Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 48



Rumah sakit menjadi saksi bagaimana kalutnya Raka. Pria itu tengah menunggu diluar ruang IGD bersama Umi Dahlia serta Abi Faruq, tak lama kemudian Bunda Maya dan Ayah Pandu datang dengan wajah tak kalah cemas.


Satya pun mendadak rewel seperti ikut mengkhawatirkan mommynya, batita itu terus menangis meski telah digedong oleh Bunda Maya. Raka yang tak tega akhirnya mengambil alih Satya dan mengajaknya ke taman buatan yang ada di rumah sakit itu, ketika melihat kupu-kupu tangisan Satya terhenti. Raka terus menemani sang anak dengan pikiran yang masih kacau balau.


Sekitar satu jam Raka disana, hingga ia merasa ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Ia sedikit tersentak saat sang abi mengabarkan jika Adhisti sudah sadar dan sedang di periksa oleh dokter Nanda.


Benaknya penuh tanda tanya yang harus segera mendapatkan jawaban, ayah muda itu rengkuh tubuh putranya lalu melangkah dengan langkah lebar menuju ruangan dokter yang dikenal sebagai spesialis kandungan.


Semua mata teralihkan ke arah pintu ketika Raka membuka dan mengucap salam, Satya yang melihat sang mommy langsung meminta turus dan berlari ke arah rajang pasien dimana Adhisti tengah di periksa.


Raka menaikkan Satya ke ranjang Adhisti, ia usap ujung kepala sang istri dan sedikit mengecupnya.


"Halo, Kakak apa kabar?" sapa dokter Nanda pada Satya.


"Alo, Onty,"


"Mau liat adek bayinya gak?"


"Adek?"


Tangan dokter Nanda terus menggulir alat yang berada diperut Adhisti, dengan Satya yang duduk di ranjang. Raut bahagia tergambar jelas di wajah semua orang yang ada dalam ruangan itu, termasuk Raka. Namun, ia ingin memastikan keadaan istrinya pada sang dokter.


Adhisti diperbolehkan pulang dengan beberapa catatan, tetapi ia akan kembali lagi minggu depan untuk jadwal transfusi darahnya. Raka tak langsung keluar ketika sang dokter menyelesaikan pemeriksaannya.


"Apa kehamilan kali ini akan sama seperti saat Satya, dok?" tanya Raka, dia memang bahagia. Amat sangat bahagia, akan tetapi rasa cemas masih kenggelayuti hati Raka.


"Insya Allah sama, Pak. Janinnya pun sehat seperti kakaknya dulu, mungkin yang berbeda hanya anda yang tidak mengalami tanda-tanda kehamilan kali ini."


Raka sedikit menarik sudut bibirnya. "Terima kasih, Dok. Saya kembali meminta bantuannya dan mungkin akan direpotkan kembali, Dok."


"Sama-sama, Pak. Mohon kerjasamanya juga ya, Pak. Agar kehamilan ini bisa terlewati dengan baik."


Raka bisa bernapas lega karena sudah mendengar penjelasan dokter Nanda, ia bisa yakin jika kehamilan Adhisti kali ini pun akan berjalan lancar seperti saat Satya dulu.


Adhisti pun optimis dengan kehamilan kali ini karena tubuhnya merasa baik-baik saja, hanya sedikit lemas dan mual di pagi hari di trimester pertama selebihnya dia bisa melakukan kegiatannya seperti biasa.


Memasuki trimester kedua tak ada ngidam yang berlebihan, Adhisti hanya menginginkan makanan-makanan rumahan yang di masak Umi Dahlia atau Bunda maya. Hanya saja Adhisti tak bisa ditinggalkan oleh Raka, kemana pun Raka pergi Adhisti harus ikut meski itu ke kampus dan NarArt.


"Cihh, gue juga punya bini tapi gak sampe dibawa ke tempat kerja juga," cibir Rendy saat melihat Adhisti yang sedang bermain dengan Satya di ruangan Raka.


"Berisik! Jangan sampe Adhisti denger, mau kamu diomelin? Hamil kali ini dia makin sensitif," tegur Raka.


"Tapi hamil kali ini aura Adhisti keluar, Ka. Kek makin cantik gitu," celetuk Rendy.


Keheningan membuat Rendy yang tengah menatap anak istri sahabatnya itu sedikit heran, dan saat Rendy berbalik tatapan tajam Raka yang siap menelannya bulat-bulat membuat Rendy cengengesan tersadar akan ucapannya.


"Minta masuk liang lahat lewat jalur mana?"


"Yaelahh, Ka, gak usah cemburu begitu. Lu lupa gue juga udah nikah, nih nih cincin kawin gue. Lagian masa iya lo tega sama gue, Rendy junior masih otw lo mau bikin ponakan lo jadi anak yatim sebelum ketemu bapaknya?" Rendy menunjukkan cicin putih yang melingkar di jari manisnya tepat di depan mata Raka.


Raka langsung menepis. "Masih otw kan? Aku bisa saja membuat kata otw itu menjadi sebuah angan yang gak akan pernah sampai, karena kamu udah masuk liang lahat duluan."


"Wedeehh serem bener, mentang-mentang mau jadi bapak dua anak." Rendy meninggalkan Raka dan melenggang masuk.


"Assalamualaikum, anak Ongkel." Satya yang mendengar suara Rendy langsung berlari memeluknya.


"Ongkel!" teriaknya.


