
Keesokan paginya ketika Rendy datang dan baru mengucap salam ia sudah disuguhi drama Raka yang muntah-muntah hanya karena menghirup aroma nasi goreng, tak biasanya Raka rewel bahkan muntah hanya perihal bau nasi yang digoreng.
"Aneh banget sih, Mas. Biasanya juga cuek aja sama nasi goreng, ini pake muntah segala. Mana udah jam sembilan lewat ini. Kalo nunggu bibi masak lagi kan lama, pasti telat kita." Delia terus mengomel akan tingkah Raka yang sangat menyebalkan.
Pria yang sudah tak jelas perasaanya itu lebih memilih diam dan beranjak ke carport lalu memasuki mobilnya, Adhisti melihat suaminya pergi gegas mengikuti dari belakang.
"Mas gak sarapan dulu?" tanya Adhisti saat sudah berada dalam mobil.
"Nanti aja, masih gak enak perutnya, By," Raka bersandar pada sandaran kursi mobil.
"Isi dikit aja, ya. Aku takut acaranya sampe sore." Adhisti membujuk Raka sambil mengelap keringat yang memenuhi kening suaminya, Raka genggam tangan mungil itu dan terus menggeleng sebagai penolakan.
"Bentar aku bikinin roti buat bekal ya, biar nanti Mas bisa makan kalo udah agak enakan." Wanita cantik bermake up natural itu hendak beranjak, tetapi di tahan oleh suaminya.
"Sekalian teh tawar yang panas ya, By. Tolong, maaf nyuruh kamu." Adhisti hanya tersenyum lalu benar-benar keluar dari mobil, Raka bisa melihat wanitanya yang sudah memakai kebaya navy berbahan brokat yang di padupadankan dengan rok span batik bermotif sama dengannya itu berlari ke dalam rumah.
Mobil milik Rendy dan milik Raka baru terparkir di area kampus, Bunda Maya dan Ayah Pandu langsung menyambut anak menantu serta besannya lalu berjalan bersama menuju ruangan.
Adhisti sudah memakai baju toganya duduk dengan gelisah di bangku peserta wisuda, sesekali ia lirik sang suami yang duduk tidak tenang seperti menahan sakit. Wajah tampannya tampak pucat, Raka berkali-kali melihat jam tangannya hingga Adhisti melihat suaminya berpamitan dan keluar dari gedung.
Satu menit sebelum nama Adhisti di panggil Raka masuk kembali ke dalam gedung, ia terlihat sedikit lebih segar. Ia ikut berdiri bahkan tersenyum lebar ketika nama sang istri di panggil, akan tetapi setelah Adhisti turun dari panggung Raka langsung berlari ke arah toilet.
"Mas sakit? Kita ke dokter ya," tanya Umi Dahlia setelah selesai berfoto bersama. Mereka memutuskan untuk pulang sebelum acara wisuda selesai karena khawatir dengan kondisi Raka.
"Iya, Ka. Muka kamu pucat banget, lebih baik cek ke rumah sakit saja." Bunda Maya ikut menimpali.
"Nggak usah, Mi, Bun. Sepertinya aku salah makan kemarin. Lebih baik kita pulang saja." Raka cium tangan kedua mertuanya dan masuk ke mobil.
Audi R8 hitam mengkilat itu mulai membelah jalan, si pengemudi di dalam tengah sibuk meneguk air teh tawar dalam sebuah tumbler.
"Mas jangan minum terus, makan, ya. Dikiiit aja. Ini udah mau Dzuhur, perut Mas masih kosong." Adhisti mulai membujuk lagi.
"Nanti aja, By." Mata Raka tetap fokus ke depan, mengamati jalanan dan sesekali melirik ke arah kanan dan kirinya.
Iris hitam legam itu melebar ketika melihat sebuah warung bakso di pinggir jalan, tak pikir panjang Raka langsung menepikan mobilnya dan keluar.
Adhisti masih tak habis pikir, apa yang tadi ia lihat benar-benar suaminya. Raka yang katanya sakit langsung segar setelah menghabiskan dua mangkuk bakso, bahkan terlihat seperti tak terjadi apa-apa padanya.
