
Hari ini tepat hari kamis. Hari yang akan menjadi hari terakhirnya untuk tinggal di versatile. Hazel sangat ingin pergi, tapi dia juga tidak ingin meninggalkan Spencer. Lagipula dia sepertinya cocok dengan pekerjaan ini. Tidak terikat dengan pemerintah, walalupun pemerintah sekarang terus mengawasi.
Hazel bangun pagi-pagi sekali. Selain karena efek tinggal di Indonesia yang mengharuskan bangun sejak matahari belum berbit, hari ini dia akan diberi penghargaan bersama dengan keenam kembarannya yang lain atas bantuannya menyelesaikan misi. Mereka pantas mendapatkannya.
Kamar Hazel berdekatan dengan Spencer dan Hazel tidak tahan untuk tidak bertemu Spencer sebelum acara dimulai. Hazel belum mengganti pakaianya, lagipula acara dimulai pukul delapan dan sekarang masih pukul tujuh. Masih akan banyak waktu, dia belajar untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Waktu bagaikan uang, walaupun uang bukanlah segalanya.
Gadis itu berdiri tepat didepan kamar Spencer. Dia sedikit ragu dan bimbang untuk mengetuk. Sejak kepulangannya dari masa depan dia belum berbicara dengan Spencer. Saat melihat Hazel, Spencer hanya tersenyum dan pergi, seolah mereka adalah orang yang baru kenal. Sama saat pertama kali mereka bertemu.
Mungkin kenyataan memang pahit. Hazel sudah berpikir bahwa hal ini hanya tugas yang harus Spencer selesaikan dan setelah itu selesai. Mungkin setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi, Hazel akan mejalani hidupnya yang seperti biasa, berangkat ke sekolah, menyindiri di kantin sekolah. Setidaknya dia tahu kemampuannya untuk berkelahi, itu akan sangat berguna.
Akhirnya Hazel mmeberanikan diri mengetuk pintu. Sweater rajutnya kebesaran ditubuh Hazel dan membuatnya tampat lebih kecil dari biasanya. Sepetinya pergi ke masa depan bisa mengubah segalanya, kecuali tinggi badannya.
Seseorang membuka pintu, tentu saja Spencer. Bukan Hamish. Dia versi Spencer dimasa depan. Hazel diam untuk beberapa saat, saat menatap mata biru Spencer. Matanya benar-benar bisa menghipnotis.
“Ada apa?” tanya Spencer kemudian.
“Tidak, maaf menggangu. Sebaiknya aku pergi.” Hazel terdengar gugup, dia tidak pernah memiliki hubungan dekat dengna pria.
Spencer sudah memakai celana hitamnya serta kemeja putihnya. Dia baru saja akan mengenakan dasi. “Masuklah, aku butuh bantuan mu.”
Awalnya gadis itu tidak mau, tapi dia harus berpikir dua kali untuk menolaknya. Didalam kamarnya cukup normal. Masksudnya sepeti seorang pria kebanyakan, dinding putih polos, ranjang tidur yang terlihat sangat biasa dan kursi empuk biasa. Sangat biasa. Hazel memang belum pernah masuk ke kamar seorang pria sebelumnya.
“Jadi, apa yang bisa aku bantu?” tanya Hazel. Dia masih berdiri.
“Oh ya. Bisa kau bantu aku mengenakan dasi ini?” tanya Spencer balik, sambil menunjukkan dasi hitamnya.
Hazel tampak bingung. Bukan karena kenapa Spencer meminta bantuan untuk mengenakan dasi? Melainkan Hazel tidak tahu caranya menggunakan dasi.
“Aku tidak bisa,” jawabnya.
“Kenapa? Aku hanya minta mengenakan dasi, bukan meminta mu untuk mencium ku.” spencer tersenyum, seolah itu lelucon.
“Apa?” Hazel lebih tampak bingung. “Aku memang tidak bisa,” tambahnya.
“Ya kenapa?”
“Karena aku memang tidak bisa Spencer. Aku tidak tahu cara menggunakan dasi.”
Spencer tersenyum lagi, gadis itu benci saat melihat Spencer tersenyum. Karena senyumnya terlihat mematikan, lebih mematikan dibanding racun terhebat didunia.
“Kemari!” Spencer meminta Hazel untuk mendekat.
