
Anak adalah amanah dan sebuah anugerah terindah yang dikarunia oleh sang maha pencipta, semua orang yang sudah menikah pasti menginginkan kehadiran seorang anak untuk menjadi pelengkap. Tidak terkecuali Adhisti yang memang sangat menyukai anak kecil, akan tetapi ketika mengingat kondisinya rasa khawatir langsung memenuhi hati dan pikirannya.
Semenjak pembahasan soal anak di meja makan tadi Adhisti sedikit diam, meski ia masih membantu dan merespon semua yang dibicarakan mertuanya. Adhisti pergi ke kamar beralasan hendak bersiap ketika jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, akan tetapi saat sampai di kamar bukannya bersiap ia malah duduk di sisi ranjang diam dengan pikiran yang menerawang jauh. Kenapa dia sampai melupakan jika keluarga Raka pasti menginginkan kehadiran seorang anak?
Adhisti larut dalam pikirannya hingga ia tidak menyadari saat Raka masuk, Raka yang melihat sang istri melamun langsung mendekat dan berjongkok di hadapannya sembari mengelus kepala Adhisti.
"Kenapa?" Raka bertanya dengan suara yang sangat lembut, Adhisti hanya menggeleng.
"Gak betah?" tebak Raka.
"Bukan itu," cicit Adhisti.
"Terus?"
Raka yang peka langsung teringat sesuatu. "Jangan bilang kamu mikirin ucapan Delia tadi?"
Raka menghembuskan nafas berat ketika Adhisti mengiyakan tebakan Raka.
"Apa perlu kita pindah ke rumahku? Aku takut kamu semakin tidak nyaman." Raka memang sudah membeli rumah empat hari sebelum mereka menikah, rumah itu dekat dengan kediaman orang tua Adhisti karena Raka pikir Adhisti akan berat jauh dari orang tuanya.
"Jangan, Mas," sergah Adhisti, ia tidak sadar dengan panggilan untuk Raka yang ia sematkan di belakang kalimatnya.
Pria berhidung mancung dengan alis tebal yang membingkai wajah tampannya itu tampak terkejut. Namun, ia langsung bisa menguasai perasaannya dan mencoba biasa saja. Raka memang jengah mendengar kata pak yang selalu Adhisti ucapkan untuknya, tetapi Raka juga tak bisa berbuat apa-apa ia takut Adhisti tidak nyaman jika dirinya banyak mengatur. Kenyamanan Adhisti adalah yang utama bagi Raka, ketakutan Adhisti yang meminta pulang ke rumah orang tuanya terlalu mendominasi pikiran Raka.
Raka tersenyum, ia genggam tangan Adhisti mencoba menenangkannya. "Maafkan Delia ya, dia hanya bercanda. Jangan terlalu di pikirin."
"Ta-tapi, Mas, bagaimana dengan abi dan umi?"
"Insya Allah, abi dan umi akan mengerti, kita hanya perlu berikhtiar, berusaha dan berdoa selebihnya kita serahkan sama Allah ya, jangan terlalu di pikiran dan jangan di pendam sendiri. Sekarang ada aku yang siap menjadi tempat untuk kamu berbagi segalanya." Raka tersenyum meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Lalu apa kamu sendiri tidak masalah?"
"Tidak, karena anak adalah titipan. Munafik jika aku bilang aku tidak menginginkan seorang anak, akan tetapi kita kembali lagi ke poin tadi bahwa semuanya kita serahkan kepada Allah. Aku tidak akan memaksa, aku menikahimu karena Allah bukan karena perihal anak."
"Makasi, Mas."
"Sama-sama," Raka terus tersenyum dan mengusap kepala Adhisti.
"Adhisti, apa kamu menyukai pantai?" Bukan tanpa alasan Raka bertanya seperti itu, tadi malam Raka yang tidak bisa tidur akhirnya memberanikan diri membaca buku catatan milik Adhisti yang tergeletak tak jauh dari laptopnya. Ia baca dengan seksama tiap halaman yang ternyata berisi semua keinginan-keinginan Adhisti.
"Aku belum pernah ke tempat yang bernama pantai, Mas. Aku hanya melihatnya di gambar dan video. Ayah dan bunda tidak pernah mengizinkanku ke tempat-tempat seperti itu."
"Apa kamu mau ikut denganku ke Yogyakarta? Nanti aku ajak kamu ke pantai."
"Bukannya Pak Rendy yang akan ke sana, Mas?"
"Itu bisa diatur, bagaimana?"
"Tapi bagaimana dengan skripsiku?"
"Bukannya skripsimu sudah beres? Aku bahkan sudah mendaftar sidang untukmu dan jadwal kamu sidang masih dua bulan lagi."
"Apa tidak apa-apa jika aku ikut? Apa tidak akan merepotkan, Mas?"
"Tentu tidak, kamu tidak akan pernah merepotkanku. Aku akan mengajakmu tapi dengan satu syarat."
"Apa?" Adhisti bertanya dengan mata berbinar.
