Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 18



Raka keluar dari kamar mandi dengan tangan terus menggosok handuk yang berada di atas kepalanya, malam ini kepala Raka sungguh sangat pening hingga mengguyurnya dengan air dingin adalah jalan keluar terbaik. Acara menjenguk dan berlanjut dengan mengantarkan Maharani pulang yang harusnya mudah menjadi rumit hanya karena obsesi seorang Ning Maharani.


Raka bahkan sampai meminta maaf kepada ustaz Anwar atas kelancangannya yang tidak disengaja melihat wajah anak bungsu pemilik pesantren itu, untungnya ustaz Anwar mau mengerti dan tidak meminta Raka bertanggung jawab menikahi Maharani.


Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, ia harus segera memejamkan matanya agar besok terlihat fresh ketika bertemu dengan Adhisti. Namun, realita tak sesuai dengan ekspektasi. Hingga pukul dua belas malam Raka sama sekali tak bisa memejamkan matanya, ia putuskan untuk mengambil wudhu dan melakukan salat malam.


Sedangkan di kamarnya Adhisti tengah mencoba berkonsentrasi mencari judul skripsi meski pikirannya terkadang melayang ke kejadian tadi siang, tetapi ia harus fokus agar bisa mendapatkan judul skripsi yang tepat untuk ia setorkan besok kepada sang dosen. Adhisti bertekad ia harus bisa lulus tahun ini, tentunya dengan nilai yang bagus.


Maya berinisiatif mengantarkan segelas susu hangat untuk Adhisti ketika ia melihat lampu kamar sang putri masih terlihat terang, ia ketuk pintu putih lalu membukanya.


Maya berjalan mendekati ranjang Adhisti dan menaruh gelas susu di atas nakas, "Diminum dulu, Sayang," titahnya.


"Iya, Bun." Adhisti yang tengah menatap laptopnya mengalihkan pandangannya kepada sang bunda.


"Sudah malam, Sayang, istirahat dulu. Lanjutin besok aja. Jangan sampe kecapean," Maya mencoba menasehati. Ia usap kepala sang putri, terlihat guratan di kantung mata Adhisti yang membuat Maya mulai khawatir.


"Iya, Bun, bentar lagi ya," jawab Adhisti selepas meneguk susu hangat buatan bundanya.


"Udah malem loh ini, Sayang. Memangnya kamu ngerjain apa sih?"


"Bentar, Bun. Bentaarrr lagi janji deh 15 menit lagi. Nanggung, aku lagi nyari judul skripsi." Adhisti mencoba menawar sembari memasang mata puppynya.


Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya, "loh bukannya kemarin udah disiapin ya judulnya, kok sekarang ngerjain judul lagi?"


"Judul kemarin di tolak sama Pak Raka, Bun."


"Eh udah ketemu ya? Udah minta maaf belum, Sayang?"


Adhisti menjawab dengan gelengan.


"Kenapa? Jangan gitu, gak baik. Kalo kamu salah kamu harus minta maaf, Sayang."


"Iya, Bunda, nanti aku minta maaf kok."


"Ok. Janji ya, 15 menit lagi harus sudah istirahat. Bunda keluar dulu."


"Siap komandan." Adhisti langsung memberi hormat dengan senyuman.


Maya ikut tersenyum, ia berdiri dan pergi meninggalkan kamar sang putri.


❄️❄️❄️


Subuh kali ini Raka absen untuk menjadi imam di musola kecil rumahnya, ia keluar kamar ketika sang abi sudah memulai takbiratul ihram. Hanya ada Umi Dahlia dan beberapa pekerjaannya yang menjadi makmum, Raka tak menemukan sang adik di samping uminya. Bukannya ikut salat Subuh Raka malah termangu menatap musola kecil itu, sekelebat pertanyaan datang dan bersemayam di pikiran Raka. Apa Adhisti bisa menjadi salah satu makmum di musola ini?


Sebuah tepukan di bahu dan suara ceriwis milik sang adik langsung membuyarkan lamunan Raka. "Bengong mulu! bukannya salat Subuh,"


"Astagfirullah! Dek. Gak usah ngagetin."


"Lagian Mas ngapain senyam-senyum di situ, mikirin apa? Pasti mikirin Mba Adhisti ya, ngaku gak?" Delia memicingkan mata dengan senyum jahilnya.


