
Adhisti kembali melirik ponselnya, di hitung-hitung sudah sepuluh kali ia bolak-balik melihat ponsel tetap saja tak ada pesan masuk dari sang dosen. Ia tatap default picture milik Raka, disana nampak foto dua wanita berbeda usia yang sedang memegang bunga. Salah satunya pernah ia lihat di Narart Company beberapa bulan lalu. "Apa Pak Raka belum punya kekasih ya?" pikir Adhisti.
Adhisti mengetuk-ngetuk kuku jarinya di meja kantin ia sungguh sangat kesal , ada apa dengan dosennya, ia merasa sang dosen menghindarinya. Apa kah dia membuat kesalahan atau pak Raka sedang sibuk. Terakhir kali ia melihat Raka di pesantren, entah apa yang pria itu lakukan di sana Adhisti mengubur semua rasa penasarannya saat itu. Ia berharap bisa melihat Raka kembali, akan tetapi guru sang ayah kembali ke rumah tanpa Raka.
Gadis itu melirik jam tangan miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sungguh gila, ia sudah hampir dua jam menunggu kabar Raka, berharap Raka akan membalas pesan. Adhisti yang sudah kehabisan kesabaran akhirnya membuka room chat Raka dan kembali mengirimi pesan.
Adhisti:
Assalamualaikum Pak ...
Bapak bisa ke kampus? ...
Saya hanya ingin meminta waktu Bapak sebentar saja ...
Begitulah isi rentetan pesan yang Adhisti kirim, tidak butuh waktu lama Raka terlihat sedang online. Namun, sama sekali tidak membuka pesan darinya.
❄️❄️❄️
"Bagaimana ini Ren? Dia mengirim pesan lagi," Raka bertanya pada Rendy yang tengah menyuruh karyawan menyiapkan dua box makan siang, ya Raka memang sedang bersama dengan Rendy di sebuah cafe. Lebih tepatnya cafe milik Rendy.
"Pusing gue ngurusin lo, udah kek anak perawan. Punya masalah tuh diberesin, mau sampai kapan dihindarin terus itu anak orang? udah temuin sono bila perlu tikung, janur kuning belum melengkung kalo pun udah melengkung tinggal nunggu bendera kuning berkibar usaha perjuangin. Gara-gara ngurusin lo, teh punya gue jadi gak nyelup-nyelup." Rendy uring-uringan karena hampir tiga bulan ini dia sampai melupakan kencan dengan wanita-wanitanya.
Raka menarik nafas panjang, meski ucapan Rendy kasar tapi ada benarnya juga. Mau sampai kapan dia menghindar, Akhirnya Raka membuka chat room milik Adhisti. Setelah mengucapkan basmallah Raka mulai mengetik balasan.
Raka:
Waalaikumsalam ...
Maaf hari ini saya tidak ke kampus ...
Kamu bisa datang ke cafe yang dekat lampu merah sebelum kampus ...
Adhisti:
Ok ...
Mendapat balasan dari Raka suasana hati Adisti langsung berubah, entah karena laporannya akan di periksa atau karena bisa bertemu dosen pembimbingnya. Lima belas menit kemudian Adhisti sudah sampai di cafe yang di maksud Raka. Ia berjalan menuju tempat duduk sang dosen.
"Assalamualaikum, Pak." Adhisti mengucap salam dengan senyum lebar terukir di bibirnya, terlihat gigi kelinci yang menjadi cirikhas. Meski tampak jelas wajahnya mulai memucat, tetapi tidak mengurangi kecantikannya.
"Wa-wa-walaikumsalam." Raka sempat tergagap karena kaget dan terpesona oleh senyuman Adhisti. Sungguh ia rindu senyuman itu, andai Adhisti belum di khitbah pria lain. Dia akan langsung mengajak Adhisti untuk menikah saat ini juga.
Hampir tiga puluh menit Raka dan Adhisti membahas laporan magang milik Adhisti. Raka mencoba profesional meski hatinya sudah tidak karuan.
"Kalian masih lama kencannya?" Rendy tiba-tiba datang dengan membawa dua box makan siang.
