
Awalnya Hazel ragu, tapi dia sudah sampai disini. Tempat dimana ayahnya menyembunyikan sesuatu yang belum dia ketahui. Tapi jika Haikal bisa membantunya kenapa tidak?
“Ini hanya antara kau dan aku. Dengar! Aku bukan berasal dari zaman ini, aku berasal dari tahun dua ribu tujuh belas. Ayahku memintaku menemukan sesuatu, jika kau bisa membantu ku itu akan sangat berarti untukku.”
Wajah Haikal berubah seketika, bukan hal yang diinginkan Hazel. “Oke aku akan membantu mu. Dan bagaimana dengan teman mu? Apa mereka juga sama seperti mu?”
“Spencer iya, Josh bukan,” Hazel menyandarkan badannya. Kali ini pikirannya kembali ke Josh dan Spencer. Disaat yang bersamaan seseorang membuka pintunya. Wajahnya seperti orang yang dia kenal. “Spencer!”
“Siapa Spencer? Jika itu pacar mu, berarti bukan aku.” Pria itu mendekati Haikal dengan malas. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tertunda karena ada Hazel.
“Kau Spencer!” kali ini Hazel berdiri dari kursinnya.
Pria itu terlihat bingung, begitu juga dengan Haikal. Pria itu memang terlihat seperti Spencer, tapi di memiliki mata berwarna coklat.
“Sudah aku bilang, jika itu pacarmu berarti bukan aku nona,” pria itu berbicara lebih lembut.
“Tunggu! Dia Spencer?” tanya Haikal.
Mata Hazel menyipit. “Hampir, Spencer punya mata berwarna biru,” jelas Hazel.
“Dia partner kerja ku. Namanya Hamish, bukan Spencer.”
Hamish menulurkan tangannya ke Hazel “Hamish, bukan Spencer. Tapi jika kau suka memanggil ku Spencer juga tidak apa-apa,” goda Hamish.
Hamish memang terlihat seperti Spencer, tapi bukan berarti itu Spencer. “Oh ya, saat aku ke rumah mu, kenapa tempatnya sangat terpencil? Saat di Amerika katanya tidak ada tempat yang kecil seperti itu, bahkan rumah-rumah terlihat bagus semua.”
“Itulah yang kita sedang selidiki, kau berasal dari masa depan. Saat kau mengubah masa lalu, maka masa depan berubah. Aku rasa itu yang terjadi sekarang.”
Hamish terlihat lebih dingin sekarang, dia tidak seperti Haikal yang terlihat jelas keturunan asia. Hamish terlihat seperti campuran, dengan mata coklatnya. “Sudah berapa lama ini terjadi?” tanya Hazel yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Hamish.
“Aku rasa sebulan. Jika sesuatu itu bisa mengubah semua keadaan ini maka aku akan membantu mu,” Haikal menatap Hazel yang penuh harap.
“Hey, kita kan partner. Kita akan memabantu mu,” pandangannya ke Hazel, kemudian beralih ke Haikal. “Bukan kau saja yang akan membantunya.”
Hamish memang terlihat seperti orang yang suka bermain-main, berbeda dengan Haikal yang memiliki sifat tenang tapi dibalik ketenangannya dia telah bertindak dengan benar. Sedangkan Hamish disaat sedang santai dia akan santai tapi saat sedang serius dia akan serius, walau sedikit gurauan disetiap kata-katanya.
Hazel terdiam ditempat duduknya, dia ingat kata-kata yang dia tulis saat sebelum dia pergi dari rumah ayahnya. Kemudian dia merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas. Dia membacanya kemudian memberikannya ke Haikal. “Kau tahu apa maksudnya ini?” tanya Hazel.
Haikal mengambilnya, kemudian membacanya dengan tenang. Hamish masih duduk dengan santainya. “Lidah api emas.” Haikal mengejanya.
“Aku rasa itu adalah petunjuk, tapi aku tidak bisa mengartikan apa maksudnya.” Hazel mengusap matanya.
Haikal memberikannya ke Hamish, dia tidak terlihat seserius Haikal saat membacanya. Kemudian mereka berbicara dengan bahasa mereka, Hazel tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya bahasa Indonesia mudah untuk dipelajari, tapi Hazel tidak pernah berniat untuk mempelajarinya. Mungkin setelah ini dia akan mencoba untuk belajar bahasa Indonesia.