Hazel mendekat. Spencer kemudian memegangi tangannya, membantunya mengingatkan dasi dileher pria itu. tangan Spencer tarasa dingin di kulit Hazel, atau mungkin gadis itu yang gugup dan merasa dingin.
“Lihat! Kau bisa kan? “ spencer menatap Hazel.
Jarak mereka sangatlah dekat dan Hazel sangatlah gugup. Mungkin tadi sebaiknya dia tidak mengetuk. Jantungnya berdegup seperti lonceng, dia bisa mendengarnya ditelinganya.
“Aku tahu jantung mu bedegup dengan kencang.” Spencer menggenggam tangan Hazel.
Gadis itu hanya diam, seolah telah tersihir menjadi batu. Bahkan mungkin sekarang jantungnya juga telah terhenti. Hazel takut, tapi dia juga senang. Dia tidak bisa menggambarkan hatinya sekarang ini.
“Ngomong-ngomong kenapa kau belum bersiap?” tanya Spencer untuk mencairkan suasana.
Hazel melepaskan tangannya dari Spencer. “Hmm, ya. Aku akan bersiap sekarang, sebaiknya aku pergi.”
Hazel hampir pergi saat Spencer memanggilnya. “Hazel!” panggil spencer. Suaranya lembut.
Hazel berbalik dan menatap Spencer. “Ya?” tanyanya singkat.
“Terima kasih telah membantu ku.”
Hazel tersenyum kecil dan mengangguk. Kemudian dia menutup pintunya. Itu sama sekali hal yang tidak Hazel harapkan. Hazel benar-benar gugup tadi, apalgi saat Spencer memegang tangannya. Hal itu justru membuat Hazel tidak ingin pisah darinya.
Setengah jam lagi sebelum acaranya dimulai. Acaranya akan diadakan di halaman belakang gedung ini. Akan ada banyak yang datang, tentu bukan pejabat Negara ataupun wartawan. Yang jelas Hazel harus tetap berpakaian formal.
Tinggal sepuluh menit lagi dan Hazel baru saja menggati pakaiannya dengan dress merah dan high hills yang tentu Hazel belum pernah memakainya. Dia berdiri didepan sebuah kaca dikamarnya, baju itu membuat rambutnya tampak lebih menonjol.
Hazel menatap dirinya, dia terlihat tidak seperti biasanya dan high hills membuatnya tampak lebih tinggi beberapa senti. Sekarang yang jadi masalahnya adalah, dia tidak bisa berdandan. Ada beberapa peralatan make up dimeja riasnya, tapi dia tidak bisa menggunakannya. Jadi, Hazel memutuskan untuk tidak menggunakannya daripada menjadi badut.
Spencer baru saja keluar dari kamarnya, bersamaan dengan Hazel. Hazel memang biasa saat melihat Spencer mengenakan setelan tuxedo-nya, tapi untuk kali ini Hazel seperti baru pertama kali melihat Spencer mengenakan pakaian itu. Spencer terlihat sangat tampan.
Hazel membeku saat Spencer mendekatinya. Gadis itu jelas telah terhipnotis.
“Hazel? Kenapa kau belum berias?” Spencer menatap Hazel yang masih terhipnotis.
Hazel sadar, bahwa Spencer telah berada didepannya. “Oh, ya. Aku sudsh selesai.” Jawab Hazel.
“Kau belum berias.” Kata Spencer, dia sedang merapikan pergelangan tangannya.
“Aku tidak bisa berias. Jadi, lebih baik aku tidak perlu berdandan.”
Spencer menggeleng. “Aku akan panggilkan Carol untuk membantu mu. Tunggu disini!” kemudian pria itu menghilang.
Hazel tidak tahu apakah Spencer marah atau tidak. Hazel memang tidak bisa berias, apa yang harus dia lakukan? Mencobanya dan menjadikannya bahan tertawaan, tentu Hazel tidak akan mau dipermalukan oleh dirinya sendiri.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. “Masuk!” pinta Hazel.
“Hai.” Kepala Carol muncul dari balik pintu. “Spencer bilang kau butuh bantuan ku. Jadi, apa yang bisa ku bantu?” tanya Carol. Dia memakai gaun yang indah dengan beberapa perhiasan mengiasi lehernya.
