
Matahari membuat mata wanita itu menyipit, kulitnya berwarna kecoklatan, bukan karena dia keturunan orang Mexico, tapi kulit coklatnya dia dapat karena berlama-lama berjemur dibawah sinar matahari. Yang satunya lagi adalah seorang gadis yang memiliki kulit seputih salju. Mereka terlihat mirip hanya saja yang satu lebih muda.
“Bagaimana? Rencananya berjalan sempurna bukan?” ujar wanita itu dengan nada angkuhnya.
“Ya, tapi aku rasa kau tidak memperhitungkan yang ini?” ejek gadis itu.
Wanita itu mengibaskan rambutnya yang seperti musim gugur, sangat berlawanan dengan gadis yang satu lagi, dia bagaikan salju yang baru turun.
“Tentu saja aku memikirkan hal itu, karena itu aku memanggil mu! Kita akan menemukan alat itu sebelum dia. Lagipula akses dizaman mu sudah lebih canggih, dia tidak akan bisa kemana-mana, kita akan tahu posisinya.”
“Terserah kau. Tapi yang jelas sekarang dia bersama seseorang yang aku sukai dan aku tidak ingin dia terlalu jauh mengetahui dirinya. Jadi, sebelum dia tahu aku akan lebih dulu mencari tahunya.”
“Terserah kau! Aku hanya ingin menemukan alat ini!” ujar wanita itu.
“Tapi akan lebih mudah jika dia berada dipihak kita!” bantah gadis itu.
Lagi-lagi wanita itu mengibaskan rambutnya yang seperti musim gugur. “Aku juga memiliki seorang adik yang tidak berada dipihak ku! dan dia lebih hebat dari teman mu itu!”
“Setidaknya kita memiliki teman yang bisa kita andalkan. Dia juga hebat seperti adik mu itu. Setidaknya sebanding.”
“Ya, aku yakin tawaran ku akan sangat menggiurkan.”
Gadis itu hanya diam mendengarkan wanita itu bicara. Dia bahkan tidak berhenti bicara sejak gadis itu memulainya. Gadis itu bukan tipe yagn suka berbicara banyak ataupun diajak bicara. Dia hanya akan bicara jika hal itu menurutnya penting.
Setelah bertemu dengan wanita itu, gadis ini mulai menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Dia lebih suka menatap seseorang yang dia sukai dari jauh daripada mendekatinya dan mengajaknya bicara.
Sekarang gadis ini lebih terbuka untuk bercerita. Namun wanita ini telah mengubah gadis pendiam ini, menjadi gadis jahat. Walaupun sebenarnya tidak satupun ditemukan aura kejahatan dari gadis ini.
Akan tetapi, kejadian beberapa hari yang lalu telah membuatnya menjadi seorang gadis tanpa perasaan yang diperalat seperti robot. Dia akan melakukan apapun demi majikannya yang mengiming-imingkan kekuasaan dunia.
***
Spencer telah membuatkan sarapan sejak pagi tadi, dan Hazel belum juga bangun dari tidur nyenyaknya. Josh sedang asyik menonton televisi, kali-kali ada berita mengenai kejadian semalam.
“Hazel, bangun! Pukul berapa sekarang? Banyak pekerjaaan yang harus kita lakukan,” teriak Spencer dari luar kamar Hazel. Namun tidak ada jawaban. Spencer mulai geram, akhirnya dia membuka pintu kamarnya dan mendapatkan Hazel yang sedang duduk termenung. “ Hazel? Ada apa?”
“Aku tidak bisa keluar, ingat? Semua pintu terbuka otomatis jika kau punya ID.”
“Tapi kau punya ID!” bantah Spencer.
TIba-tiba saja Josh masuk dengan tergesa-gesa. “Kau lihat berita pagi ini? sial, ID ku tidak bisa terpakai sekarang, aku sudah diburu. ID ku diblokir.”
“Ya, begitu pula dengan Hazel.”
“Benarkah?” tanya Josh. Dia melihat pergelangan tangan Hazel, IDnya sudah tidak menyala. “Tenanglah, aku bisa memperbaikinya. Ingat saat ayahku memberikan mu gelang cadangan? Aku membawanya beberapa. Tapi tidak akan bertahan lama, aku akan membuatkan yang baru. Apakah disini ada komputer?”
“Ya, ada diruang kerja pemilik rumah ini. sangat lengkap.”
“Bagus. Ini, pakailah ini dulu.” Josh memberikan gelang cadangannya kepada Hazel. “Kau tahu apa bagusnya jika kau memakai gelang cadangan?”
“Tidak.” Hazel menggeleng.
“Kau bisa melakukan apapun secara gratis. Ayo, tunjukkan dimana ruang kerjanya.” Josh keluar dari kamar, kemudian Spencer.