“Ada satu tempat wisata yang sangat terkenal disini, tapi tidak seperti Eiffel, atau menara Pissa, dia tidak cukup terkenal diluar. Kebanyakan orang berkunjung ke Indonesia karena Bali,” Haikal menjelaskan.
“Lanjutkan,” sela Hazel.
“Namanya Monas, monumen nasional. Dia berbentuk seperti obor yang atasnya terdapat api yang terbuat dari lapisan emas.”
“Aku rasa itulah tempat yang kita cari. Sebaiknya kita kesana sebelum terlamabat.”
“Baik, aku akan siapkan mobil.”
Haikal segera pergi dari ruangan ini dan mengambil mobil. Hanya tertinggal Hazel dan Hamish dalam ruangan ini. Suasana canggung terus menghampiri mereka. Wajah Hamish mengerut, dia melihat kearah Hazel yang terus memandanginya sejak tadi.
“Aku tahu, aku mirip dengan pacar mu. Tapi jangan samakan aku dengan dia ya.” Goda Hamish pada Hazel yang baru menyadari kalau Hamish juga memandanginya.
“Hey, sudah kubilang dia bukan pacar ku. Dia sudah menikah oke!” ujar Hazel kesal. Jika mengingat seperti itu Hazel semakin kesal dengan Spencer, begitu juga dengan Josh. Mereka berdua mencampakkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Mereka patut menerima ini, lagi pula Hazel juga butuh bernafas dari mereka berdua. Walaupun Haikal dan Hamish bukan berasal dari Amerika mereka memiliki bahasa inggris yang baik. Bahkan sangat fasih sekali, seakan-akan itulah bahasa sehari-hari mereka. yang lebih uniknya lagi tanpa terbata-bata mereka juga menguasai bahasa mereka yang Hazel tidak ketahui sama sekali.
Hamish bangkit dari tempat duduknya, “Sebaiknya kita menyusul Haikal. Dia tidak suka menunggu.”
Mereka pun berjalan bersama keluar dari ruangan. Semua orang dalam kantor ini melihat ke arah mereka berdua. Salah seorang teman Hamish malah menggodanya, tapi dengan bahasa Indonesia. Hazel tidak mengerti, tapi jelas terlihat dari muka Hamish dia tidak suka diperlakukan seperti itu.
Lima menit setelah itu mereka telah sampai di mobil dan segera menuju tempat yang mereka tuju, yaitu Monas. Haikal yang menyetir.
“Tunggu! Ini tidak dijalankan oleh mesin otomatis? Apakah ini termasuk efeknya?” tanya Hazel sedikit kaget.
Hamish dan Haikal tertawa. “Tentu saja tidak! Kau ingin terdeteksi? Mobil ini hanya dimiliki oleh agen seperti kami. Agen lapangan, karena untuk tidak terdeteksi di zaman ini sangat susah sekali,” jelas Haikal.
“Jadi orang purba, apalagi yang tidak kau ketahui dizaman yang sudah modern ini?” ejek Hamish pada Hazel.
“Purba? Memangnya aku terlihat seperti itu? aku tidak tinngal dizaman dinosaurus. Lagi pula zaman modern ini terlalu menyiksa. Dizaman ku kami makan dengan mengunyah, tidak seperti kalian yang makan uap aneh dengan rasa aneh dan langsung kenyang. Itu benar-benar aneh,” Hazel berhenti sebentar. “Satu lagi, kami orang-orang yang tinggal dizaman dulu memiliki ke akraban satu sama lain dengan tetangga maupun teman. Sejauh yang aku lihat, aku tidak pernah melihat orang lain berkunjung satu sama lain.”
Haikal dan Hamish benar-benar tercengang. Selama ini memang seperti itu kenyataannya, mereka berteman tapi tidak pernah berkunjung satu sama lain.