Hazel berpikir jika dia yang mengenakannya dia akan terlihat lebih tua beberapa tahun. “Aku butuh bantuan mu untuk berias.” Hazel menatap Carol dari cermin.
“Oh, tentu. Kau tepat memanggil ku. Aku tahu riasan untuk anak remaja seumuran mu.” Carol mendekati Hazel dan mulai mendandaninya.
Hanya butuh lima menit untuk Carol menyelesaikan pekerjaannya. Kelihatannya lebih mudah dibanding bertarung satu lawan satu diarena pertandingan. Sekarang Carol juga membantunya merias rambut Hazel. Carol membuat kepangan kecil di kanan dan kiri rambut Hazel. Kemudian mengikatnya kebelakang dan merapikannya.
“Selesai, kau terlihat seperti seorang putri.” Carol bergumam.
Hazel menatap pantulan wajahnya dicermin yang berubah sangat drastis. Dia bahkan tidak menyangka itu adalah dirinya. Mungkin ini efek karena dia tidak pernah berdandan dan saat dia mulai meriasi wajahnya dia terlihat sangat berbeda.
“Baiklah, aku rasa kita harus menyusul yang lain dihalaman. Mereka akan mulai sebentar lagi.” Carol menuntun Hazel untuk pergi ke halaman belakang.
Seperti yang dikatakan Aaron tentu aka nada banyak yang datang, tapi bukan pejabat Negara ataupun wartawan. Karena tempat ini rahasia. Ini terlihat lebih seperti sebuah pesta kebun atau semacamnya. Ada banyak makanan dan minuman dihidangkan dimeja.
Hazel terlihat sangat gugp, untungnya dia tidak terjatuh karena memakai sepatu tinggi. Carol menuntunnya hingga ke tempat duduknya. Hazel melihat kesekeliling, ada Thania dengan gaun merah mudanya. Ada Rhona dengan gaun hijaunya dan banyak orang lain yang tidak Hazel kenali.
Tapi yang belum dia lihat adalah Spencer. Rupanya pria itu lebih susah dicari di tempat seperti ini. mata Hazel terus memindai bagaikan elang dan akhirnya dia mendapati Spencer yang sedang berbincang dengna beberapa orang. Mungkin temannya, disampingnya seorang wanita menggandeng lengannya. Itu Laura, dengna gaun sutra yang elegan menyelimuti tubuhnya.
Untungnya Hazel tidak kalah menawannya dengna Laura, walaupun dia tidak setinggi Laura. Setidaknya beberapa orang meliriknya saat dia datang. Suara di microphone mengalihkan pandangan Hazel dari Spencer. Acaranya akan dimulai.
Hazel hanya pernah ikut beberapa kali dalam acara seperti ini. Itu juga karena ayahnya yang memintanya dan kadang dia lebih suka menunggu dimobil dengan iphone-nya ketimbang menyapa orang-orang yang ida tidak kenal dan bukan menjadi dirinya.
Acaranya membosankan, hanya sambutan, pembacaan terima kasih dan pidato singkat yang nyatanya sangatlah lama. Hingga membuat Hazel tidak fokus saat namanya dipaggil untuk maju kedepan.
“Miss Hazel Skylar? Silahkan memberi pidato,” pria yang Hazel tidak kenal namanya menatapnya.
Orang-orang mulai mencari yang mana Hazel Skylar, hingga Hazel berdiri dari kursinya. Pandangannya semua orang sekarang tertuju pada Hazel, bahkan Spencer yang tidak lepas-lepasnya menatap Hazel dengna gaun merahnya. Namun, spencer bukan hanya menatap gaun indah Hazel yang sebelumnya dia sudah lihat tadi, dia menatap betapa cantiknya Hazel dengna riasan natural diwajahnya.
“Terima kasih kepada tuan yang aku tidak tahu namanya,” kata Hazel sambil melirik pria yang menatapnya tadi. “Karena telah mempersilhkan saya untuk ebrpidato disini,” tambahnya.
Spencer masih terus menatap Hazel, tapi Hazel tidak sedang berusaha menatap pria itu. Apalagi jika dia melihat Laura disampingnya.
