The Versatile

The Versatile
Chapter 41



“Sial! Kita pasti telah menjadi buronan nomor satu di dunia,” Haikal mengeluh.


“Selamat datang dalam kelompok buronan nomor satu didunia,” kata Josh. Ini bukan kali pertama dia menjadi buronan nomor satu. Sebelumnya mereka juga telah ditetapkan buronan nomor satu oleh Haikal.


Empat pria dengan satu orang gadis. Di zamannya Hazel patut untuk waspada, tapi di sini hanya Spencer yang lebih berbahaya dibanding yang lainya. Mereka berlari menju selatan, mencoba untuk menghindar dari semua kemungkinan yang ada.


Hazel suka berlari, tapi bukan karena dikejar sesuatu. Pelarian selalu menjadi andalan saat sedang kalah jumlah. Hazel benci bagian ini, dia selalu benci pelarian. Membuatnya terlihat lemah, karena tidak memiliki kekuatan.


“Padahal baru satu hari kita mendapatkan tempat tinggal. Sekarang harus tinggal dijalan lagi? Menyebalkan!” Josh menendang tanahnya.


“Ya sangat menyebalkan!” balas Hazel.


Diantara keempat pria itu, Joshlah yang memiliki emosional yang sama dengan Hazel. Umur mereka sama, jadi walaupun mereka dilahirkan dizaman yang berbeda, tapi mereka memiliki emosional yang sama diumur mereka.


     Haikal dan Hamish sedang mengalami masa-masa canggung. Kedua orang itu telah lama bersahabat, tapi baru kali ini mereka merasakan hal secanggung ini. apalagi setelah Haikal menghianati Hamish dan teman-temannya.


Sedangkan Spencer menjadi orang yang kesepian tanpa Nissa. Hazel tidak ingin bicara padanya untuk sekarang, karena akan membuatnya patah hati. Mereka semua patah hati dan butuh liburan. Tapi inilah kenyataan yang harus mereka hadapi.


“Tunggu!” ujar Hazel tiba-tiba. “Kita tidak perlu kabur!” tambah Hazel.


“Tidak! Kita harus pergi! Ayo Josh, Haikal, Hamish,” kata Spencer. Seolah dia tahu apa yang Hazel pikirkan.


“Tidak! Sungguh, aku tahu ide ku ini akan berhasil. Spencer ayolah!” Hazel menarik lengan pria itu.


Mereka saling bertatapan. Mata hijau yang sudah lama tidka Spencer lihat. “Aku percaya pada mu Hazel. Tapi untuk kali ini kau harus percaya pada ku. aku tidak ingin kita terbunuh disini!” Spencer melepaskan cengkraman tangan Hazel.


Hazel tahu apa yang dia lakukan akan berhasil. Dia memilliki sejuta cara untuk berhasil, bahkan jika itu harus memerlukan waktu yang lama. Sekarang Spencerlah yang paling benar, semuanya mengikuti Spencer untuk pergi menjauh dari kota. Hazel tidak ingin ada korban dan semacamnya. Mungkin saja orang-orang yang tinggal disini, seperti Nissa telah disiksa untuk mendapatkan informasi tentang mereka.


“Kalian tahu? Aku wanita sendiri disini. aku yang membuat keputusan untuk diri ku sendiri, bukan kalian atau kau Spencer!” Hazel menatap Spencer yang telah memimpin jalan mereka.


Semuanya hanya menatap diam pada Hazel. Dia bukanlah gadis biasa yang tidkamemperdulikan sekitarnya. Dia mempunyai rasa kepedulian yang tinggi. Dan tentu semua orang memiliki pilihan mereka masing-masing, walaupun itu pahit untuk sebagian orang. Tapi jika pilihan itu benar, kenapa dia harus takut untuk mengambilnya.


“Aku tahu jika aku melawan kalian satu-persatu, mungkin aku akan menang. Tapi jika kalian berempat menyerang ku sekaligus mungkin aku akan kalah. Untuk kali ini aku memilih cara ku sendiri. Aku akan menuggu hingga malam dan menyelinap sendirian tanpa kalian para pria penakut.” Hazel berjalan kearah yang berbeda. Dia akan mencari tempat persembunyian hingga malam.


Hazel benar, para pria ini hanya peduli pada hidup dan mati mereka tanpa memikirkan orang yang mati karena menyembunyikan mereka. Josh berhenti berjalan mengikuti Spencer dan mengikuti Hazel sekarang. Begitu juga dengan Hamish dan Haikal. Sedangkan spencer, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Namun akhirnya pria itu mengikuti Hazel juga.