“Ya! Itu yang aku maksud. Saat semua kebutuhan orang-orang telah tercukupi maka mereka tidak perduli dengan sekitarnya. Padahal semua kebutuhan yang mereka dapatkan juga berasal dari orang-orang sekitar mereka.” Kali ini ucapan Hazel menyadarkan mereka. Itu benar, tidak ada orang miskin maka keperdulian mereka berkurang. Justru hal itulah yang tidak boleh mereka hilangkan dari dunia ini.
Obrolan mereka membuat perjalan tidak terasa dan mereka telah sampai di Monas. Tempat itu sangat luas, setelah Haikal memarkirkan mobilnya, mereka segera masuk ke Monas. Padahal Monas sangat berkemungkinan menjadi salah satu wisata dunia seperti Eiffel. Tapi kenapa tempat ini tidak seterkenal Eiffel? Itulah yang Hazel pikirkan sejak tadi.
“Sekarang dimana tempatnya?” tanya Haikal.
“Aku tidak tahu, ayahku tidak menunjukkan dimana tempatnya dia hanya menuliskan ′Lidah Api Emas′ dan tidak ada lagi.”
“Jadi, kau tidak tahu dimana? Monas itu cukup luas, apa kita harus mengelilingi tempat ini?” tanya Hamish.
Mereka semua berpikir, wajah mereka mulai menegang. Terutama Hazel, setelah beberapa jam tidak bertemu dengan Spencer dan Josh meresahkannya. Walaupun Hamish terlihat seperti Spencer tapi tetap dia bukan Spencer.
“Aku harus bertemu Spencer! Dia tahu apa yang harus kita lakukan,” ujar Hazel tiba-tiba.
“Kau yakin dia tahu apa yang harus kita lakukan?” tanya Haikal sambil mengusap rambutnya.
“Ya,” ujar Hazel dengan yakin. Walaupun sebenarnya dia tidak yakin, tapi lebih baik dia bertemu Spencer.
Mereka semua mengikuti Haikal menuju tempat parkir, tapi langkah mereka terhalang oleh seseorang yang menembakkan senjata apinya kearah mereka. Mereka segera berlindung dari balik mobil-mobil. Orang itu tidak terlihat seperti orang-orang Indonesia dan dia terlihat seperti gadis kecil, wajahnya pucat. Tapi mana mungkin seorang gadis kecil dibiarkan membawa senjata api dan memakainya. Lagi pula anak itu terlihat terlatih menggunakan senjata itu, bahkan tembakannya hampir mengenai Hazel dan Hamish.
Hazel terpisah dari Haikal dan Hamish. Gadis itu terus menembaki mereka, tidak ada ruang untuk berlari. Sayangnya Haikal dan Hamish tidak mempunyai senjata api untuk membalas tembakan gadis tersebut. Jika dizamannya jelas mereka akan membalas tembakan ini dan baku tembak pun terjadi, sayangnya mereka berada dizaman tanpa senjata api.
Saat mereka sedang terkepung oleh tembakan gadis itu, seseorang menembakan senjatanya dari arah lain. Apakah itu Spencer mengingat semua orang tidak mungkin mempunyai senjata api kecuali Spencer disini. Hazel mencari-cari dari mana arah tembakan itu, seeorang dengan jaket hitam dan jeans yang belel. Seseorang dibelakangnya jelas terlihat lebih muda sedikit namun tetap menampakkan sisi ketangguhannya.
“Spencer! Josh!” Hazel berteriak kegirangan.
Hamish dan Haikal mengikuti tatapan Hazel. Sekilas saat Haikal melihat orang itu, dia sangat mirip sekali dengan Hamish. Tapi tidak mungkin itu Hamish, karena sekarang dia berada disampingnya dan juga terpana melihat kedua orang itu.
Karena kalah jumlah, gadis itu pergi. Hazel tidak membayangkan jika Spencer dan Josh tidak datang apa yang akan terjadi dengan mereka, pasti mereka sudah terbunuh disana. Hazel berdiri dari tempatnya berlindung tadi, dia ingin sekali berlari menghampiri Spencer dan memeluknya. Sayangnya saat dia mengingat Spencer telah mempunyai istri dia cepat-cepat mengilangkan pikiran itu dan menghampiri Hamish.
“Jadi ini si Spencer yang mirip dengan ku?” tanya Hamish yang sekarang sudah terlihat santai kembali.
“Aku baru tahu, kalau aku punya kembaran disini,” Spencer mengendus.
