
“Spencer!!! Buka pintunya!!!” Josh mengetuk keras sekali hingga membuat Spencer benar-benar kesal.
“Apakah kau benar-benar perlu mengetuk sekeras itu? Jika hal yang kau sampaikan itu tidak penting aku akan memukulmu!” bentak Spencer dengan melototkan matanya.
“Kita tidak bisa kembali!” Josh menggelengkan kepalanya.
Spencer diam sedetik, “Kenapa?” tanyanya kesal.
“ID kita telah disebarluaskan. Mereka mengenali kita, sebaiknya ID ini kita buang. Dan kita harus segera pergi dari sini!”
“Tidak perlu berkemas, segera panggil Hazel! Kita bertemu di lobby, cepatlah sebelum pihak hotel juga mengenali kita!”
Josh mengetuk kamar Hazel dengan keras. Kali ini tidak sekeras dia mengetuk kamar Spencer. Butuh tiga puluh detik untuk Hazel membuka pintu. Pakaiannya terlihat sudah sangat siap sekali.
“Aku tahu apa yang kalian bicarakan! Segera susul Spencer!” perintah Hazel.
Mereka berdua tidak ingin mengambil resiko utnuk naik lift, karena bisa saja pihak hotel telah mengenali mereka dan mematikan lift-nya saat mereka sedang disana. Jadi mereka lebih memilih tangga daripada lift.
Suara langkah kaki dari arah bawah membuat Hazel dan Josh terjaga. Orang-orang dengan flazz-nya berlarian dari bawah tangga. Hazel yakin itu dikirimkan untuk dirinya dan Josh serta Spencer.
Sebuah pintu berwarna putih Hazel buka dengan paksa, Hazel masuk terlebih dahulu. Tangga belakang adalah hal kesuakannya untuk melarikan diri. Tapi tidak jika tangganya macet. Josh terus berusaha agar pintunya tidak terbuka sedangkan Hazel mencoba mendorong tangganya.
Tapi usahanya sia-sia, masih sekitar tujuh meter hingga sampai ketanah. Josh tidak bisa menahannya lagi, pintu terbuka paksa. Tapi Hazel lebih dulu menyerang, pria itu telah mengacungkan flazz-nya tepat didepan wajahnya. Tapi hazel berhasil menjauhkannya dari wajahnya.
Pria itu tersentak, kemudian muncul pria yang lain. Dia berhasil mengenai punggungnya, tapi dengan cepat Hazel menendang orang itu jauh-jauh darinya. Pria itu terjatuh kebawah, namun dia masih berpegangan pada tangganya.
Orang-orang dengan seragam lengkap terus berdatangan, Josh tidak bisa melakukan apa-apa kecuali bersembunyi dibalik Hazel. Disaat seperti ini ilmu bela dirinya sangat menguntungkan, mereka tidak bisa mengalahkan Hazel dengan teknik bela dirinya.
Seorang pria berhasil meraih tubuhnya dan mendekap kepalanya. Dia menyetrumkan flazz ke Hazel. Hazel merasakan sengatan yang sangat kuat. Pria itu melepaskannya, Hazel tersungkur dibawah. Tapi dia masih cukup kuat untuk menjatuhkan beberapa orang lagi. Hazel memutar badannya dan menendang kaki pria itu. Kali ini pria itu yang terjatuh, bunyi debam keras terdengar. Hazel yakin itu sakit. Tapi pria itu masih bisa menyerang Hazel. Hazel menendang pria itu lagi dan pria itu tidak sadarkan diri.
“Kita harus segera menjauh dari sini! cepat dorong terus tangganya!” Hazel berusaha membantu Josh namun petugas-petugas it terus berdatangan dan Hazel tidak bisa membiarkan mereka mendekati dan melukainya.
Josh terus mendorong tangga itu, kali ini dengan kakinya dan dia menggoyang-goyangkan tangga itu. Usaha itu membuahkan hasil, tangga itu berhasil dia kalahkan. “Hazel, cepat!” Josh turun lebih dulu dari tangga itu. Kemudian Hazel berusaha menyusulnya, namun seseorang menariknya dari belakang. Cengkramannya sangat kuat, Hazel memegangi tangan orang itu kemudian dia membantingnya. Gerakan yang tidak akan pernah dipelajari oleh orang-orang di zaman ini.