Hazel masih tetap duduk disana, tapi kemudian dia mengikuti mereka. Tapi tidak menuju ruang kerja. Tujuannya adalah meja makan, perutnya sudah tidak bisa menahan rasa laparnya. Dia tidak ingat terakhir kali dia makan, seingatnya saat dipenjara dia hanya diberikan makanan instan yang kau tidak perlu mengunyahnya dan kau akan kenyang. Setidaknya itulah makanan terakhirnya. Entah dari mana Spencer mendapatkan roti ini, lengkap dengan susunya.
Gigitan pertama Hazel merasakan kenikmatan yang luar biasa, hingga potongan terakhir dan rasanya dia ingin melahap dua atau tiga potong roti lagi. Setelah itu dia menghabiskan susunya hanya dengan sekali teguk, dia benar-benar lapar.
“Hazel ini ID mu, sudah aku buatkan,” ujar Josh yang entah sejak kapan dia berada disana. Spencer juga ada disampingnya.
“Jadi Spencer, bagaimana kau bisa masuk kerumah ini? dan bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Hazel pada Spencer.
“Mudah saja, aku berhasil menemukan alat penemuan ayahmu yang baru ini. ternyata ayahmu memiliki ruangan khusus di ruang kerjanya. Dan disinilah aku, tapi aku rasa ada orang lain yang menginginkan sesuatu yang ayahmu sembunyikan. Dan orang ini berasal dari zaman kita juga Hazel.”
Udara terasa sangat dingin tiba-tiba saja, Hazel bisa merasakannya begitupula dengan Josh dan Spencer. “Kalian merasakannya?” tanya Hazel pada mereka berdua.
“Ya, di zaman ini kami bisa mengendalikan cuaca, lebih tepatnya kami seperti membuat perisai di atas kami dan air yang mengalir dari hujan disalurkan melalui tempat penampungan. Saat kami membutuhkan hujan, maka kami akan membuatnya. Begitu pula dengan salju, tapi kami tidak menampunganya, karena salju akan mencair jika kami tampung. Kami berusaha mencairkannya dan ditampung di penampungan air.” Josh duduk di sofa, dia meregangkan tubuhnya.
“Jadi tidak ada cuaca ekstrim?” tanya Spencer, yang sepertinya terlihat sedang memahami ucapan Josh.
“Tunggu! Apakah ini ada hubungannya dengan cerita mengenai seratus tahun kedepan bumi akan mengalami kekeringan? Karena itu dizaman ini kalian menampung air agar tidak terjadi kekeringan?” tanya Hazel, tapi Josh hanya mengangguk.
Sekarang wajah Hazel berubah, dia terlihat terkesan. Tapi disamping itu ada kata-kata yang ia tidak pahami. Sekarang Hazel mengikuti Josh, dia duduk tepat disampingnya. Spencer yang masih berdiri, langsung pergi dari sana. Entah apa yang dia pikirkan, sekarang dia menuju dapur.
Hazel memang tidak bisa membohongi hatinya, dia menyuikai Spencer. Tapi apa daya, dia sudah memiliki istri. Setidaknya itu yang dia ketahui beberapa hari lalu. Memangnya Hazel gadis macam apa yang merebut suami orang. Hazel menyandarkan kepalanya kebahu Josh dan Josh menyambutnya. Dari dapur Spencer melihat kedekatan Josh dan Hazel, ada rasa tidak suka yang ia gambarkan dari tatapannya.
“Aku ingin ke kamar, jika kalian membutuhkanku, aku dikamar,” nada bicara terdengar kesal.
Hazel bangkit dari tempat duduknya. “Aku ingin ke ruang kerja ayahku.” Kemudian dia berjalan tanpa memandang Josh.
Pintu bergaya arsitektur kuno menghiasi pintu ruang kerja ayahnya. Bahkan Hazel tidak pernah tahu ayahnya menyukai seni semacam itu. Lukisan dengan gaya abad pertengahan tergantung disana. Mejanya terbuat dari besi, begitu juga dengan kursinya, hanya saja ada bantalan untuk duduknya.
Dia beralih kesisi lain, ada sebuah kotak besi didekat meja itu. Awalnya hazel mengira itu tempat makan, hanya ukurannya yang sedikit lebih besar. Tapi saat Hazel mendekatinya ada angka-angka yang terukir mengelilingi kotak itu, yang dia lihat ada angka rujuh, delapan, dan empat, satu, dan lima.
Hazel mengangkat kotak itu, tapi kotak itu tidak terangkat. Kotak itu seperti dilem dengan lem super kuat. Untuk kedua kalinya Hazel mencoba dan kotak itu tidak terangkat sedikitpun. Akhirnya Hazel menyerah, dia duduk dikursi ayahnya. Saat dirumahnya dia tidak pernah masuk kedalam ruang kerja ayahnya. Ayahnya tidak mengizinkan Hazel masuk, begitu pula ibunya. Pintunya selalu terkunci jika ayahnya pergi.
Kini Hazel memikirkan tentang ayahnya, banyak kenangan manis yang dia ingat bersama ayahnya, tapi tidak cukup baginya untuk tidak merindukannya. Air matanya mulai mengalir, dia merindukan ayahnya. Walaupun baru beberapa hari dia tidak ada. Tapi rasa rindunya sudah tidak tertahan lagi, dia ingat saat pertama kali dia dibelikan sepeda.