“Aku juga, tapi jelas aku lebih tampan darinya!” ejek Hamish.
Spencer menatap Hamish dengan tatapan tidak suka, kemudian ke Hazel. “Kenapa kau pergi tanpa memberi tahu kami!” nadanya kesal.
“Kalian terlalu pulas dengan tidur kalian. Lagipula bukannya kalian mengabaikan ku tanpa sebab saat itu, jadi aku kira kalian tidak akan perduli.”
Josh terdiam, dia masih terpaku melihat Hamish dan Spencer yang terlihat sama. Haikal sedang sibuk meneliti senjata api Spencer.
“Bukan berarti kami tidak mengkhawatirkan mu.” Kali ini suaranya terdengar lembut.
“Baiklah, sekarang bukan saatnya untuk bertengkar! Kita butuh senjata seperti yang kembaran ku bawa dan tempat persembunyian.” Hamish menyela pembicaraan Hazel dan Spencer.
Mereka semua terdiam, dari mana mereka mendapatkan senjata. Hazel menyipitkan matanya, mungkin ayahnya menyimpan beberapa senjata dirumahnya. “Mungkin ayahku menyimpan senjata yang dia sembunyikan dirumah.”
“Ya, tapi berarti kita harus kembali ke Amerika,” Josh menyela.
“Jika itu bisa membuat kita bersenjata kenapa tidak?” Hamish menambahkan.
Haikal mengusap dagunya. “Begini rencananya, kau Spencer, Josh serta Hazel. Kembalilah ke Amerika. Mungkin kalian bisa menemukan petunjuk yang lain disana dan kembalilah dengan persenjataan.” Haikal menjelaskan rencananya. “Sedangkan aku dan Hamish akan menunggu kalian disini dan mempersiapkan keperluan kalian jika sudah sampai disini. Bergegaslah, waktu kita tidak banyak. Tempat pertemuan diatas Monas itu. Kode: Mataharinya menyengat.”
Mereka mengangguk setuju. Sekarang mereka berpisah, Haikal bersama Hamish. Sedangkan Spencer, Josh, dan Hazel kearah yang lain. “Dimana kau parkirkan mobil?” tanya Hazel.
“Kami tidak naik mobil, kami berjalan kaki. Itu lebih aman,” jawab Josh.
Hazel berjalan dibelakang Josh dan Spencer. Mereka berjalan begitu cepat sehingga Hazel harus berlari kecil untuk menyamai langkah mereka. Suasana jalanan cukup ramai, sehingga teriakan Hazel tidak terdengar oleh mereka.
“Hey! Ada apa dengan kalian?” bentak Hazel seketika dan berhenti ditempatnya.
Josh dan Spencer berbalik, Josh mengangkat sebelah alisnya. Spencer menampakkan wajah tanpa ekspresinya. “Seharusnya kami yang tanya kenapa kau tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba saja kau sudah bersama orang aneh itu!” Spencer membalasnya, tentu saja itu respon yang tidak diinginkan Hazel.
“Seseorang mengirimi ku surat lewat pintu hotel ku. Dan aku tidak bisa diam saja, lagipula dia tidak aneh dan namanya Hamish.” Hazel menelan ludah saat mengatakan nama itu.
Mereka kembali ke hotel dengan cepat, namun Josh dan Hazel bertukar tempat. Hazel sudah memindahkan semua barang-barangnya. Kini dia duduk di pinggiran kasur. Matanya terus melihat ke jendela. Dunia yang indah jika saja tidak ada perubahan sejarah. Hazel menundukkan kepalanya. Hazel baru sadar kalau dia memakai kalung yang dia ambil dari ayahnya. Dengan bandul berhuruf HS.
Matahari semakin turun dari permukaan. Kini digantikan dengan bulan yang bersinar sangat terang. Hazel merasakan dinginnya malam menusuk kulitnya. Dunia dengan kesetaraan dan perdamaian sangatlah sempurna. Tapi jika orang-orangnya sama sekali tidak mengenal satu sama lain dan hanya mementingkan diri sendiri apa jadinya. Itulah yang selalu Hazel pikirkan. Apakah mengubah sejarah dapat megubah semua hal?