The Versatile

The Versatile
Chapter 23



Hujan belum juga reda sejak tadi siang. Sempat berhenti satu jam dan kemudian mulai turun kembali. Hampir pukul dua pagi saat Hazel mulai merasakan dinginnya udara. Hazel pun bangkit dan pergi menuju dapur. Jika dia terbangun dini hari, Hazel tidak akan pernah bisa tidur kembali. Biasanya dia mengambil semangguk sereal dan memakannya walaupun belum waktunya sarapan.


Hazel ingin menyalakan televisi, tapi dia sedang tidak enak untuk menonton. Hazel berkeliling dapur, kemudian menuju ruang kaca yang ia temukan saat itu. udaranya agak hangat didalam. Cermin-cermin itu memantulkan gambaran dirinya yang sedang berdiri. Hazel tidak yakin apa yang sedang dia lakukan disini. Tapi ada suatu hal yang menariknya untuk tetap berada disini.


Hazel mengelilingi tempat itu, berputar beberapa kali dan tidak menemukan apa-apa. Karena lelah dia bersandar pada salah satu sisi kaca tersebut. Secara tidak sengaja Hazel merasakan dorongan yang kuat. Dia berbalik dan mundur dari kaca tersebut. Kaca-kaca ini menimbulkan suara dan semuanya berputar.


“Hebat! ayahku membuat tempat penyimpanan senjata dan alat-alat canggih.”


Semua senjata terpajang dibalik cermin-cermin tersebut, serta alat-alat lain yang Hazel tidak ketahui fungsinya. Hazel ternganga saat melihat semuanya.


“Ini akan menjadi kejutan besar untuk Hamish dan Josh,” ujar Hazel kegirangan. Dan langsung berlari menuju kamar Hamish. Dia tidak ingin membangunkan mereka tapi tidak adil jika mereka harus menunggunya hingga pagi.


Hazel mengetuk pintu kamar Hamish, tapi tidak ada balasan. Hazel mencoba membuka pintunya dan mendapatkan Hamish yang sedang tertidur tanpa bajunya. Dengan cepat Hazel menutup kembali pintu kamar Hamish dan berlari kekamarnya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Tidak pernah dia masuk ke dalam kamar seorang pria, apalagi saat pria itu sedang tertidur.


Hazel membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya. Dia terus mengingat hal yang baru saja terjadi. Sekarang dia tidak yakin apakah dia menyukai Spencer dan Hamish juga.


***


Tinggal diatas sini memang tidak mudah. Setelah para orang-orang kaya menetapkan untuk tinggal dibawah sana, mereka banyak mengambil persediaan mereka. Tanah diatas sini lebih subur dari dibawah sana. Tentu saja akibat erupsi yang telah mereka alami.


Pemerintah dari bumi bagian bawah sana menanam tumbuhan di atas sini dan memberikan batas dengan mendirikan dinding besi disekitar tanah mereka.


Orang-orang diatas sini hanya pasrah dan memakai sumber daya yang ada. Bahkan pakaian mereka diambil dari sisa-sisa pakaian yang tertinggal dirumah-rumah. Tapi yang unik dari mereka adalah, kedekatan mereka dengan orang-orang lain yang tinggal diatas sini dari berbagai Negara.


“Apa kau akan tinggal disini?” tanya Nissa yang melihat Spencer sedang melamun.


“Mungkin untuk beberapa hari. Aku tidak merepotkan kan?” tanya Spencer.


“Tidak, hanya saja sampai kapan? Apa sampai kau menemukan jalan untuk masuk kembali ke bawah sana?” wajahnya tertunduk agak sedih.


“Jalan menuju kebawah sana, aku mungkin sudah menemukanya. Tapi teka-teki yang belum terpecahkan masih banyak.”


Hari semakin sore, mungkin berjalan-jalan disekitar sini bisa menenangkan pikirannya. “Kau ingin berjalan-jalan?” tanya Spencer pada Nissa.


“Jika itu menyenangkan kenapa tidak?”


Mereka berdua berjalan perlahan mengikuti jalan. Debu-debu berterbangan. Orang-orang tidak perduli terhadap peradaban lagi. Mereka hanya perduli terhadap makanan dan kebutuhan hidup mereka. Tidak ada perhiasan bahkan barang-barang mewah. Kendaraan mereka pakai bersama tanpa harus membayar. Makanan hanya seadanya, tapi mereka saling berbagi.