Hazel berjalan mengikuti serpihan-serpihan batu yang runtuh dari bangunan didepanya. Gedung itu terlihat rapuh, bahkan terlihat seperti akan runtuh. Hazel berjalan menuju gedung tua itu, yang lainnya mengikuti dibelakangnya.


Saat berada didalam, Hazel merasakan udara panas dan bau semen serta debu tercium diseluruh tempat ini. Hazel berjingjit untuk menghindari reruntuhan bangunannya.


“Jadi, kenapa kau memilih bangunan yang hampir runtuh ini untuk bersembunyi? Bangunan disebelah sana sepertinya lebih layak untuk dihuni,” ujar Josh yang sekarang berada disamping Hazel.


“Tentu saja karena layak dihuni, pasti mereka akn mencari kita disana. Tempat ini pasti tidak akan mereka periksa, karena mereka tidak akan mau mati tertimpa reruntuhan bangunan tua.” Hazel sedang mencari tangga daruratnya.


Tangganya terbuat dari besi, tidak rapuh, tapi berkarat. Haikal dan Hamish masih berada dalam suasana kaku diantara mereka. Sepertinya mereka butuh berbicara satu sama lain dan harus ada yang memulainya. Sedangkan Spencer, hanya mengikuti dari belakang mereka. Hazel ingat, Spencer masih memiliki hutang bercerita tentang Olivia dan setelah dia menghilang secara tiba-tiba.


Mereka menaiki tangga hingga ke lantai paling atas. Kaca-kacanya sebagian telah hancur, tapi masih ada sebagian yang tidak hancur. Jika dilihat dari dalamnya, tempat ini sepertinya dulunya adalah hotel. Ada begitu banyak ruangan dan beberapa kasur yang masih bisa dipakai. Ada juga sebagian ruangan yang menyatu karena dinding pembatasnya telah hancur.


Hazel berkeliling mencari barang yang masih bisa dipakai atau yang bsia dibakar untuk mereka buat api unggun. Udara akan semakin dingin saat malam, apalagi jika hujan. Mereka harus siap untuk kondisi apapun. Tidak ada salahnya untuk menyiapkan sesuatu yang belum tentu terjadi.


Hamish pergi keatap untuk melihat situasi diluar dan Haikal mengikutinya. Mungkin mereka memang butuh waktu berdua untuk berbicara. Hamish sampai diatap. Dia pergi ke sisid an sedikit menunduk agar tidak terlihat. Sayangnya dia tidak memiliki teropong untuk melihat lebih jelas.


Disaat yang bersamaan Haikal mengikuti Hamish. Dia menunduk disamping Hamish. Awalnya mereka tidak saling bicara satu sama lain. Namun Haikal mengakui kesalahannyalah yang membuat persahabatan mereka kendur seperti sekarang.


“Maafkan aku karena telah membuat mu hampir terbunuh dan menjadikan mu buronan.,” kata Haikal kemudian.


Hamish hanya diam dan matanya masih mengawasi.


“Aku tahu aku salah, tapi persahabatan kita tidak layak hancur hanya karena kesalahan ku yang bodoh itu.” Haikal masih berusaha meminta maaf pada Hamish.


“Hey! Kau kira aku tidak akan memafkan mu?” tanya Hamish kemudian.


“Aku rasa begitu,” jawab Haikal.


“Ayolah! Kita ini pria, bukan wanita yang harus mengucapkan kata maaf untuk meminta maaf. Tidak mengatakan kata maaf bukan berarti aku tidak memaafkan mu. Ayolah! Kita sedang berjaga, bukan sesi curhat!” Hamish sedikit terkekeh.


“Kau benar. Tapi kenapa kau diam sejak tadi?” tanya Haikal lagi.


“Memangnya tidak boleh jika aku diam?” tanya Hamish balik.


“Hanya saja, itu sedikit aneh untuk mu,” jawab Haikal. Disaat itu juga mereka tertawa bersama.


***


Hari semakin malam dan udara mulai terasa menusuk kulit. Hazel benar, mereka telah menyisir bagian ini, tapi mereka tidak masuk ke bangunan yang hampir runtuh ini. Malam yang biasanya bersahabat diatas ini menjadi malam yang penuh dengan ketegangan dengan munculnya orang-orang dari bawah yang membawa Flazz mereka.


“Biasanya saat malam jalanan akan ramai, lebih ramai daripada pagi hari,” kata Spencer pada Hazel.


Hazel hanya diam memandang langit melalui lubang besar diruangan itu. Langit yang tidak bisa dia lihat saat berada dibawah sana, tanpa bulan dan bintang di malam hari.