
Nissa sedikit menunduk saat tahu bahwa mobil-mobil yang lewat memperhatikan mereka. Dia yakin pasti karena penampilannya tidak pernah dilihat sebelumnya seperti yang dikatakan Spencer. Untungnya mereka datang saat malam, jadi orang-orang hanya melihat sekilas tanpa harus memastikan kembali apa yang mereka lihat.
Sebuah mobil patroli polisi terlihat dari jauh dengan lampu yang menyala berputar-putar. Kemudian mobil itu berhenti tepat didepan Spencer dan Nissa. Mengelabui seseorang adalah keahlian Spencer yang sampai sekarang masih dia gunakan dalam pekerjaannya. Kadang memang ada garis tipis antara berbohong dengan mengelabui, tapi Spencer tidak berbohong untuk dirinya sendiri.
Seorang polisi keluar dari mobil, yang satu lagi tetap berada dibelakang kemudi. Polisi itu menatap Nissa dengan tatapan aneh, antara penasaran, jijik, tidak suka, dan curiga.
"Apa yang kalian lakukan disini? Dan ada apa dengan pakian mu?" Polisi itu melirik ke Nissa.
"Ya, tadi kami tersesat. Mobil kami mogok ditengah jalan, jadi kami meniggalkannya. Kami lewat hutan-hutan itu, kemudian ini,” Spencer menunjuk Nissa. “Pacarku jatuh dan bajunya tersangkut akar-akar pohon, serta kotor." Spencer agak ragu saat mengatakan pacar. Apa boleh buat daripada dia bilang Nissa adalah adiknya, tidak mirip sama sekali.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya polisi itu lagi dengan bahasa Indonesia. Dia yakin bahwa Nissa adalah orang Indonesia.
"Ya, aku baik. Hanya saja kami butuh tumpangan dan aku sudah merasa lelah dan lapar. Mungkin berendam selama satu jam bisa menghilangkan lelah ku," ujar Nissa dengan nada yang menggoda dan berbahasa Indonesia.
Setelah diam selama beberapa detik dan melihat Nissa tanpa berkedip sedikit pun, polisi itu memberikan tumpangan kepada mereka. "Masuklah! Kami akan mengantar kalian sampai di kota. Dan kau bisa berendam dan mengganti pakaian mu." Polisi itu pun membukakan pintu belakangnya.
Spencer masuk terlebih dahulu, dia menunjukkan tatapan rasa tidak sukanya saat polisi tersebut melihat Nissa. Tatapan seperti orang jahat yang selalu Spencer benci. Didalam mobil, polisi yang satu lagi selalu memperhatikan mereka tiap menit melalui kaca.
Karena kesal Spencer memegang tangan Nissa dan menggenggamnya. "Apa kau kedinginan? Sepertinya udara mulai dingin." Tanpa menunggu jawaban Nissa Spencer meniup tangan Nissa dengan lembut.
Nissa sedikit kaget dan sempat tersentak ke belakang, tapi kemudian dia menyadari ini hanya akting. Polisi yang sejak tadi memperhatikan mereka sekarang tidak menatap ke mereka lagi. Spencer berhenti meniupkan tangan Nissa, tapi dia masih tetap menggenggam erat tanganya dan menaruhnya dipangkuannya.
Hanya dua puluh menit perjalanan menuju kota, bahkan dengan suasana yang seperti ini rasanya seperti tiga jam dalam kekangan dan seolah-olah mereka adalah sepasang tahanan yang ditemukan sedang berpacaran ditengah-tengah dihutan.
"Kalian sudah sampai," ujar salah satu petugas yang tadi bicara pada mereka.
Spencer dan Nissa membuka pintu belakang bersamaan. Petugas tersebut membuka jendela mobil.
"Terima kasih pak. Kami menghargai bantuan kalian," ujar Nissa sambil merendahkan sedikit tubuhnya agar dia bisa melihat petugas polisi yang satu lagi.
"Sama-sama dan hati-hati dijalan."
Spencer meletakkan tangannya seperti akan hormat. Kemudian mereka menghilang dari kerumunan.
***
Hazel menghela nafas panjang, entah sudah keberapa kalinya dia terus ditanyai dan dia sama sekali tidak memberikan jawaban. Jatah makanannya sudah dikurangi dari tiga kali menjadi satu kali. Dan dia selalu merasa kelaparan saat malam tiba.
