
“Kenapa ini bisa gagal? Kenapa anak itu tidak mempan saat aku berikan flazz?” Wajah Olivia memerah, seakan dia adalah gunung berapi yang akan meledak sewaktu-waktu.
“Dia memakai anti-flazz, karena itu flazz tidak mempan pada tubuhnya.” Gadis berambut pirang itu mengerutkan dahinya.
“Kenapa kau tidak memberitahu ku tentang hal itu sejak awal?” Olivia mendorong gadis itu hingga dia hampir tersungkur.
Gadis itu mencoba menyeimbangkan tubuhnya kembali. “Aku juga tidak tahu jika dia menggunakan anti-flazz. Lagipula setidaknya kita telah membuat sedikit kekacauan disini,” ujar gadis itu. Berharap kata-katanya bisa menghibur Olivia.
Kedua orang itu berjalan dengan santai tanpa merasa bersalah. Suara sirine terdengar dimana-mana. Mereka seakan ibu dan anak yang jiwanya terganggu dan mengobsesikan hal sama. Pikiran mereka hanya memikirkan diri sendiri, sedangkan di dunia ini kita hidup tidak hanya sendiri. Semua orang memiliki ketergantungan masing-masing.
“Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku mau! Aku tidak perduli jika tempat ini harus hancur sekalipun!” Olivia benar-benar telah terganngu jiwanya. Baginya rencana busuknya adalah hal termasuk akal yang pernah dia tahu.
Gadis berambut pirang itu merenggangkan tubuhnya, merasa sedikit takut karena dia telah terjebak oleh wanita gila dengan obsesinya. Tapi ini juga yang ia dambakan, menjadi seorang pernguasa dan mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Kalau begitu,” gadis pirang itu membenarkan rambutnya yang menutupi matanya. “Kita buat rencana baru dan jangan sampai dia lolos untuk kali ini.”
“Dan aku tidak ingin ada rencana berikutnya!”
ID palsu yang menggelangi tangannya berbunyi. Dan bertuliskan Haikal. Olivia mengangkatnya.
“Apa yang kau lakukan? Kau bilang kau tidak akan menhancurkannya?” Haikal marah-marah pada wanita itu.
“Ya, jika kalian menyerahkannya Hazel pada ku.”
“Kau menghancurkan Monumen Nasional, tempat bersejarah bagi kami!” suara Haikal kini meninggi.
“Aku tidak perduli, mau itu Monumen Nasional, Effiel, bahkan patung Liberty sekaligus aku tidak akan perduli.” Olivia menatap pria itu dalam.
“Kau gila!” Haikal mematikan sambungannya.
Wajah Olivia seakan berbinar. Tidak ada orang yang bisa menghentikannya. Dia orang yang memiliki tekat kuat untuk bisa menjatuhkan pemerintahan. Bahkan jika itu adalah ibunya sendiri.
***
“Jadi mulai dari mana aku harus bercerita?” Spencer mengacak-acak rambutnya, seakan Hazel memperhatikan rambutnya yang sejak tadi dia khawatirkan.
“Mulai sejak kau menghilang dan kemudian muncul dengan dia!” Hazel menunjuk Nissa.
Nissa yang duduk disamping Spencer merasa sedikit gugup. Hazel terlihat tenang disamping Hamish. Sedangkan Josh terlihat sedang sibuk dengan dirinya sendiri.
“Silahkan kalian pesan, aku sudah sarapan dan aku yang traktir.” Josh mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum.
Seperti orang yang baru pertama kali melihat hal baru. Nissa melihat hal ini, seperti hal yang luar biasa. Hazel masih diam dikursinya dan baru menyadari bahwa Nissa tidak memakai gelang ID.
“Apa kau membuang ID mu?” Hazel bertanya pada Nissa.
“Apa?” Nissa menatap kearah Hazel. “Aku?”
“Ya, kau,” jawab Hazel.