“Rasakan itu!” ujar Hazel sambil membenarkan bajunya. Dia menang telak, latihannya tidak sia-sia.
Josh berlari melewati gedung-gedung. Orang-orang memenuhi jalanan. Hal seperti ini sangat menguntungkan mereka, karena dengan banyak orang maka kemungkinan mereka tertangkap akan sedikit.
“Kita pergi kemana?” tanya Josh pada Hazel.
“Entahlah, tapi kita harus menemukan Spencer terlebih dahulu.” Wajah Hazel mengerut. Para polisi itu tidak mengejar mereka. Ada dua kemungkinan mereka tidak mengejarnya. Pertama kemungkinan Spencer tertangkap. Tapi Hazel yakin Spencer lebih cerdik dari mereka. Kedua memang mereka tidak ingin mengejarnya, kemungkinan mereka mencari waktu yang tepat untuk menangkap mereka lagi.
“Kita butuh bantuan Haikal dan Hamish. Mereka bisa membantu kita,” ujar Hazel terengah-engah.
“Ya, kita harus ke tempat petemuan!” Josh menatap Hazel hati-hati. Gadis itu lebih berbahaya daripada para polisi. Walaupun tidak bersenjata namun berbisa seperti ular. Untungnya Hazel berada dipihaknya atau dialah yang beruntung karena berada dipihaknya.
***
Hamish menghapus semua kelelahannya setelah kejadian kemarin malam. Dia masih penasaran dengan orang yang mirip dengan wajahnya. Apakah dia benar memiliki hubungan dengan Spencer.
Dia mengusap wajahnya dengan handuk, sekarang yang dia pikirkan adalah kata-kata Hazel yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kepedulian lagi. Semuanya telah hilang karena kesetaraan, tapi kesetaraan membuat semua manusia hidup bahagia. Selama ini dia tidak pernah melihat orang yang merampok karena tidak memiliki uang atau mencuri hanya untuk sekedar makanan.
“Apakah itu dapat merusak tatanan hidup makhluk hidup?” tanya Hamish pada dirinya. Dia masih berada dikamar mandi saat waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia akan terlambat jika terus berada disana.
Dengan tubuhnya yang masih basah Hamish menyambar bajunya dan memakainya. Kemudian memakai sepatunya dan mengikat talinya dengan simpul sederhana. Sekarang dia siap untuk pergi, tapi bukan untuk berkerja. Dia tidak memakai seragamnya, bahkan hari ini bukanlah hari libur.
Hamish berjalan sangat cepat, dia mengikuti jalanan yang entah kemana. Dia melirik kebelakang beberapa kali. Berjaga-jaga untuk melihat apakah ada orang yang mengikutinya. Dia terus berjalan hingga berhenti pada sebuah persimpangan jalan yang sepi. Ada sebuah rumah yang kelihatannya sama seperti rumah pada umumnya. Tapi rumah itu terletak menyendiri diantara rumah-rumah yang lain. Mengingat semua pintu dizaman ini telah diprogram untuk mengenali pemiliknya pintu itu langsung terbuka.
***
“Bagaimana dengan ID kita? Kita tidak akan bisa kemana-mana jika memakai ID ini. Mereka pasti telah memblokir ID kita, agar kita tidak bisa pergi kemana-mana,” ujar Hazel khawatir.
“Tunggu! Kau ingat pintu belakang hotel tadi yang kau buka secara paksa?” tanya Josh.
“Kau tidak ingat? Di zaman ini semua pintunya adalah pintu pintar yang dapat mengenali ID kita. Tapi pintu itu kau buka secara paksa, aku rasa semakin lama zaman ini mengalami perubahan. Saat kau datang dari masa lalu ke masa depan, maka masa depan bisa saja berubah.”
“Berarti sekarang ID nya tidak berfungsi lagi?”
