
“Daddy apakah suatu hari nanti aku akan menjadi seperti mu?” suara Hazel yang lima tahun lebih muda dari umurnya yang sekarang terdengar seperti anak kecil yang merengek sesuatu pada ayahnya.
“Tentu saja kau tidak seperti ku. Kau akan tetap menjadi Hazel, gadis ayah yang paling cantik.” Ayahnya mengusap kepala gadis kecilnya yang sekarang mulai tumbuh dewasa.
Hazel tersenyum kecil. “Bukan itu maksud ku Dad. Tapi, apakah aku akan tumbuh menjadi orang yang hebat seperti mu? Bekerja untuk pemerintah dan memiliki uang yang banyak?” tanya Hazel lagi pada ayahnya.
Kali ini ayahnya yang tersenyum. “Memiliki uang banyak tidak berarti kau akan menjadi orang yang hebat. Begitu juga jika kau bekerja pada pemerintah, mengabdi untuk Negara kita memang benar, tapi ada batasan dimana kita tahu mana yang benar dan mana yang salah.”
“Jadi maksud Dad, kita tidak perlu memiliki uang banyak dan tidak perlu bekerja untuk pemerintah kita akan menjadi orang hebat?” gadis kecilnya semakin penasaran.
“Ya, menjadi orang yang hebat itu hanya cukup dengan bersikap adil, jujur, serta dapat memilah dan memilih hal yang baik dan benar,” jelas ayahnya. Walaupun mungkin gadis kecilnya belum mengetahui maksud sebenarnya, tapi ayahnya yakin suatu hari nanti gadis kecilnya akan tumbuh menjadi seseorang yang hebat, seperti yang dikatakannya.
Air mata mengaliri pipi Hazel. Dia baru saja terbangun dari mimpinya, rasanya bertemu dengan ayahnya didalam mimpi membuat Hazel melupakan kenyataan bahwa ayahnya telah tiada. Mimpi itu terasa nyata. Memang sebagian besar mimpi yang kita alami saat tidur adalah potongan-potongan kecil dari memori kehidupan kita, bahkan yang tersembunyi di alam bawah sadar kita.
Hazel menyerjitkan dahinya. Sakit menjalari seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Tangannya diikat, entah dengan apa. Ingatan terakhirnya adalah saat melihat Hamish yang mengerang.
Udara disekelilingnya terasa pengap. Bajunya basah entah karena apa. Mungkin keringatnya yang sejak tadi dia tidak sadari. Ruangan ini tidak jauh berbeda dengan ruangan saat pertama kali dia dikurung. Hanya saja udaranya kurang bersahabat. Hazel harus mencari udara yang bisa masuk hingga keparu-parunya.
Mimpi yang baru saja dia dapatkan adalah mimpi untuk yang pertama kalinya sejak ayahnya meninggal. Duka mendalam dalam dirinya tidak bisa dia hapuskan, tapi dia harus bangkit dari keterpurukan.
Dua buah pintu ganda seketika membuka. Sosok yang selama ini hampir tidak bisa dia percaya, menjadi musuhnya. Haikal masuk ke dalam ruangan itu. “Kau tahu apa yang telah kau perbuat?” suara Haikal menggema dalam ruangan ini.
Hazel hanya diam. Tapi dia tidak menunduk, seolah-olah dialah yang bersalah dan sedang dihakimi. Justru Hazel menatap mata Haikal dengan tatapan tajamnya yang membuktikan dia tidak bersalah.
“Pertama, kau telah membuat kesalahan dengan berusaha kabur. Kedua, kau telah membuat teman mu, atau mantan partner-ku, Hamish tertangkap dan harus menerima hukuman atas apa yang dia perbuat.” Nada bicaranya mulai meninggi.
Tentu Hazel tidak suka nada tersebut, apalagi ini menyangkut Hamish ― setidaknya temannya yang bisa dia percaya saat ini. “Enyah kau!” teriak Hazel.
