Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 25



Pengantin baru itu sampai di kediaman Abi Faruq sekitar pukul sepuluh malam, Raka kira semua orang sudah tidur. Namun, saat Raka membuka pintu utama dan mengucap salam tampak orang tua dan adiknya langsung menyambut Adhisti.


"Aku kira Mbak gak jadi langsung pulang kesini," keluh Delia, ia langsung memeluk Adhisti.


Adhisti tersenyum membalas pelukan adik iparnya. "Aku udah janji kan langsung ke sini."


Empat hari yang lalu Adhisti memang diajak Umi Dahlia serta Delia berbelanja kebutuhannya untuk seserahan agar sesuai selera Adhisti, dan Adhisti mengutarakan keinginannya untuk tinggal di rumah Abi Faruq bahkan sampai berjanji kepada Delia.


Umi Dahlia sudah memberi saran untuk Raka dan Adhisti tinggal di rumah mereka sendiri agar lebih leluasa, akan tetapi Adhisti menolak. Ia ingin lebih dekat dengan sang mertua dan adik iparnya, Adhisti tak ingin kesepian.


"Sudah, Dek. Kasian itu mbakmu, lebih baik kamu ambilkan piyama tidur biar Mbakmu bisa langsung istirahat," ucap Umi Dahlia seraya mengusap punggung menantunya.


"Aku ambil bajuku dulu ya, Mbak. Besok kita shopping lagi nyari-nyari baju buat Mbak." Pamitnya, Delia membalikkan tubuhnya menatap sang kakak "Ingat ya, Mas! besok temenin kita shopping." Setelah berkata Delia langsung pergi ke kamarnya.


Raka yang duduk di samping sang abi hanya menatap pasrah, dalam benaknya sudah terbayang bagaimana akan jadinya besok. Tiap dirinya menemani Umi dan adiknya berbelanja saja dia sudah kewalahan apalagi sekarang ditambah satu orang lagi.


Abi Faruq hanya tersenyum melihat anak sulungnya, lalu berganti menatap sang menantu. "Semoga kamu nyaman tinggal di sini ya, Nduk." Adhisti hanya mengangguk entah kenapa meski Abi Faruq sudah bebicara lembut ada rasa segan dan canggung di dalam hati Adhisti. "Abi istirahat duluan, Mas," lanjut Abi Faruq berpamitan kepada Raka.


"Nggih, Bi," jawab Raka.


"Lebih baik kalian juga beristirahat, pasti cape kan? Ajak istrimu ke kamar, Mas."


"Nggih, Mi." Raka beranjak lalu menatap istrinya. "Ayo, kamu pasti kelelahan kan?" ajaknya.


Adhisti berjalan di belakang Raka, mengikuti kemana pun kaki suaminya melangkah. Ketika sampai di kamar, Raka langsung menyalakan tombol lampu yang berada di dinding dekat pintu suasana monochrome yang kental dengan sosok laki-laki langsung menyambut Adhisti. Raka menyimpan koper milik Adhisti di pojok kamar, aura canggung mulai terasa. Adhisti pun hanya berdiri sambil terus menundukkan kepalanya.


"Sepertinya kamu belum membersihkan diri, sebaiknya kamu mandi dulu. Agar bisa tidur nyenyak." Raka melihat Adhisti masih mengenakan pakaian ketika ijab qabul tadi.


"Kamar mandinya di sebelah sana," ujarnya menunjukkan letak kamar mandi yang ada di sisi kanan.


"Baik, Pak." Adhisti gegas memasuki kamar mandi. Jantungnya sudah tidak baik-baik saja.


Raka langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, tak lama terdengar suara pintu di ketuk dan ternyata Delia yang menyodorkan piyama untuk Adhisti. Raka langsung mengetuk pintu kamar mandi bermaksud untuk memberikan piyama itu pada sang istri.


Pintu terbuka hanya secelah, terlihat tangan Adhisti yang keluar meminta piyamanya. Raka lekas memberikan dan pintu kamar mandi langsung tertutup rapat.


"Astagfirullah gini amat," gumam Raka.


Raka bingung harus melakukan apa akhirnya membongkar koper milik Adhisti yang di dalamnya hanya ada sebuah laptop, satu pouch berisi kebutuhan Adhisti, satu buah buku catatan serta dua buah baju, bisa Raka pastikan itu adalah baju yang Adhisti dapat dari hantarannya. Raka langsung memindahkan pakaian milik sang istri ke dalam lemarinya, ia sisihkan pakaian miliknya agar pakaian Adhisti memiliki tempatnya sendiri.


Sekitar tiga puluh menit terdengar handle pintu berputar, Adhisti keluar dengan piyama lengan panjang pink lengkap dengan kerudung rumahannya. Lampu kamar sudah temaram, tetapi Adhisti masih bisa melihat dengan jelas seorang pria yang tengah duduk di ranjang.


Perlahan Raka mendekat, Adhisti sudah harap-harap cemas. Ia takut Raka akan meminta haknya sekarang jujur saja dirinya belum siap, Raka berhenti hanya 5 senti di depannya hingga parfum yang Raka gunakan bisa jelas tercium oleh indera milik Adhisti. Wajah Adhisti langsung berhadapan dengan dada bidang sang suami, karena memang tinggi Adhisti hanya sebatas pundak Raka.


