
"Apa kamu yakin? Kamu sudah mendengar sendiri kondisi Adhisti dari dokter yang menanganinya. Saya tidak mau Adhisti menjadi beban untukmu," tutur Pandu, ketika Raka meminta bicara sebelum pemuda itu izin pulang. Jujur saja ia semakin ragu, Pandu tidak ingin mengecewakan Raka laki-laki baik itu harusnya memiliki istri wanita yang sehat.
"Adhisti tidak akan pernah menjadi beban saya, apapun yang terjadi saya akan tetap meminta dia menjadi pendamping saya. Saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan selamanya untuk Adhisti, tapi saya siap menjadi tameng pelindung bagi Adhisti untuk selamanya, Pak."
"Baiklah, jika kamu memaksanya. Kapan kiranya orang tuamu akan datang ke rumah?" Pandu bertanya.
"Besok malam orang tua saya akan datang untuk melamar." Raka tak lagi memikirkan apakah Adhisti mau atau tidak menjadi istrinya, yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah cepat menjadikan Adhisti sebagai mahramnya.
Ia tak ingin membuang waktu lagi, sudah cukup selama ini Raka membuang waktu percuma. Bayangan Adhisti bisa pergi kapan saja menghantuinya meski ia tahu umur adalah rahasia Allah, tetapi ia ingin Adhisti menjadi istrinya.
Matahari sudah tinggi ketika Raka memasuki lobby NarArt, ia abaikan semua sapaan karyawan-karyawannya dan berlalu memasuki lift tujuannya sekarang adalah ruangan Rendy. Raka harus bicara dengan Rendy soal ini, akan tetapi ketika Raka membuka pintu Rendy tak sendirian di sana, ada Attar dan Kellin yang sepertinya tengah membahas sesuatu. Semua pasang mata menatapnya, seakan bertanya ada apa.
Raka duduk di kursi single dengan mengeluarkan aura seriusnya dan menyuruh mereka melanjutkan aktivitasnya "Silahkan lanjutkan saja."
Kellin tentu langsung memasang wajah anggun dan cantik agar Raka mau meliriknya, ia busungkan dada yang berbalut kemeja ketat dengan dua buah kancing atas dibiarkan terbuka. Attar yang melihatnya langsung bergidik ngeri sedangkan Rendy hanya bisa tersenyum, dalam pikiran Attar langsung tercetus the real of belatung nangka.
Tiga puluh menit Raka menunggu dengan mata tetap fokus pada laptop di pangkuannya, terlihat raut kecewa dalam wajah Kellin karena aksinya gagal. Saat Kellin sudah pergi, Rendy menyuruh Attar tetap tinggal dan memesan makan siang untuk mereka bertiga.
"Lo sibuk amat, ngerjain proyek mana?" tanya Rendy.
"Ini bukan proyek, Ren."
"Jangan bilang lo terlalu rajin sampe liatin laptop hampir setengah jam cuma buat ngalihin perhatian dari si Kellin."
"Apa saya sangat kurang kerjaan sampai melakukan hal itu?" Raka geram.
"Lah terus apaan?"
"Ini skripsi Adhisti, saya sedang mengeditnya."
"Apa!" teriak Rendy dan Attar bersamaan. Attar sungguh tak percaya seorang Caraka Nararya yang ia kenal dingin, dan susah di tebak mau melakukan hal seperti itu hanya demi seorang wanita, dunia ini sungguh sudah gila.
"Bisa-bisanya lo ngurusin skripsi cewek sedangkan di sini banyak kerjaan, kebangetan emang lo ya." Rendy mulai uring-uringan, ia tak habis pikir kenapa Raka sangat bodoh sekali.
"Sabar, Bang. Mas Raka pasti punya alasan," cicit Attar. Ia tahu big bossnya tak mungkin sebodoh itu dalam hal cinta.
"Adhisti kolapsh lagi karena kelelahan menyusun skripsi, Ren. Saya hanya sekedar membantu, dia sangat ingin lulus tahun ini." Raut wajah Raka berubah murung.
"Ya tetep aja lo gak bisa kek gini, Ka. Nanti kalo pas dia sidang gak bisa jawab tetep aja usaha lo akan sia-sia."
