Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 24



Adhisti yang tengah duduk menunggu di kamar langsung diajak keluar setelah Raka selesai mengucapkan ijab qabul, Umi Dahlia di sisi kanan serta Bunda Maya di sisi kirinya. Adhisti berjalan dengan anggun menuruni tangga, pandangan Raka dan Adhisti bertemu hawa panas langsung menyerang wajah Raka. Ia memang sama sekali belum bertemu dengan Adhisti, Raka bangkit bermaksud menjemput Adhisti yang sudah ada diujung tangga.


"Masya Allah," Raka bergumam lirik ia langsung menundukan pandangannya, akan tetapi ia langsung tersadar jika sekarang Adhisti halal baginya dan tunggu! ada yang berbeda dari penampilan Adhisti, Raka sekali lagi mengangkat kepalanya ingin memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi melihat Adhisti mengenakan hijab.


Ya, Adhisti hari ini memakai pakaian yang Raka belikan lengkap dengan hijabnya, Adhisti sudah berjanji pada dirinya sendiri ketika dirinya telah menyandang status sebagai seorang istri dari Caraka Nararya ia akan mengenakan hijab tanpa melepaskannya lagi.


Adhisti berdiri di samping Raka dengan wajah yang terus menunduk, menahan malu dan gugup.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Silahkan jika kedua mempelai ingin memasang cincin pernikahan, dan bisa di lanjut dengan Neng Adhisti yang mencium tangan suaminya."


"Hah, cium?" pekik Raka.


Pekikan sang mempelai pria membuat semua orang di ruangan itu menahan tawanya, Rendy langsung memukul keningnya sendiri dan beristighfar melihat kelakuan sahabatnya yang terlalu polos atau bagaimana. Sungguh Raka membuat Rendy malu, apa kata dunia jika sahabat sang cassanova memiliki kelakuan begini.


Delia mendekat, ia menyodorkan sepasang cincin perak yang secara khusus dipesankan oleh Rendy itu kepada sang kakak.


"Bolehkah saya memegang tanganmu, Adhisti?" Izin Raka.


Setelah mendapat persetujuan Adhisti, dengan gerakan perlahan Raka meraih dan memasukkan cincin itu ke jari manis sang istri. Digantikan oleh Adhisti yang memasukkan cincin ke jari manis Raka meski sedikit kesusahan karena terlalu kecil, tetapi cincin itu tetap bisa melingkar di jari Raka.


Raka berjanji akan membuat perhitungan dengan Rendy karena berani-beraninya si bule itu memberinya cincin kekecilan seperti ini, tunggu saja nanti.


Adhisti meraih jemari Raka lalu menunduk hendak mencium punggung tangannya, perasaan gugup langsung menyerang Raka. Baru kali ini dia memegang tangan wanita selain umi dan adiknya, Raka memegang kedua pipi Adhisti dengan lembut lalu ia melantunkan untaian doa-doa di atas kepala sang istri.


"Assalamualaikum, ya Habibatie, semoga kamu bisa menemaniku hingga Jannah-Nya. Anna uhibbuki ya Habibatie," bisik Raka di telinga kanan Adhisti lalu di akhiri dengan sebuah kecupan di kening wanitanya.


❄️❄️❄️


Setelah acara akad selesai, Adhisti langsung di kerumuni ibu-ibu entah Raka sendiri tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Pria itu lebih memilih memberi sahabatnya pelajaran, ia ajak Rendy ke area yang tidak banyak orang lalu menggeplak kepala sang bule.


"Adawww, lo gila ya maen geplak pala gue. Gini-gini pala gue udah di fitrahin."


"Maksud kamu apa beliin cincin kecil begini?" Sembur Raka, ia tunjukkan jari manis yang sudah sedikit membiru karena aliran darahnya terhambat.


"Haha ... sorry-sorry, gue lupa nanya ukuran jari lo. Yang gue tau cuma ukuran jari cewek doang."


Kurang ajar sekali bukan jawaban si bule tengil ini? Raka tak lagi mengurusi sahabatnya, ia lebih memilih fokus melepaskan cincin yang menyiksa jarinya itu. Hampir sepuluh menit Raka bergelut dengan cincin pernikahannya hingga akhirnya bisa terlepas, akan tetapi jarinya mendapatkan luka lecet.


Saat hendak kembali ke dalam, dua sahabat itu malah diajak oleh Attar untuk melaksanakan salat Maghrib di masjid kompleks perumahan yang di tinggali keluarga Adhisti. Raka langsung memasukkan cincin pernikahannya ke jari kelingking lalu mengikuti langkah Attar dan Rendy.


