
Raka tidak kembali ke kampus, ia putuskan pergi ke Narart Company untuk menemui sahabatnya. Raka tiba di saat Rendy hendak pergi makan siang, akhirnya Raka memaksa Rendy untuk tetap diam di ruangannya. Mau tidak mau Rendy menuruti keinginan sahabatnya. Pria itu terpaksa memesan makanan lewat aplikasi untuk makan siangnya.
"Lo kenapa?"
"Adhisti," ucap Raka singkat.
"Ada apa dengan Adhisti? bukannya umi dan abi udah ngasih restu?"
"Untuk apa semua restu itu jika Adhisti sendiri menolakku, Ren."
"What! Kok bisa?"
"Ya bisa, itu buktinya dia menolak lamaranku."
"Lamaran? Emang lo ngelamar kapan? Kenapa gue gak tau lo beli cincin"
"Barusan, tapi dia bilang tidak ingin menikah denganku."
"Emang lo ngelamarnya gimana?"
"Ya bilang, kalo umi pengen dia jadi menantunya makanya ayo nikah," tutur Raka dengan raut wajahnya yang tak berdosa.
"Astagfirullah ya Allah ya Karim, lo ngelamar cewek apa ngajak beli sate hah?" Rendy terperanga tak percaya dengan tindakan Raka.
"Makanya lo kalo mau apa-apa tuh ngomong dulu ke gue jangan maen hajar sendiri aja, buat apa lo punya sahabat penakluk wanita kalo gak lo manfaatin, Caraka Nararya." Rendy gemas, jika tidak dosa ingin sekali ia memutilasi Raka sekarang juga.
"Kalo udah kek gini, mending lo ikhlasin aja. Masih banyak cewek di luar sana, bila perlu lo terima aja cv taaruf si Maharani."
"Jangan sembarang, Ren! Aku serius" Raka memperingati.
"Gue juga serius, seorang Caraka Nararya yang bergelar Master Management kok bisa-bisanya bertindak bodoh," Rendy sangat geram.
Untuk beberapa saat ruangan milik Rendy sangat hening, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya sampai Rendy tidak tega melihat kondisi Raka sangat yang memprihatikan akhirnya mengeluarkan suaranya. "Oke gue bantu, jangan di tekuk terus muka lo."
"Gini-gini, mending sekarang lo menjauh dulu dari Adhisti. Anggap aja lo ngasih dia waktu, sekalian kita liat dia kehilangan lo gak. Gue bisa liat sebenernya dia tertarik sama lo."
"Cuma kek nya ada satu hal yang bikin dia gak bisa nerima lo, Ka. Mending lo fokus dulu ke perusahaan, udah waktunya lo ngambil alih perusahaan, Ka."
Raka menyutujui saran dari Rendy, sejak saat itu ia tak lagi mengganggu Adhisti sesuai keinginan gadis itu mengiriminya pesan pun tidak. Raka sudah jarang sekali terlihat di kampus, bahkan pria itu sampai lupa jika dia adalah dosen pembimbing bagi Adhisti sekarang ini ia lebih banyak datang ke perusahaan sang abi. hingga akhirnya sang abi memutuskan untuk benar-benar menyerahkan NarArt Company ke tangan Raka.
"Abi udah tua, udah waktunya diem di rumah sambil main sama cucu, Mas." Itulah kata-kata Abi Faruq ketika berbincang dengan Anak sulung dan asistennya.
"Nggih, Abi." Hanya itu yang menjadi jawaban Raka.
Bagi Raka sekarang memajukan NarArt adalah tujuannya. Tidur, salat, makan, pergi ke NarArt lalu pulang dan tidur lagi hanya itu aktivitas yang dilakukan pria itu setiap harinya. Dalam relung hatinya sungguh ia merindukan Adhisti, ia ingin sekali menelpon atau sekedar mengirimi pesan agar ia bisa mengetahui keadaan gadis itu. Namun, ia harus bisa menahan dan mengikhlaskan mungkin Adhisti memang bukan takdirnya. Raka yakin sesuatu yang menjadi takdirnya tidak akan pernah pergi darinya, sebaliknya jika sesuatu yang bukan takdirnya sekuat apapun Raka menggenggamnya pasti akan pergi darinya.
