
Hazel mendesah kesakitan. Aliran listrik ditubuhnya masih terasa hingga sekarang. Jantungnya seakan ingin meledak, bahkan jika dia punya kekuatan dia sangat ingin memiliki kekuatan api agar dapat membakar Haikal. Tapi sayangnya dia tidak punya.
Wajahnya tertekuk, tangannya masih diikat, tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali mukjizat datang padanya. Udara disekitarnya berubah, angin terasa berhembus didalam. Pintu seketika terbuka, seorang penjaga masuk dan membawa pakaian bersih.
"Kau harus mandi! Setidaknya kau harus bersih orang purba!" Pejaga itu terkekeh. Dia melepaskan ikatannya dan memborgol tangannya dibelakang menggunakan borgol listrik. Tentu hal itu belum pernah Hazel lihat.
Saat penjaga itu menuntunnya, Hazel tidak hilang akal. Inilah waktu yang tepat. Hazel berbalik dan bembenturkan kepalanya pada penjaga itu. Penjaga itu terhuyung ke belakang. Pada saat itu, Hazel berlari sekuat tenaga dia. Tapi terlambat penjaga lain datang dan mengepung Hazel. Sebuah tembakan melesat kearahnya, yang untungnya dia bisa menghindar.
"Hey, dari mana kau dapatkan senjata itu?" Tanya Hazel penasaran.
"Ini senjata terbaru kami, kau akan terkena flazz dengan cepat dan kau tidak akan bisa lolos dari sini dengan senjata baru kami!" Pernyataannya sungguh meyakinkan.
"Lihat saja!" Hazel menyipitkan matanya, tersenyum licik agar membuat dirinya tampak meyakinkan.
Salah satu penjaga menembakkan flazz-nya ke arah Hazel dan hampir mengenai kepalanya.
Hazel menyeringai, " Bahkan orang purba bisa melakukannya lebih baik dari itu. Kau seharusnya belajar membidik dengan mereka." Senyuman sinis tersimpul sangat jelas dari bibirnya.
Lagi-lagi flazz diluncurkan kearahnya. Tembakan peluru hampir tidak bisa dihindari, tapi flazz tidak terlalu cepat dari peluru. Perbadaannya sepersekian detik, jika peluru bisa dihindari maka flazz tentu akan lebih mudah.
Inilah untungnya menjadi salah satu orang purba dimasa depan. Lebih mengetahui peradaban dan lebih mengenalnya.
Dua orang membidiknya. Hazel membuat gerakan cepat yang membuat lesatan flazz mereka bersarang tidak pada tempatnya. Tubuhnya memang masih belum cukup kuat menghadapi semua penjaga dengan tangan kosong, tapi jika dia bisa mengambil salah satu flazz, Hazel akan keluar dengan selamat.
Tiga, dua, hitungan yang dia lakukan untuk membuat strategi. Hazel berlari zig-zag untuk menghindari flazz, menuju para penjaga itu. Wajah mereka semakin panik, saat tidak ada satupun lesatan mereka yang mengenai Hazel sedangkan Hazel semakin dekat dengan mereka.
Saat hampir satu meter Hazel melayangkan tendangannya dan membuat flazz yang dipegang salah satu penjaga melayang diudara. Tanpa ragu Hazel menyambarnya dengan tangan terikat dibelakang. Dia berbalik dan melesatkan flazz-nya. Tembakan pertamanya melesat jauh.
"Bahkan tembakan orang purba lebih jelek dari kita. Tentu saja dia orang purba kan?" terdengar tawa dari semua penjaga.
Hazel berharap tanganya tidak diborgol, karena itu akan memudahkannya menembak. Tapi dengan keadaan seperti ini melatih ketazamannya. Hazel kembali menembak, kali ini berhasil dan mengenai penjaga yang mengatainya orang purba.
Baku tembak terjadi Hazel menghindar dari flazz mereka. Untungnya dinding-dinding disini membantunya melihat kebelakang. Hazel tidak perlu susah-susah menengok ke belakang. Diningnya memantulkan apa yang ada di belakangnya, sambil berkonsentrasi menembakkan flazz dari belakang.
Lagi-lagi berhasil dan mengenai salah satu penjaga. Jarak Hazel semakin dekat dengan yang lainya, seseorang melepaskan flazz-nya diudara. Dengan cepat Hazel mengarahkannya ke borgol tangannya, listriknya memercikkan api saat mengenai borgol ditangannya.
Tangannya bebas sekarang, para penjaga menatapnya dengan geram. Para penjaga kini siap lagi dengan flazz mereka yang terisi penuh, begitu juga Hazel yang siap dengan kaki dan tangannya.
