Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 12



Rendy sampai di kampus Delia tepat sehabis azan Zuhur, ia mengambil ponsel di saku celananya lalu mencari nomor Delia dan langsung mendialnya.


"Assalamualaikum, Dek, kamu dimana?" Rendy bertanya dengan nada bicara yang sangat lembut.


"Oh oke, tunggu sebentar Mas ke sana sekarang ya. Kita salat bareng." Rendy mematikan telponnya langsung menuju ke tempat Delia berada.


"Ko Mas bule yang jemput aku, Mas Raka kemana?" Pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari mulut Delia.


"Masmu sedang menjalankan misi," ucap Rendy.


"Misi apa, Mas?" Delia penasaran.


"Misi mendapatkan kakak ipar untukmu, udah ayo cepat salat. Habis itu makan, Mas bawa makan siang untuk kamu. Atau mau Mas imamin sekalian?" Rendy berucap dengan senyum penuh arti.


Rendy memang diam-diam mengidamkan Delia. Namun, Rendy sadar dia bukan pria yang tepat untuk Delia. Dia fakir ilmu, tidak tahu apa-apa soal agama islam, bahkan dia sekarang masih mencicil ruangan di neraka untuk tempatnya tinggal. Mana bisa sebanding dengan Delia yang bahkan seorang Hafidzah.


Setelah salat dan makan siang Rendy mengantarkan Delia pulang, pria blasteran Indonesia-Belanda itu langsung menuju NarArt Company untuk mengambil berkas.


Rendy baru memasuki lobby saat Attar datang dengan raut wajah yang tak terbaca, Attar menghampiri Rendy langsung memberikan berkas yang diminta pria itu.


"Muka lo kenapa?"


"Bang, boleh nanya gak?" Attar malah balik bertanya.


"Gue sibuk, Tar. Nanyanya besok-besok aja lah."


"Ini penting, Bang." Attar sedikit memaksa.


Rendy berpikir untuk beberapa detik, "Ya udah kemon, lo ikut gue ketemu client, di mobil lo bisa nanya sepuas lo."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam sana ada dua pemuda yang berbeda status tengah melakukan sesi tanya jawab.


"Ini siapa, Bang?" Attar bertanya sambil menunjukan foto dua pria paruh baya yang tampak akrab.


"Lo motret dari mana ini foto?"


"Dari ruangan big boss tadi," jawab Attar jujur.


"Hadeuhh lo mah. Gue nyuruhnya apa, lo malah ngerjainnya apa." Rendy sudah bingung ingin menjawab apa, ia tahu Attar bukan pemuda yang bodoh.


"Gak sengaja liat, Bang. Pas tadi lagi nyari berkas." Attar nyengir menunjukkan giginya yang rapi.


"Itu foto kakeknya bos lu sama sahabatnya."


"Lah itu foto Abah gue, Bang. Berarti Abah gue sahabatan sama kakeknya si boss? Terus Pak Faruq juga sahabat sama bokap gue, Bang?"


"Ya iya lah, lo bisa masuk ke sini juga karena bokap lo," Rendy kelepasan, ia cepat-cepat menutup mulutnya karena merasa sudah salah bicara.


Attar langsung memaksa Rendy menceritakan semua yang ia ketahui dan mau tak mau Rendy akhirnya menceritakan semuanya, ia juga memberi nasehat kepada Attar agar tidak berkecil hati dan tidak memperpanjang masalah ini karena jika boleh jujur kinerja Attar selama di NarArt sudah Rendy akui. "Gue kira elo beneran anak mami, tapi ternyata kerjaan elo beres semua bahkan ide-ide elo selalu cerdas."


❄️❄️❄️


Di rumah sakit, Raka dan Adhisti sedang berjalan ke musola untuk melaksanakan kewajibannya sambil menunggu darah yang dibutuhkan Adhisti datang, tanpa di duga mereka bertemu dengan Umi Dahlia dan Abi Faruq.


"Mas sedang apa di sini?" tanya Umi Dahlia sambil melirik Adhisti.


"U-umi ...." Raka kaget, ia langsung mencium tangan kedua orang tuanya. sedangkan Umi dan Abi masih menunggu jawaban anaknya.


"Assalamualaikum Pak, Bu ... Perkenalan saya Adhisti. Mahasiswi Pak Raka." Adhisti langsung memperkenalkan diri mencium tangan Umi Dahlia lalu mengangguk kepada Abi Faruq.


"Waalaikumsalam, Nak. Panggil Umi saja." Umi Dahlia langsung memeluk Adhisti.


"Sedang apa Mas di sini?" tanya Abi Faruq.


"Mengantar Adhisti transfusi darah, Abi." Raka mencoba menjelaskan.


"Hanya berdua?"


"Tadi sama Rendy, Bi, tapi Rendy sedang ada urusan sebentar." Raka tidak mau abinya salah paham, yang akan memperumit semuanya.


