Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 47



Penerbangan Raka dan Rendy yang dijadwalkan sekitar pukul tiga sore harus diundur, kedua pria tampan itu baru bisa menginjakkan kaki di Jakarta saat malam sudah larut.


"Gue anterin lo balik," celetuk Rendy datar.


"Gak usah, kamu kelihatan kusut. Lebih baik langsung pulang dan beristirahat, jauhi minuman, Ren." Raka menepuk bahu sahabatnya.


Rendy hanya mengangguk, tak ada suara yang keluar. Pria berbibir tipis yang biasanya ceriwis itu hari ini sangat berbeda sekali, entah Raka sendiri tak tahu apa penyebabnya.


Kemarin malam Rendy yang bilang hendak menambah pesanan makanan tak kunjung kembali hingga larut malam, pagi harinya jika Raka tak memaksanya sarapan Rendy takkan mungkin takkan makan kembali. Rendy yang biasanya terlihat tampan dengan sejuta pesona kini bagaikan bunga yang sudah diambil madunya, layu tak bergairah kantung mata yang hitam menjadi hiasan di bawah iris hanzel miliknya.


Namun, Raka bisa memastikan jika sahabatnya sekarang tengah memiliki masalah yang cukup dalam. Raka hanya bisa mengingatkan pria itu agar menjauhi minuman dan menunggu sampai Rendy sendiri yang mau bercerita, jika Rendy tak kunjung bercerita berarti masalahnya masih ringan.


Meski mengangguk Rendy tetap mengantarkan Raka hingga depan pintu rumah, setelah itu ia melajukan kembali kendaraannya. Raka menawarkan untuk menginap saja mengingat waktu sudah tengah malam, tetapi menolak.


Rendy mengatakan jika ia ingin tidur dengan nyenyak sampai siang tanpa ada gangguan dari Satya, ia bahkan meminta cuti untuk beberapa hari pada sang sahabat.


Raka membuka pintu utama dengan kunci cadangan, matanya terbeliak ketika melihat Delia ada didepan pintu.


"Assalamualaikum, Dek."


"Waalaikumsalam, Mas. Kok Mas sendiri?" Delia mengedarkan pandangan ke kanan kiri Raka.


"Memang Mas harus sama siapa, Dek?"


"Mas Rendy gak nginep? Eh maksudnya gak mampir, eh bukan-bukan maksudku gak nganterin Mas?"


Raka menyipitkan matanya. "Ada yang Mas lewatkan, Dek?"


"Apa sih Mas? Gak ada kok." Keringat sudah mulai memenuhi dahi Delia.


Raka terus memberikan tatapan intimidasinya. "Yakin gak mau cerita? Kalo terlambat Mas gak bisa bantu."


Delia tampak berpikir, semenit kemudian ia mengajak sang kakak ke ruang keluarga.


Kakak beradik itu duduk berdampingan, Delia terus menunduk sambil memainkan kukunya memikirkan bagaimana mengawali ceritanya pada sang kakak.


"Ada apa, hm?"


Dengan tarikan napas akhirnya Delia memulai cerita, mengeluarkan letupan isi hati yang sudah ia tahan beberapa minggu ini. Raka sudah bisa menebak arah cerita sang adik dan langsung menghela napas, ia terus mengusap punggung adiknya yang masih menunduk.


"Nanti coba Mas tanyakan ya, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik adek sekarang istirahat saja, jangan lupa berdoa minta yang terbaik sama Allah. Apa pun yang menjadi takdirmu takkan pernah meninggalkanmu, Dek." Raka mencoba menenangkan sang adik.


"Mas istirahat dulu ya, Dek." Delia hanya mengangguk, gadis itu sama sekali tak mengangkat wajah. Ia tak ingin sang kakak melihat wajahnya yang penuh air mata.


❄️❄️❄️


Hari barganti minggu, minggu berganti bulan, bahkan bulan pun ikut berganti menjadi tahun. Kehidupan Adhisti terlihat semakin bahagia dan sempurna, kondisinya pun seperti orang sehat pada umumnya meski ia harus menjaga diri agar tidak kelelahan dan harus tetap melakukan transfusi darah.


Satya sudah menjelma menjadi batita yang tak bisa diam, segala sesuatu yang ingin ia ketahui selalu ditanyakan. Awan yang berwarna putih pun menjadi pertanyaan Satya pada sang daddy, ia bahkan selalu menirukan ketika mommy, daddy atau yang lainnya tengah membaca Al-Qur'an meski bicaranya belum jelas.


