The Versatile

The Versatile
Chapter 34



Hazel sedikit terkejut bahwa yang memanggilnya itu Josh. Dia pikir dia tidak akan bertemu Josh lagi. Dia pikir Josh tidak ingin terlibat masalah, bahkan hingga diburu.


“Josh!” namun kemudian Hazel berbalik ke Hamish dan orang yang memunggunginya.


“Jangan mendekat! Atau kau tahu akibatnya! Kau lihat flazz ini bertegangan tinggi, jika kau mendekat maka aku tidak segan-segan menusuknya!” gertak pria itu.


Hazel menatap wajah pria yang mirip dengan Spencer itu. Hazel memang menyukai Spencer dan dia tidak bisa berbohong kalau dia juga menyukai Hamish. Semua orang terdiam, begitu juga dengan Josh.


Josh baru sadar, dia memiliki kaca mata super yang bisa mendeteksi gerakan mendadak. Josh mengaktifkan mode penyerangan balik. Wajahnya tersenyum sinis.


“Lepaskan dia atau kau akan tergeletak jatuh dalam …” Josh berhenti. Dia melirik jam tangannya. “Lima, empat, tiga, dua, satu.” Josh berlari secepat mungkin dan dia seperti memantul dari dinding dan menerkam punggung pria itu.


Hamish terlepas dari genggaman pria itu. Hamish tidak pintar dalam berkelahi dengan tangan kosong, tapi dia dia tahu beberapa gerakan menyerang dari Hazel. Hamish menikam perut pria itu dengan sikunya. Pria itu berteriak kesakitan.


Dari arah lain seseorang telah membidik Josh dengan flazz. Hazel berlari ke arah pria itu dan menendang tangannya hingga flazz-nya melayang diudara. Pada saat itu Hazel menangkap flazz yang terbang bebas dan balik menodongkannya pada pria itu.


Pria itu mengangkat kedua tangannya yang berarti menyerah. “Hamish! Josh! Kita harus pergi!” saat Hazel berbalik, dia menabrak seseorang.


“Hazel!” suara yang sama yang dia dengar saat dirinya hampir sekarat. Orang itu memegangi lengan Hazel.


“Spencer!” Hazel menatap Spencer penuh kerinduan. “Kemana saja kau selama ini? aku kira kau telah kembali ke zaman kita,” ujar Hazel tidak percaya.


“Banyak hal yang harus aku ceritakan padamu. Tapi tidak disini! kita …” Spencer belum sempat menyelesaikan kalimatnya dan seseorang tiba-tiba menembakkan senjata api kearah mereka. Untungnya wanita itu tidak tepat sasaran, atau mungkin memang dia sengaja untuk tidak mengenai sasaran.


Hazel melotot tidak percaya, “Apa-apaan ini! Olivia! Jadi kaulah orang yang membuat semua kekacauan ini!” Hazel melirik ke Spencer, seolah-olah bahwa Spencer telah menutup-nutupi hal ini.


“Tunggu, tunggu! Aku tidak tahu bahwa dialah penyebab semua kekacauan ini, aku baru tahu hal ini kemarin saat dia menyiarkan dirinya,” Spencer menjelaskan.


“ Halo dik! Senang bisa bertemu dengan mu lagi! Aku berharap kau bergabung dengan ku!”


Hazel membeku sesaat, “Dik? Jadi Olivia itu kakak mu?” Hazel menoleh Spencer lagi. “Aku kira dia istri mu. Wajah kalian tidak mirip,” tambahknya. Bahkan dia masih sempat menanyakan hal semacam itu.


“Apa?” sekarag Spencer yang menoleh ke Hazel, “Istri ku? bahkan jika dia tidak memiliki hubungan darah dengan ku, aku tidak ingin menikahinya. Aku rasa aku tahu penyebab kau belum menikah Olivia,” ejek Spencer pada kakanya.


“Oh ayolah, disaat seperti ini sempat-sempatnya kalian membicarakan hal semacam itu.” Hamish melipat tangannya didada dan memutar matanya.


“Jadi apa mau mu kesini Olivia?” tanya Josh kemudian.


Olivia mrngangkat kedua alisnya. “Aku hanya igin semua orang tahu bahwa pemimpin mereka telah membohongi mereka dan aku ingin semua roang tahu bahwa tidak ada orang bisa kita percayai selain diri kita sendiri.”


“Tunggu! Maksud mu, kau ingin menghancurkan semua pemerintahan yang ada?” tanya Josh yang sebenarnya dia sedang mencerna semua kata-kata Olivia.


“Tepat sekali. Anak cerdas.” Olivia menoleh ke Josh.