Haikal hanya tersenyum licik. Dia berbalik dan menghilang dari balik pintu. Hazel menghela napas lega, dia tidak perlu meluapkan emosinya untuk saat ini. Dengan sisa tenaganya, dia harus menyimpannya untuk hal yang lebih berguna.
Ada sebuah layar didalam ruangan itu yang kemudian menyala. Seseorang yang diikat persis sama dengan Hazel. Hanya saja ruangan itu terlihat lebih mengerikan dari tempat Hazel. Dari matanya dia bisa melihat itu Hamish. Entah apa yang ingin mereka lakukan dengannya, yang jelas Hazel tidak ingin melihat ini.
Hamish mengerang tiba-tiba. Hazel tidak tahu apa yang terjadi. Pasti ada sesuatu yang menyiksanya, tapi dari balik layar itu Hazel tidak bisa melihat dengan jelas apa yang menyiksa Hamish.
Samar-samar dia melihat, aliran listrik mengalir dari ikatan ditangan Hamish. Ya, hanya itu satu-satunya benda yang menyentuh Hamish saat ini. Ikatan itu membakar kulit tangan Hamish dan menjalar hingga ke tubuhnya. Bahkan mungkin hingga kejantungnya. Hamish mengerang, Hazel berteriak dalam ruangannya dan tidak tahan melihat penyiksaan ini.
Hingga Hamish terjatuh kelantai dan wajahnya dipenuhi penyiksaan terberat yang pernah dia alami. “ARGGGHHH!!! Lepaskan dia!” Hazel berteriak sekeras-kerasnya dan berusaha menarik ikatan ditangannya. Tapi sengatan listrik yang mengalir membuat energinya yang baru saja tumbuh mulai lemah kembali.
Hazel hanya bisa pasrah dan bertumpu dilantai dia berpijak. Energinya habis. Wajahnya pun sudah tergerai penuh air mata. Dia tidak ingin melihat penyiksaan. Begitu banyak penyiksaan dan kesedihan dalam dirinya yang sekarang.
Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, tapi dengan tenang dan perpikir jernih akan menyelesaikan masalah. Jadi Hazel berusaha untuk menenagkan dirinya dan membuat dirinya terhanyut dalam alunan udara pengap serta air keringatnya.
***
"Hey, kemarin aku mendengar dari ayah ku. Katanya dia pernah melihat tembok besar terbuat dari besi." Nissa berbica sangat serius. Seolah-olah hal itu adalah hal terhebat yang pernah dia bicarakan.
"Oh ya? Tembok besar? Aku juga pernah melihatnya. Disekitar sini sepertinya banyak," ujar Spencer. Dia telah melunturkan semua harapan orang-orang.
"Kau tidak mengerti apa yang aku bicarakan ya?" tanya Nissa.
Spencer menatap mata Nissa, matanya berwarna biru, sebiru lautan. Namun, berkilauan seperti emas. Karena itu Nissa tidak pernah ingin menatap matanya, atau dia akan berhenti untuk menatap mata indahnya. "Hey tentu saja aku tahu."
"Bukan itu maksud ku. Ada tembok besi besar yang menghalangi sesuatu. Menurut ayahku tembok itu menjulang tinggi. Bahkan hampir sama tingginya dengan gedung tertinggi di dubai, bahkan mungkin lebih. Karena saat dia melihat keatasnya, terlihat seperti menembus langit. Kau bisa bayangkan kan?” tanya Nissa.
“Aku mengerti jadi menurut mu. Ada dinding besar yang membatasi kita, namun tidak ada yang pernah pergi melewati dinding tersebut.” Spencer menyimpulkan kata-kata Nissa.
“Tepat sekali!”
“Kau yakin?” tanya Spencer untuk meyakinkan Nissa.
“Entahlah, aku belum percaya jika belum melihatnya sendiri. Katanya dinding-dinding itu tersembunyi dan kita tidak bisa menemukannya.”