"Sepertinya dia sudah paham semua, Ren. Saya hanya membantu mengeditnya saja."
"Terserah lo aja lah, makan noh cinta."
❄️❄️❄️
Sepulang dari NarArt Raka tak langsung pulang ke rumah, ia sempatkan mampir ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adhisti. Ia susuri koridor-koridor rumah sakit yang masih sangat ramai meski jam sudah menunjukan angka delapan malam, ya pria berkemeja putih itu memang terlambat pulang karena ia melanjutkan pengeditan skripsi milik Adhisti.
Pintu bercat putih itu terbuka menampakkan seorang pria yang masuk dengan sebuah paperbag di tangannya, terlihat Adhisti hanya berdua dengan sang ibu.
"Assalamualaikum," ucap Raka.
Raka hendak membuka mulutnya kembali ketika Maya terlebih dulu bersuara. " Maaf, Pak. Bisakah Pak Raka temani Adhisti sebentar, saya ingin mencari suami saya terlebih dahulu."
"Bisa, Bu. Silahkan."
"Terima kasih," ucap Maya lalu berdiri dan meninggalkan sang anak berdua dengan dosennya. Maya sengaja memberikan mereka waktu berdua untuk menyelesaikan urusan mereka.
Di tinggal hanya berdua dengan sang dosen, jantung Adhisti langsung bekerja di atas normal. Apa ia harus menemui dokter Nolan untuk memeriksakan jantungnya?
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" pertanyaan yang terlontar dari bibir Raka, membuat lamunan Adhisti buyar.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Pak."
"Alhamdulillah," ucap Raka sangat lirih.
"Adhisti, ada yang ingin saya luruskan disini," lanjut Raka.
"Tentang apa, Pak?"
"Tentang kita. Ketika kamu menemui saya di rumah sakit ada seorang gadis yang duduk di kursi roda itu bukan calon istri saya, dia anak dari sahabat abi saya yang sedang sakit. Dan ketika umi menjenguknya mereka hendak pulang, jadi umi menawarkan tumpangan untuk mengantarkan mereka ke pesantren."
Adhisti terus menundukan kepala ia sedikit tersenyum mendengar penuturan Raka, "Memang ada urusannya dengan saya, Pak? Kenapa Bapak menjelaskannya kepada saya?"
"Jelas ada, karena saya tidak ingin kamu salah paham, Adhisti."
Raka menarik napas dalam-dalam dan sangat panjang, lalu ia hembuskan perlahan entah kenapa bibirnya sangat kelu.
"Adhisti."
"Ya," Adhisti mengangkat kepalanya menatap sang dosen yang ternyata juga tengah menatap dirinya.
"Izinkan saya menjadi laki-laki kedua yang mencintai dan menjagamu setelah ayahmu."
"Maaf jika kata-kata yang saya sampaikan tidak seperti laki-laki lain. Saya tidak pandai dalam merangkai kata, tetapi saya benar-benar serius dengan niat saya. Adhisti, sekali lagi saya tanya maukah kamu menikah dengan saya? Menjadi penyempurna ibadah saya hingga Jannah-Nya."
Adhisti diam dengan kepala tertunduk, ia tidak menyangka Raka akan melamarnya kembali. Apa ia pantas untuk Raka?
"Tapi, Pak."
"Saya tidak menerima penolakan Adhisti, kamu menerima saya atau tidak besok malam keluarga saya akan tetap datang untuk melamarmu."
"Kenapa Bapak tetap memilih saya? Apa Bapak tidak tau soal kondisi saya?" Adhisti memberanikan diri menatap manik mata hitam legam milik Raka.
"Saya tau semua tentangmu, saya tau tentang penyakit dan kondisimu. Tapi yang hati saya inginkan hanya kamu, jadi tolong berhenti menolak saya. Kamu sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menolak saya Adhisti," Raka terus menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sangat lembut dan dalam. Padahal jantungnya sudah tak karuan, keringat pun sudah memenuhi dahi dan telapak tangannya.
"Jika kamu beralasan dirimu bukan wanita yang layak untuk aku jadikan istri, maka biarkan aku yang membantu dan membimbingmu agar menjadi layak untukku."
❄️❄️❄️