The Versatile

The Versatile
Chapter 9



“Hazel! Bangun! Aku rasa kau sudah cukup tidur.” Suara sesorang itu membangunkan Hazel dari tidurnya.


Hazel tidak ingat bahwa dia berada ditempat yang berbeda. Dia mengira bahwa dia berada dirumah. Dan mengira ibunya akan memarahinya karena selalu bangun kesiangan.


Josh telah berada disamping Hazel dan menarik selimut yang menutupi Hazel. “Hazel bangun! Ibu ku tidak suka ada orang yang bangun terlalu siang dirumahnya, dia bisa menyirami mu dengan air.”


“Aku sudah bangun Josh. Pukul berapa sekarang? Aku kan tidak sekolah.”


Josh melipat tangannya didada. “Karena itu aku membangunkan mu. Hasil rapat ayah dan ibuku kemarin adalah menetapkan mu untuk bersekolah disini. Ayah dan ibuku sudah mengurus semuanya. Ayah dan ibuku bilang kau ini adalah anak temannya ayahku yang sedang melakukan pertukaran pelajar.”


“Tunggu! Aku disini untuk mencari ayahku, kenapa aku juga harus bersekolah disini?”


“Kau itu tidak pernah membaca buku panduan ya? Dimanapun kau berada sudah sewajibnya bagi anak berumur tujuh sampai sembilan belas tahun untuk belajar,” ujar Spencer sambil mengutip kata-kata dari buku panduan.


“Benarkah? Aku lupa bagian itu,” ujar Hazel berbohong, karena dia tidak pernah membaca buku panduan. Bahkan dia tidak tahu apa itu buku panduan.


“Bersiaplah, sebentar lagi bisnya datang.” Josh kemudian menutup pintu.


Hazel masih berdiri mengahadap tempat tidurnya. Dia mengira dia bisa beristirahat untuk sementara waktu. Tapi dia tidak bisa, ada banyak pekerjaan yang menunggunya. Lagipula, mencari tahu apa yang ayahnya sembunyikan disini itu tidak mudah. Dia harus menjari pentujuk dari awal, bahkan di juga tidak tahu harus mulai dari mana.


“Hazel bisnya sudah datang!” panggil Madelaine.


“Ya, aku hampir siap,” ujar Hazel yang sekarang sedang memakai sepatunya.


“Josh nanti siang ibu akan pergi untuk membayar sewa, sekalian kerumah sakit untuk suntik bulan ini. Mungkin akan pulang malam, ayah juga sepertinya kerja lembur. Hidroair-nya sudah ibu isi ulang untuk makan malam kalian berdua.”


Josh hanya menggangguk dan pergi keluar rumah. Hazel mendengar perkataan ibu Josh tadi, suntik bulan ini. Berarti, setiap bulan mereka akan disuntik? Tapi untuk apa?


Hazel membuka pintu kamarnya, Madelaine menaruh tangannya dipinggang. Sejujurnya dia terlihat sangat kurus, tapi entah apa yang telah membuat tubuh kurusnya ini terlihat menjadi berisi.


Mereka berjalan bersama menuju luar, Madelaine menunggunya seolah-olah Hazel anaknya. Josh sudah lebih dahulu naik. Mobil sekolah ini benar-benar terlihat biasa, tidak seperti hal-hal menakjubkan yang ia sudah lihat disini. Ya, bis itu sama seperti bis pada umumnya di zamannya. Mungkin hanya bis sekolah saja yang tidak mengalami perubahan hingga tahun tiga ribu dua puluh.


Tepat disamping Josh kosong, jadi Hazel mendudukinya. Ada dua anak perempuan duduk disamping mereka. Yang satu berkuncir kuda dan yang satu lagi memiliki wajah seperti tikus. Satu anak laki-laki yang dia lihat tadi saat berjalan menuju kursinya, tiba-tiba melemparkan sesuatu.


Sebuah kertas. Hazel sudah biasa menghadapi orang seperti ini. Karena di zamannya juga ada orang semacam anak itu. Hazel tidak yakin untuk membukanya, tapi dia tidak mau menjadi satu-satunya orang tidak tertawa karena dia tidak tahu isi kertas itu.


