
"Mommy, mommy ... dedeknya tantik." Satya tak ingin jauh dari sang ibu dan adiknya.
"Iya, Sayang." Adhisti mengusap rambut anaknya.
"Nanti Kakak harus akur ya sama dedek. Harus jadi pelindung buat dedek, harus jagain dedeknya. Kalo Mommy gak ada Satya jangan nakalin dedek ya."
"Emang Mommy mau kemana? Aku ikut, boleh?" Mata jernih itu terus menatap sang ibu.
"Kalo Satya ikut sama Mommy nanti dedek siapa yang jagain? Daddy kan harus kerja."
"Oh iya, ya. Aku patti jagain dedek kalo Mommy ngak ada."
"Mbak ngomong apaan sih? Aku gak suka ah." Delia yang sedari tadi diam menyimak akhirnya ikut berbicara karena baginya ucapan Adhisti sudah ngelantur kemana-mana. Kakak iparnya tersenyum sangat cantik.
"Oya, Mbak. Si cantik udah punya nama?" Delia mencoba mengalihkan pembicaraan.
Adhisti mengangguk.
"Siapa?"
"Ayunasya Arkadewi Nararya," cetusnya, wanita yang masih memakai seragam rumah sakit itu memeluk putra sulungnya.
"Artinya, Mbak?"
"Putri cantik penerang keluarga Nararya."
"Masya Allah, Ayu na sya, boleh aku memanggilnya Yuna, Mbak?"
Lagi-lagi Adhisti mengangguk. "Tentu boleh."
"Ngomong-ngomong ini yang jemput kemana ya? Kok gak dateng-dateng."
Baru saja Delia mengatupkan bibirnya, Raka masuk dengan Bunda Maya.
"Assalamualaikum, lama nunggunya ya, By? Maaf telat, ya. Tadi ngurus-ngurus dokumen dulu." Raka mendorong kursi roda ke arah tempat pembaringan sang istri.
"Gak papa, Mas." Senyum terus menghiasi wajah cantik Adhisti, Raka bopong tubuh mungil istrinya dan mendudukkannya di kursi roda.
"Ayook sayang kita pulang," ajak Bunda Maya pada Satya.
"Satya biar sama aku aja, Tan. Tante mending gendong Yuna aja." Delia langsung menggendong Satya melangkah di belakang sang kakak.
Rumah tampak ramai, Delia bisa melihat sanak saudaranya dari malang datang ingin melihat kedua cucu kebanggaan keluarga Nararya.
Namun, mata Delia langsung tertuju pada seorang pria dan seorang wanita. Matanya mulai memanas, ingin sekali Delia menghindar, akan tetapi ucapan abinya tempo hari terus menjadi pegangan seorang Adelia Nararya.
Ia salami orang yang berada di sana satu persatu, tepat dihadapan pria itu waktu seakan berhenti kerinduannya akan sosok itu sudah menggunung. Kejahilannya, kekonyolan, bahkan gombalannya Delia rindukan.
'Apa kita masih bisa seperti dulu setelah apa yang aku lakukan padamu, Mas?' hatinya sungguh perih.
Semua orang langsung mengerumuni gadis cantik yang menjadi penghuni baru itu, Adelia duduk dan membiarkan Satya bermain dengan Rendy.
Sesekali pandangan pria itu tertuju pada gadis yang duduk menyendiri dengan pandangan kosong. Sakit hatinya melihat gadis yang dulu dicintainya menjadi seperti itu.
'Maafkan Mas, Dek, gara-gara Mas hubungan kita menjadi renggang dan rumit. Apa kita masih bisa seperti dulu setelah apa yang Mas lakukan?'
Kesadaran Rendy terpaksa pulih kembali, Satya mulai rewel jika sudah di acuhkan.
Dari kejauhan Raka terus memijat pelipisnya, ia tak menyangka jika Rendy dan Delia akan serumit ini. Raka kira Delia sudah bahagia, akan tetapi semuanya sia-sia saja.
