Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 45



"Masya Allah, cakep bener anak Ongkel," kelakar Rendy saat ia melihat putra Raka yang tengah tidur dalam dekapan Bunda Maya. Tindakan Rendy langsung mendapatkan timpukan bantal sofa dari Raka.


"Bapakmu emang begitu, Bang. Dia gak suka banget sama Ongkel, cemburu terus. Padahal Ongkel baik hati, buktinya pas ibu kamu ngidam aja selalu manggil, Ongkel."


Raka menaikkan alisnya. "Bang?" alih-alih kesal karena ejekan Rendy, Raka malah tertarik dengan kata Bang yang disematkan Rendy untuk anaknya.


"Iya lah, Bang Satya. Dia kan anak pertama, cucu pertama juga. Jadi wajib di panggil Abang sejak dini," cerocos Rendy.


Ayah Pandu yang sedang duduk di samping sang istri dan terus memperhatikan malaikat kecil itu langsung tertawa, entah dari mana teori itu Rendy dapatkan.


"Aku gak suka, aku gak setuju! Masa iya ponakanku nanti di panggil Bang Sat. Mending Mas Satya aja, lebih aman." Delia datang dari arah dapur membawa beberapa cemilan disusul dengan seorang pekerja yang ikut membawa gelas berisi teh.


"Masa iya, bapaknya mas anaknya mas, Dek. Gak kreatif banget."


"Diminum dulu, Om, Tante, sini dedeknya biar sama aku dulu," ucap Delia. Tak acuh pada protes Rendy.


Bunda memberikan Satya pada Delia, lalu menyesap teh buatan adik dari menantunya itu.


"Alhamdulillah, terima kasih ya, Nak, Takaran gulanya pas banget. Udah bisa nih jadi istri," goda Bunda.


"Tante bisa aja, masih lama, Tan." Wajah Delia sedikit memerah.


Rendy hanya tersenyum, rezekinya hari ini bisa melihat wajah memerah Delianya. Mata Rendy memanas melihat Delia yang tengah menggendong Satya, satu sudut hatinya menginginkan Delia sebagai ibu dari anak-anaknya. Namun, apa ia mampu?


Rasa malu pada Abi Faruq dan Raka tak seberapa, tapi rasa malunya pada Delia lebih besar dari gunung.


"Diminum, Ren. Jangan bengong. Delia yang digodain kok malah kamu yang ngelamun," goda Ayah Pandu.


Siang ini Baby Satya sudah bisa dibawa pulang bersama sang ibu tentunya. Diluar dugaan operasi yang dilakukan tidak ada masalah serius, bahkan empat hari pasca operasi Adhisti sudah diperbolehkan pulang layaknya orang normal yang lainya.


Umi Dahlia yang baru bergabung mengambil alih Satya dari gendongan Delia dan menyuruh sang besan untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan, guratan lelah memang terlihat jelas di raut wajah pasangan kakek nenek baru itu hingga Bunda serta Ayah menurut saja.


Rendy berpamitan dan nanti malam dia akan kembali jika dibutuhkan, Raka sendiri sudah memasuki kamar hendak membersihkan diri, sedangkan Delia dan Umi Dahlia masih asyik menikmati wajah tampan Satya.


Suara pintu yang ditutup tak membuat Adhisti terbangun, Rasa lelah dan kantuknya terlalu menguasai. Pria berkemeja putih itu terus bersyukur karena Allah telah mengabulkan doa terbesarnya.


Kebahagiaan dan kelegaan Raka tak bisa digambarkan oleh apapun, beribu rasa syukur terus ia ucapkan hingga ia berjanji dalam hati akan menjadi donatur tetap untuk yayasan dan komunitas thalassemia yang ada di Jakarta.


Malam harinya, Raka yang baru selesai melaksanakan kewajibannya lebih memilih meluruskan badannya di sofa ruang keluarga. Baru saja ia ingin memejamkan mata abi dan mertuanya menghampiri.


"Kenapa tidur disini, Mas?" tanya sang abi.


"Iya, kenapa gak tidur di kamar saja, Ka?" Mertuanya menimpali.


"Kamar sudah menjadi teritorial kekuasaan umi, bunda serta Delia, Bi, Yah." Raka yang awalnya tidur akhirnya kembali duduk.


Terdengar kekehan dari kedua kakek baru itu. "Memang di rumah ini sudah kehabisan kamar, Mas?"


"Ada, Bi. Hanya saja-" Raka tak berani melanjutkan ucapannya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar anak muda. Abi serta mertuamu ingin membicarakan soal aqiqah Satya dan syukuran atas keselamatan Adhisti, Mas."


Sebagai rasa syukur menyambut kehadiran Satya dan kesehatan Adhisti, Abi Faruq dan besannya sepakat akan membuat syukuran serta membagikan makanan untuk orang sekitar dan panti asuhan.


Raka tentu menyambut dengan senang rencana yang dibuat abi dan mertuanya.


Ketiga pria berbeda usia itu larut dalam perbincangan hangat, mendiskusikan masing-masing ide serta pendapat. Hingga mendapatkan akhir yaitu aqiqah Satya dan syukuran Adhisti akan dilaksanakan seminggu lagi.


❄️❄️❄️


Adhisti menikmati peran barunya sebagai seorang ibu, memandikan, mengganti popok sudah mahir Adhisti lakukan. Luka operasinya pun sudah mengering, Adhisti selalu patuh akan ucapan dari Dokter Nanda, bundanya serta sang mertua. Adhisti bahkan rela menghabiskan setengah kilogram putih telur setiap harinya.