Hazel mencoba menaikinya sendiri dan setelah itu dia terjatuh keselokan dekat rumah. Kemudian saat ayahnya mencarinya dan ternyata Hazel sedang bermain dirumah tetangga barunya. Sekarang mengingat umurnya yang sudah tujuh belas, ayahnya tidak bisa melihatnya masuk universitas.
Hazel tidak bisa membendung air matanya yang sekarang sudah membasahi bajunya. Dia tidak pernah merasa kehilangan sebelumnya, apalagi ayahnyalah yang sangat dekat dengannya. Dia juga mempunyai ibu yang menyayanginnya, dia tidak akan pernah meninggalkannya lagi setelah ini.
Hazel berjanji kepada ayahnya untuk menjaga ibunya kapan pun dan dimanapun. Walaupun dia bukan anak laki-laki seperti yang ayahnya inginkan, tapi dengan kekuatannya dia akan menjaga ibunya dan membahagiakannya.
Saat Hazel mendengar pintu terbuka, cepat-cepat ia menghapus air matanya. Spencer berdiri disana, masih dengan memegang kenop pintunya, kemudian ia menutup pintunya dan mendekati Hazel.
Hazel merasakan gugup bercampur rasa takut muncul, terakhir kali dia berduaan dengan Spencer, adalah saat dia telat hingga membuatnya marah. Dan kemudian dia mendekati Hazel, bahkan sangat dekat hingga membuat jantungnya meledak. Tapi berbeda dengan yang sekarang, Hazel tidak sedang telat dan membuat Spencer marah.
Hazel menatap Spencer dengan cepat. Saat Spencer menatapnya balik, Hazel berpaling. Semua hening, begitu juga Spencer yang masih berdiri dan melipat tanganya di dada.
“Jadi ada apa?” akhirnya Hazel bicara.
“Tidak, aku hanya merindukanmu. Aku ingin melihat wajah gadis menyebalkan yang membuatku bisa berada disini.” Dia tersenyum sedikit.
“Jadi, karena aku kau disini?” tanya Hazel lagi.
Spencer mendekat kepada Hazel, tapi kali ini untuk duduk disebuah kursi kecil milik ayahnya. “Tidak juga, aku ingin membantu mu dan menyelesaikan tugas ini.”
Tiba-tiba pintu terbuka, wajah Josh terliaht pucat. “Mereka menemukan kita. Kita harus pergi dari sini!”
“Kenapa mereka bisa tahu kita disini?” tanya Hazel panik.
“Entahlah, tapi aku rasa semua hal disini terlalu mencolok. Dan dengan kehadiran kita, mungkin ini satu-satunya tempat yang bisa jadi persembunyian kita. Kau ingat? Rumah ini sudah lama tidak dihuni karena tidak ada yang bisa membukanya. Mereka pikir ini semua ada hubungannya dengan kita.”
“Baiklah segera berkemas, ada mobil digarasi. Kita akan menuju tempat yang aman. Mungkin keluar perbatasan,” ujar Spencer.
“Tidak! Kita harus berjalan. Semua mobil hanya bisa digunakan secara manual jika ID-nya benar.”
“Kalau begitu Cepat!” Spencer buru-buru kelaur dari ruangan itu diikuti dengan Josh. Hazel masih terdiam disana, dia masih berpikir untuk apa kotak ini. Apakah ayahnya punya jalan keluar dari ruangan ini. Hazel terus memutar otaknya dan melihat kotak itu. Saat dia melihatnya dengan jelas, kotak itu memiliki bagian lain. Maksudnya, tengah dari kotak itu terpisah dari bagian sisi-sisi pinggirnya.
Hazel meraba-raba kotak itu, tepatnya dibagian tengahnya. Seperti sebuah tombol, Hazel menekannya kemudian secara perlahan. Lukisan itu berbalik, kemudian lantai dibawahnya membuka. Hazel tertegun selama beberapa saat. Kemudian pingiran dari kotak itu terbuka, Hazel mendekati kotak itu. Ada secarik kertas kecil yang dilipat.
Josh membuka pintunya, walanya dia terdegar ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan saat melihat lantai dibawah Hazel terbuka. Spencer juga masuk kemudian dia diam sesaat.
“Hazel, aku rasa ayahmu mempunyai ruang bawah tanah pribadi,” ujar Spencer beberapa detik kemudian.
Spencer turun lebih dulu, kemudian Hazel barulah Josh. Hazel ingat dia masih memegang kertas yang dia ambil dari kotak tadi. Dia menyimpannya disaku celananya, dia hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Spencer memimpin jalan, Hazel baru akan menginjak tanah, kemudian lantainya berbunyi dan pintu diatasnya menutup. Semua lampu menyala, ayahnya telah mempersiapkannya pikir Hazel. Lorong itu terlihat sepi, hanya ada lorong berlapis besi. Mereka semua diam ditempat, suara seorang wanita terdengar dari mikrofon.