The Versatile

The Versatile
Chapter 44



Hazel menarik nafas panjang, seakan paru-parunya baru bisa bekerja kembali. Dia melihat tempat yang terakhir kali dia lihat saat meninggalkan zaman ini. Tidak lama kemudian keenam kembarannya tersadardari tidur panjangnya. Mereka semua merasakan hal yang sama, seperti mereka menjadi satu orang.


Semua kembarannya menatap ke Hazel. Mereka melihat apa yang Hazel lihat, mereka merasakan apa yang Hazel rasakan. Mereka selama ini berada di tempat yang sama, hanya saja mereka seperti penonton, atau seseorang yang berada didalam tubuh Hazel tapi tidak bisa melakukan apa-apa.


“Aku melihat semuanya,” Thania melepaskan alat-alat yang masih menempel di tubuhnya.


“Aku juga, awalnya aku merasakan itu seperti mimpi. Namun, menjadi orang yang berbeda,” Carol mulai bicara.


“Ya, aku juga. Kemudian aku sadar, bahwa aku tidak bermimpi,” Catherine menambahkan.


“Dan kami merasakan semua saat kau disiksa, saat kau merasa hampir mati karena dehidrasi.” Amber mulai melepas alat-alatnya seperti Thania.


Laura menunduk, seakan ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi tidak bisa. “Tapi kami tidak merasakan sakitnya. Kaulah yang merasakan semua kesakitan itu.”


Hazel menatap kembarannya satu persatu. Rasa bersalah tergambar dari wajah mereka.”Kalian sudah sangat membantu, jika kalian menghiraukan suara yang ada dikepala kalian dan menganggapnya tidak ada, pasti aku tidak akan bisa pergi kesana.” Hazel memberikan senyuman agar mereka terhibur.


Langkah kaki terdengar dari balik pintu. Aaronlah yang berada dibaliknya, dia seperti bernafas lega.


“Syukurlah kalian telah kembali.” Mata hijau Aoron menatap mata hijau Hazel.


“Dimana Spencer? Aku bersamanya tadi saat kembali ke sini.” Hazel menghampiri Aaron.


Aaron seperti menatap tidak percaya. “Jadi, Spencer juga ikut dengan mu?” tanyanya sedikit kaget.


Kali ini Hazel yang terlihat tidak percaya. “Aku kira kau tahu.” Hazel bertolak pinggang. “Oh ya, dan sepertinya kau butuh asisten baru karena ternyata Olivia berniat untuk menjadikan masa depan dan masa lalu sebagai tempat berlibur.”


“Apa? Olivia? Aku tidak percaya! Dia agen terbaik kami.”


“Kau tanyakan saja pada Spencer.” Hazel berjalan keluar dari tempat itu.


Dia butuh menghirup udara segar diluar. Jadi, Hazel pergi keluar gedung itu. Hazel menatap ke langit. Tentu saja ada matahari, bahkan Hazel butuh kaca mata hitam untuk bisa menatap ke langit.


Gadis itu jadi teringat akan Josh dan Hamish, serta Haikal walaupun dia awalnya memperlakukan Hazel dengan sangat buruk. Tapi baginya musuh menjadi teman dan teman menjadi sahabat. Itulah hidup, selalu berputar dan berganti. Hal buruk mungkin saja terjadi, tapi hal baik akan terus menghampiri kita.


Angin sedikit berhembus, bau yang hazel telah lupakan beberapa hari belakangan ini. Namun, dia tidak akan pernah lupa akan baunya yang hangat dan menyengat. Ya, bau matahari yang selama ini dia tidak pernah rasakan selama tinggal dibawah tanah. Rambutnya yang pernah dia warnai menjadi hitam kini telah berganti menjadi mereah kembali.


Rambutnya berubah seperti semula saat dia telah kembali ke zamannya. Karena dia pergi ke zaman itu tidak dengna tubuhnya, sedangkan Spencer dan Olivia pergi dengan tubuh mereka.


Bicara mengenai Spencer dan Olivia, Hazel tersenyum. Dia ingat bahwa mereka bukanlah seorang pasangan suami-istri. Hazel bisa bernafas lega karena itu, pria yang dia sukai bukan milik siapa-siapa. Tapi Hazel juga tidak yakin setelah ini dia akan bertemu Spencer lagi. Spencer pasti akan menganggap hal ini hanya tugas yang perlu dia selesaikan dan setelahnya selesai.


