
"Tempat itu sudah lama tidak terpakai, tapi aku yakin masih ada," ujar Hamish tanpa ragu.
"Bagaimana kita masuk ke sana? aku yakin Haikal pasti menyiapkan kejutan untuk kita. Dia pasti tahu bahwa kau tahu tempat itu."
"Ya dan tempat itu memiliki keamanan yang sangat ketat. Jika kau bisa masuk ke jaringannya maka itu kan mudah. Banyak para hacker yang tidak bisa menembus lapis keduanya."
Mata Josh mengerling. Dia tahu hacker adalah kemampuannya, mungkin dia bisa menembus pertahanannya. "Aku akan coba masuk ke jaringannya."
"Baiklah, kita berangkat dua jam lagi. Malam adalah waktu yang tepat untuk menyusup," Hamish menghilang dari balik pintu.
Tinggal Josh yang ada dalam ruangn ini. Sudah lama sekali sejak dia berusaha mengeluarkan Hazel dari penjara dia tidak bertemu dengan ayah dan ibunya. Dan untuk pertama kalinya dia merindukan keluarganya, selama ini dia tidak pernah merasakan hal semacam itu.
Mungkin itu karena dia tidak pernah pergi jauh dari keluarganya. Mungkin semua orang belum pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya, tentu saja mereka terlalu memikirkan diri sendiri daripada orang-orang disekitarnya. Bahkan keluarganya sendiri.
Josh menatap ke depan dan merasakan udara yang keluar dan masuk ke paru-parunya. Kemudian dia menah napasnya dan membiarkan paru-parunya kehabisan udara, pada saat itu juga dia merasa kehabisan nafas. Josh bernafas kembali, dia berpikir mungkin ini yang dirasakan orang lain saat orang-orang disekitarnya tidak perduli. Hanya saja mereka tidak merasakannya dan membiarkan rasa sakit itu membaik dengan sendirinya, tapi jika ini yang diterapkan pada pernapasannya maka dia akan mati.
Josh menatap ke depan, membayangkan kehidupan dimasa lalu yang penuh dengan kepedulian pada sesama. Dan dia juga membayangkan jika masa lalu diubah dan masa depan pun berubah. Josh menghela nafas, dia melirik ID nya dan menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Dia berdiri dan pergi menuju ruang kaca mencari alat-alat yang dia butuhkan.
Seperangkat laptop dan berbagai macam alat lainnya memenuhi tangannya. Hamish tidak terlihat saat Josh membutuhkannya. Akhirnya dengan susah payah dia membawa alat-alat tersebut sendiri ke ruang tamu, dia lebih suka bekerja ditempat yang terbuka daripada dikamar.
Lagipula dia akan merasakan kejenuhan jika bekerja dikamar. Josh membuka laptopnya dan mulai bekerja. Jutaan huruf dan angka muncul saat dia baru masuk ke lapis pertama. Saat dia berhasil masuk ke lapis pertama dia justru tidak senang.
"Aku rasa ini terlalu mudah untuk dilewati. Untuk sebagian hacker ini keamanan biasa yang sangat mudah sekali," ujar Josh sambil mengamati huruf-huruf yang terus muncul. Ada hal yang menurutnya aneh.
"Jika ini lapis keduanya bisa dibilang tidak masuk akal," ujar Josh.
Lapis pertama yang begitu mudah kemudian masuk ke lapis kedua yang susahnya bukan main. Bahkan para hacker yang sudah sangat ahli pun akan kesulitan. Josh memejamkan matanya sesaat. Saat dia membuka matanya tanda merah muncul dilaptopnya, cepat-cepat Josh mematikan laptopnya dan memutuskan sambungannya.
"Sial!" teriak Josh. Keberadaannya dilacak saat masuk kelapis kedua.
"Tunggu!" ujar Josh tiba-tiba. Seakan dia menemukan titik kebuntuannya. "Itulah yang membuat orang-orang tidak berhasil masuk hingga lapis ketiganya. Saat kita masuk kejaringannya, mereka akan melacak kita, terutama saat mencapai lapis kedua. Tapi sebenarnya ini hanya jebakan bahwa sebenarnya lapis ketiga tidak ada sama sekali. Dan jika kita kembali lagi ke lapis pertama kita bisa lihat huruf-huruf dan angka yang muncul, sedangkan saat dilapis kedua kita hanya bisa melihat angka yang sebenarnya dia sedang mencari lokasi kita." Sekarang Josh mulai bersemangat.
