The Versatile

The Versatile
Chapter 22



Suara alarm mobil polisi masih terdengar dibelakang mereka walaupun tidak cukup jauh. Tapi yang membuat mereka harus terus berjalan adalah tembakan yang tidak bisa mereka balas.


“Sial, dari mana mereka mendapat senjata-senjata itu? kita akan tertangkap jika tidak menyerang balik!” Hamish berteriak tegang.


“Kau lihat mobil besar pembawa gas disana? injak pedal gas mu lebih cepat dan salip didepan. Dia akan berputar saat mengerem mendadak dan akan terguling jika kita beruntung.”


“Baiklah. Aku ikuti saran mu! Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali.”


Hamish menekan pedal gasnya lebih cepat lagi, dia hampir menyamai mobil pembawa gas tersebut. Mobil tersebut hampir berbelok saat Hamish berusaha menyalip, tapi supir bis tersebut bisa mengimbangi mobilnya.


Mereka tidak berusaha untuk gagal. Saat Hamish menginjak remnya. Mobil pembawa gas tersebut tepat terjatuh dan mengakibatkan gasnya bocor. Tapi orang-orang itu tetap menembakinya dan membuat gas tersebut meledak.


Ledakan terdengar di belakang mereka. Josh dan Hamish tertawa bersama. “Apa kalian orang-orang zaman dulu melakukan hal seperti ini saat sedang diburu?”


Hazel tersenyum diikuti suara ledakan kedua. Benar-benar kacau, keadaan memburuk saat semua berita televisi membahas seluruh kejadian akhir-akhir ini. Mulai dari penangkapan seorang gadis yang menggunakan beladiri setelah beberapa tahun belakangan ini tidak ada yang melakukannya. Serta aksi tembak-tembakan yang terjadi dijalan tadi. Semua berita dan surat kabar terus memberitakan masalah itu dan mengait-ngaitkannya.


Bahkan salah satu televisi menyiarkan acara langsung mengenai penetapan tersangka tersebut. Para wartawan bertanya dari mana orang-orang itu mendapatkan senjata serta kenapa gadis itu bisa melakukan teknik beladiri yang telah dilarang ratusan tahun lalu. Bahkan mereka juga bertanya apakah mereka adalah teroris. Tidak satupun yang bisa dijawab oleh pihak berwajib.


Josh menekan tombol kecil yang berada didepan. Sebuah layar besar menutupi jendela depan yang mirip seperti televisi. Dan anehnya layar itu sama sekali tidak menghalangi pandangan Hamish dari jalanan. Dia bisa menyetir dan menonton televisi, melakukan pekerjaan itu bersamaan. Itu hebat. itulah yang dipikirkan Hazel. Tapi dia tidak ingin mengatakannya, dia takut akan dipanggil orang purba lagi.


“Hebat, sekarang mereka akan menetapkan kejahatan kita.”


“Maksudnya apa? Kita akan ditetapkan sebagai teroris atau semacamnya?” tanya Hazel ragu. Matanya terus menatap ke seseorang dalam televisi tersebut yang tidak asing lagi baginya. Bahkan saat pertemuan pertama mereka dia masih mengingat warna mata coklatnya.


Hazel memang tidak suka dengan orang itu, tapi gambaran orang yang telah membohonginya itu terus terekam diotaknya bagaikan kaset rusak.


“Apa itu Haikal?” tanya Hamish tersontak kaget.


Hazel sudah tidak bisa memandangi orang itu. Rasanya jika ia memandangi orang itu dia sangat ingin sekali menghantam wajah mulusnya dengan pukulannya. Bahkan dia ingin menembak orang itu didepan banyak orang atau dia bisa menyiksanya dan meminta informasi darinya. Tapi Hazel bukan orang yang sekejam itu. Bahkan jika dia telah berkhianat untuk Negaranya sendiri.


“Sial! Apa yang dilakukan Haikal disana? dia ingin tertangkap? Atau dia ingin mengatakan kebenarannya?” Hamish menyeka rambutnya.


Mereka semua diam dan dengan seksama menyaksikan detik-detik penetapan tersangka. Haikal berdiri diatas podium dan berbicara. Kemudian orang itu memberitahu foto para tersangka dengan menunjukkannya dalam layar yang hampir sama muncul seperti televisi didalam mobil ini. Foto pertama yang ditunjukkan adalah Hazel. Itu sudah jelas. Disusul Josh dan Hamish.


“Ketiga orang ini merupakan sekelompok orang yang meresahkan kita,” Haikal mulai bicara. “Gadis yang ini,” Haikal menunjukkan foto Hazel. “Dia mengaku, bahwa dia berasal dari masa lalu. Kalian tahu masa lalu itu seperti apa? Masa kegelapan yang paling buruk dari sejarah manusia. Dia bermaksud ke sini untuk mengubah masa lalu. Tapi seperti yang kita tahu, jika masa lalu dirubah maka masa depan juga berubah. Apakah kalian mau masa depan kita seperti masa lalu?” suara Haikal menggema ke seluruh penjuru.


