
"Loh kok kita pisah sama Delia, Mas?" Adhisti heran ketika dirinya tidak satu pesawat dengan adik iparnya.
"Delia harus kuliah, By," jawab Raka santai.
"Terus kita kemana?"
"Menuntaskan sesuatu yang sempat tertunda," celetuk Raka.
Adhisti masih bingung hingga ia tiba di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, dari sana Raka mengajaknya menaiki mobil yang sudah ia sewa. Melewati Kota Mataram, tetapi mobil masih terus melaju hingga Adhisti bisa melihat pemandangan pantai senggigi sepanjang sisa perjalanan.
Sampai di pelabuhan Bangsal Adhisti bisa melihat banyak fast boat terparkir disana, hamparan pasir putih dengan desiran ombak dan air biru membentang langsung menghipnotis Adhisti. Kaki mungilnya tanpa sadar membawa Adhisti hingga menyentuk air jernih di depannya, ia balikan tubuhnya dan dari kejauhan terlihat seorang warga asli sana menyambut serta berbincang dengan Raka, ia bisa melihat laki-laki itu menunjuk ke arah sebuah bangunan yang mirip masjid, akan tetapi lebih sederhana.
"Kita salat Dzuhur dulu terus makan, abis itu baru naik fast boat." ucap Raka ketika sampai di hadapannya.
Adhisti baru mengetahui dari Raka jika laki-laki tadi adalah tour guide yang di kirim Rendy.
Rendy? Ya, manusia setengah jin iprit itu yang memang sudah merencanakan semuanya, saat ia memberikan tiket kereta api tanpa Raka suruh dia juga memberikan tiket pesawat untuk mereka pergi ke pulau di Lombok ini dengan dalil sebagai permintaan maaf karena membelikan cincin kekecilan untuk Raka.
Raka sempat menolak karena ia sudah memiliki rencana mengajak Adhisti ke Pulau Alor, akan tetapi Rendy terus mendesaknya. "Gue aneh sama lo, gue ke barat lo malah ke timur, mau lo apa sih? Udeh terima aja dari pada gue yang culik Delia terus gue bawa ke Gili."
Dan disinilah akhirnya pengantin baru itu berada, Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat.
Setelah salat dan makan siang, Raka mengajak Adhisti menaiki fast boat yang sudah ia sewa. Namun, Adhisti seperti enggan menaikinya.
"Kenapa? Takut?"
Berbagai macam alasan Adhisti utarakan, dari mulai Aku gak bisa renang, Mas. Aku baru pertama kali naik ini, Mas. Gimana kalo boatny kebalik, Mas, dan masih banyak lagi Sampai Raka harus menggendong wanita bergamis hitam itu menaiki boat.
"Ini kita mau kemana sebenernya, Mas? Perasaan gak nyampe-nyampe?" Gerutu Adhisti.
"Itu." Pria berkemeja hitam yang duduk di samping mengulurkan tangannya menunjuk sebuah pulau yang ada beberapa meter di depan mereka. Iris hitam kecoklatan milik gadis berhijab mocca itu mengikuti arah tangan Raka, "Pulau Gili Trawangan, insya Allah kamu akan suka, By."
Adhisti masih belum bisa berkomentar karena ia sendiri masih merasakan kepala pusing akibat mabok laut, cukup tujuh menit untuk mereka menyebrang hingga kaki pasangan itu menapaki pasir putih dan di sambut oleh gapura yang bertuliskan Welcome to Gili Trawangan.
Tiba di penginapan Raka langsung membuka room miliknya yang di desain menggunakan kayu, ruangan yang cukup besar itu memiliki tiga bagian. Pertama tentu kamar bernuansa putih dengan pendingin udara, sebuah lemari pakaian, nakas dan meja panjang serta televisi berukuran besar , lalu kamar mandi dan sebuah balkon yang langsung mengarah ke pantai. Di balkon itu terdapat dua buah sofa dan satu meja, dan dari balkon itu pula penghuni kamar bisa melihat matahari terbenam secara langsung.
Adhisti langsung tercengang, berpuluh-puluh kali ia ucapkan rasa kagumnya atas ciptaan Allah yang ada di hadapannya. Ketika kembali ke kamar Adhisti tak mendapati sang suami, akan tetapi terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Sambil menunggu suaminya, Adhisti lebih memilih membereskan barang-barang, ia masukan beberapa potong pakaian miliknya dan sang suami ke dalam lemari yang tersedia di kamar.
Saat Raka selesai membersihkan diri barulah setelahnya Adhisti, Raka langsung mengabari Rendy, orang rumah serta mertuanya jika mereka sudah sampai.
Pria yang mengenakan kaos polo berwarna hitam dengan celana selutut itu berjalan ke arah balkon, ia harus acungi Rendy dua jempol karena pilihan pria bule itu dalam hal tempat selalu memuaskan.