Awalnya Adhisti tak ingin menceritakan semua ini kepada mertuanya, tetapi setelah seminggu berlalu dan Raka malah semakin enggan menyentuh asupan karbohidrat untuk tubuhnya Adhisti memberanikan diri berbicara kepada Umi Dahlia pagi ini ketika Raka masih bersiap-siap di kamar.
"Kemarin-kemarin masih bisa makan bakso, Umi, tapi sudah lima hari ini hanya buah dan teh tawar yang Mas Raka minta." Umi Dahlia yang mendengar hanya bisa tersenyum, semoga ini memang kabar baik.
"Mas, gimana kalo hari ini Mas gak usah ke NarArt dulu. Lebih baik kita ajak Adhisti periksa ke rumah sakit," ucap Umi Dahlia ketika semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing. Bukan hanya Raka yang heran, tetapi Abi Faruq, Delia serta Adhisti juga.
"Umi, yang sakit Mas Raka bukan aku," cicit Adhisti.
❄️❄️❄️
"Siapa lo?" Rendy langsung mendorong bahu Raka ke sandaran sofa panjang di ruangan miliknya, tak lupa tangannya yang menekan kening sahabatnya itu.
"Tidak lucu, Ren." Raka langsung menepis tangan Rendy.
"Siapa yang lagi becanda? Gue nanya lo siapa? Caraka Nararya yang gue kenal itu selalu nurutin ucapan uminya, nah lo barusan cerita lo nolak ajakan umi untuk ke rumah sakit."
Raka langsung termanggu, Rendy benar. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia berani sekali sampai menolak ajakan umi, apa ia telah kerasukan jin?
Siang ini setelah melaksanakan kewajibannya Raka memang mendatangi pria bule itu di ruangannya, hingga siang seperti ini yang bisa masuk ke dalam perutnya hanya sekedar teh tawar panas. Bakso yang biasanya menggelinding dengan lancar ke dalam perutnya pun sekarang sudah tidak menggoda lagi.
"Lo makin hari makin aneh, sikap lo juga makin hari makin sensitif. Udah berapa kali lo bikin si Kellin nangis gara-gara ucapan pedes lo?" tutur Rendy.
"Apa Adhisti sedang menstruasi, jadi lo sensitif gara-gara gak bisa cocok tanam?" Rendy mulai menggoda.
"Atau jangan-jangan Adhisti hamil?" Lanjutnya yang langsung diberi tatapan tajam oleh Raka.
"Ren jangan bicara yang nggak-nggak, kepalaku sudah pusing." Raka memijit pelipisnya.
"Dan jangan sampai kehamilan itu terjadi, Ren." Wajah Raka terlihat sangat frustasi dia tidak sanggup membayangkan jika benar Adhisti hamil.
"Lah udah gila ini orang, cocok tanamnya giat. Pas benihnya tumbuh kagak mau," cibir Rendy.
"Kamu sedang mencibir dirimu sendiri, Ren. Jika kamu lupa," ucap Raka sinis.
"Aku bukan tidak menginginkan anak, Ren. Aku hanya terlalu takut kehilangan wanitaku." Raut wajah Raka semakin murung.
"Jika kondisi Adhisti tidak terlalu mengkhawatirkan dan masih memungkinkannya untuk hamil, aku akan menjadi orang pertama yang mendukungnya untuk program kehamilan itu. Dan aku pasti adalah orang pertama yang sangat bahagia mendengar kabar kehamilannya."
Di rumah keluarga Nararya, Adhisti yang hendak melepaskan mukena mengurungkan niatnya karena mendengar suara pintu kamar diketuk.
"Ada yang bisa Adhisti bantu, Umi?" tanya wanita bermukena cream itu.
"Apa Umi boleh masuk, Nduk? Maaf Umi mengganggu. Umi cuma mau memberikan ini." Tangan lembut itu mengulurkan kantong pelastik berlogo sebuah apotek yang berada di daerah itu.
"Mari masuk, Umi. Apa ini?" Adhisti mempersiapkan sang mertua masuk ke dalam kamarnya, dan menerima kantong plastik dari tangan mertuanya.
"Buka lah, Nduk." Umi Dahlia mengusap punggung sang menantu seraya mengajak Adhisti duduk di ranjang.
Mata Adhisti terbelalak ketika mengetahui isi kantong plastik tersebut. "Umi ...."
❄️❄️❄️