Dia meyalakan kembali laptopnya dan mulai dari awal lagi. Yang menjadi pertanyaannya sekarang. Bagaimana masuk kelapis pertama hingga selesai tanpa harus masuk kelapis keduanya? Sangat susah baginya untuk menghentikan jaringan yang terus mengalir secara otomatis itu.
Josh perpikir keras, udara semakin menghangat didalam. Hamish baru saja keluar dari kamarnya, entah apa yang telah dilakukannya dikamar. Bisa jadi dia menyesal karena Hazel tertangkap atau dia memang sedang ingin beristirahat, menjernihkan sebagian pikirannya sebelum tercemar kembali dan membuat otaknya berteriak kesakitan.
Hamish melihat Josh yang sedang mengutak-atik tulisan dan angka dilaptopnya. Perutnya terasa berbunyi, memang sejak tadi siang dia belum makan. Nafsu makannya hilang sejak Hazel ditangkap bahkan minumpun tidak, tapi dia tidak ingin menjadi dehidrasi.
Josh melihat Hamish pergi kedapur dengan wajah kelaparannya, Josh juga merasakan hal yang sama dan baru menyadari dia tidak menyentuh makanan sejak siang. Tapi dia tetap tidak beranjak dari kurainya. Justru dia meminta Hamish untuk melihat hasil pekerjaannya.
"Hamish lihat ini! Aku hampir bisa masuk jaringan mereka," teriak Josh dari ruang tamu.
Hamish membuka pintu lemari pendingin. "Kau berhasil ke lapis ketiga?" teriaknya dari dalam dapur.
"Tidak, lihat dulu sini! Kau tidak akan menyangka itu," pinta Josh.
"Kau belum kelapis ketiganya? Kalau begitu kau masih jauh Josh."
"Lihat saja dulu. Aku menemukan hal yang semua hacker tidak bisa masuk kelapis ketiga."
Sambil membawa sebotol air Hamish menghampiri Josh. Sejak betemu Hazel dia tidak pernah menghirup hidroair, mungkin Hamish juga lupa rasanya menghirup uap bernutrisi tersebut. Hamish berdiri tepat dibelakang Josh dan memicingkan matanya saat melihat ke layar laptop Josh. Bahkan Josh belum sampai dilapis pertamanya, tapi kali ini dia tidak tahu Josh berada dilapis keberapa. Lagi-lagi Hamish memicingkan matanya untuk memperjelas yang ia lihat.
"Josh pertahanan macam apa itu? Aku bahkan tidak pernah melihatnya." Hamish duduk tepat disamping Josh dan memposisikan dirinya pada sandaran dibelakangnya.
"Aku juga tidak tahu, kau tahu hampir saja mereka melacak kita. Saat aku sampai pada lapis kedua muncul tanda merah yang aku yakin sekali bahwa mereka melacak lokasi kita. Terutama saat dilapis kedua hanya ada angka yang memungkinkan kita menekan tombol lokasi geografis kita," jelas Josh yang kemudian mengambil botol air dari tangan Hamish dan meneguknya.
"Sudah, aku lebih siap dari yang kau duga." Hamish menyindir Josh.
Mata Josh memebelalak tidak percaya. "Apa? Kau tidak percaya?" tanya Hamish. Diapun pergi kekamarnya kembali. Josh mengira dia marah, tapi terlihat sangat aneh orang seperti dia marah hanya karena hal sepele.
Beberapa menit kemudian Hamish kembali dengan pakaian lengkap dan peralatan lengkapnya. "Oke aku percaya," Josh hanya melirik sedikit kemudian kembali ke pekerjaannya.
Keheningan membungkam semuanya, sepi memang sudah biasa tapi hening seperti ini membuat Hamish terjaga. "Josh! Kau dengar itu?" Hamish membuka benar-benar telinganya. "Langah kaki! Josh bawa semuanya pergi dari sini. Kau akan membuat kita tertangkap!" Hamish mulai panik.
"Aku kira tadi tidak sampai terlacak! Aku tidak tahu."
"Sudahlah jangan banyak bicara! Kau mau kita tertangkap!" Hamish memawa barang-barang berserakan yang dibawa Josh.
"Percaya pada ku, kita tidak akan tertangkap." Josh berjalan menuju ruang kerja ayahnya Hazel. Josh ingat rumah ini mirip dengan rumah Hazel yang di Amerika, tapi dia tidak ingat tidak semuanya sama. Saat Josh mencoba mencari jalan bawah tanah seperti yang pernah dia lakukan berasama Hazel ternyata tidak ada.