Puas melihat-lihat Raka kembali masuk, ia ketuk pintu kamar mandi dan menyuruh sang istri langsung berwudhu. Ketika Adhisti keluar Raka sudah merapikan tempat salat mereka, dua buah sajadah sudah tergelar dengan sebuah mukena di atasnya.
❄️❄️❄️
Langit malam begitu cerah dengan hiasan bulan dan taburan bintang, angin sepoi-sepoi serta deru suara ombak membuat suasana terasa lebih romantis, alam sepertinya sangat mendukung Raka saat ini.
Adhisti pun sudah mulai belajar mengaji kepada sang suami, awalnya dia malu. Namun, rasa malu itu hilang ketika mendengar lantunan ayat-ayat yang keluar dari bibir Raka. Sungguh berbeda sekali dengan Raka ketika mengajarnya di kampus dulu.
Selepas itu Raka menceritakan kisah-kisah wanita tangguh dalam Islam, bagaimana bijaksananya ibunda Sayyidah Khadijah, bagaimana cerdasnya ibunda Sayyidah Aisyah dan bagaimana lembutnya Sayyidah Fatimah. Saking lelahnya Raka sampai tertidur di pangkuan sang istri, Adhisti hanya bisa terkekeh ia tatap wajah tampan sang suami yang sangat meneduhkan. Meski kakinya kebas Adhisti tak tega untuk membangunkan Raka, Adhisti justru ikut tertidur dengan posisi yang masih duduk bersandar.
Siang ini setelah salat dan makan siang Raka mengajak Wanita yang mengenakan gamis putih dan cardigan denim serta kerudung putih itu pergi berkeliling pantai dengan menggunakan sepeda lebih tepatnya Adhisti yang dibonceng oleh Raka, angin yang berembus sedikit kencang di tambah pohon-pohon Trembesi dan Flamboyan membuat mereka tak merasakan sengatan matahari yang bersinar cerah. Sejak subuh Raka sudah ribut ingin mengajak Adhisti untuk snorkeling dan diving, Adhisti dibuat pusing oleh Raka.
"By," rengek Raka dengan manja.
"Nggak." Adhisti sungguh ingin tertawa melihat Raka merengek seperti anak kecil yang tak diberi permen. Nada bicaranya sudah melebihi Delia dalam keadaan manja.
"Dangkal itu, By."
"Mau dalam kek, mau dangkal kek. Aku tetep gak mau, Mas. Titik!"
"Pemandangan dalam lautnya bagus, By."
"Aku udah bisa main air di pantai juga Alhamdulillah, Mas. Gak muluk-muluk sampe mau liat bawah lautnya."
Raka yang sudah kehabisan kesabaran langsung menggendong dan menjatuhkan Adhisti di atas kasur, ia kurung Adhisti dalam kedua lengannya.
"Ikut snorkeling atau aku kurung di kamar sampai kita pulang ke Jakarta?"
"Dih, kenapa jadi suka maksa sih, Mas? Ketempelan sahabatnya pasti nih." Raka yang mendengar ucapan sang istri sedikit menyunggingkan senyum, akan tetapi ia tetap menunggu jawaban sang istri.
Akhirnya Adhisti hanya bisa menuruti keinginan suaminya, ia tak ingin hanya berdiam di kamar ketika pemandangan di luar sangat menakjubkan dan sayang sekali untuk di lewatkan.
Namun, bukan Raka namanya jika tak bisa memanfaatkan situasi. Ia tetap mengurung Adhisti hingga jam makan siang meski Adhisti mau menurutinya, wanita itu tak berhenti menggerutu karena Raka terus menahannya saat Adhisti hendak membersihkan diri setelah diajak mengarungi Gili Trawangan dalam versi melepas rindu.
❄️❄️❄️
Assalamualaikum ...
Mas Raka mau ngucapin mohon maaf lahir batin untuk semua mam dan kakak yang sudah selalu menemani, maaf jika ceritanya garing atau tidak menarik. aku hanya anak bawang yang masih butuh banyak belajar.
A: Ehe nganu ... itu apa anu aku mau ngasih info sepertinya besok Mas Raka gak akan up sampai waktu yang belum ditentukan.
R: yah kenapa Thor?
A: takut jadi lebaran kan ya, terus juga itu anu apa, ada kepentingan di dunia real yang butuh aku beresin dulu.
R: terus kapan lanjut thor? jangan sampe gak di lanjut thor kami bukan jemuran yang di gantung.
A: insya Allah nanti aku lanjutin sampe tamat. aku gak suka gantungin kok. sukanya THR🤣🤣🤣
Selamat Hari Raya Idul Fitri yang mudik hati-hati di jalan ya selamat sampai tujuan💕💕💕