“Aku rasa beberapa. Dan selama kita terus bergerak aku rasa semuanya akan terus berubah.”
“Kau pintar Josh. Sekarang ayo kita pergi!”
***
Spencer terbatuk-batuk saat menyeka debu dari bajunya, dia melihat kesekelilingnya. Dia sedang berada disebuahlahan kosong yang luas. Dia ingat dia sedang berlari ke hutan untuk menghindari para petugas yagn mengejarnya. Entah mengapa dia bisa berada ditempat ini, terakhir yang dia ingat adalah dia berlari kehutan, kemudian disinilah dia sekarang.
Udara malamnya cukup hangat disini, bau tanah bercampur dengan air tercium. Spencer berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor akibat tanah itu. Sudah berapa lama dia pingsan? Apakah sudah berbulan-bulan, tapi pakaiannya yang masih rapi dan bersih. Hampir bersih, namun jika dia pingsan berbulan-bulan pasti pakaiannya akan dinodai debu setidaknya setebal tiga senti meter.
Jam ditangannya menunjukkan pukul dua, waktu yang sama dengan waktu di Indonesia. Tapi entah sekarang dia berada dimana? Spencer berjalan perlahan darilahan itu. Dia sama sekali tidak menemukan rumah ataupun seseorang disini. Hanyalahan kosong yang sangat luas. Hampir seperti gurun. Namun cuacanya tidak terlalu terik. Namun mataharinya sangat menyilaukan hingga dia harus menyipitkan matanya untuk melihat ke sekeliling.
Spencer sudah berjalan cukup jauh namun tidak menemukan satupun hunian ataupun manusia. Bahkan tidak ada tumbuhan. Tapi tanpa mengeluh dia terus berjalan, walupun sekarang rasa haus membanjirinya.
Dia melirik jam tangannya, sudah satu jam dia berjalan dan tidak menemukan apa-apa. Bibirnya mulai kering dan tenggorokkannya mulai terasa perih. Spencer mencoba untuk menggali pasirnya untuk menemukan air. Dia membungkuk dibawah, hampir tidak kuat dan kakinya sudah kelelahan akibat berjalan.
Spencer menggaruk-garuk tanah itu menggunakan tangannya hingga membuat lubang sebesar tiga puluh senti, untungnya ini pasir bukan tanah, jadi mudah untuk digali.
Tangannya membentur sesuatu saat lubangnnya sudah cukup dalam, tapi yang dia rasakan seperti logam. Spencer terus menggali dan mendapatkan sebuah logam didalamnya. Awalnya ia mengira logam itu hanya seukuran peti harta karun, tapi nyatanya saat dia mencoba menggali terus kebagian disekitarnya, logam itu tidak terjangkau. Tertanam dibawah tanah dan lebarnya tidak tahu hingga mencapai mana.
“Apa yang orang-orang lakukan dengan logam ini?” tanya Spencer yang sudah mulai mencapai keputusasaan.
Sekarang dia meninggalkan tempat itu, menutupnya kembali dengan pasir yang sudah dia gali. Dia mulai berjalan kembali walau kakinya sudah berteriak kesakitan. Hingga sampai dia diujung jalan, ada pagar yang entah terbuat dari apa yang membatasi tempat ini. Dari balik sana dia bisa melihat kilauan sebuah pantulan yang sangat Spencer kenal.
Semakin dia mendekat, penglihatannya yang mulai kabur akibat dehidrasi semakin jelas. Kini hanya berjarak tiga meter dari benda yang memantulkan cahaya itu. Tatanan panel surya yang sangat banyak membentang disekitar daerah itu.
Luasnya hingga mencapai lima hektar, Spencer terheran-heran dengan semua panel surya itu. Dia berlutut akibat lemas yang menimpanya dan tubuhnya runtuh ke pasir yang lembut.
Bunyi aliran air terdengar dari sana, dengan wajah yang senang Spencer bangun dari tempatnya dan berlari. Tinggi batas tempat ini tidak terlalu tinggi dan Spencer masih cukup kuat untuk memanjatnya, apalagi jika disana ada sumber air yang ia butuhkan sekarang.