“Ayah ku mungkin agen terbaik kalian dan dia juga telah menjadi ayah yang terbaik untuk ku. Aku disini hanya ingin mengatakan bahwa aku senang bekerja disini bersama kalian, tapi tujuan ku sekarang adalah membuat ibu ku bangga. Aku ingin dia bahagia, hanya itu.”
Semua orang menatap Hazel terharu, sebelumnya memang belum ada yang menolak bekerja untuk versatile. Selain mereka juga meiliki tempat tinggal, tapi seperti mata-mata kebanyakan, mereka harus menarik diri dari kehidupan luar. Hazel sangat ingin bekerja di versatile, apalagi tahu bahwa ayahnya juga bekerja disini dan mereka tidak terikat dengan pemerintah. Sangat cocok dengan Hazel.
Disamping itu ibunya menginginkan dia lulus SMU dan pergi untuk kuliah, hanya menjadi gadis normal. Tidak ada yang bisa Hazel lakukan selain lulus masuk perguruan tinggi untuk membahagiakan ibunya.
“Tarima kasih,” kata Hazel kemudian.
Kemudian Aaron maju kedepan dan memberikan sebuah kotak seperti kotak untuk perhiasan, tapi untuk yang ini isinya seperti lencana berbintang yang seperti ayahnya miliki. Hazel menjabat tangan Aaron, diikuti tepuk tangan dari semua orang yang hadir.
Acara selesai dan orang-orang mulai kembali, begitu juga Hazel dan ke enam kembaran yang lainnya. Thania harus kembali ke negaranya hari itu juga untuk menemui orang tuanya. Hazel tidak akan lupa dengan semua yang dia lakukan bersama Thania. Selain Thania, Hazel juga memiliki teman lain yang berasal dari Indonesia.
Nissa, gadis seumurannya di masa depan. Walaupun dia memiliki kehidupan yang serba kekurangan, dia bisa mensyukuri semua kekurangan itu. Ke dua orang itu telah memberikan pelajaran untuk Hazel.
Orang-orang dibawah telah memberikan arti kehidupan sebenarnya, arti bahwa hidup bukanlah tentang siapa kita dan ingin menjadi apa kita. Hidup adalah tentang bagaimana kita perduli dan saling menolong terhadap orang-orang sekitar kita. Karena sejatinya manusia hidup saling bergantung terhadap yang lain.
“Hazel!” panggil seseorang.
Hazel mencari seumber suara itu, tentu itu Spencer. Hazel mengenali suara pria itu lebih dari siapa pun. “Hai. Terima kasih karena telah memnggil Carol,” kata Hazel.
“Sama-sama.” Mereka saling bertatapan janggung. “Kau cantik sekali,” puji Spencer.
“Terima kasih,” balas Hazel.
“Jadi, kau akan pulang ke rumah mu?” tanya Spencer. Suarnya terdengar seperti kekecewaan.
“Ya, untuk menjali hidup seperti biasanya dan masuk universitas.”
“Benarkah? Kau akan ke kampus? Aku tidak yakin kau akan memiliki teman wanita yang memiliki sifat seperti mu.” Spencer menggoda Hazel.
“Mungkin, tapi aku akan berusaha menjadikan teman ku seperti itu.” Hazel balas menggoda.
“Jadi, benar kau tidak akan tinggal?” tanyanya lagi, kali ini suaranya terdengar dalam.
“Tidak.” Hazel menggeleng.
Mereka saling berpelukan, mungkin ini bukan menjadi akhir dari kisah cinta dan petualangannya. Bisa saja dia akan bertemu Spencer besok, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi, atau bahkan beberapa tahun lagi.
Hanya satu pesan Hazel, jangan perna menagisi sesuatu yang tidak penting. Masih banyak hal yang perlu kita raih untuk menjadi seseorang yang hebat. Bagi ayahnya bekerja untuk pemerintah adalah yang terbaik, tapi bagi Hazel bekerja untuk diri sendiri adalah hal terbaik yang dia tahu.
Masa depan memang tidak bisa dirubah, tapi itu menjadi pilihan kita untuk menjadi lebih baik lagi atau hanya menjadi yang paling buruk. Semua adalah pilihan kita, kitalah yang menentukan masa depan. Jangan pernah menyerah dengan masa depan, semua yang kau impikan akan menjadi nyata jika kau ingin berusaha.