Paras Satya yang berumur hampir tiga tahun itu semakin mirip dengan Raka. Alis tebal, hidung mancung, mata yang sedikit sipit dan semuanya diturunkan Raka. Hanya senyuman Satya yang sangat mirip dengan sang mommy.


"Mommy, mommy," panggil Satya. Ia berlari menaiki ranjang.


Adhisti yang masih bergulung dalam selimut itu seketika mendudukkan diri dan memeluk jagoannya. Lepas salat subuh tadi Adhisti memang memilih kembali tidur, badannya lemas tak bertenaga padahal seharian kemarin Satya diasuh oleh sang suami.


"Kakak udah wangi, mandi sama siapa?" Satya yang tampak segar, wangi dan tampan membuat Adhisti penasaran.


"Kakak udah makan?"


"Ndah, Mommy."


"Makan sama apa?"


"Tama wongtel, Akak ndah mingip kici lum Mom?"


"Iya, udah. Mirip banget, lucu gemesin. Mommy jadi pengen gigit." Adhisti menggigit perut Satya, hingga tawa pun meledak dari putranya.


Perhatian keduanya teralihkan ketika pintu kamar terbuka, disusul Raka yang datang dengan wajah penuh bedak serta handuk di bahunya dan perlengkapan Satya di tangannya.


"Anakmu tega banget nyiksa binatang, By, masa iya kelinci ikut dimasukin ke kolam karet," keluh Raka dengan terus berjalan menyimpan perlengkapan milik Satya ke tempatnya.


Adhisti terkekeh. "Kenapa pagi-pagi gini mandi di kolam karet sih, Mas? Nanti si kakak masuk angin gimana?"


"Cuma itu cara biar dia mau makan sekaligus mandi, By. Kasian umi sama si bibi udah bingung bujukin Satya mandi sama makan, dia mau makan dan mandi cuma sama kelincinya itu."


"Coba dicek punggung tangannya pasti ada lukanya, By."


Adhisti hanya menggelengkan kepalanya, ada-ada saja tingkah Satya. Adhisti melihat punggung tangan Satya yang memiliki beberapa goresan bekas kuku kelinci.


"Kamu kelakuan begini nurun dari siapa sih, Kak? Apa Daddy dulu juga begini ya?" Adhisti melirik sang suami yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi.


"Aku dulu gak gitu loh, By, pokonya dulu aku jadi idaman para ibu-ibu,"


"Dan sekarang jadi idaman wanita-wanita gitu, Mas?" Adhisti merasa jengah.


"Bukan aku yang ngomong kalo itu ya, By." Raka tertawa dan langsung menghilang di balik pintu kamar mandi.


Raka keluar dengan wajah yang segar dilengkapi rambut basah dengan air yang masih menetes, aroma khas sabun mandi menyeruak di indera penciuman Adhisti.


Adhisti mencoba berdiri, ia berniat menyiapkan kemeja serta keperluan sang suami lainnya. Namun, Raka mencegahnya. "Udah istirahat aja, aku bisa sendiri kok, By."


"Tapi, Mas."


"Gak papa, By." Raka langsung mengambil kemeja navy di lemari pakaiannya, setelah rapi ia menghampiri anak dan istrinya.


"Kamu beneran udah gak papa, By? Aku hari ini pulang agak telat, harus ke kampus dulu ada beberapa mahasiswa yang bikin ulah di mapelku, setelah itu ke NarArt,"


"Insya Allah gak papa, Mas, udah mendingan juga. Hati-hati ya, Mas."


"Iya, jangan telat makan. Satya biar nanti sama Umi atau sama bibi aja, jadi kerasa gini Delia udah gak tinggal disini." Raka menghela napas, lalu mengusap lembut pipi sang istri.


"Kerasanya sekarang ya, Pas Delia udah gak tinggal bareng sama kita, rumah jadi makin sepi. Mas udah sarapan?" Raka mengangguk dengan sebuah senyuman, ia jadi teringat sang adik.


"Semoga dia bahagia ya, By." Adhisti mengamini ucapan sang suami.


"Kakak, jagain Mommy pas Daddy gak ada ya." Raka tangkup kedua pipi bulat anaknya lalu menghujaninya ciuman.


Tawa renyah yang keluar dari bibir Satya sedikit bisa mengalihkan rindunya pada sang adik. Adhisti berdiri dengan berpegangan pada lengan sang suami, berniat mengantar Raka. Namun, belum lama berdiri pandangannya langsung kabur, semuanya gelap dan Adhisti terkulai dalam dekapan sang suami.


"By!"


❄️❄️❄️