“Maaf tapi aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Nissa terfokus kembali untuk memesan makanan.
Hazel beralih ke Spencer, kemudian menendang kaki pria itu. Spencer tersentak, “Apa?” Spencer menatap ke Hazel balik.
“Aku ingin dengar cerita mu!” Hazel melipat tangannya didada, kemudian bersandar dikursinya. Menunggu Spencer untuk berbicara.
Spencer mengikuti Hazel bersandar dikursinya. “Apakah kau tidak pernah sadar bahwa tidak ada bulan dan bintang bahkan matahari dilangit mereka?” Spencer melipat tangannya didada.
Hazel memiringkan kepalanya. “Aku rasa karena mereka memiliki atap di langit mereka, tapi Josh bilang bulan, bintang, dan matahari hanya legenda.” wajah Hazel tampak serius sekarang.
“Ya, kenapa mereka mengatakan itu dengan legenda? Jika mereka tahu bahwa bulan dan matahari benar-benar ada kenapa mereka sebut dengan legenda?” Spencer melontarkan pertanyaan yang membuat Hazel bingung.
Hamish yang duduk disamping Hazel memperhatikan pembicaraan kedua orang itu. “Tunggu! Maksud mu bahwa matahari dan bulan benar-benar ada?” Hamish mencondongkan tubuhnya ke Spencer.
“Tentu saja. Selama ini aku tinggal dirumah Nissa,” Spencer melirik ke Hazel sebelum melanjutkan. “Mereka oarng-orang yang hidup sederhana. Mereka berbagi satu sama lain dan perduli terhadap sesama.”
“Mereka Negara bagian mana?” tanya Hamish.
Josh yang sibuk memesan, sekarang mendengarkan Spencer.
“Maksud mu sekarang kita berada dibawah tanah?” Hazel kini yang bertanya.
“Ya, kami menyebut kalian Cryptor. Penghuni ruang bawah tanah,” jawab Nissa.
“Lalu untuk apa pemerintah menutup-nutupi hal ini? kenapa mereka memanipulasi sejarah? Dan ini bukan terjadi di Negara ini saja, tapi seluruh Negara didunia,” nada bicara Hazel mulai meninggi.
Josh melihat kesekeliling, orang-orang memperhatikan mereka. “Hazel, sebaiknya kau pelankan suara mu. Atau kita akan berurusan dengan petugas keamanan,” ujar Josh.
Pesanan mereka telah datang. Spencer, Nissa, dan Hamish memang sudah menunggu. Sedangkan Josh telah mengisi perutnya lebih dulu dan Hazel pun sama. Lagipula dia lebih suka makanan yang dikunyah.
Hazel masih tidak habis pikir, pemerintah telah menipu orang-orang disini. Memanipulasi sejarah mereka dan menjadikan orang-orang ini mayat hidup yang diperintah. Pikiran Hazel mulai berjalan kemana-mana. Sekarang mengenai ayahnya. Apa hubungannya dengan semua ini?
Ayahnya bekerja untuk pemerintah dunia. Meninggalkan pesan-pesan yang sampai sekarang dia belum mengerti. Apakah ayahnya tahu mengenai hal ini? Hazel merasa otaknya akan pecah. Entah sudah berapa lama tinggal disini dan dia sama sekali belum menemukan petunjuk.
“Tidak kah kalian pikir? Kenapa tidak satu orang pun yang ingat mengenai bulan atau matahari dan hal lainnya?” tanya Hazel tiba-tiba.
“Karena hal itu benar-benar sudah dilupakan dan dihapus dalam sejarah.” Haikal mengankat kedua alisnya.
“Tunggu! Aku ingat saat anak-anak itu memegang suntikan berisi cairan berwarna biru yang mirip dengan cairan yang biasa disuntikkan sebulan sekali oleh pemerintah,” Josh menjelaskan.
Semua mendengarkan dan menatap Josh serius. “Tapi cairan itu memberikan efek bengkak diseluruh tubuh.”