"Sebelum kita berangkat kamu harus transfusi darah dulu, dan kamu harus menjaga kondisimu agar tidak sampai kelelahan. Mau?" Raka menangkup kedua pipi Adhisti.
"Mau," Adhisti mengangguk cepat dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Alhamdulillah, sekarang lebih baik kamu bersihkan diri, umi dan Delia pasti udah menunggu di bawah."
"Tidak apa-apa. Aku tunggu di bawah ya," Raka berdiri memberikan sebuah kecupan di pucuk kepala istrinya. Lalu melangkah menuju pintu.
"I-iya." Mendapatkan perlakuan manis seperti itu membuat jantung Adhisti sudah hendak loncat.
Saat sampai di depan pintu Raka membalikkan badannya. "Adhisti," panlggilnya.
"Ya?" Wanita yang tengah membuka lemari itu langsung berbalik ketika namanya di panggil.
"Terima kasih, aku suka kamu memanggilku dengan sebutan Mas." Raka tersenyum hingga bibirnya menipis dan matanya sedikit tertutup membentuk bulan sabit. Sungguh sebuah senyuman yang langsung meluluh lantakkan pertahanan Adhisti.
❄️❄️❄️
Mall terbesar di Jakarta menjadi saksi bagaimana nasib Raka di tangan tiga wanita terpentingnya, pria yang mengenakan kaos dan celana putih itu selalu mengikuti kemanapun perempuan-perempuannya pergi. Tak lupa kedua tangan yang sudah penuh dengan paperbag berisi baju-baju yang Delia pilihkan untuk Adhisti, sedangkan sang istri terus mengobrol dengan uminya tanpa memperdulikan keadaan sang suami.
"Umi, apa masih lama? Kita udah muter-muter dua jam, sebentar lagi akan masuk waktu Dzuhur." Raka mendahului dan menghadang ketiga perempuan di depannya. Ia sengaja memasang wajah menyedihkan agar umi mau mendengar dan menyudahi penyiksaan ini.
Adhisti yang melihat tingkah sang suami hanya bisa terkekeh geli, ia baru tahu jika Caraka Nararya yang terkenal killer ternyata bisa melakukan hal seperti ini jika di hadapan uminya.
"Astagfirullah, Mas, umi sampai lupa waktu. Bagaimana ini?"
Umi Dahlia menatap sang menantu. "Nduk, kita beli keperluan lainnya nanti saja ya. Habis Dzuhur Umi harus ke masjid ada pengajian dari ustazah Maryam."
"Iya, Umi. Nggak papa. Ini juga udah cukup kok," tutur Adhisti.
"Ih gak asik! Baru juga dua jam, Umi," protes Delia yang masih belum puas berkeliling mall.
"Kapan-kapan kita ke sini lagi, Dek. Umi ada pengajian."
"Kenapa kamu jadi manja gini? Biasanya juga gak gini, Mas udah pegel loh, Dek." Raka ikut mengeluarkan suaranya.
"Kan beda, Mas. Sekarang aku pergi sama kakak perempuan jadi beda rasanya," tutur Delia memasang wajah cemberut.
Adhisti menjadi serba salah, ia tidak tega melihat suaminya sudah terlihat lelah, tetapi ia juga tidak ingin membuat Delia cemberut seperti itu. "Emm, Dek. jangan cemberut gitu, gimana kalo kamu ikut Mas sama Mbak aja?"
"Emang Mas sama Mbak mau kemana?" tanya Delia penasaran.
"Yogyakarta," celetuk Adhisti dengan polosnya.
Raka yang mendengar ucapan sang istri langsung melotot, apa-apaan ini? kenapa Adhisti tidak meminta izinnya dulu untuk mengajak Delia? Bisa gagal total rencananya jika Delia sampai ikut. Ah sungguh sial sekali memang nasibnya.
Di waktu yang sama seorang pria gegas berlari keluar dari NarArt saat mendapat satu pesan singkat dari wanitanya, ia memasuki mobilnya dan melesat membelah jalan ibu kota menuju satu tujuannya yaitu rumah sakit.
Saat sampai tempat tujuannya Rendy memarkirkan asal mobilnya dan berjalan dengan tergesa-gesa melewati koridor rumah sakit, ia buka benda bercat putih itu tanpa mengetuk.
Seorang wanita di dalam sana kaget bukan main, ia tak mengira Rendy akan langsung menemuinya setelah pesan yang ia kirimkan.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya sang wanita.
"Aku butuh penjelasan."
"Penjelasan apa lagi?"
"Bukannya kamu juga menyukaiku, lantas apa masalahnya?" tanya Rendy berapi-api emosi sudah menguasainya.
"Apa karena orang tuamu?" Rendy bertanya lagi ketika ia tak mendapat jawaban dari sang wanita.
"Apa harus ada Rendy junior dalam perutmu agar mereka menyutujui?" Teriak Rendy frustasi. Rendy memang tak pernah menyentuh wanita di depannya, karena baginya beliin sama istimewanya dengan Delia ia sangat menghargai Bellin.
"Ini bukan tentang orang tuaku tetapi tentangku, Ren. Aku yang gak bisa sama kamu."
❄️❄️❄️