Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 40



Pagi harinya Adhisti menghadiri kajian ustazah Annisa bersama dengan mertua serta adik iparnya, keramahan sang  ustazah terhadap Umi Dahlia dan keakrabannya dengan Delia membuat pikiran Adhisti sedikit terganggu.


Namun, segera Adhisti tepis. Selama kajian berlangsung Adhisti mendengarkan dengan senyum terus menghiasi bibir mungilnya, benar yang dibilang Delia cara penyampaian yang digunakan ustazah Annisa mudah dipahami olehnya yang masih sangat awam dan tak mengerti apa-apa.


"Sudah cantik, solehah pula. Ini sih definisi cantik luar dalam ya, Bu," celetuk seorang ibu jamaah yang terdengar di telinga Adhisti, dan Adhisti membenarkan ucapan ibu tersebut.


"Iya, Jeng. Andai aku punya anak laki-laki, sudah aku jodohkan dengan ustazah," saut yang lain.


"Dengar-dengar sih dulu ustazah pernah dijodohkan, cuma laki-lakinya nolak. Padahal kedua keluarga sudah sangat dekat, Bu."


"Masa, Jeng? Wah sayang banget ya, pasti nyesel laki-laki itu."


"Iya, padahal mereka serasi loh. Yang perempuan solehah yang laki-lakinya kelihatan soleh, pernah sekali saya liat laki-lakinya."


Adhisti hanya bisa tersenyum mendengar setiap ucapan ibu-ibu jamaah, apa benar ada laki-laki yang bisa menolak ustazah Annisa?


Kajian selesai tepat sebelum azan Dzuhur berkumandang, teriknya matahari tak membuat para ibu-ibu jamaah mengurungkan niat untuk pulang atau sekedar berteduh dulu di bawah pohon tabebuya yang ada disekitar masjid.


Tabebuya, mengingatkannya pada rumah orang tuanya. Sudah lama Adhisti tak pulang, terkadang rindu menggerogoti relung hatinya terhadap kamar dan pohon kesayangannya.


Adhisti masih duduk di selasar masjid menunggu sang adik ipar yang tengah ke toilet, Dari kejauhan wanita itu bisa melihat mobil milik suaminya terpakir di pelataran masjid, tak jauh dari sana Raka tengah mengobrol dengan seseorang yang seumuran dengan Abi Faruq.


"Mbak kok belum pulang?" ustazah Annisa keluar bersama Umi Dahlia.


"Iya, Nduk. Kok masih duduk disini?" tanya Umi Dahlia.


"Lagi nungguin Delia, Umi, ustazah."


"Panggil Annisa saja, Mbak."


"Kalau begitu, Nisa juga panggil Adhisti saja. Sepertinya umur kita tak terlalu jauh."


"Nggih, Adhisti. Saya duluan ya, mari Adhisti, Umi, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, silahkan, ustazah. Umi menunggu Delia dulu."


"Waalaikumsalam," tutur Adhisti.


Selepas ustazah Annisa pamit, Delia pun keluar dan meminta maaf karena dirinya Adhisti dan sang umi harus menunggu.


Baru Adhisti hendak melangkah, ia mendengar suara ibu-ibu jamaah di belakangnya yang tengah bergibah soal ustazah Annisa. Seperti tak ada habisnya pembahasan mereka tentang ustazah muda itu, hingga sebuah ucapan melintas di telinga Adhisti dan masuk sampai ke hati serta pikirannya.


"Masya Allah, apa saya tidak salah lihat?" pekik seorang ibu.


"Kenapa, Jeng?" tanya yang lainnya.


"Itu bukannya laki-laki yang dulu dijodohkan dengan ustazah? Kok bisa ada di sini? Apa jangan-jangan mereka sekarang sudah menikah?"


"Yang mana, Jeng?"


"Itu yang pake kemeja navy," terang si ibu.


Iris mata Adhisti langsung terbelalak, bukannya pria berkemeja navy itu adalah suaminya. Jadi laki-laki yang menolak ustazah muda itu suaminya?


Umi Dahlia langsung melihat ekspresi wajah menantunya, sungguh bukan maksud Umi Dahlia ingin menunjukkan pada Adhisti tentang masa lalu. Niat awal Umi Dahlia hanya ingin Adhisti belajar dengan nyaman dan mendapat guru yang tepat, Umi Dahlia sendiri tidak tahu jika ada orang yang tahu tentang masa lalu itu.


"Waalaikumsalam, ustazah." Setelah menjawab salam, Raka langsung menghampiri Adhisti yang berada lima langkah di belakang Annisa.


"Panas, By? Dedeknya rewel gak?" tanya Raka, ia tutupi kepala Adhisti dengan kedua telapak tangannya.


Annisa sedikit terkejut, akan tetapi ia langsung bisa menguasai keterkejutannya dan melanjutkan langkah menghampiri sang ayah. Ya, pria paruh baya yang tadi mengobrol dengan Raka adalah ayah sang ustazah.


Delia hanya bisa mencibir, "Masku kenapa jadi lebay gini? Ada jasa tukar tambah kakak gak sih? Atau ketok magic gitu."


"Sembarang kamu, Dek. Pahatan surgawi begini mau dituker tambah." Raka yang kesal langsung menjepit kepala Delia di ketiaknya, sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk merangkul pinggang sang istri. Dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada.


