Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 49



"Menjadi ibu merupakan hadiah teristimewa, Nduk. Bersyukurlah, karena kamu adalah orang yang terpilih untuk menerima hadiah itu. Terlepas dari proses melahirkan secara normal atau secara operasi, para ibu tetap berjuang dengan taruhan nyawa. Tidak sedikit ibu yang tidak bisa bertahan meski melahirkan secara Caesar, derajat dan mustajabnya doa seorang ibu tetap sama."


Pagi ini Umi Dahlia menemani sang menantu berjalan di sekitar perumahan, sang surya masih malu menampakkan diri membuat udara Jakarta seperti bogor.


"Yang terpenting mommy sama dedeknya sehat, Yangti, yangkung, Ondel sama Kakak Satya udah gak sabar nungguin," lanjutnya seraya mengusap perut Adhisti.


"Aamiin, Yangti."


Perut Adhisti sudah semakin membuncit, jika tak ada halangan minggu depan keluarga Nararya sudah bisa menyambut anggota barunya.


Tak seperti kehamilan Satya, kali ini Umi Dahlia tampak lebih tenang. Tak ada bengkak di kaki dan tangan menantunya, justru Umi Dahlia bisa melihat pancaran cahaya dari wajah Adhisti. Semakin hari wanita yang tengah hamil tua itu terlihat semakin cantik serta menawan.


"Udah cukup buat hari ini jalannya ya, Nduk, lebih baik kita pulang sebelum rumah dihancurkan oleh kedua penguasa itu." Senyum Umi Dahlia tetap meneduhkan hati Adhisti.


Adhisti terkekeh membenarkan, entah bagaimana kondisi rumah jika ada Satya dan Ondelnya. Terbayang wajah tampan suaminya yang menahan kesal akibat ulah anak serta adiknya itu.


Benar tebakan Umi Dahlia, saat sampai di rumah tampak bibi di ruang keluarga tengah membereskan mainan Satya. Sedangkan Raka berada di ambang pintu, matanya lurus ke arah taman belakang memperhatikan dua orang berbeda usia yang bercengkrama di dalam tenda.


"Mas," Adhisti tanpa canggung memeluk suaminya dari belakang meski bukan di dalam kamar mereka.


Raka sedikit terkejut. Ia balikan badan dan mencium pucuk kepala istrinya menghirup aroma sweet yang menyeruak di inderanya seakan tak pernah puas.


"Tumben cuma sebentar, By. Biasanya sampe sejam. Apa gak mampir ke bubur Mang Dudung?"


"Umi sama istrimu takut rumah ancur Mas,  jadi buru-buru pulang." Umi Dahlia yang datang dari arah dapur dengan membawa segelas air putih sudah terlebih dahulu menyauti ucapan anak sulungnya.


Terdengar kekehan seorang Caraka Nararya dengan tangan yang terus melingkar intens di pinggang sang istri, Adhisti buru-buru melepaskan tangan suaminya ia merasa tak enak pada sang mertua. Namun, sia-sia saja tangan Raka sama sekali tak berpindah.


Saking geramnya Adhisti mengeluarkan jurus capit menyakitkan, Raka yang tak siap menerima serangan tiba-tiba mengaduh. "Sakit, By."


"Rasain, abisnya ngeyel sih."


"Minum dulu, Nduk." Umi Dahlia menyodorkan gelas yang dibawanya pada Adhisti, dengan rasa tak enak hati Adhisti menerima minuman itu.


"Umi, liat menantu kesayangan Umi KDRT," adu Raka menyodorkan tangannya yang sedikit memerah bekas cubitan Adhisti.


Umi Dahlia mengambil tangan anak sulungnya dan mengusapnya. "Terima kasih, Mas, sudah membawa adikmu pulang." Wajah Umi Dahlia berubah sendu.


"Umi, Delia pulang bukan karena aku. Dia pulang karena keinginannya sendiri, aku bahkan menjadi kakak paling jahat untuknya. Meski aku merindukannya aku tak pernah menemuinya, tak pernah menelponnya, tak pernah menanyakan kabarnya sedikitpun. Aku jahat banget kan, Umi?" Ia rengkuh tubuh uminya, Adhisti yang melihatnya ikut terharu sampai meneteskan air mata.


Raka teringat kata-kata terakhir yang ia ucapkan pada Delia sebelum Delia pamit.


"Pergilah! Jika memang itu maumu, gapai semua inginmu, jangan kembali jika kamu belum bahagia! Jangan harap aku akan mencarimu, jangan pernah menunggu pesan dari umi, abi bahkan kakak iparmu. Aku Caraka Nararya, pantang bagiku menjilat ludahku sendiri."


Ia peluk tubuh uminya lebih erat, seperti merasakan sakitnya penyesalan akan ucapannya sendiri.


"Yangti kenapa angis, Ondel?" tanya Satya dalam gendongan Delia. Mereka hendak mengambil air minum untuk Satya.


Delia mengangkat bahunya. "Ondel juga gak tau."