Jadi, Hazel membukanya. Detik pertama dia terdiam. Bukan menyesal karena telah membukanya, melainkan kesal karena tidak sepatutnya dia menulis tulisan itu.


“Apa-apaan ini?” tanya Hazel pelan, namun suaranya dalam. Gadis yang berada disampingnya terlihat sedang berbisik-bisik. Hazel tidak tahu apa yang mereka bisikan, tapi yang jelas mereka melihat kearah Hazel. Dan dia tidak suka ditatap seperti itu. “Apa?” sambil memelototi gadis-gadis itu. Pandangan mereka kembali ke depan.


“Apa masalah mu?” tanya anak laki-laki yang melemparinya kertas tadi.


“Seharusnya aku yang bertanya, dasar bodoh!” bantah Hazel.


Sekarang anak laki-laki itu berjalan mendekatinya. Tentu saja Hazel tidak takut, dia sudah mengadapi anak laki-laki yang ada digang waktu itu dan mereka tidak sendiri, berkelompok. Tentu saja hanya dengan menang tubuh dia tidak akan kalah.


“Kau bilang apa tadi?” tanya anak laki-laki itu. Ditangannya sudah memegang sesuatu. Hazel tidak yakin benda apa itu. Berukuran sebesar pulpen.


“Bagian yang mana? Bodoh?” tanya Hazel. Tapi pertanyaan itu terdengar seperti ejekan.


“Rasakan ini!” anak itu baru saja akan melayangkan pulpennya ke Hazel, tapi Josh menghalanginya.


“Jangan! Dia baru disini, peraturan disini berbeda dengan dinegaranya.” Bela Josh.


Anak itu menurunkan tangannya. Hazel terselamatkan berkat Josh tapi dia tentu tidak senang. Dia lebih suka berkelahi untuk harga dirinya. Walaupun dia tanpa senjata. Lagipula anak itu hanya mengandalkan sebuah pulpen.


“Apa yang kau lakukan? Membelaku? Aku tidak suka itu!” ujar Hazel.


“Aku telah menyelamatkan nyawamu! Kau baru saja akan distrum dengan flazz Hazel. Aku menyelamatkan nyamu!” Josh mengulang kata-katanya dengan sarkastik.


“Menyelamatkan? Memangnya benda itu berbahaya? Hanya sebuah pulpen.”


“Oh, ya tentu saja,” ujar Hazel dan lagi-lagi berbohong.


Perbincangan mereka terhenti, Hazel lebih memilih diam sekarang. Dia masih terus memikirkan ayahnya. Dan dia juga tidak ingin lebih banyak berbohong.


Josh menatapnya malu-malu beberapa kali. Anak itu lebih pemalu jika kita belum mengenalnya. Hazel kemudian menatap Josh balik karena tidak tahan untuk bertanya.


“Apa lagi?” tanya Hazel dengan nada yang sedikit kesal.


“Jangan lakukan itu lagi!” perintahnya lembut.


Hazel tidak yakin dia tidak akan melakukan hal itu lagi jika orang itu juga melakukan hal buruk pada dirinya lagi. Jadi dia tidak menggangguk ataupun tersenyum.


“Hazel, aku serius.” Josh menatapnya dalam.


“Aku tidak bisa membuat janji yang tidak bisa aku tepati Josh.”


***


“Hazel apa kau disini?” ujar Spencer yang tidak tahu dimana dia sekarang.


Ruangan ini cukup gelap, jadi Spencer harus meraba-raba benda disekitarnya. Hingga dia menemukan sebuah tombol dan dia menekannya. Benda itu menyala secara-tiba-tiba. Dan seolah-lah dialah yang membuat benda itu bekerja, lampu pun menyala.


Spencer membeku sesaat, dia tidak tahu ada dimana. Tapi dia memiliki firasat, bahwa dia berada disuatu tempat yang dia yakini bukan dizamannya. Ruangan itu terlihat seperti ruang kerja ayahnya Hazel, namun terihat lebih modern. Bahkan lebih modern dari zaman sekarang. Lantainya terbuat dari besi, dindingnya yang terlihat seperti terbuat dari campuran semen dan batu. Tapi saat disentuh terasa keras dan berbeda. Dindingnya juga terbuat dari besi dan tidak dicat, melainkan diprogram agar terlihat lebih bagus.