Orang-orang dan wartawan terdiam dan kemudian bersorak-sorak tidak setuju.


Hazel terdiam dalam mobil. Tujuannya bukanlah untuk mengubah masa lalu dan Haikal tahu itu. Tapi pada kenyataannya Haikal mengatakan hal pahit itu. “Sudah kuduga dia berkhianat. Sekarang lihat, dia membuat kita semua orang mengenal kita.” Hazel menggerutu.


“Tapi dia tidak menyebutkan Spencer. Kita masih punya harapan.” Josh menyemangati.


Mereka tertuju pada berita itu lagi. “Siapa pun yang bisa menemukan orang ini dan menyerahkannya pada kami hidup-hidup kami menyediakan tiga ratus ribu unit,” Haikal mengayunkan senyuman terjahat yang pernah Hazel lihat.


“Lihat sekarang! Mereka membuat kita menjadi buruan.” Hazel mulai kesal. Rasanya dia sangat ingin meninju Haikal. Sangat dan sangat ingin.


Jalanan yang mereka lewati mulai menyepi. Itu berarti bagus. Hamish berhenti pada sebuah rumah dengan ukiran pintu yang sama seperti dirumah ayahnya yang berada di Amerika. Namun bedanya itu dijadikan sebagai pintu utama rumah ini.


Hazel langsung berlari menuju pintu itu dan pintu itu terbuka sendiri. “Aku rasa pintu ini mengenali diri ku.” Hazel tersenyum pada Josh dan Hamish.


“Begitu juga dengan ku,” Josh balas tersenyum.


Hazel tidak percaya bahwa apa yang dia lihat benar-benar seperti rumah ayahnya yang dia lihat di Amerika. Dia tidak tahu bagaimana ayahnya bisa membuat dua rumah yang sama di tempat yang berbeda. Dan benar-benar sama. Setiap sudut dan barang-barang serta tata letakanya sama. Hanya pintunya yang berbeda. Pintu depan dengan ukiran dan pintu ruang kerja ayahnya dengan pintu biasa tanpa ukiran.


Hazel berkeliling. Josh mengistirahatkan dirinya di sofa. Sedangkan Hamish mengisi sebuah tempat dengan uap rasa pizza. Sudah lama sekali sejak pelarian mereka Josh tidak merasakan makanan uap. Di rumah ayahnya Hazel ada lemari pendingin dengan isi berbagai makanan yang bisa dikunyah. Menurutnya itu lebih baik rasanya.


Josh mengikuti Hamish ke dapur. “Hey, apa yang kau lakukan? Jangan buka lemari itu!” perintah Hamish.


“Kenapa? Aku lapar!”


“Memangnya ada makanan disana?” tanya Hamish penasaran.


Tanpa ragu Josh membuka lemari itu. Itu memang lemari pendingin. Banyak makanan yang belum pernah Hamish lihat sebelumnya.


“Lemari yang cukup besar untuk menyimpan makanan. Hey, itu apa?” tangannya tertunjuk pada sebuah makanan berwarna merah dan panjang.


“Aku juga tidak tahu, coba saja mungkin enak.”


“Kau yakin ini tidak beracun?”


“Setahu ku sih tidak.”


Hamish pun mengambil makanan itu dan mencoba melahapnya. Hazel yang datang dan menepuk tangan Hamish hingga makanan itu terpental.


“Kau tidak tahu yang tadi akan kau makan itu adalah cabai. Kalian tahu cabai kan?”


“Benarkah? Aku tahu, tapi aku tidak pernah melihatnya. Itu saja.”


“Jika kalian lapar akan aku buatkan makanan nanti,” ujar Hazel sambil menutup lemari pendinginnya, “Kita perrlu bicara. Ikuti aku.”


Hazel berjalan keluar dapur, Josh mengikutinya kemudian Hamish dibelakang mereka. Josh masih ingat betul rumah ini, tapi saat Hazel mengajaknya kesuatu tempat. Dia tidak ingat tempat apa ini.


“Aku tahu kau tidak akan ingat tempat ini Josh.” Hazel menyeka wajahnya yang frustasi.


Sebuah tempat yang dipenuhi oleh kaca. Semua lantai, dinding, bahkan atapnya terbuat dari kaca. Mereka masuk ke dalam ruangan itu. Cukup luas untuk tempat yang membingungkan. Hazel berputar beberapa kali. Josh dan Hamish telah menelusuri tempat itu dan tidak menemukan apa-apa. Tempat ini terlihat lurus seperti lorong yang kosong jika kau lihat, tapi saat kau berjalan mengikuti arahnya. Kau akan merasa tempat ini melingkar.


“Hebat, kalian lihat tempat ini hanya lorong. Tapi saat kau berjalan kearah sana maka kau akan menemukan lorong yang berbelok,” ujar Hamish terkagum.