Raka ketuk pintu kamar sang adik, tiga kali ketukan barulah ada jawaban dari dalam sana. Raka masuk, ia ayunkan langkahnya menuju sang adik yang masih menatap langit malam dari balkon.
"Mas kira kamu sudah bahagia?"
"Aku sedang berusaha, Mas."
"Berusaha untuk apa? Untuk bahagia atau menepis semua rasa penyesalan?"
Adelia tercekat, apa yang diucapkan sang kakak benar adanya.
"Kamu harus bangkit, lupakan seseorang dan semua yang membuatmu sakit."
"Aku sungguh sedang berusaha, Mas." Delia mulai tak bisa menahan rasa sakitnya. Ia menunduk tak lama kemudian suara isakan terdengar di telinga Raka.
Ia bingung harus berbuat apa agar rasa sakit adiknya menghilang, Raka peluk tubuh adiknya. "Kamu tak sendiri, ada kami disini. Jangan pernah pergi lagi, karena dengan pergi kamu tetap tak bahagia."
❄️❄️❄️
"Mas," Adhisti baru meletakkan Yuna di box bayi.
"Ya, By."
"Kenapa dulu Mas menolak Mbak Maharani?"
"Kenapa kamu membahasnya lagi?" Selepas kepulangan keluarga ustaz Anwar tempo hari Adhisti selalu mempertanyakan hal itu pada Raka.
"Aku cuma pengen tau jawaban Mas yang sebenernya."
"By, gak baik mengungkit masa lalu. Lagi pula dia sudah menikah,"
"Dia udah nikah, Mas!" pekik Adhisti kaget.
"Iya," jawab Raka singkat ia sangat tak suka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
"Yah, padahal mau aku tawarin buat jadi istri kedua kamu, Mas. Biar aku dapet surga,"
"By!" Raka geram, hingga Adhisti terlonjak saking kagetnya.
Wajah Raka berubah, tatapan tajam yang dulu pernah Adhisti dapatkan ketika terlambat masuk mata kuliah Raka kini ia rasakan lagi.
"Aku gak suka kamu ngomong gitu! Orang lain pada gak sudi suaminya poligami, kamu yang dapet suami setia dunia akhirat malah pengen di poligami."
"Cara masuk surga itu banyak, pintu surga juga banyak. Kamu gak usah masuk lewat pintu itu masih banyak pintu-pintu yang lain."
"Iya, iya. Maaf ya, Mas. Aku becanda doang kok." Bukannya takut Adhisti malah terkekeh saat melihat wajah kesal suaminya.
"Becanda kamu gak lucu," sungut Raka.
"Tapi Mas harus janji ya, jika aku gak ada Mas gak boleh berlarut dalam kesedihan. Mas punya Satya sama Yuna yang harus diperhatikan, kalo mau nyari ibu sambung buat mereka aku ikhlas kok. Asal Mas jangan lupain kedua orang tuaku, ya."
"Kamu ngomong apa sih, By? Aku gak suka. Kamu udah janji bakal sama-sama terus." Raka merebahkan tubuh sang istri di sampingnya.
"Kata orang kalo suami atau istri kita meninggal terus kita gak nikah lagi, nanti kita bisa kumpul lagi di akhirat bener gak, Mas?"
"Hm." Hanya gumaman yang Raka berikan.
"Kalo gitu, kalo Mas meninggal aku gak akan menikah lagi biar kita bisa ngumpul lagi nantinya."
Raka langsung duduk tak menyangka jika istrinya punya pikiran seperti itu. "Asatagfirullah, Kamu pengen aku cepet mati, By?"
"Lagian kalo aku meninggal duluan, kamu bakalan jadi janda kaya raya, By. Gak perlu nikah lagi kehidupanmu sudah terjamin."
Adhisti mencubit pipi Raka. "Sejak kapan Bapak Caraka Nararya ngomongnya jadi begitu? Ish ini mah bener-bener kebanyakan gaul sama Pak Rendy nih pasti."
"Tapi kan bener, By?"
"Iya, Mas. Kalo aku yang meninggal duluan Mas jangan lupa nyari aku di sana ya, Mas. Pasti bakal susah nyari aku karena aku banyak banget dosanya."
