhisti. Terbukti pagi ini Raka yang sedang mengancingi kemeja di kejutkan dengan pesan singkat dari Adhisti. Ia ingin memberikan laporan hasil magangnya, Waktu magang Adhisti memang sudah habis dan itu berarti mereka akan bertemu di kampus. Raka menyesal kenapa kemarin-kemarin ia malah menyodorkan diri sebagai dosen pembimbing bagi Adhisti.


"Ya Allah aku harus menghindar seperti apa lagi?" ujarnya sambil menyugar rambut, ia terlihat sangat frustasi.


"Jangan di hindari, Mas. Tapi di hadapi," ucapan sang abi membuat Raka kaget. Ia menengok dan terlihat Abi Faruq sedang berdiri di pintu.


"Abi ...."


"Kadang apa yang kita lihat dan dengar belum tentu itu adalah kebenarannya, Mas." Abi Faruq berjalan dan duduk di tempat tidur sang anak.


"Maksud, Abi?" Raka ikut duduk di samping abinya.


"Mas bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud abi'kan?" bukannya menjelaskan Abi Faruq malah balik bertanya dan menepuk bahu Raka.


"Tapi sulit, Bi. Raka tidak ingin mendapatkan kabar buruk untuk yang kedua kalinya."


Abi Faruq tersenyum "Mematahkan hati anak gadis orang sudah sering kamu lakukan dengan menolak CV mereka, dan sekarang Mas takut untuk patah hati?"


Raka diam ia menunduk, apa abi sudah tau soal Adhisti, kenapa abi berbicara seperti ini.


"Apa Abi setuju dengan dia?" tanya Raka sedikit takut.


"Umimu sudah bercerita, ya mungkin Abi harus mengalah agar segera mendapatkan seorang cucu," Abu Faruq berucap sambil tersenyum penuh arti.


Harusnya Raka senang mendengar ucapan sang abi, tetapi kenapa hatinya semakin sakit.


"Apa Mas kemarin bertemu dengan Maharani anak dari ustaz Anwar?"


"Tidak, Bi ...."


"Bagaimana tanggapan ustaz Anwar saat Mas menolak CV anaknya?"


"Jadi yang kemarin mengirimiku CV adalah Maharani, Bi?"


"Iya, jangan bilang Mas sama sekali tidak membuka amplop itu," Raka tidak berani menjawab karena yang diucapkan sang abi benar adanya, Raka sama sekali tidak menyentuh amplop itu setelah menerimanya dari Abi Faruq tempo hari.


"Astaghfirullah, Mas!" Abi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak sulungnya.


❄️❄️❄️