“Ilusi mata,” Josh bergumam.


“Ya, aku rasa ayahku menggunakannya untuk mengecoh orang-orang. Tapi aku rasa ini mungkin lebih dari tempat untuk mengecoh orang.”


“Baiklah, kita periksa nanti. Aku rasa aku lapar,” keluh Hamish.


“Akan aku buatkan makanan enak. Resep Indonesia.”


“Wow. Kau bisa membuat makanan Indonesia?”


“Tentu, hanya sedikit sih.”


Hazel orang terakhir yang menutup pintu ruangan itu. Dan Hazel langsung menuju dapur. Tanpa ragu dia mengambil sayuran dan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Dia tidak pernah mencoba membuatnya, tapi dia pernah merasakanya saat Hazel tinggal di rumah Haikal.


“Haikal? Tunggu dari mana dia bisa memasak makanan padahal Hamish saja tidak tahu cabai? Orang ini benar-benar membuat ku penasaran dan ingin menghajarnya,” gerutu Hazel.


Setelah beberapa menit dia memasak, Hazel segera menyajikannya. Tentu saja ayahnya memiliki piring dan gelas serta alat-alat makan lainnya. Mungkin ayahnya saat tinggal disini tidak ingin merasakan makanan uap yang aneh.


“Ini nasi goreng. Maaf jika tidak enak, aku memang belum pernah mencoba membuatnya. Tapi aku pernah merasakannya dan aku sangat mahir dalam hal mencicipi.”


Josh dan Hamish mengambil piring berisi nasi goreng tersebut. Hamish ragu untuk mengambilnya, karena Hamish tidak tahu caranya makan menggunakan peralatan makanan. Biasanya dia hanya bisa langsung menelan makanan tersebut. Tapi Hamish sangat penasaran. Dia ingin tahu apa rasanya mengunyah dan memakan nasi goreng yang dimasak. Bukan uap.


Dia melihat Hazel mengambil nasinya menggunakan sendok dan memasukkannya kedalam mulut. Hamish pun mengikutinya. Detik pertama saat makanan itu masuk kemulutnya dia merasakan suatu sensasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


“Ini, benar-benar enak. Sungguh enak daripada merasakan uapnya.” Hamish pun melahap makanan tersebut hingga habis.


Hazel segera membereskan semua sisa makanan. Dia mencuci piring dan merapikan semuanya. Setelah selesai dia membaringkan tubuhnya sejenak di sofa dan menyalakan televisi. Hamish keluar dari kamarnya dan duduk disebelah Hazel.


Bahu mereka bersentuhan dan Hazel merasakan hal yang sama saat dia hanya berdua dengan Spencer. Tapi bukan karena Hamish mirip dengan Spencer, atau dengan kata lain dia menyukai Hamish karena mirip dengan Spencer. Hazel memang suka Spencer, tapi dia suka sifat Hamish yang acuh.


“Jadi sudah berapa lama kau disini?” Hamish memulai.


“Entahlah, aku tidak ingat.” Bahu Hazel sekarang menegang.


“Kau tahu, ada hal yang membuat ku tertarik pada diri mu,” ujar Hamish lagi.


Hazel mengerutkan dahinya. “Maksud mu?” tatapan Hazel masih tertuju pada layar televisi, walaupun sebenarnya dia ingin sekali menatap Hamish.


“Ya. Kau itu tidak seperti gadis-gadis lain. Maksud ku, bukannya kau tidak cantik. Tapi lebih dari itu. Kau itu kuat, tidak pernah menunjukkan kelemahan mu pada orang lain. Walaupun aku tahu kau pasti punya kelemahan.”


Detik demi detik berlalu setelah Hamish mengatakan itu. Tapi Hazel hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun. Lidahnya kaku untuk mengatakan sesuatu.


“Baiklah. Aku ingin istirahat.” Hamish pergi meninggalkan Hazel dari ruang itu.


Dalam hati Hazel terus menyumpah. ′Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kau diam saja Hazel?′ diapun mematikan televisi dan berjalan keluar.


Hazel berdiri tepat didepan pintu. Udara semakin dingin saat malam. Mengingat cuaca disini bisa dikendalikan, mereka pasti mengira Hamish, Josh, dan Hazel tidak memiliki tempat tinggal dan kedinginan diluar sini.


Karena itu hujan memudahkan mereka menemukan mereka, karena itu bisa memperlambat gerak mereka. Ya, jika mereka tidak punya tempat tinggal. Tidak, jika mereka punya tempat tinggal.


Hazel menundukan kepalanya, mengarah ke jalanan didepan rumahnya. Hujan sudah turun sejak tadi, tidak henti-hentinya meneteskan satu demi satu tetesannya. Dalam diri Hazel dia terus bertanya-tanya. Apakah dirinya bisa sebebas hujan yang jatuh dimana-mana. Atau seperti hujan yang bisa bangkit dari keterpurukan yang gelap dan bangun kembali dengan munculnya pelangi.