Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 02



Seorang gadis tampak sedang berlarian di koridor kampus dengan napas tersengal-sengal. Entah apa yang membuatnya sampai panik seperti itu, yang jelas banyak tumpukan kertas di tangannya yang dijepit menggunakan klip berukuran besar.


Tok tok tok!


Gadis itu membuka pintu kelas. Dia ingin masuk kemudian duduk untuk mengikuti mata kuliah. Tapi nyatanya suara bariton yang memanggilnya membuatnya sadar kalau yang ia hadapi saat ini adalah dosen killer di kampusnya.


“Adhisti!” Raka memanggilnya singkat dengan tatapan penuh intimidasi.


“I- iya, Pak?” Adhisti melangkah menghampiri Raka yang awalnya sedang menjelaskan materi.


Tatapan tajam Raka membuat Adhisti hanya menundukkan wajahnya. Tak berani menatap wajah sang dosen, ia malah menatap perut dosennya.


Biasanya ketika takut ia akan menunduk memandangi sepatu yang ia kenakan. Namun, Pak Raka pernah menegurnya.


“Perhatikan lawan bicaramu! jangan menunduk terus, kamu pikir sepatu bisa berbicara denganmu?" maka hari ini ketika berhadapan dengan Raka ia putuskan untuk melihat perutnya, karena untuk menatap matanya yang tajam Adhisti tidak mampu.


“Kenapa telat?” tanya Raka basa-basi untuk mengetahui alasan apa yang dipakai mahasiswi di depannya ini, padahal Raka sudah mengetahui alasan Adhisti terlambat hari ini.


Pagi-pagi sekali Raka mendapat telpon dari nomor yang tidak ia kenali dan ternyata ayah dari mahasiswinya Tisyabina Adhisti. Sebenarnya Ayah Adhisti meminta izin kepada Raka bahwa Adhisti tidak bisa mengikuti mata kuliahnya siang ini disebabkan Adhisti harus melakukan transfusi darah di pagi harinya, tetapi ternyata Adhisti muncul di hadapannya dengan muka pucat membuat Raka penasaran.


“Maaf Pak, tadi ada urusan penting,” jawab Adhisti tetap mempertahankan pandangannya di perut Raka.


“Wajah saya di sini, kamu lihatnya kemana?” Adhisti langsung tersentak mendengar suara Raka yang ternyata memperhatikan arah pandangnya.


Belum sempat mengucapkan maaf, Raka sudah lebih dulu menyuruh Adhisti duduk dan mengikuti perkuliahan. Mata kuliah dengan 3 SKS itu selesai sekitar 2.5 jam.


“Adhisti, kamu ikut saya ke ruang dosen!” ucap Raka sambil berlalu keluar kelas.


Adhisti mengekor langkah Raka, hal itu membuat semua pasang mata yang berada di koridor kelas menatapnya. Ada yang menatapnya dengan tatapan ingin seperti Adhisti bisa mengikuti Raka ke ruang dosen, ada pula yang menatap dengan tatapan kasian karena Pak Raka tidak akan segan-segan menghukum mahasiswanya yang tidak disiplin dalam mengikuti mata kuliahnya.


Sampai di ruang dosen Adhisti dipersilahkan untuk duduk di kursi yang ada di depan meja dengan papan bertuliskan Caraka Nararya, S.M., MMG.


Pikiran Adhisti masih menimbang-nimbang alasan apa lagi yang harus ia buat untuk lari dari hukuman dosen killer yang ada di depannya ini.


Raka berdehem untuk menyadarkan Adhisti dari lamunannya. Sekali lagi Raka menanyakan alasan Adhisti terlambat mengikuti kelasnya. Padahal Raka sudah menegaskan tidak ada keringanan untuk mahasiswa yang tidak disiplin.


“Ma-maaf, Pak Raka.” Lagi-lagi hanya kata maaf yang keluar dari bibir mungil itu.