❄️❄️❄️
Mata indah milik gadis mungil itu sudah hampir tiga jam menatap layar laptop yang menyala, sesekali tangannya terulur untuk mengambil es batu yang ada di samping benda kotak yang tengah ia gunakan untuk mengerjakan skripsinya.
Sebenarnya banyak hal yang harus ia tanyakan kepada sang dosen pembimbing perihal skripsinya, akan tetapi ia urungkan karena Adhisti segan lebih tepatnya gengsi. Jika bisa memilih ingin rasanya Adhisti mengganti dosen pembimbingnya, karena ia ingin pergi sejauh mungkin dari Raka.
Ngomong-ngomong soal Raka, Adhisti langsung teringat akan ucapannya tempo hari kepada pria jangkung itu. Apa Raka sakit hati dengan ucapannya? apa Adhisti harus meminta maaf? Kenapa Raka langsung menuruti ucapannya untuk menjauhi?
Sudah lama Adhisti tidak mendengar kabar Raka, sesekali Adhisti iseng membuka chat room milik Raka untuk mengobati rasa rindunya. Membaca tiap kata yang dosennya kirimkan, hanya ada pesan-pesan yang berisikan kata-kata singkat di sana tak ada rayuan atau pujian yang bisa membuat hati seorang gadis melayang. Namun, entah kenapa Adhisti menyukainya.
Ya, memang benar Adhisti merindukan Raka. Ia tidak bisa membohongi perasaannya semakin dia menyuruh Raka menjauh, semakin hatinya menginginkan Raka untuk tetap di dekatnya. Semakin Adhisti mencoba menghindar, Raka justru terus terngiang dalam pikirannya. Dan semakin Adhisti mencoba melupakan, Rasa ini justru semakin menggerogotinya.
Adhisti menghela napas prustasi, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus menelepon Raka untuk meminta maaf atau mengirimnya pesan atau mengajaknya bertemu?
"Aaaahhh terserah terserah terserah." Akhirnya teriakan itu yang keluar dari mulut Adhisti. Ia mengacak-acak rambut panjangnya lalu menyandarkan kepalanya di meja yang ada di bawah pohon tabebuya.
Maya yang mendengar teriakkan sang putri langsung berlari ke taman belakang tempat Adhisti berada.
"Kenapa, Sayang?" tanya Maya khawatir.
Adhisti mengangkat kepalanya, ingin sekali ia bertanya kepada sang bunda. Namun, ia takut sang bunda tahu apa yang sedang Adhisti rasakan sekarang.
"Ada apa, Sayang?" Maya duduk di samping Adhisti, ia rapikan rambut putrinya yang berantakan.
"Emmm, Bunda. Gini." Adhisti bingung harus bagaimana mengawali ceritanya. Maya menaikan alisnya merasa aneh melihat putri semata wayangnya.
"Gini-gini. Barusan temenku cerita, dia lagi bingung. Ada cowok yang deketin dia tapi dia malah nyuruh cowok itu buat gak ganggu hidup dia. tapi pas si cowok itu udah gak ada kabar dia malah ngerasa suka sama si cowok, ngerasa kehilangan ngerasa bersalah gitu, Bun."
"Jadi aku harus gimana? Eh maksudnya dia harus gimana? Eh bukan maksudnya aku harus ngasih saran apa?" Adhisti gelagapan sendiri.
Maya tersenyum, ia tahu yang Adhisti ceritakan bukan temannya melainkan dirinya sendiri. Dengan mengusap pipi sang anak ia berkata, "Minta maaf sama Raka, ajak dia bertemu. Dan jujur sama dia, Sayang."
Setelah mengucapkan itu Maya berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Adhisti yang masih bengong dengan semburat merah di kedua pipinya.
"Kenapa jadi Pak Raka, Bun? Aku kan lagi nyeritain temenku," teriak Adhisti.