"Sudah, Bi, biarkan mereka salat dulu. Nanti kita bicarakan lagi di rumah," ucap Umi Dahlia menengahi sambil terus memeluk Adhisti.


Abi Faruq mengikuti saran sang istri, ia menyuruh Raka untuk segera melaksanakan kewajibannya. Sebelum pergi Umi Dahlia memberi pesan bahwa ia akan menunggu Raka dan Adhisti di kantin rumah sakit untuk makan siang bersama.


Saat Adhisti dan Raka tiba, sudah tampak hidangan di meja yang di duduki Abi Faruq dan Umi Dahlia. mungkin umi sudah memesankan makanan untuk Adhisti dan dirinya, Adhisti langsung diajak duduk di samping Umi Dahlia, sedangkan Raka tentu saja duduk di samping Abi Faruq.


Raka termenung melihat menu makanan yang uminya pesankan. Mungkin bagi Raka itu tidak masalah, tetapi bagi Adhisti apa ini tidak akan apa-apa.


Raka melirik sekilas kepada Adhisti. merasa ragu untuk bertanya "Apa kamu bisa memakan ini?"


Adhisti ikut menatap makanan di hadapannya. ia belum pernah memakan makanan ini sebelumnya, tetapi apa salahnya jika mencoba. Lagi pula jika dia menjawab tidak bisa, ia takut menyakiti hati ibu sang dosen yang sangat baik padanya.


"Bisa, Pak." Kata itu yang keluar dari bibir Adhisti.


Umi Dahlia tersenyum melihat perhatian Raka pada Adhisti "InsyaAllah ini aman untuk Adhisti, Mas. Tenang saja Umi sendiri yang memesankannya. Hanya Nasi milik Mas dan Abi yang memakai daging kambing, sedangkan milik Umi dan Adhisti memakai daging ayam."


Siang ini Umi Dahlia memesan nasi kebuli untuk makan siang mereka, makanan kesukaan sang suami tentunya. Karena Raka sendiri kurang menyukai apa lagi Delia.


"Coba dulu sedikit aja, Nak ... kalo gak bisa makan jangan dipaksain ya, nanti Umi pesankan yang lain." Umi Dahlia mengusap punggung Adhisti dengan penuh sayang.


Semua perlakuan itu tidak luput dari pandangan Raka dan Abi Faruq, membuat kedua pria yang hampir memiliki rupa yang sama itu melihatnya dengan tatapan haru, Raka berandai-andai jika saja Adhisti memang calon istrinya pemandangan seperti ini tentu yang diidamkannya. Sedangkan Abi Faruq menatap haru karena dia merasakan perasaan istrinya yang sudah menginginkan seorang menantu.


"Bagaimana ... enak?" Umi Dahlia bertanya lagi, saat melihat Adhisti mulai menyuapkan sendok yang berisi nasi itu kedalam mulutnya.


Adhisti mengangguk, ia sedikit tidak suka dengan aroma rempah-rempah yang menyengat dari nasi itu, tetapi perutnya masih bisa menerima.


"Enak, Umi. Tapi rempah-rempahnya kerasa banget ya, Umi." Adhisti berucap pelan. Ia takut menyinggung perasaan Umi Dahlia.


"Hihi ... iya, apalagi yang memakai daging kambing. Karena itu pula Raka kurang suka, apalagi Delia, dia sama sekali tidak mau memakannya." Umi tertawa mendengar ucapan Adhisti yang takut-takut.


"Nasi kebuli ini makanan kesukaan Abinya Raka, jadi kadang kalau bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri atau Idul Adha suka bikin di rumah. Kadang kalo lagi pengen ya pesen begini." Umi Dahlia berbicara sambil terus mengusap punggung Adhisti.


"Umi, lebih baik makan dulu nanti keburu dingin," Abi Faruq mencoba mengingatkan sang istri.


Darah yang Adhisti butuhkan belum tersedia. Jadi setelah makan siang Umi Dahlia mengajak Adhisti ke sebuah taman yang berada di area rumah sakit, sedangkan Abi Faruq memutuskan untuk ke kamar inap temannya. Umi Dahlia bercerita tentang hal apapun, mulai dari Raka kecil, Delia yang susah memakai hijab saat masih duduk di bangku paud dan kisah-kisah yang bisa menginspirasi. Adhisti sendiri sudah tidak canggung lagi. Ia antusias mendengarkan cerita, ia merasa nyaman dengan Umi Dahlia, bahkan ikut tertawa saat Umi Dahlia menceritakan hal yang lucu.


Raka hanya melihat dari kejauhan dua wanita yang ia sayangi sedang bercengkrama. Kadang ia ikut tersenyum saat melihat tawa Adhisti, meski dia sendiri tidak tahu apa yang membuat Adhisti tertawa.


❄️❄️❄️


Hayoohh udah ramadhan nih, siapa yang kepikiran mau berbuka dengan nasi kebuli🤭