“Aku tahu, ini masuk akal. Haikal bilang obat pelupa itu disuntikkan setiap sebulan sekali saat kalian suntik wajib dari pemerintah. Tapi sepertinya obat pelupa itu adalah obat yang disuntikkan pemerintah sebulan sekali.” Hazel menyimpulkan perkataan Josh.
“Ya, itu sebabnya orang-orang tidak mengetahui dunia diatas, bahkan tidak ingat sejarah mereka yang sebenarnya. Dan pantas saja setiap disuntik pasti lama sekali dan aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang dari pikiran ku,” kata Josh sambil mengusap dahinya.
Pembicaraan mereka telah mencapai titik terang. “Dan pemerintah benar-benar telah memanipulasi semuanya. Pantas saat kita menuju Indonesia dari Amerika, aku melihat seseorang yang berjalan. Tentu saja kita tidak terbang, pasti mereka telah menemukan alat untuk teleportasi.”
“Lalu, kenapa pemerintah melakukan itu semua?” tanya Josh.
“Aku rasa mereka tidak ingin sumber uang mereka menghilang karena ingin tingagl diatas,” ujar Hazel.
Mereka semua terpaku pada Hazel. Menghentikan semua kegiatan makan mereka. Hazel membelalakan matanya, dia mengira mereka semua terpaku pada dirinya. Tapi ternyata mereka terpaku pada siaran dibelakang Hazel.
“Terjadi kerusuhan diseluruh dunia. Banyak orang yang menyalahkan pemerintah dari pemboman yang terjadi di Monumen Nasional. Terjadi pro dan kontra pada pemerintah, sehingga mengakibatkan ribuan orang didunia untuk melakukan aksi anarkis.” Seorang reporter menyiarkan secara langsung dari tempat terjadinya pemboman.
“Tidak! Semakin kacau sekarang!” Hazel menaruh kedua tangannya diatas kepala. “Aku tidak akan membiarkan ini terjadi! Ini yang diinginkan Olivia, menjatuhkan pemerintahan.” Wajah Hazel penuh keputusasaan. Tapi gadis ini tidak mau tunduk pada keputusasaannya dan hanya diam menonton.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Josh pada semuanya.
“Jika ini yang diinginkan Olivia, kita akan mengikuti permainannya. Aku tahu sekarang apa yang selama ini ayah ku inginkan. Dia sengaja memilih Indonesia karena Negara ini penuh dengan intrik politik di masa lalu,” Hazel menjelaskan.
“Lalu apa hubungannya?” kali ini Spencer yang bertanya.
“Ayah ku awalnya ingin menghancurkan pemerintahan juga. Karena itu dia memilih Indonesia dan sebelum dia meninggal dia sadar apa yang telah dia lakukan salah, karena itu dia menulis nama ku didalam bungkernya.” Semua orang tampak serius mendengarkan Hazel. Pembicaraan mulai mengarah ke intinya.
Spencer melipat tangannya kembali didada. “Jadi menurut mu ada orang lain yang tidak suka dengan ide ayah mu dan kemudian memberi tahunya kepada Olivia?”
“Ya, tapi siapa orang itu? orang yang dekat dengan pemerintah dan juga mengenal Olivia.” Hazel menyimpulkan sendiri.
“Tunggu! Maksud mu Haikal?” jawab Hamish.
Hazel mengangkat kedua alisnya, seolah mewakilkan untuk berkata. “Jika menurut mu dia, berarti insting ku benar. Ingat saat aku bertanya apa kalian memiliki baju anti peluru? Dan kau bilang kalian hanya punya baju anti-flazz. Sedangkan aku melihat Haikal menggunakan baju anti peluru dibalik bajunya dan satu hal lagi, saat dia berkelahi dia menggunakan teknik bela diri.”
“Bagaimana kau bisa sangat yakin itu dia?” tanya Spencer.
“Hanya ada satu cara untuk membuktikannya.”