"Aku bakalan nyari kamu, aku bakal narik kamu. Jika bisa aku bakal nanggung semua dosa-dosa kamu, By. Biar kamu bisa langsung masuk surga-Nya."
Malam itu mereka lewatkan dengan perbincangan-perbincangan yang sangat panjang, entah siapa yang menyudahi terlebih dahulu karena Raka dan Adhisti sama-sama terlelap dengan saling berpelukan.
Seminggu kemudian, Adhisti yang baru selesai menidurkan Yuna merasa tidak enak badan. Raka sudah mengajaknya ke rumah sakit, akan tetapi Adhisti menolak dengan alasan istirahat sebentar juga akan sembuh.
Namun, hingga menjelang Isya bukannya membaik tubuh Adhisti malah semakin lemah disertai demam dan sesak. Dengan bujukan Umi Dahlia akhirnya Adhisti mau dibawa ke rumah sakit, orang tua Adhisti datang ketika Adhisti tengah di tangani dokter jaga di IGD.
Raka bisa melihat saat sang istri dipasangi alat bantu pernapasan, pikirannya semakin tak karuan. Hatinya menjerit tak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu.
Satu jam kemudian Adhisti sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Umi Dahlia serta Abi Faruq memilih pulang untuk menjaga kedua cucunya, menyisakan kedua orang tua Adhisti dan juga Raka.
Raka terus duduk di kursi samping sang istri, meski ayah dan bunda menyuruhnya beristirahat Raka tetap menolak. Ia akan terus duduk di samping Adhisti, Raka takut saat Adhisti terbangun ia tak ada di sampingnya.
Dzikir terus Raka panjatkan, tatapannya tak pernah lepas dari Adhisti yang tertidur dengan lelapnya. Tangan Adhisti masih terus menggenggam tangannya, seakan takut jika Raka akan pergi darinya.
Adhisti membuka matanya perlahan, ia tatap sekelilingnya ada bunda dan ayahnya yang tengah tertidur di sofa. Ada juga laki-laki yang sangat ia cintai terkulai di sampingnya dengan napas teratur, meski sedikit kesusahan Adhisti mencoba mengusap sayang kepala sang suami.
Gerakan Adhisti membuat sang empunya terjaga. "Aku ganggu kamu ya, Mas?"
"Gak kok, By." Raka pegang kening Adhisti yang masih menghantarkan hawa panas.
"Kamu mau apa? Minum?" tanya Raka.
Adhisti menggeleng. " Maafin aku ya, Mas. Sering nyusahin kamu. Jadi beban buat kamu."
"Jangan ngomong gitu, kamu bukan beban untukku."
"Aku gak nyangka bisa nikah sama dosen killer kaya kamu, Mas."
"Apa kamu tau? Dulu aku takut banget sama kamu. Meski kamu ganteng, gak pernah ada dalam mimpiku jadi istri kamu apalagi jadi ibu dari anak-anakmu."
"Jahat banget kamu, By."
"Aku bisa jauh lebih jahat, Mas," tutur Adhisti dengan sebuah senyuman yang amat sangat manis.
"Terima kasih untuk tahun-tahun yang kita lalui sama-sama. Aku bahagia jadi istri kamu, aku bahagia jadi ibu dari anak-anakmu. Aku sangat mencintaimu, Mas."
"Aku juga sangat mencintaimu, By, terima kasih untuk dua malaikat yang kamu berikan untukku."
Adhisti terus bercerita tentang perasaannya dulu pada Raka, hingga kecemburuannya pada Maharani yang membuatnya sadar bahwa dia memiliki rasa pada suaminya. Mereka terus mengobrol hingga jam menunjukan waktu dua dini hari. Itu artinya sudah satu jam Raka menemani Adhisti mengobrol.
"Mas, bunyi syahadat seperi apa? Aku lupa, bisa ajarkan aku, Mas?"
"Apa maksudmu, By?"