“Sepintar apapun seseorang menyembunyikan sesuatu, pasti akan ketahuan juga. Walaupun perlu bertahun-tahun untuk mencarinya. Dan biasanya para penyembunyi itu akan menjauhkan kita dari tempat persembunyian.”
***
Josh menghela napas panjang, wajahnya penuh dengan kerutan yang tidak bisa dia hilangkan. Seseorang berteriak samar-samar, Josh tidak yakin itu suara teriakan, karena lebih terdengar seperti orang tercekik.
Josh mencari sumber suara tersebut dan mendekatinya. Orang-orang mulai menatap kearah yang sama, tapi mereka hanya melihat dari jauh, tidak seperti Josh yang mendekati kerumunan tersebut. Bahkan orang-orang yang awalnya menatap ke arah kerumunan, kini menatap Josh dengan heran.
"Ada apa ini?" Josh bertanya pada kerumunan tersebut. Mereka terlihat seumuran dengan Josh.
Kemudian mereka seperti membuka pintu lingkaran tersebut dan menatap Josh.
Tubuh Josh sedikit gemetaran, namun dia sudah terlanjur terlibat. Dia melihat seorang anak laki-laki bertubuh gemuk berada ditengah-tengah. Wajahnya memar dan bengkak dimana-mana. Bahkan matanya hampir tidak terlihat karena pipinya yang bengkak.
Bukan karena pukulan atau hantaman seseorang melainkan karena suatu cairan yang mereka bawa. Josh melihat salah satu pria itu memegang cairan berwarna biru. Hampir mirip dengan cairan yang disuntikkan setiap bulan oleh pemerintah. Bedanya yang diberikan pemerintah tidak memberikan efek seperti ini. Josh tidak tahu itu apa, tapi yang jelas dia bereaksi cepat.
"Ada pahlawan kesiangan disini." Salah seorang dari mereka mengejek.
"Whoa, whoa. Aku bukan menjadi pahlawan disini. Aku hanya ingin tahu ada apa?"
"Lebih baik kau pergi, jika kau tidak ingin seperti dia juga." Anak itu menunjuk pada anak laki-laki gemuk tersebut.
"Tenanglah, aku hanya ingin tahu." Kata-katanya telah menjadi kunci.
Mereka saling bertatapan, kemudian menatap Josh bersamaan. Salah satu diantara mereka bicara. "Tidak ada yang ingin tahu lagi sejak―" kalimatnya terputus.
Josh tahu apa yang mereka maksud. Dia telah siap untuk berlari, tapi salah satu anak memegang tangannya dengan kuat. Kemudian teman-teman yang lainya ikut memegangi Josh. Josh memberontak, menendang-nendang kakinya. Berusaha lepas dari mereka, namun Josh jelas kalah jumlah.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dia lupakan, yaitu pelajaran bertarung yang Hazel ajarkan. Josh mengangkat sikunya, kemudian mendoronya ke belakang hingga mengenai wajah orang yang memegangi tangannya.
Dia melakukannya dengan cepat untuk yang kedua kalinya pada orang yang memegangi tangan yang lainya. Kedua orang itu mundur dan berlutut kesakitan. Temannya yang lain berusaha menjatuhkannya, namun kakinya yang telah berpijak pada tanah ini telah tertempel dengan kuat.
Josh semakin bersemangat untuk menghajar mereka. Namun dia harus lari, jika tidak ingin tertangkap. Salah satu dari mereka telah memanggil keamanan. Dari ujung jalan Josh melihat petugas berseragam yang sama saat rumah ayahnya Hazel diledakkan. Mereka membawa flazz dengan bentuk yang berbeda.
Seperti pistol namun mengaliri listrik dan bisa ditembakkan dari jarak yang jauh. Josh berlari dan terus menghindar dari listrik yang terus ditembakkan. Seharusnya dia tahu, dia tidak perlu terlibat tadi. Tapi itu sudah berlalu, sekarang dia harus menghadapi kenyataan. Berlari atau tertangkap? Hanya itulah pilihannya.