Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 01



“Tuhan ... aku ingin melakukan semua hal tanpa batasan, bisakah untuk kali ini berikan aku semangat baru?” gumam seorang gadis yang tengah menikmati embusan angin malam di bawah pohon tabebuya yang ada di belakang rumahnya. Berkali-kali angin menerpa rambut gadis itu sehingga ikut bergerak seolah sedang menari mengikuti irama angin yang berembus kencang, tetapi sang empunya enggan beranjak dari duduknya.


Tisyabina Adhisti Rahandika, gadis bertubuh mungil dengan kulit seputih salju yang mulai menampakkan warna kekuningan itu hanya diam dengan pikirannya yang tengah berandai-andai entah kemana. Adhisti menengadahkan wajah, mata yang di hiasi bulu mata lentik itu terpejam seakan sangat menikmati suasana malam ini. Gadis cantik itu berharap rasa lelah yang bertumpuk di tubuhnya bisa lenyap terbang terbawa angin, Adhisti merasa bahwa rasa lelah ini setiap hari semakin menggerogoti semangatnya sedikit demi sedikit.


Menjadi putri tunggal keluarga Rahandika membuat Adhisti tak bisa bebas melakukan semua keinginannya. Pandu Rahandika, Ayah Adhisti selalu membatasi kegiatannya. Hal ini dilakukan karena sang ayah tak ingin anak semata wayangnya merasa kelelahan.


“Sayang, masuk, yuk! Kamu sudah terlalu lama di luar. Nanti masuk angin, apalagi anginnya agak kencang gini.” Suara Maya Pramudhita sang ibunda memecahkan angan Adhisti.


Gadis itu membuka matanya dan menoleh ke sumber suara, nampak sang ibu tengah bersandar di kusen pintu belakang dengan senyum manis di wajah yang sudah nampak tak muda lagi. Namun, tak menghilangkan kecantikannya. Tanpa menolak, Adhisti berjalan menghampiri sang bunda yang mengajaknya masuk ke rumah.


Sesampainya di dalam sang ayah tengah menonton acara tv di ruang Keluarga langsung menoleh dan menatapnya, menepuk sofa di sampingnya memberi kode untuk Adhisti duduk di sana. Adhisti menurut, ia langsung duduk di samping sang ayah.


"Hobby banget kamu ngadem di bawah pohon itu, bahkan sampe lupa waktu. Apa gak dingin, Sayang?" tanya Pandu pada anaknya sambil mengelus bahu sang putri yang terasa dingin.


"Mas, sudahlah, biarkan anakmu istirahat ini sudah malam." Maya berbicara sebelum anaknya membuka mulut.


"Kamu pasti capek kan, lebih baik kamu istirahat saja ya, Sayang. Jangan dengarin ucapan ayahmu." Adhisti langsung beranjak dari duduknya menuruti ucapan sang ibu, ia mencium pipi ayah dan ibunya dan berlalu pergi ke kamarnya.


Saat di kamar hanya hening yang Adhisti rasakan, ia buka lemari pakaiannya dan mengambil sepasang piyama tidur berbentuk kartun kesukaannya dan memakainya di kamar mandi. Adhisti mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia mencoba memejamkan matanya. Tak butuh waktu lama ia sudah masuk ke alam mimpi, karena hanya di dalam mimpi ia bisa memiliki kehidupan yang ia inginkan.


❄️❄️❄️


Alunan lagu Can’t Sleep Love yang dipopulerkan oleh Pentatonix mengalun indah memenuhi ruangan bernuansa monochrome itu. Tampak seorang laki-laki menggeliat dibalik selimut abu-abu, dengan tangan yang menyusuri nakas di samping tempat tidurnya untuk menemukan sumber suara.


Klik, dia menekan tombol off di bagian belakang alarm untuk menghentikan lagu yang memenuhi kamarnya. Ia lihat jam  sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi, ia duduk dan mulai mengumpulkan sedikit nyawanya.


Caraka Nararya, laki-laki yang biasa di panggil Raka itu bangkit dari ranjangnya. Melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Raka keluar dari kamar dengan memakai kaos polos putih dan sarung hitam merk ternama yang merupakan brand milik orang tuanya. Air wudhu membasahi rambut dan wajah tampannya yang terlihat segar.