Hazel tidak bosa berharap banyak. Namun, yang dia harus pikirkan sekarang adalah ibunya. Bagaimana dia harus membahagiakan ibunya. Hazel yakin ayahnya ingin dia menjaga dan membahagiakannya.


Karena orang yang kita cintai sebenarnya adalah keluarga. Orang yang benar-benar ada disetiap kehidupan, menit, detik kita adalah keluarga. Tanpanya, kita bukanlah siapa-siapa yang hanya hidup sendiri tanpa tujuan. Membahagiakan dan menolong orang lain adalah tujuan terbesar dari hidup ini.


Spencer mencengkram tangan Olivia dengan sangat kerasnya. Bahkan Olivia merasa tangannya telah terikat oleh sesuatu yang sangat kuat. Spencer merasakan tangan Hazel yang menggenggam pergelangan tanganya disebelahnya. Namun, saat mereka telah kembali berada dizaman mereka, Spencer sama sekali tidak mendapati Hazel disebelahnya.


Mereka berada ditempat pertama kali Spencer mencoba untuk menyusul Hazel. Ruang rahasia di ruang kerja ayah Hazel. Spencer dan Olivia berada diruangan sempit itu. Ditangan yang lain Spencer menggenggam kalung milik Hazel.


“Lepaskan tangan ku!” Gertak Olivia pada Spencer.


Spencer memang adiknya dan mereka dibesarkan bersama, tapi Spencer telah tumbuh menjadi seorang pria yang kuat. Bukan lagi adiknya yang dulu perlu dibela saat dia menangis.


“Ibu tidak menginginkan kau menjadi seperti ini! dia akan menangis disurga karena melihat mu!” hardik Spencer.


Pistol yang dipegang Olivia kini diambil secara paksa oleh Spencer. “Jalan!” perintah Spencer. Dia tidak ingin memperlakukan kakaknya seperti ini, tapi dia tidak memiliki pilihan dan dia sedang tidak membawa borgol. Jalan satu-satunya adalah menodongkan pistol kepada kakaknya.


“Kau tidak akan berani menembak ku dik! Aku tahu kau, kau tidak akan berani.” Olivia mengangkat kedua tangannya, alih-alih dia sedang mencoba membuat adikknya rapuh.


“Kau tidak tahu aku.”


“Tentu aku tahu! Adikku yang menangis saat ibu ditembak didepan mata kita. Adikku yang tidak berdaya saat ibu dibunuh tanpa dia meminta belas kasihan ―”


“Cukup!” Spencer mendorong keluar Olivia. “Orang-orang itu akan dipenjara sesuai dengan hukum yang berlaku. Sekarang Jalan!”


Olivia mengikuti perintah adiknya. Mereka keluar dari ruangan itu, ibu Hazel sedang berada diruang tamu. Menonton berita mengenai perkembangan dunia. Biasanya itu acara kesukaan ayahnya Hazel. Kini ibunya yang menonton acara tersebut sendirian.


Ibunya Hazel terkejut saat melihat Spencer dan Olivia yang baru saja keluar dari ruang kerja suaminya. Terlebih lagi Spencer menodongkan senjata pada Olivia.


“Maaf nyonya Skylar karena telah menggangu waktu bersantai mu. Bisakah kau panggil polisi? Katakan pada mereka aku membawa seorang tahanan tahanan.” Spencer tersenyum pada nyonya Skylar.


“Baiklah,” kata nyonya Skylar sambil mengangguk pelan.


Spencer mendorong Olivia keluar rumah dan beberapa menit kemudian polisi datang. Olivia ditanggakap karena kejahatannya. Tentu saja Spencer tidak mengatakan bahwa mereka baru saja dari masa depan, mereka pasti akan menertawakannya.


“Bawa dia! Aaron akan mengurusnya,” ujar Josh pada salah satu petugas.


Olivia diborgol, dia tidak memberontak. Namun, saat dia memasuki mobil dia tersenyum licik pada Spencer. Spencer tahu kakaknya hanya sedang menggertak. Spencer masih memegang pistol dan Kalung di kedua tangannya. Kemudian dia memasukkan pistolnya dan menatap kalungnya.


Yang dia harus lakukan sekarang adalah mencari Hazel. Dia yakin Hazel telah kembali ke versatile. Tubuh Hazel ada disana, jadi dia pasti kembali kesana. Spencer meminjam mobil salah satu polisi dan langsung menuju versatile. Tujuan terakhirnya sebelum dia menyelesaikan tugasnya.