Sang pengantin pria baru kembali ke rumah wanitanya setelah salat Isya, Umi Dahlia langsung menghampiri Raka.


"Darimana saja, Mas?"


"Dari masjid, Umi." Pria itu langsung menyalami uminya.


"Sudah makan?"


"Alhamdulillah sudah, Mi. Tadi di masjid bersama Rendy dan Attar," tutur Raka.


"Ya sudah, sana. Banyak tamu yang sudah mencari Mas."


"Kenapa, Mas?" Umi Dahlia mengusap punggung sang putra, dari sorot mata anak sulungnya Umi Dahlia bisa melihat ketidaknyamanan.


"Malu, Mi." Raka memang sedikit tidak suka dengan keramaian, ia merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri.


Umi Dahlia membutuhkan waktu lima menit untuk meyakinkan Raka agar mau menemui tamu-tamu yang sudah menunggunya sedari tadi.


Resepsi pernikahan yang hanya di hadiri oleh kerabat dan sahabat dekat itu berlangsung selama dua jam, meski begitu tamu yang hadir hampir mencapai seratus orang.


Jika tadi pagi hanya ada Om Akash, Tante Bumi dan kedua menantunya, berbeda dengan sekarang terlihat jelas jika dua putra kembar Om Akash beserta cucu-cucunya juga turut hadir.


Raka jujur saja sangat mengkhawatirkan kondisi tubuh Adhisti, tetapi aura kebahagiaan sangat jelas terlihat dari raut wajahnya. Sebuah tepukan di bahu Raka mengembalikan kesadarannya.


"Congrats ya, Mas. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Akhirnya Mas Raka ikutan slod out juga, gue tunggu mini goldnya, Mas," ucap Attar seraya pergi karena antrian sudah mengular.


"Thanks, Tar." Raka menepuh pundak attar seraya tersenyum.


"Selamat, Mas. Aku doakan kamu bahagia dengan pilihanmu, maafkan aku yang sudah egois." Maharani datang dengan balutan gaun muslimah peach yang sangat cocok untuknya.


Ucapan demi ucapan serta doa dari para tamu terus mengalir untuk Raka dan Adhisti hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Raka sudah tidak bisa menahan rasa khawatirnya yang sudah menggunung akhirnya menyuruh Delia mengajak Adhisti beristirahat, inilah yang membuat Raka malas dan tidak ingin ada resepsi. Ia harus bertahan berdiri dan menyalami para tamu undangan dengan terus memasang senyum.


"Gue balik duluan ya. Inget! kalo gak ngerti ponsel gue aktif 24 jam." Rendy yang malam ini menggandeng seorang wanita berpenampilan anggun melemparkan kunci mobil milik sahabatnya dan terus menggoda.


Raka hanya memutar bola matanya, ia merasa jengah dengan kelakuan sahabatnya sudah hampir empat hari dirinya menjadi sasaran kejahilan Rendy.


Tapi tunggu, siapa wanita itu? Dari penampilannya sangat jelas dia bukan wanita-wanita yang biasa Rendy ajak untuk kencan semalamnya. Raka mencari-cari sang adik, akan tetapi seluruh keluarga Raka sudah pulang meninggalkan dirinya sendiri di kediaman Adhisti, pemuda itu bingung harus melakukan apa selain duduk di ruang keluarga dan mengecek ulang email-email yang masuk ke dalam ponselnya. Raka tidak tahu Adhisti ada dimana, sampai suara Pandu mengalihkan fokusnya.


"Tunggu sebentar ya, Adhisti lagi siapin barang-barangnya."


"Nggih, Pak."


Pandu tersenyum, cara bicara Raka sudah berbeda. Meski masih terdengar canggung, tetapi menantunya ini sudah memakai bahasa jawa dengan menggunakan kromo.


"Kamu bisa memanggil saya dengan sebutan ayah sekarang," tutur Pandu.


"Nggih, Yah."


"Raka," panggil Pandu dengan suara rendah.


"Iya, Yah."


"Saya titip Adhisti. Jaga dia, lindungi dia, sayangi dia, bimbing dia karena saya merasa gagal membimbing dia lebih dekat dengan Allah. mungkin dia akan sedikit merepotkan dan membebanimu tetapi tolong jangan sakiti fisik ataupun hatinya, jika suatu saat nanti kamu sudah lelah dan sudah tidak bisa hidup dengannya kamu bisa mengembalikannya kepada saya." Tak terasa air mata Pandu menetes begitu saja.


"Saya tau dia berbeda, tetapi tolong jangan kamu jadikan itu sebagai senjata untuk bisa menyakitinya. Saya percayakan dia padamu, Nak."


"titip dia, bahagiakan dia."


❄️❄️❄️