Bunda Maya hampir setiap hari berkunjung karena ingin terus berdekatan dengan Satya, ingin rasanya Bunda meminta mereka tinggal di rumahnya. Seminggu di rumah Bunda seminggu di rumah Umi, tetapi Bunda sadar jika seperti itu akan membuat anak serta menantunya kerepotan. Terlebih lagi Adhisti pasti akan kelelahan, belum lagi cucunya yang masih bayi.


Raka sendiri selalu membantu sang istri, ia tak ingin istrinya sampai kelelahan mengurus Satya. Raka menolak saat Ayah Pandu menyarankan untuk menggunakan jasa baby sitter, sebagai gantinya Raka yang begadang setiap malam dan membangunkan Adhisti hanya saat Satya membutuhkan asi.


Begitulah Satya, bayi tiga bulan itu seakan mengerti kondisi ibunya. Ia takkan menangis kencang meski haus, atau popoknya basah. Bayi tampan itu hanya akan merengek karena tak nyaman.


"Kenapa bangun, Kak? Mau mimi?" tanya Raka.


Satya hanya tertawa melihat wajah ayahnya.


"Bentar ya, kita bangunin Mommy dulu."


Raka mengusap lembut pipi Adhisti, beberapa usapan sudah membuat pemilik tubuh mungil itu mengerjapkan matanya.


"Kenapa, Mas?" Adhisti duduk, dengan netra yang masih menyesuaikan cahaya kamar.


Semenjak kehadiran Satya, lampu kamar tak lagi temaram. Adhisti dan Raka kompak menyalakan lampu karena takut membuat Satya tak nyaman.


"Satya haus, By."


Adhisti mengerti ia langsung merengkuh Satya bersiap memberinya Asi, sedangkan Raka yang melihat sang istri sudah membuka resletingnya memilih beranjak ke kamar mandi untuk kembali mengambil wudhu dari pada harus melihat pemandangan yang akan membuatnya sakit kepala.


Setelah kenyang Satya bukannya terlelap, netra hitam legam yang sama seperti milik Raka itu malah semakin terbuka lebar. Membuat Adhisti menghela napas, ia yakin sang putra ingin bermain itu artinya suaminya akan tidur selepas subuh lagi.


"Kita mainnya siang aja ya, Kak. Kasian Daddynya kalo gak bobok lagi, besok harus ngajar terus ke NarArt juga." Adhisti mencoba bernegosiasi dengan sang putra.


"Gak papa, By. Kamu tidur lagi aja masih malem juga."


Raka mendekat ke ranjang, mengambil Satya yang sudah ditidurkan kembali di kasur. "Biar aku ajak main Satya sebentar."


Ayah muda yang masih mengenakan sarung dan kaos putih rumahan itu mengajak putranya duduk di sofa, satu lengannya menggendong Satya dengan sebelahnya memegang Al Qur'an.


Raka mulai melantunkan bacaannya di surah Al Kahfi, Satya langsung tersenyum mendengarnya suara ayahnya. Hanya beberapa saat Adhisti melihat pemandangan itu, hingga akhirnya kantuk datang dan membuat Adhisti kembali terlelap.


Adhisti terbangun ketika samar-samar suara qiraah masuk ke dalam telinganya. Saat hendak mengaambil dan membangunkan Satya karena sudah waktunya meminum ASI Adhisti dikejutkan karena Satya tak ada di sampingnya begitu pun Raka.


Wanita bergamis hitam itu mengedarkan pandangan ke seluruh kamar, dan mendapati dua orang yang sangat ia sayangi berada di sofa.


Adhisti mendekat, bisa Adhisti lihat Raka masih terlelap dengan posisi tengkurap dan Satya yang berada dalam dekapannya pun sama terlelapnya . Yang membuat Adhisti geleng-geleng kepala adalah posisi Satya yang ada di pinggir, bagaimana jika anaknya itu jatuh ketika Raka menggerakan tubuhnya?


Bukannya lekas membangunkan suaminya, Adhisti malah mengambil ponsel di atas nakas dan memotretnya, ia unggah foto hasil bidikannya di akun media sosial milik sang suami dengan caption ' Me vs Dad'


Tak butuh waktu lama postingan itu di banjiri like dan komentar, tampak sangat jelas komentar dari para mahasiswi Raka, ada juga teman-teman Raka.


(Aku kira Pak Raka masih single, ternyata udah punya buntut. Gagal deh jadi Nyonya Caraka.) _trlaa


(Ya Allah, subuh-subuh gini udah liat yang bening-bening. Auto bismika allahuma ahya wabismika amut lagi ini mah, biar ketemu di mimpi jadi istri serta ibu dari anak-anakmu, Pak.) _ikazkiya


(Paaak! Kok anaknya ganteng banget. Izinkan aku jadi menantumu, Pak.) _Vina


(Gak anak gak bapak sama-sama cakep, jadi bingung milih yang mana.) _wayvyan


(Fix. Izinkan aku mencintai anakmu, Pak.)_milky


(Masya Allah, gak pernah nongol sekalinya nongol fotonya beginian. Ana belum nikah, Ka.) _Hamdan


(Kapan nikahnya? Tiba-tiba nongol foto sama duplikat begini?) _Senjamagrib


(Assalamualaikum, Baby Satya. Maafin Onty Maharani yang belum bisa nengok, ya. Sehat-sehat anak soleh.) _Maha.R


(Astagfirullah, Mas Raka!!! Itu si kakak kenapa tidur disitu? Aku aduin ke umi!!) _a.Nararya


(Buseet! Kelakuan anak Abi Faruq, untung itu bocah gak ngegelinding.) _Bima.R


❄️❄️❄️