The Versatile

The Versatile
Chapter 10



“Hazel! Hazel!” Josh telah memanggil Hazel berkali-kali tapi dia tidak juga terbangun dari tidurnya. “Hazel! Bangun! Cepat, sebelum Ms. Anna menghukum mu!”


Hazel mengangkat kepalanya, matanya masih tetap terpejam. Dia merasa benar-benar mengantuk. Waktu tidurnya tadi malam terasa sangatlah singkat, dia juga merasa sangat lelah. Tanpa ragu Hazel meminta izin untuk ke kamar kecil.


Padahal dia hanya izin untuk pergi kekamar kecil, tapi dia kembali ke kelas setelah bel pelajaran berakhir berbunyi. Saat masuk kedalam kelas Ms. Anna telah menunggunya dengan wajah yang terlihat marah.


“Aku tahu kau baru disini Hazel. Tapi bukan berarti kau bebas dari hukuman.”


“Maaf Ms Anna, tapi tadi aku tersesat. Seharusnya aku masuk kekamar kecil, tapi aku justru masuk kelaboratoium dan menumpahkan cairan. Jadi aku harus membersihkannya dulu. Jika anda tidak mempercayaiku kau bisa bertanya pada Mr. Batt.”


Ms. Anna berpikir ragu, tapi dia yakin bahwa Hazel tidak berbohong. “Baiklah, jika itu benar. Aku percaya pada mu. Kau boleh pergi.”


“Terima kasih Ms,” Hazel pun cepat-cepat mengambil tasnya.


Koridor sudah kosong, anak-anak telah pergi kekantin semuanya. Hazel pun juga begitu. Tadi pagi dia tidak sempat sarapan. Bahkan minum susupun tidak, karena itu perutnya dari tadi tidak berhenti berbunyi.


Semua anak telah duduk manis sambil menikmati makan siang mereka. Hanya Hazel yang masih berdiri untuk mengambil makanan. Setelah mendapatkan makan siangnya Hazel mencari Josh, namun entah dimana dia berada. Jadi, Hazel memutuskan untuk duduk sendiri, karena takut bel akan segera berbunyi.


Dari bagian depan kantin Hazel bisa mendengar ada sebuah pertengkaran. Tapi, Hazel menghiraukannya, dia lebih memilih melanjutkan makan siangnya. Tapi kali ini teriakan seorang anak perempuan terdengar hingga ke ujung ruangan. Jika yang berkelahi adalah lelaki dengan lelaki Hazel akan diam, tapi yang berkelahi adalah lelaki dengan perempuan. Hazel tidak bisa untuk tidak diam.


Jeritan kedua terdengar dan bahkan teman-teman yang lain hanya menonton. Dengan kesal, Hazel membanting makanannya ke meja. Dia berlari mendekati kedua anak tersebut, anak-anak yang lain mengelilingi mereka, jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas. Disudut ruangan lain Josh yang melihat Hazel berlari mendekati kerumunan, langsung mengeleng.


“Tidak, Tidak Hazel! Kau tidak boleh terlibat masalah lagi!” Josh menyumpah.


Tapi dia terlambat, Hazel telah berada dibagian depan. Seorang gadis dengan rambut berwarna hitam yang sedang disetrum dengan flazz, terlihat kesakitan. Entah sudah berapa kali anak itu disetrum dengan alat itu. Hingga anak itu melayangkan flazz-nya kembali, dengan cepat Hazel meninju anak itu.


“Apa-apaan ini?” sergah anak itu, hidungnya berdarah. Tinjuannya benar-benar sakit. Tapi dia justru berbalik arah untuk menyetrum Hazel.


Dengan tangkas Hazel memegangi tangan anak itu kemudian membantingnya hingga semua anak disana menjauh darinya. Anak itu terhuyung dilantai. Sedangkan anak perempuan yang dia siksa sedang ternganga melihat Hazel. Hazel mengulurkan tanganya. Membantunya berdiri dan menjauh dari kerumunan. Semua anak pun kembali ke tempat mereka masing-masing.