"Bapak mau kemana? Apa gaji di Narart kurang, Pak, sampe kerja sampingan di sini?" Adhisti bertanya karena bingung melihat Rendy keluar dari dapur cafe sambil membawa box. Raka yang mendengar hanya bisa tersenyum samar.
"Sembarangan banget ini cewek. Muka begini dipanggil bapak. Panggil saya Mas, dan ini cafe milik saya catet itu. Gak lakinya gak bininya bikin gue emosi mulu. Lama-lama darah gue naik." Rendy mengomel karena sudah kelewat kesal, Raka melotot mendengar ucapan Rendy.
"Hah? Laki bini siapa, Pak?" Adhisti bingung mulai mencoba mencerna ucapan Rendy.
"Au ah gelap, Adhisti kamu ke sini naik apa?" Rendy mengalihkan pembicaraan.
"Taksi online Pak ... eh Mas."
"Abis ini mau kemana?" Rendy geram karena Raka hanya diam tidak berusaha sama sekali.
"Paling nungguin ayah saya, Pak, soalnya hari ini saya ada jadwal ke rumah sakit," ucap Adhisti.
"Oke ... kalian berdua ikut, kita ke rumah sakit sekarang. Biar sekalian soalnya saya juga mau ke rumah sakit." Rendy mulai berjalan keluar dari cafe miliknya.
"Tunggu, Ren! saya harus menjemput Delia." Raka mencegah Rendy saat pria itu hendak memasuki mobil.
"Lo mau gue berdua doang sama mahasiswi lo ini? lo bisa jamin gak akan ada setan di antara kita? Delia biar jadi urusan gue, sekarang masuk!" Rendy mulai kesal kembali. Apa-apaan Raka ini sudah ada kesempatan untuk menikung dia malah sempat-sempatnya memikirkan Delia. Raka mungkin bisa menikung lewat sepertiga malam, tetapi Rendy bisa langsung menikung tiap ada kesempatan. Itulah perbedaan mereka.
"Kayanya bapak emang udah kerasukan setan, dari tadi sewot terus." Adhisti menimpali karena kasian melihat sang dosen yang di bentak-bentak. Sebenarnya di sini siapa yang bosnya kenapa malah lebih galak Rendy dari pada Raka.
"Diem kamu Adhisti, lebih baik kamu masuk sekarang! dari pada saya bawa kalian berdua ke KUA." Wajah Adhisti memerah, dia langsung menuruti ucapan mantan atasannya.
Mobil milik Rendy sudah terparkir di area rumah sakit, dia menyuruh Raka dan Adhisti langsung ke ruangan dokter yang menangani Adhisti kemarin. Sedangkan ia sendiri menuju pos satpam, dengan niat hati menitipkan satu box makan siang untuk wanita yang sudah sering kali Rendy lihat di RS ini. Sejak pertemuan pertama di lift beberpa waktu lalu, Rendy jadi sering mendatangi rumah sakit ini hanya untuk melihat wanita tersebut.. Rendy yakin bahwa wanita itu salah satu dokter disini.
Ia mulai menyebutkan ciri-cirinya kepada satpam, setelah sang satpam tahu wanita yang di maksud Rendy ia langsung menyampaikan tujuannya dan langsung kembali ke parkiran.
Ketika Rendy hendak mengemudikan mobilnya kembali, ia teringat jika setelah ini akan ada rapat di luar. Akhirnya Rendy menelpon Attar.
"Halo, Tar." Saat pemuda itu mengangkat telponnya.
"Coba lo cariin map biru di ruangan big boss, bilang aja lo disuruh gue. Ntar gue ambil di kantor."
"Udeh lo jangan banyak protes gue lagi males nyari-nyari berkas," ucap Rendy saat Attar berkata jika hendak ke kantor kenapa tidak mengambil langsung di dalam ruangan big bosnya dan malah menyuruh dirinya untuk mencari.
Setelah itu Rendy menutup telponnya dan langsung tancap gas ke kampus Delia untuk menjemput adik dari sahabatnya.
❄️❄️❄️