"Daddy apain Yangti tampe nangit gitu?" tanya Satya. Umi Dahlia terharu, cucunya yang masih kecil itu memiliki simpati besar untuknya.


Raka melepaskan pelukan, mengambil alih sang putra dari gendongan Delia. "Daddy gak ngapa-ngapain Yangti kok, Yangti nangis bahagia, Kak. Karena Ondel udah mau pulang berarti Ondel udah bahagia."


Degg


Jantung Delia langsung berdenyut nyeri. 'Bagaimana jika Mas Raka tau kalau sebenarnya aku belum bahagia? Apa dia akan mengusirku lagi? Apa aku harus pura-pura bahagia agar tetap berada disini? Maafkan aku, Mas, maafkan keegoisanku yang lalu sampai membuat semuanya rumit.'


"Ondel, janji ya jangan pergi-pergi lagi?" Adhisti memeluk adik iparnya.


"Iya, Ondel jangan kemana-mana bentang lagi dedek dateng," celetuk Satya.


"Emang Kakak tau dedeknya bakalan dateng dari mana?" tanya Delia.


"Tau dong, dedeknya tama Allah dimatukin ke pengut mommy. Nanti aku jemput di ngumah takit, Ya kan, Dad?"


"Makanya Ondel jangan kemana-mana, janji?"


"Iya, Ondel janji, Kak."


"Yeeaaaaa ...." teriak Satya gembira.


❄️❄️❄️


Kamar bernuansa sweet milik Adhisti menjadi saksi bagaimana lembutnya Raka membimbing Adhisti ketika hafalan Adhisti ada yang belum lancar, sesekali Raka hentakan pena yang ada di tangannya saat menemukan kesalahan pada bacaan Adhisti.


Hanya ada mereka berdua, Satya tentunya tengah bermain dengan kakek juga neneknya. Sore tadi Adhisti mengajak Raka menginap di rumah kedua orang tuanya, entah kenapa ia sangat merindukan kamar serta masakan sang bunda. Raka hanya bisa menuruti keinginan sang istri, yang menurutnya tidak salah apalagi operasi SC akan di lakukan dua hari lagi.


Ketukan pintu membuat acara mereka terhenti, Adhisti mengiyakan saat sang bunda menyuruh mereka makan malam.


Adhisti yang sudah tak bisa menahan rasa kebeletnya memilih ke kamar mandi terlebih dahulu dan menyimpan begitu saja mukenanya di atas ranjang dengan terus mengomel Adhisti melangkah, Raka hanya bisa terkekeh sambil melipat sarung miliknya dan mukena Adhisti.


"Maaasss!" teriak Adhisti yang belum sempat menutup kamar mandi.


"Kenapa, By?" Raka tergopoh-gopoh menghampiri sang istri.


"Aku ngompol," rengek Adhisti, membuat Raka menahan tawa.


"Jangan ketawa! Gak lucu!" jeritnya kemudian menuduk, Adhisti sungguh malu.


Bunda Maya dan Ayah Pandu yang mendengar jeritan sang putri berlari dan menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya kompak.


Adhisti tak berani mengangkat wajahnya, ia terus menunduk menatap gamis bagian bawahnya yang basah.


Raka tak bisa terus menahan tawa, hingga cubitan mendarat di pinggangnya. "Maass! Ku bilang jangan ketawa!" jerit Adhisti.


"Aduhh! Maaf, By."


"Kenapa, Ka?"


"Adhisti ngompol, Yah."


Langsung terdengar helaan napas lega dari sepasang suami istri itu. "Kamu ini, Ayah kira kamu kenapa, Nak. Sudah, cepat ganti baju terus kita makan malam. Ayo, Bun!" Ayah Pandu menggandeng bahu istrinya.


"Tunggu!" Bunda Maya menelisik gamis yang di kenakan Adhisti.


"Coba kamu angkat gamismu, Sayang," titah Bunda, Adhisti dibantu Raka menuruti perintah bundanya.


"Astagfirullah! Itu air ketuban, ketuban kamu pecah, Sayang. Kamu gak ngompol."


"Ba-bagaimana bisa, Bun?" Raka mulai panik.


"Jangan panik, Ka. Lebih baik kita langsung ke rumah sakit saja, Siapkan mobil, Yah."


"Ta-tapi perlengkapannya di rumah umi, Bun, aku telepon orang rumah dulu."


"Kamu nelpon sambil kita  jalan aja, Ka."


Raka menuruti ucapan sang mertua, sepanjang jalan Raka yang memangku Satya langsung menghubungi dokter Nanda, ia juga menghubungi Delia dan abinya. Namun, tak ada yang mengangkat. Akhirnya mau tak mau ia menelpon sahabatnya.


"Assalamualaikum, Ren. Tolong kamu ke rumah, bilang sama abi dan umi Adhisti dlaam perjalanan ke rumah sakit. Minta tolong bawa perlengkapan yang ada di kamar kami."


"Sudah ku coba, tapi gak ada yang ngangkat. Makanya aku nelpon kamu."


"Oke, terima kasih, wassalamu'alaikum."


❄️❄️❄️