Tidak! Tidak akan aku biarkan! Aku juga membenci pemerintahan, walaupun ayah ku bekerja di pemerintahan. Tapi aku rasa aku mulai mengerti kenapa ayah ku melakukan semua ini.” Hazel memandang kosong kedepan. Tatapannya tidak mengarah ke siapapun.


“Kalau begitu kau bisa bekerja sama dengan ku, kemudian kita temukan alat yang ayahmu buat dan kita bisa jadikan tempat ini menjadi tempat wisata.” Olivia mengulurkan tangannya untuk mengajak Hazel ikut bersamanya.


Pandangan Hazel sekarang tertuju pada Olivia, kemudian dia menoleh ke Spencer dan Hamish. Hazel berjalan perlahan meuju Olivia. “Mungkin ini kesempatan ku untuk menunjukkannya pada ayahku bahwa dia sangat menginkan anak perempuan.”


“Hazel tidak!” Josh mencoba menghalangi Hazel, tapi Spencer menghalanginya.


Hazel menatap balik ke Spencer dan Hamish, kemudian ke Olivia. Wanita yang benar-benar terlihat seperti seseorang yang sangat mendambakan kekuasan. Hazel hampir menggapai tangan Olivia. Selangkah lagi dan Hazel dapat menggapai tangannya.


Sekarang Hazel telah memegang tangan Olivia, “Kau telah membuat keputusan baik nak. Ayah mu akan senang memiliki anak perempuan seperti mu.” Olivia mencengkram Hazel keras, ditangannya yang lain dia menggenggam flazz dan menikam pinggang Hazel.


“Kau tahu bahwa ayah ku sangat menginkan anak laki-laki, tapi akan aku buktikan bahwa aku terlahir setara dengan kaum laki-laki!” Hazel mencengkram tangan Olivia yang menggenggam Flazz dan membantingnya dengan cukup keras.


“Cepat pergi dari sini! Aku meilhat dia meletakkan sesuatu, aku rasa itu bom,” teriak Spencer.


Mereka berlari keluar, Hazel hanya membuat Olivia sedikit terhuyung. Jika didalam ada bom, maka bangunan ini akan runtuh dan semua tahu bahwa banyak orang diluar yang sedang berdemonstrasi.


“Kau tidak akan bertahan disini Hazel!” Olivia menyumpah pada Hazel.


Hazel berbalik sesaat, “Aku dilatih untuk bertahan! Asal kau tahu itu!” kemudian Hazel berlari mengikuti Josh dan yang lainnya.


Diluar orang-orang berlalu-lalang. Hazel hampir kehilangan Spencer dan yang lainnya. Awalnya dia tidak memperdulikan semua orang, baginya orang-orang ini bukanlah siapa-siapa yang dia kenal, bahkan dia tidak perdulikan.


Udara semakin panas karena terlalu banyak orang yang membutuhkan oksigen disini. Hazel terdiam saat melihat anak kecil yang dituntun oleh orang tuanya. Saat itu pikiran Hazel melayang jauh, suara orang-orang telah membuatnya tuli pada teriakan Spencer.


“Hazel! Apa yang kau lakukan? Kita harus pergi!” Spencer berteriak sekeras mungkin.


“Hazel! Kau bisa mati jika terus berada disini!” kali ini Hamish yang berteriak.


Sekarang suara mereka sangat jelas terdengar ditelinga Hazel. Dia akan mati jika terus berada disini, itulah yang Hamish katakan dan bergitu juga dengan orang-orang disini. Hazel berlari menjauh dari Spencer dan Hamish. Dia berlari menuju orang yang sedang berorasi ditengah dengan menggunakan speker.


Secepat mungkin hazel berusaha mendekat kesana. Baginya orang-orang disini memang bukan apa-apa, tapi dunia ini adalah masa depannya. Masa depan anak cucunya suatu hari nanti. Masa depan semua orang yang berada dizamannya. Alasan itulah yang menjadikan dirinya perduli pada semua orang.


Tapi Hazel terlambat. Bunyi dentuman keras terdengar, membuat semua orang mengarah ke monumen. Bagian bawah monumen tersebut hancur, bagian atasnya akan tumbang. Semua orang berteriak, berlari mencari pintu keluar. Sebagian tanah hampir retak dan hancur. Keadaan menjadi kacau, semua roang berlomba untuk mencapai pintu keluar.


Tidak ada yang bisa Hazel lakukan sekarang. Tapi tidak ada hal yang berlum terlambat. Hazel mencari Spencer dan Hamish serta Josh yang mengikutinya tadi. Namun sekarang menghilang, tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hazel.


“Kau pasti Hazel!” Nissa tersenyum pada Hazel.


“Siapa kau?” tanya Hazel bingung.


“Ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.” Nissa menggengam tangan Hazel. “Ikuti aku! Aku tahu jalan keluar.”