Spencer masih berkeliling. “Tempat macam apa ini?” ujarnya, seraya berputar-putar.


Apakah diluar ruangan ini sama seperti rumahnya? Itulah yang menjadi pertanyaan Spencer. Tanpa ragu dia membuka pintu ruangan itu, yang dia lihat hanya sebuah rumah. Terlihat seperti rumah biasa dengan dapur, ruang tamu, dan kamar-kamar lainya. Yang berbeda hanya bahan pembuatnya.


Sekarang rasa ingin tahunya menjadi-jadi, dia ingin melihat bagaimana keadaan diluar. Setelah mengelilingi dapur berkali-kali, Spencer pergi menuju ruang depan. Dia melihat pintu, tapi anehnya dia tidak bisa menemukan gagangnya disana. Spencer terus mendekati pintu, kemudian pintu terbuka secara tiba-tiba.


“Wow, apakah pintu disini selalu terbuka sendiri?” tanyanya sedikit kagum.


Dia keluar dari pintu secara perlahan, dia bisa melihat taman dari depan sana. Tepat didepan pintunya dia berdiri. Spencer melihat kesekeliling, ada beberapa anak-anak yang sedang bermain. Dan ada ibu-ibu yang sedang berbincang.


Dari sana Spencer bisa mendengar mereka membicarakan tentang sebuah alat baru yang akan diluncurkan beberapa hari lagi. Rasanya dia masih bingung, mungkin alat yang dia gunakan merupakan alat menuju masa depan.


Dan tidak diragukan lagi, semua yang dia lihat membuatnya yakin. Tapi bisa saja ini bukan dibumi, mungkin di planet lain. Mungkin dia berada diplenet yang tidak pernah terdeteksi oleh manusia bumi. Mungkin satu-satunya mengetahui dimana dia sekarang adalah, mengetahui peradaban mereka atau sejarah mereka. Mungkin dengan bertanya dengan ibu-ibu diluar sana dia bisa mengetahuinya.


Spencer pun memutuskan untuk bertanya, dia melangkah menuju taman. Tapi saat dia berjalan, ibu-ibu yang sedang berbincang-bincang itu diam. Mereka semua menoleh kearah Spencer. Secara spontan Spencer juga terdiam.


Semuanya terdiam, jadi Spencer memutuskan untuk bicara terlebih dahulu. “Selamat…” dia melihat jam tangannya, apakah sama dengan waktu disini. “Selamat pagi, nyonya-nyonya.” Wajah Spencer terlihat sedikit ragu.


“Pagi Tuan, aku rasa kau baru disini?” tanya salah satu wanita disana.


“Ya, tentu. Apakah aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Spencer balik, dan dia berpikir-pikir, apa pertanyaan yang tepat untuk mengetahui peradaban mereka.


“Tentu saja boleh. Suatu kehormatan untuk kami menjawabnya.”


Kehormatan, apa maksudnya? Tapi Spencer menghiraukannya. “Siapa nama presiden Amerika Serikat yang patungnya terpajang di Gedung Putih?”


Mereka semua diam, awalnya Spencer mengira mereka semua tidak tahu jawabannya. Dan mereka akan berkata ′Dimana itu Amerika Serikat?′ tapi ternyata Spencer salah, mereka justru menertawakannya.


“Maaf, kau meragukan nilai sejarah kami ya, anak muda?” tanya salah satu wanita yang terlihat lebih tua diantara yang lainnya.


“Bukan, aku hanya sedang melakukan survey, berapa banyak orang yang tidak mengenal presiden Abraham Lincoln,” ujar Spencer. Alasannya benar-benar bagus. Tentu saja, dia sudah terlatih dalam hal itu. “Baiklah aku masih harus menanyai banyak orang. Terima kasih atas waktunya nyonya-nyonya,” Spencer pun kembali ke rumah.