"Aww ... ampun, Mas, kenapa semenjak Mbak Adhisti hamil Mas jadi pede banget sih?"


"Diem, bawel."


Sampai di area parkir masjid Umi Dahlia menyapa ayah dari ustazah Annisa yang tak lain sahabat dari suaminya, ia mengenalkan Adhisti sebagai menantunya. Umi Dahlia mencoba meluruskan benang yang sedikit kusut, lebih tepatnya sedang memberi kenyamanan pada menantunya. Umi Dahlia tahu jika hormon wanita hamil akan lebih sensitif atas apapun termasuk ucapan-ucapan yang tak sengaja didengar, wanita paruh baya itu bahkan menjelaskan keinginannya untuk Adhisti belajar bersama Annisa karena usia yang tak terpaut jauh akan membuat Adhisti serasa memiliki teman. Meski sudah dijelaskan oleh mertuanya Adhisti tetap merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya. Bukan rasa marah, melainkan sebuah rasa tak percaya diri untuk berada di sisi sang suami.


Adhisti baru tersadar bahwa siapa suaminya. Bukan kali ini saja Adhisti mendengar perihal Raka yang menolak beberapa wanita, dan bukan kali ini juga Adhisti melihat seperti apa wanita yang ditolak oleh sang suami.


Kenapa Mas Raka malah melepaskan bidadari yang banyak diinginkan kaum laki-laki? Ia malah memilihku yang tak paham apapun tentang keyakinanku sendiri.


Perlakuan manis Raka tak membuat mood Adhisti membaik, semenjak pulang dari kajian Adhisti lebih banyak diam. Bahkan ia berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya tengah ngidam ingin menginap di rumah kedua orang tuanya.


❄️❄️❄️


"Dingin, By. Angin malem gak baik." Raka menghampiri Adhisti lalu menyelimuti tubuh istrinya dengan sebuah selimut pemberian mertuanya.


Ini pertama kalinya Raka menginap di rumah sang mertua, setahun ini Raka hanya berkunjung saja tidak pernah sampai tidur di kamar sang istri. Ada sedikit rasa canggung dalam diri seorang Caraka Nararya, akan tetapi ia harus terbiasa demi kenyamanan sang istri. Mungkin ini yang Adhisti rasakan saat pertama kali tinggal di rumah orang tuanya.


Di bawah pohon tabebuya Adhisti terus diam dengan Raka yang terus memeluk tubuh mungil itu dari samping, tanpa mereka sadari dua pasang mata mengamati interaksi pasangan itu.


"Yah, ngapain ngawasin mereka?" tanya Bunda Maya.


"Ayah masih tidak menyangka putri kecil kita sekarang banyak berubah, apa bunda juga merasakannya?" Pandu berbalik menatap sang istri.


"Alhamdulillah, Yah. Alhamdulillah, Bunda juga sangat merasakannya. Semoga putri kita dan keluarga kecilnya selalu bahagia, ditambah dengan kehadiran sosok anak nanti." Maya yang mengerti langsung mengusap punggung sang suami.


"Ayah justru semakin khawatir, Bun. Apa kehamilan ini akan aman untuknya?"


"Semuanya akan baik-baik saja, Yah. Jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak, umur di tangan sang pemilik kehidupan. Kita masih bisa memanfaatkan waktu untuk memberikan yang terbaik sebelum tuhan memanggil kita. Adhisti memang sakit, akan tetapi siapa yang tau bisa saja aku yang pulang lebih dulu." Air mata sudah menggenang di netra Maya jika mengingat maut yang terus mengintai sang putri.


Maya sangat berterima kasih kepada sang pencipta telah mengizinkan Raka untuk masuk dan memberikan warna ke dalam hidup putrinya. Maya masih ingat ketika Adhisti menceritakan pengalaman pertamanya melihat sunrise di gunung bahkan sampai bermain air di pulau, senyuman bahkan cahaya kebahagiaan terpancar dari wajah putrinya.


Pandu sendiri memiliki rasa khawatir tak jauh beda dengan Raka, ia tak ingin sesuatu terjadi pada putri tunggalnya. Sejak awal Pandu mendengar kabar kehamilan Adhisti tak pernah berkurang sedikitpun rasa khawatirnya, meski Raka dan Adhisti selalu memberi informasi terbaru tentang kondisi Adhisti serta janinnya.


Pandu ingin sekali melarang Raka menghamili Adhisti, akan tetapi ia sadar Raka suami anaknya. Jelas Raka memiliki hak untuk membuat Adhisti hamil, Maya bahkan sampai mengancam jika Pandu sampai melarang Raka dia juga akan melarang Pandu tidur di kamar utama.


Pria paruh baya itu terus mengamati sepasang suami istri yang terlihat sangat serasi, Pandu bisa melihat dengan jelas seberapa sayangnya Raka terhadap putrinya.


"Masuk yuk, Yah. Insya Allah Adhisti tidak akan papa, ada suaminya yang selalu siaga. Kita hanya bisa mendoakan semoga kehamilan Adhisti ini tak membahayakan nyawanya."


Pandu mengamini perkataan istrinya dengan suara yang lirih, ia berjalan masuk meninggalkan anak menantunya yang masih asyik menikmati suasana malam di bawah pohon tabebuya.


❄️❄️❄️