"Aku sudah mengatur suhu ruangan agar kamu merasa nyaman, Pakaian kamu juga sudah aku pindahkan ke lemari," ujar Raka. Namun, tak ada jawaban dari sang istri. Adhisti yang terlalu gugup hanya bisa diam mematung, bibirnya seketika kelu bahkan kepalanya tiba-tiba susah di gerakkan meski hanya untuk mengangguk.


Raka memegang bahu Adhisti, lalu memutar tubuhnya menghadap lemari. Adhisti bisa merasakan punggungnya menempel pada dada bidang sang suami meski masih terhalang kain, satu tangan raka terulur. "Di sebelah kanan adalah pakaian milikku dan di sebelah kiri adalah milikmu. Mengerti?" Adhisti langsung mengangguk cepat, degup jantungnya sudah tak karuan.


Raka terkekeh melihat pantulan wajah sang istri dari cermin yang menyatu dengan lemari, terlihat sangat jelas Adhisti tengah gugup dan malu. Raka langsung mengecup pucuk kepala istrinya lalu melangkah pergi ke kamar mandi.


Raka keluar sudah mengenakan kaos putih polos beserta celana panjang rumahan, ia lirik sang istri yang duduk bersandar pada kepala ranjang memangku sebuah laptop. Raka kira Adhisti sudah tidur karena lelah, tetapi nyatanya gadis itu masih membuka mata.


"Kenapa belum tidur?" Raka sepertinya sudah terbiasa banyak bicara sekarang.


"Saya ngecek skripsi dulu, Pak," jawab Adhisti.


"Ini sudah larut malam, lagi pula skripsi kamu sudah beres." Raka duduk di depan Adhisti.


"Hah? Ko bisa?"


"Kemarin aku yang beresin, lebih baik sekarang kamu istirahat."


Adhisti yang tidak percaya dengan ucapan Raka terus saja menatap benda itu, hingga membuat Raka sedikit kesal. Pria itu langsung menutup laptop yang ada di pangkuan Adhisti, dan secepat kilat mencondongkan wajah ke hadapan sang istri hingga aroma mint bisa tercium oleh Adhisti.


Hanya ada satu kata dalam benak Adhisti yaitu Tampan, ia baru kali ini melihat Raka dengan jarak yang amat sangat dekat bahkan jika sejengkal saja dirinya bergerak maju hidung mereka akan saling bersentuhan.


"Nurut gak? Atau aku harus melakukan sesuatu padamu?" acam Raka dengan sebuah smirk menghiasi bibirnya.


Wajah Adhisti berubah pucat pasi, ia hanya bisa menganggukkan kepala membuat Raka menaikan sebelah alisnya. "Itu tandanya apa?"


"Saya nurut, Pak." Setelah mengucapkan itu Adhisti langsung menyerahkan laptopnya pada Raka lalu merebahkan tubuhnya tak lupa selimut yang ia tarik hingga ujung kepalanya, pria itu kembali terkekeh sepertinya ia sudah memiliki senjata yang tepat untuk menakuti istrinya.


Raka simpan laptop itu di atas nakas, ia berputar lalu merebahkan tubuhnya di samping Adhisti. Baru saja Raka terpejam, suara Adhisti membuatnya kembali membuka mata.


"Bapak kenapa tidur di sini?" tanya Adhisti dengan suara sangat pelan.


"Terus aku harus tidur di mana? Di sofa?" Raka balik bertanya, yang mendapat anggukan kepala oleh Adhisti.


Astagfirullah ingin rasanya Raka berteriak kencang saat ini juga, akan tetapi ia harus bisa sabar menghadapi Adhisti.


Ia tarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan. "Adhisti, aku bukan pria di novel-novel romance yang merelakan badannya sakit-sakit karena tidur di sofa demi mendapat simpati istrinya. Jika kamu ingin selamat malam ini lebih baik kamu tidur,"


Raka langsung menatap Adhisti lengkap dengan mata mengintimidasi dan seringaian yang membuat Adhisti menelan ludah "atau kamu memang ingin saya melakukan sesuatu?"


Adhisti langsung menggeleng dan membalikkan badannya memunggungi sang suami.


"Dosa tau tidur munggungin suami," celetuk Raka sambil mengulum senyum, ia ingin tahu bagaimana reaksi sang istri.


Mendengar ucapan suaminya Adhisti segera membalikan badan menghadap Raka, lalu memejamkan matanya.


"Jangan senyum-senyum, Pak. Udah malem, tidur," omel Adhisti.


Tidak butuh waktu lama untuk Adhisti menyelami alam mimpinya, hanya sepuluh menit Raka sudah mendengar helaan napas teratur sang istri. Berbanding terbalik dengan Raka yang sama sekali tidak bisa memejamkan mata, pria itu tengah sibuk mengontrol detak jantungnya yang belum bisa diajak berdamai. Ia pandangi wajah ayu Adhisti, masih tak menyangka jika ini memang nyata. Meski Raka tahu Adhisti belum memiliki rasa untuknya, tetapi Raka akan sabar menunggu Adhisti membalas perasaannya.


"Good night Habibatie." Sebuah kecupan mendarat dengan indah di pucuk kepala Adhisti.