"Aku pengen pulang, Mas, Satya pasti bangun jam segini. Dia pasti nangis nyariin kamu," Racau Adhisti.
"Iya, Sayang, nanti kita pulang ya, sekarang kamunya sembuh dulu biar cepet pulang."
"Ajari aku syahadat, Mas. Aku ingin pulang" Suara Adhisti semakin melemah.
"Kamu istirahat lagi ya, udah kelamaan ngobrol kayanya ini. Panas kamu juga naik lagi." Raka memegang pipi lalu kening Adhisti.
"Aku mohon, Mas." Adhisti mencengkeram erat tangan Raka.
"Iya, iya, Sayang, aku ajarin. Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."
Adhisti terus mencoba mengikuti ucapan sang suami, Bunda Maya kaget ketika Raka mengucap kalimat syahadat. Ia berdiri lalu mendekati ranjang putrinya yang sudah mulai kembali sesak.
Dengan gemetar wanita paruh baya itu memencet tombol darurat agar dokter jaga bisa langsung mendatangi ruang rawat inap putrinya.
"Mas bangun, Mas, bangun, Adhisti, Mas," jerit Bunda.
Raka masih terus mengajari Adhisti dua kalimat syahadat dengan suara terbata dan gemetar serta air mata yang terus mengalir.
Napas Adhisti semakin sesak.
"Bundaaa ...."
"Iya, Sayang."
"Ayaaaaahh ...."
"Iya, Nak, ayah disini."
"Ma-af."
"Bunda dan Ayah sudah memaafkanmu, Nak."
Setelah Bunda Maya mengucapkan itu tim dokter datang dan menyuruh semua orang keluar, akan tetapi tangan Adhisti masih kuat mencengkram tangan Raka hingga tim dokter membiarkan Raka berada di dalam ruangan.
Raka menyaksikan secara langsung bagaimana istrinya ditangani, hingga suara parau Adhisti mengalihkan perhatian.
"Maaasss ...."
"I-iya, Sayang."
"Ja-ng-an na-ngis, te-rus-in," ucap Adhisti di sela-sela napasnya yang semakin berat.
Raka mengusap air matanya, ia terus melantunkan dua kalimat syahadat.
"Maaaaasss ...."
Raka tak tega melihat kondisi istrinya, seperti ada sesuatu yang membelenggunya untuk pergi. Dengan berat hati akhirnya Raka menarik napas panjang mendekatkan diri ke telinga sang istri. "Aku ikhlaskan kamu pergi, By, aku ikhlas. Aku mengizinkanmu pergi, Sayang, biarkan aku disini bersama Satya dan Yuna yang akan terus melangitkan namamu. Aku ikhlas, Sayang, aku ikhlas."
Setelah Raka mengucapkan kata itu, mata Adhisti mulai tertutup rapat. Embusan napas terakhir Adhisti bisa Raka rasakan. Embusan napas yang amat sangat menyakitkan untuk Raka, embusan napas yang membuat jarak yang tak ada ujungnya untuk dirinya dan sang istri.
Raka terkulai lemas, ia meraung menangis sejadi-jadinya. "Aku kalah! Aku mengaku kalah olehmu! Aku ikhlaskan kau bawa kekasih hatiku pergi! dan aku pun akan selalu menunggumu mengantarkan aku padanya."
Ia lekas berdiri sekuat tenaga, Raka tahan saat seorang perawat hendak menutup wajah ayu Adhisti dengan selimut.
Raka tangkup pipi pucat itu ia ciumi seluruh wajah Adhisti. "Tunggu aku di sana ya, By. Aku janji hanya sebentar kamu menunggu, setelah itu kita akan bersama selamanya tanpa ada yang bisa memisahkan kita lagi."
❄️❄️❄️
Alhamdulillah kehaluanku yang kedua cukup sampai disini ya gengs, maaf jika endingnya tak sesuai dengan keinginan kakak-kakak dan mams-mams semua🥰🥰🥰🥰
sampai jumpa di lain waktu, dengan kehaluanku yang ketiga. peluk cium dariku 😘😘😘😘😘😘