"Kakak lagi apa?" Rendy mengajak Satya duduk dan langsung memangku bocah yang usianya hampir empat tahun itu.


"Lagi belajang hewan, Ongkel." Rendy mengernyit sedikit tak mengerti ucapan anak sahabatnya itu.


"Dia lagi belajar hewan, Ren," terang Raka yang ikut duduk di samping istrinya.


Rendy mengangguk dan mengambil buku bergambar hewan tersebut. "Ini namanya hewan apa, Kak?"


"Pinter, keknya kepintaran kamu emang nurun dari Ongkel ini," kelakar Rendy. Adhisti dan Raka hanya bisa memutar bola matanya karena sama-sama merasa jengah.


"Ongkel, Ongkel,"


"Ya, Kak, ada apa?"


"Kenapa tapi punya aing tutu? Tapi kan gak punya dedek bayi?" Celetuk Satya


Rendy masih mencerna, sedangkan Raka sudah terbahak mendengar pertanyaan Satya. Begitulah Abisatya Arkadewa Nararya, bocah yang ingin tahu tentang segala hal. Bahkan hal sepele saja bisa dibuat menjadi rumit jika berhadapan dengannya, perkara semut yang jalan berbaris saja bisa berdampak panjang dan rumit.


"Ka, anak lo nanya nya ada-ada bae, Astaghfirullah."


❄️❄️❄️


'Bila kau cemas dan gelisah akan sesuatu, masuklah ke dalamnya sebab ketakutan menghadapinya lebih menganggu daripada sesuatu yang kau takuti sendiri.'


Sebuah ucapan dari Ali bin Abi Thalib selalu menguatkan Raka, terlebih jika ketakutan itu datang sampai terbawa mimpi.


Tidur Raka terganggu ketika sebuah gerakan ia rasakan, dari temaramnya kamar bisa Raka lihat seorang wanita berambut panjang tergerai nan indah itu masuk ke kamar mandi sebelum pintunya tertutup.


"Kenapa, By?" tanyanya ketika sosok itu keluar dari kamar mandi.


"Gak papa, Mas. Maaf ya gara-gara aku kebelet terus, tidur Mas jadi ke ganggu." Adhisti menghampiri ranjang.


"Gak juga, ini udah jam dua, bentar lagi juga pasti Satya bangun. Sini!" Raka menepuk kasur di sampingnya.


Adhisti menurut, ia rebahkan tubuhnya di samping suaminya. Raka rengkuh tubuh mungil sang istri kedalam pelukannya, ia usap punggung Adhisti mencoba memberi kenyamanan seperti malam-malam sebelumnya.


Kehamilan kali ini memang membuat Adhisti sedikit susah tidur, ia harus dipeluk, diusap dan ditepuk-tepuk dulu oleh Raka baru Adhisti bisa masuk ke alam mimpi. Namun saat tengah malam seperti ini Adhisti akan terjaga karena intensnya rasa ingin buang air kecil.


"Udah jam dua lewat, Mas, Satya pasti udah bangun. Lebih baik Mas ke kamar Satya dulu aja." Sudah dua puluh menit, akan tetapi Adhisti belum juga kembali memejamkan matanya.


Semenjak Adhisti hamil Raka memang melatih Satya tidur sendiri, ia tak ingin tidur Satya yang aktif malah mengenai perut mommynya.


"Hm, sebentar lagi, By, udah kamu tidur lagi aja." Raka masih terus mengusap punggung istrinya.


Adhisti mengurai pelukan suaminya, ia tatap wajah tampan sang suami. Degup jantungnya masih terasa sama jika berdekatan dengan Raka meski ia sudah hidup hampir lima tahun dengan pria itu.


Perlahan Raka mendekat, Adhisti yang masih terpesona oleh pemandangan alami suaminya bangun tidur semakin dibuat terkejut saat Raka menyatukan diri.


Aroma maskulin dari tubuh Raka sangat merangsek masuk ke indera penciuman Adhisti. Raka bisa merasakan jika istrinya telah tersengat oleh hantaran listriknya dan ia siap menyatukan diri lebih dalam lagi menghantarkan keduanya hingga ke telaga kerinduan.


Namun, gedoran pintu serta suara teriakan Satya membuat Raka dan Adhisti kembali terhempaskan ke dunia yang penuh dengan tipu daya.


Raka melangkah ke arah pintu dengan terus mengacak rambutnya, saat pintu dibuka Raka bisa melihat wajah polos Satya yang penuh dengan air mata.


Raka langsung berjongkok di hadapan sang putra. "Kakak kenapa kok nangis?"


"Da-Daddy ja-jaat, Daddy ndak ke kamang aku." Raka mengusap air mata yang terus menetes dari mata jernih Satya lalu memeluknya.


"Maafin, Daddy, udah jangan nangis lagi. Mau bobok sama Mommy?" bujuk Raka.


Satya mengangguk dengan cepat, Raka gendong hingga di atas ranjang. Satya merangsek dan memeluk Adhisti.


"Mommy, kenapa itunya mengah?" tanya Satya, saat dirinya melihat sedikit ruam kemerahan di bawah dagu Adhisti.


"Kena nyamuk, Sayang," jawab Adhisti sambil terkekeh.


Raka yang mendengar hanya bisa bergumam menatap Adhisti sinis. "Ganteng gini disamain sama nyamuk."


❄️❄️❄️