“Hazel!” panggil Josh.


“Aku tahu, kau pasti ingin mengatakan itu luar biasa. Tidak itu biasa saja,” ujar Hazel dengan nada sombongnya.


“Luar biasa kata mu? Kau akan terkena masalah setelah ini! kau tahu hukuman apa yang akan kau terima karena telah berkelahi dengan tangan kosong?”


Hazel berpikir, hukuman apa yang pantas untuknya. Jika dizamannya pasti orang tuanya akan dipanggil. Tapi dia tidak tahu apa hukuman yang akan diberikan kepadanya di zaman sekarang.


“Mungkin aku harus masuk kelas tambahan musim panas nanti,” ujarnya santai.


“Kau bercanda? Kau akan mendapatkan hukuman disetrum lima puluh kali.”


“Apa? Abad berapa sekarang? Zaman Yunani kuno atau Roma kuno?” mata Hazel membelalak.


“Sudah ku bilang jangan terlibat masalah! Sekarang kau menyusahkan ku!”


“Baikalah jika aku memang menyusahkan mu! Lebih baik aku pergi saja. Lagipula aku juga tidak berminat untuk bersekolah di zaman ini. Tujuan ku kesini mencari tahu apa yang ayahku sembunyikan disini!” tiba-tiba saja kata-kata itu keluar dari mulutnya. Entah apa yang Hazel pikirkan. Tapi jelas itu membuat josh terkejut.


“Kau bilang Zaman? Maksud mu apa?”


“Tidak bisa aku jelaskan disini,” ujar Hazel seraya berjalan menuju luar kantin.


Gadis yang dia tolong tadi masih mengikutinya. Dia hanya menunduk saja, Hazel pun mengajaknya bicara.


“Jadi, kenapa mereka menyetrum mu?” tanya Hazel.


“Mereka tidak suka rambut ku. Mereka bilang rambutku jelek karena berwarna hitam. Sebenarnya pacar dari Brat cowok yang tadi menyetrumku itu tidak suka ada rambut yang lebih bagus dari rambut pacarnya. Pacarnya mewarnai rambutnya menjadi hitam, tapi aku memiliki rambut hitam asli.”


“Aku Kaine, kau pasti Hazel kan?” tanya Kaine.


Hazel membetulkan rambutnya, dia juga melirik-lirik ke arah Kaine. Dia tidak benar-benar menyadari betapa indahnya rambut Kaine. Dan itu memang benar. Berkilau dan terlihat sehat, rasanya dia juga tidak asing dengan rambut seperti itu. Ya, Thania punya rambut yang sama seperti itu.


Hingga pelajaran berakhir tidak ada teguran atau panggilan untuk Hazel. Josh dan Hazel pulang bersama. Ketika sampai didepan halaman ada satu mobil polisi yang terparkir disana. Wajah Hazel mendadak menjadi pucat, tapi dia tahu bahwa yang dia lakukan benar.


Dua orang polisi bersergam sedang duduk dan berbincang dengan ayah dan ibunya Josh. Mereka menoleh kepada Hazel saat mereka membuka pintu.


“Baiklah aku mengaku salah, tapi anak itulah yang memulai terlebih dahulu. Dia menyiksa seorang gadis. Apakah itu adil? Seharusnya kalian malu. Seorang laki-laki bersenjata menyiksa gadis tanpa senjata. Itu penyiksaan!” emosi Hazel menjadi-jadi, tapi dia tetap tidak akan bebas dari hukuman.


“Maafkan kami Hazel. Kami tidak bisa menolong mu banyak,” ujar Mr. Bane.


“Tidak, maafkan aku karena telah merepotkan kalian,” balas Hazel.