“Untuk skripsi kamu, saya yang akan menjadi dosen pembimbingnya dan magang kamu yang semester kemaren terlewat, saya juga sudah menentukan perusahaan untuk tempatmu magang,” ucapan Raka sukses membuat wanita cantik di depannya melongo. Hal itu membuat Raka menarik sudut bibirnya sedikit. Ingat, hanya sedikit. Bahkan Adhisti yang di depannya tidak menyadari itu.


Adhisti keluar dari ruang dosen dengan linglung. Padahal ia ingin magang di perusahaan ayahnya untuk meminimalisir terjadinya kecapekan yang melanda. Kata ayahnya kalau kondisinya kurang fit bisa istirahat sesuka hatinya. Tapi nyatanya keadaan tidak sesuai yang Adhisti inginkan. Menolak pun juga tak bisa ia lakukan karena ia sadar sudah melewatkan batas kompensasi keterlambatan magang.


***


Raka mengendari mobil Audi R8nya, membelah jalanan ibu kota. Sesekali Raka berhenti karena lampu menyala merah di perempatan atau pertigaaan.


Percakapan di telepon tidak sesuai yang dia harapkan, oleh sebab itulah ia pergi untuk menemui ayah mahasiswinya setelah jam mengajarnya habis hari ini. Menjelaskan bahwa dia bisa menjamin kondisi Adhisti ketika magang di kantornya.


Sebenarnya Raka tidak cukup perhatian untuk menyodorkan diri menjadi pembimbing skripsi ataupun menentukan tempat magang anak didiknya. Hal ini tidak luput dari permohonan sang ayah dari mahasiswinya yang meminta tolong untuk benar-benar memberikan posisi magang yang tidak terlalu melelahkan untuk anaknya.


Dua puluh lima menit perjalanan yang dilalui Raka, akhirnya dia tiba di sebuah restoran seafood yang lumayan terkenal. Bukan ia yang memilih tempat ini, melainkan ayah dari mahasiswinya.


Setelah Raka masuk, ternyata di sofa paling ujung dengan sekat penjalin sudah terdapat pria paruh baya yang sedang duduk menunggunya.


"Assalamualaikum, Pak Pandu Rahandika." Raka menjabat tangan pria baruh baya tersebut.


"Waalaikumsalam, Pak Raka. Mari silahkan duduk." Ajak Pak Pandu kepada Raka.


Mereka menyelesaikan makan terlebih dahulu sebelum memulai obrolan serius menyangkut keadaan Adhisti ketika magang nanti.


"Bapak tidak perlu khawatir, Insya Allah saya yang akan menjamin bahwa Adhisti akan baik-baik saja. Untuk posisi magang, saya akan mengaturnya. Dia akan saya tempatkan di kantor milik Abi saya." Raka berusaha meyakinkan Pak Pandu bahwa Adhisti akan baik-baik saja.


"Apa tidak bisa Adhisti magang di kantor saya sendiri?" Pak pandu masih mencoba bernegosiasi dengan Raka.


"Mohon maaf untuk ini tidak dianjurkan, karena mahasiswa yang magang membutuhkan nilai yang benar-benar mutlak dengan apa yang dia kerjakan." jawab Raka tegas.


Setelah hampir satu jam Raka mengobrol dengan Pak Pandu membicarakan tentang kondisi Adhisti mulai dari apa saja pantangan dan bagaimana penanganan ketika Adhisti mulai merasa tak nyaman dengan tubuhnya, bahkan mereka membicarakan hal-hal kecil tentang Adhisti, akhirnya Raka beranjak meninggalkan restoran tersebut setelah berpamitan dengan Pak Pandu.


Kembali Raka membelah jalanan yang lumayan ramai karena waktu menunjukkan angka dimana kebanyakan para pekerja dan karyawan pulang setelah bekerja seharian. Lampu jalan dan lampu dari kendaraan yang melintas menerangi sepanjang jalan.