“Menurut mu jika orang-orang dibawah sana tahu mereka tinggal dibawah tanah bagaimana ya reaksi mereka?” tanya Nissa sambil berjalan mengikuti jejak Spencer.


“Aku rasa mereka akan kaget dan berusaha untuk mencari jalan keluar dari bawah tanah tersebut,” Spencer berhenti sebentar. Menyamai jalannya Nissa yang sedikit lambat.


“Ya. Sayang sekali jika seumur hidup mereka tidak bisa melihat langit yang asli,” tambah Spencer. Mereka berjalan cukup jauh dari pemukiman.


Mereka semakin berjalan menuju tempat yang dulunya pasti sangat ramai. Toko-toko berjejer dimana-mana. Bahkan ada toko yang masih menaruh tanda tutup di depan kaca mereka. Ada sebuah gedung menjulang yang kelihatannya dulu adalah sebuah mall.


“Apa ini dulunya mall?” tanya Spencer saat mereka berada didepan gedung tersebut.


Nissa memajukkan kepala hendak bertanya. “Mall? Apa itu?”


Spencer menatapnya dengan tatapan aneh. “Oke, itu seperti tempat berbelanja.”


“Oh. Ya, itu tempat berbelanja. Banyak barang yang masih tertinggal disana. Kami menggunakannya untuk keperluan. Tapi mungkin sekarang barang-barangnya sudah tidak ada karena banyak yang mengambilnya.”


Spencer hanya mengangguk mengerti. Mereka melanjutkan perjalan. Nissa berjalan ke tengah jalan. Walaupun sangat jarang kendaraan yang lewat, mengingat tidak semua orang punya kendaraan. Tapi Spencer tetap memutuskan untuk berjalan di pinggir.


“Bagaimana rasanya tinggal diatas sana ya? Dengan segala kemewahannya?” tanya Nissa sambil berputar-putar ditengah jalan.


Spencer tidak menjawab. “Apa mereka memiliki banyak pakaian yang bagus. Kata ibu ku, dulu orang-orang sering berpakaian mewah bahkan hingga baju mereka terseret dilantai,” Nissa membayangkan semua kemewahan itu.


Nissa tidak pernah bercerita tentang ibunya, bahkan dia tidak melihat orang tuanya saat berada dirumah mereka. Mungkin mereka telah tiada, karena itu Spencer tidak ingin bertanya. Takut Nissa akan mengingat kenangan bersama orang tuanya.


“Ya, baju-baju itu dipakai saat seorang wanita akan menikah atau pesta besar,” Spencer menjelaskan.


“Benarkah?” lagi-lagi Nissa membayangkan semua kemewahan yang tidak mungkin dia dapatkan.


Spencer hanya diam dan merenung betapa malangnya nasib orang-orang diatas sana. Mereka bilang telah mencapai kesetaraan, tapi nyatanya masih ada orang-orang diatas sini yang kurang dan membutuhkan. Tentu saja mencapai kesetaraan, semua orang yang tinggal dibawah sana memiliki nenek moyang yang memiliki banyak uang untuk tinggal dibawah sana.


Angin berhembus dengan kencang. Mereka berdua berajalan pulang dengan santai. Matahari mulai terbenam perlahan. Pertanyaan mulai muncul lagi dari benak Spencer. Kali ini bukan tentang bumi bagian atas, tapi bagian bawah. Apakah mereka bisa melihat matahari terbenam setiap harinya? Mengingat mereka dibawah tanah. Dan apakah pemerintah benar-benar telah membohongi mereka yang tinggal dibawah sana.


Pertama mereka memanipulasi makanan yang membuat membuat fungsi kerja gigi tidak berkerja. Kedua mereka memanipulasi cuaca, tapi apakah mereka tidak pernah merasakan gempa? Tentunya jika dibawah tanah, gempa akan terasa lebih kencang. Walaupun mereka menggunakan sesuatu anti gempa.


Dan ketiga semua orang dibawah sana tidak memiliki sifat kepedulian terhadap orang lain. Mereka seperti zombie yang melakukan pekerjaan dan perduli terhadap diri sendiri.


Hal ini harus dihentikan, orang-orang dari bumi bawah harus tahu bahwa mereka tidak hidup sendiri. Orang-orang ini sudah terlalu lama bertahan dengan keadaan yang buruk. Spencer harus mencari cara masuk dan bertemu dengan Hazel.