Kakinya tersandung-sandung saat berlari, dia mencari-cari suara air itu yang semakin dekat. Seperti aliran sungai yang deras dan Spencer telah membayangkan dia berendam didalamnya.
Ada sebuah tangga yang mengarah kebawah disetiap sepuluh meter panel itu. Cepat-cepat Spencer masuk ke sana, suara alirannya semakin deras didalam. Namun sedikit gelap, hanya suara aliran air yang menuntun jalannya. Dia menubruk sesuatu, tapi entah apa itu karena penglihatan sangat minim disini.
Tiba-tiba cahaya muncul dari ujung sebelah kanan Spencer, dia memicingkan matanya untuk dapat melihat jelas. Kini tenggorokkannya benar-benar terasa kering, seperti tumbuhan yang sudah beberapa hari tidak disiram.
Cahaya itu menerangi setiap lorong didalam sini. Sekarang Spencer dapat melihat dengan jelas tempat ini. Sebuah lorong yang cukup luas dan pintu yang berbaris, Spencer membuka salah satu pintu yang dekat dengannya dan saat dia membukanya dia sungguh takjub dengan apa yang dia lihat.
Sebuah bendungan membentang luas dihadapannya, air-air mengalir dari bendungan ini. Tapi anehnya bendungan ini sangatlah tinggi bahkan dari ketinggian ini Spencer bisa melihat kota.
“Tunggu! Kota! Sebuah kota dibawah tanah? Sungguh menakjubkan, orang-orang ini telah tinggal dibawah tanah tanpa mereka sadari. Pantas aku tidak merasakan matahari yang menyengat seperti diatas. Tapi bagaimana dengan bangunan-bangunan yang ukuran tingginya bermacam-macam?”
Sekarang yang dia butuhkan adalah air, air disini tidak bisa ia jangkau. Dia menyusuri pintu yang lain dan mendapatkan sebuah ruangan yang dapat menampung air untuk disalurkan ke kota. Dari sinilah Spencer dapat meminum air itu, awalnya ia ingin berendam, tapi air ini akan disalurkan kerumah-rumah dikota.
Bagaimana jika orang itu meminum air yang sudah dipakai untuk berendam? Pasti rasa airnya akan berubah. Jadi, Spencer mengambil air itu menggunakan tanganya dan meminumnya. Dia juga membasahi badannya dengan menampung airnya ditangannya.
Saat air masuk ke tenggorokkannya rasanya sangat segar sekali, airnya dingin dan ada rasa manis yang bercampur. Spencer juga membasuh wajahnya agar bersih. Setelah membersihkan tubuhnya dan menyegarkan badannya dia kembali menuju atas. Dia masih penasaran dengan teka-teki zaman ini.
Pertanyaan-pertanyaan terus muncul di benaknya dan tidak tahu siapa yang bisa menjawabnya. Bahkan jika itu adalah Hazel sekaligus. Spencer kembali kejalanan pasir itu, sekarang jalanannya berubah menjadi trotoar-trotoar yang terbengkalai. Bahkan tempat ini terlihat seperti sebuah tempat yang semua orangnya telah terinfeksi virus zombie dan hanya ada beberapa orang yang mengumpat disuatu tempat untuk mencari perlindungan.
Tapi tentu saja itu hanya sebuah cerita fiksi, zombie tidak ada. Walau kenyataan itu terasa pahit baginya. Karena alasan apa lagi yang membuat orang-orang ini tinggal dibawah tanah. Bahkan mereka juga memalsukan makanan. Membuatnya menjadi uap bergizi dan tidak merasakan rasanya mengunyah makanan. Gigi-gigi mereka tidak digunakan untuk mengunyah. Itu sungguh tragis.
“Apa yang harus aku lakukan? Apakah orang-orang ini tahu bahwa mereka tinggal dibawah tanah? Lalu bagaimana dengan pesawatnya, apakah pesawat itu benar-benar terbang?” sejuta pertanyaan terus Spencer lontarkan walaupun dia tidak tahu siapa yang akan menjawabnya.