“Tapi aku harus mencari teman ku!” Hazel menarik tangan Nissa.


“Maksud mu Spencer? Dia akan baik-baik saja.”


“Dari mana kau tahu spencer?”


“Sudah aku katakan, ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya.”


Kali ini Hazel mengikutinya, nalurinya mengatakan untuk mengikutinya. Mereka berdua berlari bergadengan tangan, seakan mereka telah bersahabat lama. Suara dentuman terdengar kembali. Orang-orang semakin panik dan berteriak keras. Ada beberapa orang yang terinjak dan Hazel tidak tahan untuk tidak menolongnya.


Dia melepas genggaman Nissa dan berlari mendekati orang yang terjatuh dibawah. Orang-orang bahkan tidak memperdulikan anak-anaknya disaat seperti ini. Dia mendorong orang-orang yang ingin menginjak anak itu, kemudian membantunya untuk berdiri.


“Kau baik-baik saja?” tanya Hazel pada anak itu. Umurnya mungkin sekitar dua belas tahun dan memiliki mata coklat yang indah.


“Genggam tangan ku!” Hazel mengulurkan tangannya. Anak itu meraihnya dan dia kembali pada Nissa.


Mereka berlari bertiga, saling bergenggaman tangan dengan erat. Bangunan itu mulai runtuh dan jatuh ketanah. Dentuman untuk ketiga kalinya dan terdengar lebih keras. Mereka telah berhasil keluar dari sana. Orang-orang yang telah berhasil keluar terlihat sangat kaget dan tidak percaya.


“Thania!” seseorang berteriak dari belakang dan kemudian memeluk anak itu. “Maafkan ibu, ibu tidak berniat meninggalkan mu!”


“Thania?” Hazel diam sesaat.


“Aku memiliki nama yang sama seperti nenek moyang ku,” ujar Thania tiba-tiba.


Hazel tersenyum, “Nama yang indah.” Pantas saja dia melihat mata yang sama dengan Thania di zamannya.


“Terima kasih,” ujar anak itu.


“Kita harus mencari yang lain,” Hazel berbicara pada Nissa sekarang.


“Ya,” ujar Nissa singkat.


Mereka berdua berjalan. Beberapa orang menangis karena tidak bisa menemukan teman atau anggota keluarga mereka. Hazel menunduk merasa sangat bersalah. Semua ini salahnya, dia tidak bisa berpikir lebih cepat untuk memberi tahu orang-orang.


“Hazel!” seseorang berteriak dari belakang mereka.


Hazel berbalik dan mendapatkan pelukan hangat dari orang yang dia tidak duga. “Hamish? Maafkan aku karena meninggalkan mu. Aku bersumpah, aku tidak berniat untuk meninggalkan mu,” kata-kata itu seperti Hazel kutip dari ibu tadi.


Hamish meletakkan jari telunjuknya di bibir Hazel. Menandakan dia untuk diam, “Sshh, aku baik-baik saja. Yang terpenting kau selamat.”


Hazel melirik ke Spencer, membuat kontak mata padanya. Spencer menampakkan wajah anehnya yang tidak bisa Hazel baca. Namun kemudian dia melirik Nissa, mendekatinya, dan memeluknya persis seperti yang dilakukan Hamish pada Hazel.


“Aku juga rindu pada mu Nissa.” Spencer memeluk Nissa dan melirik Hazel.


Perasaan ini benar-benar menggangu pikiran Hazel. Apalagi saat dia tahu bahwa Olivia adalah kakaknya bukan istrinya. Tapi dia juga ingat saat Spencer lebih memperdulikan Laura dari pada memperdulikan Hazel. Mungkin ini saat yang tepat untuk balas dendam.


“Ayolah kawan-kawan! Ini bukan waktunya untuk reuni dan bercengkrama. Kita disini punya misi,” Josh melipat tangannya didada.


“Dia benar. Dan banyak yang harus aku ceritakan. Kita butuh tempat untuk beristirahat.” Spencer melirik Hazel yang masih berada dalam pelukan Hamish. Jelas pria itu benar-benar merindukannya atau menyesalinya.


Hamish melepas pelukannya, Hazel tersenyum karena dia yakin dia membuat Spencer cemburu. Terlihat dari wajahnya yang sedikit aneh dan tidak bisa dijelaskan.


“Tapi kita tidak memiliki sepeser pun unit,” Hamish berkomentar.


“Siapa bilang? Aku punya.” Josh mengambil kaca mata hitamnya yang dia gantungkan dan memakainya.


“Kenapa kau memakai kaca mata hitam itu?” tanya Nissa penasaran.


“Kalian akan tahu nanti. Aku yakin sekarang kalian lapar,” Josh melirik jam tangannya. “Sudah waktunya kalian untuk sarapan.”