"Kau sedang apa Josh? Tidak ada waktu. Kita harus pergi dari sini!" Desak Hamish.
"Tunggu! Aku tahu jalan keluar kita," ujar Josh tiba-tiba. Dia ingat saat ruang kaca terbuka muncul suara yang sama saat Hazel membuka pintu menuju ruang bawah tanah yang menjadi jalan keluarnya.
Josh berlari menuju ruang kaca, Hamish mengikutinya dari belakang. Josh kemudian mengunci pintu ruang kaca setelah Hamish masuk. Sebenarnya Hamish tidak tahu maksud dari semua ini, dia ingin melontarkan banyak pertanyaan, tapi Hamish lebih memilih menyimpannya nanti.
Josh berputar mengelilingi tempat ini, Hamish juga mengikuti Josh walaupun sebenarnya dia tidak tahu apa maksud Josh. Suara langkah kaki semakin keras dan jelas. Hamish membeku dan membuka ruang kaca.
Dia mengambil senjata terdekat yang ia bisa ambil, hal terbodoh yang pernah dia lakukan, bahkan dia tidak tahu fungsi senjata itu. Suara aneh muncul saat Hamish menarik senjata itu. Josh tersenyum kecil, dia tahu pasti ini jalan keluarnya. Kaca itu berputar dan memunculkan lorong menuju bawah tangga.
"Sudah ku bilang kita akan selamat," Josh tersenyum lebar.
Mereka berdua masuk ke dalam ada sebuah tempat menaruh senjata yang sama bergantung disamping. Hamish menaruh senjata itu dan digantungkan disana. Pintu tertutup dan terkunci namun tanpa sengaja dia mengaktifkan alat peledak. Suara yang sama saat pertama kali ruangan ini bisa terbuka muncul, suaranya sangat jelas dan terdengar keseluruh penjuru rumah.
"Anda telah mengaktifkan peledak. Rumah ini akan hancur dalam hitungan 10 detik."
Suara itu membekukan Josh dan Hamish sesaat. Dan mereka baru sadar saat suara itu muncul kembali.
"Sepuluh, sembilan," suara itu terus menghitung.
Josh dan Hamish berlari hingga entah dimana ujung lorong bawah tanah ini. Suara ledakan terdengar dari belakang mereka. Ledakan pertama, ledakan kedua, dan ledakan ketiga. Tapi ledakan itu tidak perpengaruh apa-apa pada lorong ini, namun Josh dan Hamish masih tetap berlari.
Dengan tersenggal-senggal Josh berlari mengikuti Hamish yang kencangnya bukan main. Bahkan dia terlihat sama sekali tidak kelelahan. Tiba saat mereka sampai disebuah ujung lorong dengan dua cabang. Hamish telah memilih jalan sebelah kanan yang bertuliskan masuk. Josh hanya mengikuti dari belakang, larinya semakin cepat untuk menyamai Hamish.
Jalan keluar semakin terlihat, dan Josh semakin kelelahan dan tidak bisa mencapai Hamish. Hamish telah jauh didepan dan meninggalkan Josh.
"Sial! Hamish!" panggil Josh dari kejauhan. Entah apakah Hamish mendengarnya atau tidak. Josh berjalan terseok-seok, dengan sisa tenaganya dia berjalan menuju Hamish.
Hamish berdiri diam di ujung lorong. Jalan mereka sudah selesai, hanya ada ruang kecil berukuran satu kali satu meter. Josh masuk kedalam ruangan tersebut dan tidak menyangka bahwa jalanan ini berakhir.
“Hanya ini? sejauh ini kita berlari, hanya berhenti disini? dan tidak ada jalan keluar?” gerutu Josh.
Tiba-tiba saja kaki mereka terasa dilem. Mereka tidak bisa bergerak, sesaat kemudian ruangan itu berputar dan naik keatas. Mereka telah sampai di ujung jalan tempat pusat kota. Mereka keluar dari sebuah tempat telephone umum dengan kaca dua arah. Orang-orang tidak bisa melihat mereka dari luar, tapi mereka bisa melihat orang-orang dari luar.
Telephone umum memang jarang dipakai. Biasanya dipakai jika ID mereka sedang diblokir atau rusak atau sedang diperpanjang. Josh menghela napas lega, mereka telah lolos dari orang-orang yang mengejar mereka. Sekarang hal yang mereka harus lakukan adalah meretas sistem pertahanan tempat dimana Hazel diintrogasi.