"Gak usah kepo, kamu sendiri ngapain gak salat?"


"Bendera merah, Mas, udah sana salat keburu akhir, Mas." Delia mendorong punggung sang kakak dan berlalu ke dapur untuk mengambil air. Raka berbalik arah, ia lebih memilih melaksanakan kewajibannya di dalam kamar.


Ting


Suara ponsel mengalihkan perhatian Raka yang tengah menggulung lengan kemejanya sebatas siku, ia raih benda pipih yang tergeletak di atas nakas dengan layar yang masih menyala menampilkan dua buah pesan singkat dari sang mahasiswi dan sang sahabat. Raka lebih tertarik membuka pesan yang Adhisti kirimkan dari pada harus membuka pesan yang rendy kirimkan beberapa jam yang lalu.


Adhisti:


Saya tidak bisa jika harus di kantor, Bapak.


Raka:


Assalamualaikum, Adhisti.


Adhisti:


Ehh ..


Waalaikumsalam, Pak.


Maaf lupa, Pak.


Raka:


Oke. Saya tanya jadwal dulu.


Nanti saya kabari lagi.


Satu menit, dua menit hingga sepuluh menit Raka menunggu balasan dari Adhisti. Namun, tak kunjung ada balasan. Raka pun mencari nomor sang sahabat lalu mendialnya, tidak butuh waktu lama hanya dua kali nada sambung berbunyi lalu tergantikan dengan suara serak khas bangun tidur dari seorang pria di sebrang sana.


"Halo."


"Assalamualaikum, Ren," Raka mengingatkan Rendy tentang salamnya.


"Iya, iya. Waalaikumsalam Raka ganteng, ada apa kah gerangan engkau menelponku pagi-pagi buta begini?"


Raka mengernyit pagi buta katanya, "Ini sudah jam setengah tujuh, Ren. Jangan bilang kamu hari ini absen dari kantor?"


"Sorry, Ka. Kayanya emang gue hari ini gak ke NarArt dulu, pala gue masih puyeng."


"Sampai kapan kamu mau seperti ini terus, Ren? Apa masalah hidupmu akan selesai dengan minuman dan wanita?"


"Udeh gak usah nyeramahin gue, lo ada apa nelpon gue pagi-pagi begini?"


"Jadwalku hari ini apa saja? Apa ada yang kosong? Soalnya saya sudah berjanji pada Adhisti akan berdiskusi tentang skripsinya." Raka tidak memperpanjangnya. Ia tahu betul jika Rendy masih dalam pengaruh minuman, percuma menasehatinya ketika kondisinya masih seperti itu.


"Haiisss ... lo ganggu gue pagi-pagi cuma buat nanyain jadwal? kebangetan emang lo ya, cuma gara-gara cinta lo begini sama sahabat. coba lo telepon si Kellin, dia yang urus semuanya," sungut Rendy murka. Ia kira terjadi sesuatu hingga Raka.


"Kamu saja yang telpon, nanti kirim ke sini jadwalnya." Setelah mengucapkan itu Raka langsung mematikan sambungan telponnya, Raka berani bertaruh sekarang Rendy tengah mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah untuknya.


Pria berkemeja hitam itu jadi teringat sesuatu, sudah lama Rendy tidak meminum-minuman itu. Kenapa sekarang dia meminumnya lagi? Apa dia tengah memiliki masalah?


Raka dan Rendy bersahabat sejak mereka memasuki kampus yang sama, Raka yang notabene seorang santri dan pendiam tidak memiliki kemampuan baik untuk berinteraksi akhirnya sering mendapatkan bullying dari beberapa teman angkatan.


Rendylah yang selalu ada dan melawan semua orang yang berani membully Raka, Rendy pula yang mengajarkan Raka tentang sebuah kepercayaan diri. Bahkan Rendy pula yang menolong Raka ketika pria itu di keroyok beberapa preman, yang berakhir keduanya masuk rumah sakit.


Raka memang berbeda dengan Rendy, segala sesuatunya pasti akan Raka perhitungkan dengan kepala dingin ia tidak suka kekerasan karena ia sendiri tak memiliki dasar bela diri. Sedangkan Rendy, kebalikannya Raka sifat sok jagoan, tengil dan kepedeannya sudah ada sejak zaman kuliah. Makanya tidak heran jika sekarang sifat itu semakin menjadi-jadi.


❄️❄️❄️