Kedua polisi itupun kemudian membawa Hazel. Baru dua hari dan Hazel harus mendapatkan hukuman, tidak ada orang yang bisa membelanya disini. Penghukumannya akan dilakukan besok dan sekarang Hazel harus tidur dibalik jeruji.


Tidak lama setelah itu, berita mengenainya diberitakan secara luas. Karena sudah sekitar empat tahun tidak ada kejadian seperti yang Hazel lakukan. Kebanyakan orang-orang ini dipenjara karena menggunakan narkoba ataupun terlibat perkelahian dengan flazz yang mengakibatkan kematian.


***


Pukul empat sore saat Spencer sedang santai dan menonton televisi. Sebuah permberitaan menayangkan berita mengenai seorang gadis yang akan dihukum karena telah berkelahi dengan tangan kosong. Spencer terloncat dari duduknya. Dia melihat Hazel yang sedang dibawa.


Ada sebuah mobil dibagasi yang tidak tahu dimana kuncinya. Tapi Spencer berpikir dengan cepat. Jika benda-benda disini dideteksi oleh gelang yang ia pakai, mungkin mobil ini juga bekerja dengan cara yang sama. Dan benar saja mobil itu menyala dengan gelang itu.


Spencer hanya perlu memberi tahu tempat yang ia tuju dan mobilnya akan berjalan sendiri. Setelah sampai ditempat yang ia tuju Spencer masuk kedalam sana. Walaupun disini dia bukan siapa-siapa, tapi auranya sebagai mata-mata tetap terlihat. Seorang polisi yang menjaga didepan hormat kepadanya.


“Aku ingin bertemu dengan Hazel Skylar,” perintah Spencer.


Spencer menunggu disebuah ruangan. Tempat itu terdapat sebuah tempat duduk, dan berwarna putih semuanya. Tidak lama setelah itu sebuah hologram terpampang, itu Hazel tapi hanya hologramnya saja yang ditunjukan.


“Spencer. Apa yang kau lakukan disini? ba, bagaimana kau bisa kesini?” ujar Hazel yang tergagap-gagap.


“Oh Hazel. Aku sangat mengkhawatirkan mu.”


“Benarkah?” ucap Hazel sedikit kaget. “Aku belum bisa mencari tahu hubungannya dengan ayahku,” kata Hazel sedikit kecewa.


“Jangan pikirkan itu dulu, sekarang pikirkan diri mu! Bagaimana ini bisa terjadi? Seharusnya mereka tidak meperlakukan mu seperti ini Hazel!”


“Peradaban berubah, mungkin anak bayi juga bisa dipenjara disini.”


“Aku akan bicara pada kepala polisi disini. Tenang saja, kau akan baik-baik saja.”


Hazel menghela nafas perlahan. “Andai aku bisa memeluk mu Spencer, aku sangat ingin. Tapi kau hanya bisa menemui hologram ku, itu sangat disayangkan. Tapi apapun yang kau lakukan tidak akan berhasil untuk mencegah ku agar bebas hukuman. Tenanglah aku akan baik-baik saja.”


Seseorang membuka pintu ruangan. “Waktu mu sudah habis pak,” kata salah satu polisi yang menjaga disana.


“Ya, tunggu sebentar,” balas Spencer pada polisi itu. “Aku akan datang lagi besok. Aku janji. Ini nomer telepon ku. Aku tidak tahu berfungsi atau tidak, tapi kau bisa coba.” Spencerpun menutup pintunya.


Sebenarnya dia tidak tega melihat Hazel seperti itu, peradaban memang berubah, tapi sejarah tidak akan pernah berubah dan akan terus dikenang. Tapi jika peraturan seperti ini terus dijalankan, maka semua orang yang bertarung tanpa senjata akan mati.


Efeknya memang hanya terasa terbakar, tapi jika terlalu banyak mengenai tubuh, maka efeknya bisa sampai kejantung dan jantung akan terasa terbakar dan berhenti.