Kebiasaannya yang bahkan sekarang membuatnya tersiksa adalah rasa laparnya saat dini hari dia terbangun. Sekarang dia lebih sering bangun pada malam dan dini hari, sedangkan saat siang dia selalu merasa lelah.
Untungnya jatah makanan yang sekarang diberikan saat malam hari, jadi mungkin dia bisa menyimpan sisa makanannya, tapi menyimpan uap, bagaimana caranya?
Alarm berbunyi tiba-tiba. Hazel menegakkan tubuhnya, dia menegang seketika. Pintu didepannya berusaha dibuka dengan kasar. Dua orang petugas didalam bersiaga dengan flazz-nya. Hazel tidak yakin siapa yang ada dibalik pintu, entah kawan atau lawan, yang jelas dia ingin Hazel bebas dan pergi dari tempat ini.
Dua orang petugas yang sudah siap dengan flazz menyerang. Hamish berhasil menghindar dan menepisnya. Dia memukul punggung petugas tersebut dengan sikunya. Yang satu lagi menyerang dari belakang, tapi Hamish lebih dulu menyerang dengan tendangan kaki kirinya yang mengenai wajah petugas tersebut.
Petugas tersebut roboh kelantai, Hazel menatap Hamish dengan tatapan kagum. Bahkan dia belum bisa menendang dengan sempurna seperti Hamish.
"Wow, dari mana kau belajar itu? Apa selama aku tidak ada kau belajar bertarung dengan tangan kosong?" ujar Hazel tiba-tiba yang masih dalam keadaan terikat.
“Hanya keberuntungan pemula,” ujar Hamish. Hamish baru sadar bahwa Hazel berada dalam keadaan terikat, kemudian membuka kunci tangannya dan mereka keluar ruangan tersebut.
Alarm masih terdengar dan hentakan-hentakan kaki mulai terdengar mendekat. "Josh dimana? Apa kau hanya sendiri?" Hazel menyamai larinya Hamish.
"Tentu saja tidak. Tanpa bantuan Josh kau tidak akan bisa keluar. Dia yang meng-hacker masuk ke sistem pertahanannya. Dia menuggu diluar," jelas Hamish. Nafasnya tidak beraturan.
Suara langkah kaki, lagi dan lagi. Setelah kejadian dirumah ayahnya Hazel, Hamish telah belajar dari kepanikan. Bahwa panik tidak memecahkan masalah, hanya keberuntungan yang bisa membantu mu saat panik. Sedangkan tidak mungkin setiap kau panik kau akan beruntung.
Mereka sekarang berada ditengah-tengah lorong. Hamish berlari kearah tangga disebelah kanan mereka, tapi para petugas berseragam dan lengkap dengan flazz-nya sudah memenuhi tangga.
Sebelah kiri mereka para petugas juga sudah berada dilorong.
"Aku rasa hanya ada satu cara untul bisa keluar." Hamish berdiri disebelah Hazel.
"Kita lawan mereka." Hazel menambahkan.
Tidak sampai satu menit lorong sempit ini dipenuhi petugas dengan flazz-nya.
"Pada hitungan ketiga!”
"Tiga!" ujar Hazel dan Hamish bersamaan.
Hazel berlari ke arah kanan dan Hamish ke arah sebaliknya. Selusin petugas bahkan mungkin lebih menyerang mereka bersamaan. Hazel meninju salah satu petugas yang berada didepannya. Hamish berlari mendekati dinding dan dia terpantul. Dia mengepalkan tangannya saat mendarat dilantai. Satu orang tersungkur dan membuat flazz-nya mengenai salah satu petugas dan roboh kelantai.
Hazel meminting petugas yang lain. Hazel mengepal kuat tangannya dan siap melayangkannya. Tapi petugas itu merunduk dan berhasil menghindar, namun pukulan telak mengenai salah seorang petugas yang lain. Tiba-tiba Hazel jatuh kelantai, tubuhnya ambruk dan tidak kuat menopang tubuhnya.
Hamish yang masih bertarung dan melihat Hazel terkapar membuat genggaman pada salah seorang petugas yang sedang ia pinting mengendur. Petugas tersebut mencari kesempatan dengan menyetrumkan flazz-nya ke Hamish.
Saat itu juga Hamish terkapar, namun dia masih bisa melihat Hazel yang juga kesakitan akibat setruman flazz. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya mulai merasa ada sesuatu yang menjalar hingga ke otak dan membuat semua hal yang dia pikirkan terasa kabur. Hingga pandangannya gelap seketika.