Pemuda itu menuruni tangga menuju mushola kecil yang berada di rumahnya. Di sana sudah tampak Abi Faruq Nararya, Umi Dalila Haniya, dan keempat pekerjanya yang sudah siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Keluarga Abi Faruq sudah terbiasa melakukan salat berjamaah termasuk salat malam, Raka sendiri selalu menyempatkan waktu untuk menjadi imam di musola rumahnya.


“Raka! Duduk sini,” panggil Abi Faruq yang sudah duduk di ruang keluarga dengan ditemani berita dini hari setelah melaksanakan salat Subuh tadi.


“Nggih, Abi. Ada apa?” Raka mendudukkan dirinya di kursi bersebelahan dengan sang abi.


“Tolong bantu Abi menghendel semua kerjaan di kantor, sepertinya Abi ingin kembali mengunjungi rumah Allah bersama umi,” ujar abi serius menatap putranya.


Caraka Nararya, pria yang cuek terhadap apapun termasuk bisnis keluarganya itu hanya bisa diam. Diumurnya yang sudah menginjak 25 tahun, bisa di bilang  matang. Dia memilih mengabdikan diri di salah satu kampus swasta Jakarta, dibandingkan dengan meneruskan bisnis keluarganya. Menjadi dosen muda yang terkenal oleh parasnya yang sangat good looking berbanding terbalik dengan sikapnya yang killer di kalangan mahasiswa, Raka tak pernah pandang bulu ia akan memberikan hukuman kepada mahasiswanya yang tidak patuh padanya.


“Abi itu ingin Mas Raka mulai membantu Abi menjalankan bisnis keluarga. Kalau tidak mau meninggalkan kampus, setidaknya kurangi jam mengajarmu.” Abi Faruq merangkul putra kesayangannya itu.


“Kalau bukan Mas Raka, siapa yang mau mengurus bisnis Abi? Tolong mulai besok Mas Raka datang ke kantor, bantuin Abi mengurus semuanya,” lanjut Abi Faruq.


“Inggih, Bi,” Raka menghela napasnya berat.


Raka beranjak dari duduknya setelah mengobrol cukup panjang dengan sang abi, abinya memberitahu apa saja yang akan ia lakukan ketika di kantor. Abi Faruq pun mengatakan jika Raka akan dibantu oleh asistennya, jadi Raka sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak permintaan abinya.


Raka sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan bisnis keluarganya, ia lebih suka menjalani kehidupan seusai keinginannya sendiri. Tak ada aturan atau kekangan, akan tetapi siapa lagi yang akan melanjutkan bisnis keluarganya kalau bukan dia. Adiknya perempuan, dan masih kuliah semester 3.


Raka menghampiri sang umi yang tengah merawat tanaman di belakang rumah, saat ini Raka butuh uminya untuk sekedar memantapkan hati. Sejak kecil Raka memang lebih dekat dengan sang umi dibandingkan dengan abinya, ia akan langsung merasa tenang jika sudah bertukar pikiran dengan wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya itu.


"Ada apa, Mas?" Umi Dahlia mengalihkan perhatiannya dari bunga telang yang tengah ia siram kepada sang putra.


"Nggak ada apa-apa, Umi," Raka ragu.


"Soal perusahaan?" Umi Dahlia mencoba menebak. Terlihat jelas kegusaran dari raut wajah putra sulungnya.


"Jangan jadikan beban, Mas. Niatkan lillahi ta'ala untuk membantu orang tua," lanjut Umi Dahlia.


"Berat, Umi," gumam Raka sangat pelan.


"Kenapa berat? Bukannya Abi hanya meminta Mas membantu perusahaan dan mengurangi jam mengajar, Mas?"


"Mengajar dan mengurus perusahaan itu dua hal yang berbeda, Umi. Raka takut menjadi pemimpin yang zolim terhadap pekerja," tutur Raka.


"Insya Allah nggak, Mas. Abi nggak akan biarin itu terjadi, makanya belajar dari sekarang, Le." Umi Dahlia mengusap halus punggung lebar Raka.


"Nggih, Umi." Raka sekarang benar-benar pasrah, mungkin memang sudah saatnya ia mengenal perusahaan yang abinya bangun sejak nol sampai sekarang.


❄️❄️❄️


Assalamualaikum ...


terima kasih aku ucapin untuk semua yang udah mau mampir ke coretan kehaluanku. jangan lupa like, love dan coment ya biar jadi mood booster untukku.