Lima meter, larinya semakin cepat. Dua meter, empat penjaga maju bersamaan, Hazel melompat kedinding dan memantulkan tubuhnya ke penjaga yang paling dekat dengannya. Tiga penjaga yang lainnya menghujaninya dengan flazz, tapi Hazel lebih pintar dari dugaan mereka.
Dia menggunakan penjaga yang ia hantam tadi sebagai tameng, kemudian dia mengambil anti-flazz yang tergantung di pinggannya dengan cepat. Tubuh penjaga itu bergetar hebat, empat flazz mengenainya secara bersamaan. Saat posisinya sudah memungkinkan untuk pertarungan jarak dekat, Hazel merosot ke lantai dan membuat gerakan berputar dilantai dengan flazz kosongnya dan menghantam kaki para penjaga.
"Tidak mungkin," itulah kata yang berhasil dia ungkapkan. Tapi dia tetap masuk kedalam sana. Langit telah gelap saat itu, jalanan terbawa suasana. Tidak ada orang satu pun yang lewat disini, karena memang tempat ini sepertinya jauh dari kata manusia.
Hazel berpikir untuk kembali. Menyelamatkan Hamish dari siksaan dunia ini, tapi Hazel tahu dia akan kalah jika kembali ke dalam sana. Tenaganya sudah terkuras habis setelah pertarungan tadi. Bahkan dia hampir tidak bisa berdiri tegap.
“Sial aku butuh air.” Hazel tercekat, tenggorokannya hampir terbakar.
Jalanan semakin melebar didepan, tapi semakin sepi juga. Tidak satupun kendaraan yang melintas. Kaki Hazel sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Akhirnya tubuhnya jatuh ketanah, dehidrasi membuat pikirannya tidak karuan.
Kepalanya pusing bukan main, bahkan dia melihat seseorang mendekatinya. Namun matanya tidak kuat untuk tidak menutup. Dalam pandangannya yang samar-samar dia bisa melihat seorang wanita mendekatinya dan semakin dekat. Hingga matanya benar-benar tertutup.
***
“Kode merah! Kode merah! Tahanan kabur!” suara seseorang di microphone membuat Haikal geram.
“Kenapa bisa kabur? Padahal dia hanya seorang gadis tanpa senjata!” Haikal menatap kepada para bawahannya yang kini menunduk ketakutan. Bukan karena dipecat, melainkan lebih buruk dari itu.
Haikal menarik napas panjang, seolah-olah dia sedang meredakan kemarahannya yang kini hampir tidak terbendung lagi. “Oke, kita masih punya Hamish disini. Kita akan tetap berikan Hazel pada wanita itu!”
“Bagaimana caranya? Sedangkan tahanan kita sudah kabur?” salah satu bawahannya bertanya pada Haikal.
Dia menatap ke arah bawahannya itu, “Tentu saja kita akan membawa Hamish! Saat itu wanita itu akan percaya bahwa kita memabwa Hazel dan pada saat yang bersamaan Hazel pasti juga akan datang menolong Hamish.”
“Bagaimana kau yakin Hazel juga akan datang?” pertanyan itu benar-benar membuat Haikal tidak bisa menahan luapan amarahnya lagi.
Dia menyetrum bawahannya dengan flazz. Penjaga itu rubuh seketika dan tubuhnya hampir menimpa penjaga yang lain. Haikal benar-benar marah sekarang. Pertanyaan bodoh yang sungguh sangat masuk akal, bahkan semua bisa menjawabnya.
“Bereskan dia! Dan aku tidak ingin ada pertanyaan bodoh seperti itu lagi! Kalian mengerti!” Haikal menatap seluruh bawahannya dengan tatapan kejam.
Kini semua bawahannya kembali keperkerjaan mereka. Haikal menyilangkan tangannya didada tanda bahwa dia tidak suka dengan semua sikap anak buahnya yang tidak cepat tanggap. Karirnya akan terancam jika dia tidak bisa menyelesaikan tugas ini.
“Apakah semua telah berubah? Apakah integritas semua orang telah terpengaruh? Apakah sekarang uang bukan segalanya lagi?” pertanyaan itu muncul tiba-tiba dari kepala Haikal. Dia tidak yakin ada yang menggatikan uang sebagai hal paling tinggi disini.
Hal itu tidak masuk akal jika uang bisa membeli segalanya dan uang adalah segala-galanya dapat digantikan posisinya. Haikal hanya akan percaya jika hal lain itu dapat dilihat dengan mata kepalanya sendiri.
Haikal hanya belum tahu bahwa ada banyak orang disisi lain yang tidak menganggap uang adalah segalanya. Bahkan mereka hanya akan berkata uang adalah sampah, yang terpenting adalah kepedulian terhadap sesama.