
Trotoar-trotoar kosong yang tidak terpakai masih menghiasi jalan. Gedung-gedung yang telah termakan oleh waktu masih bertengger dengan kokoh. Walau sebagian kacanya sudah pecah dan dindingnya yang bolong. Rumah-rumah yang telah kehilangan atapnya serta tumbuhan yang mati karena tidak pernah disiram oleh pemiliknya. Mereka meniggalkan tempat ini dan sebagian tempat dihancurkan. Hanya sebagian.
“Hey!” seseorang memanggil dan suara menggema dijalan yang sepi ini.
Spencer memutar badannya ke segala arah untuk melihat siapa yang berbicara. “Siapa? Siapa yang berbicara? Apakah ada orang lain disini?”
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian orang itu berbicara lagi. “Ya, apa kau berasal dari bawah?”
Spencer terus berputar mencari sumber suara tersebut. “Ya. Tidak, maksud ku aku dari bawah tapi aku tidak tinggal disana.” Mungkin mengatakan kepada mereka bahwa dia berasal dari masa lalu bukalah masalah, tapi tidak untuk saat ini.
“Kalau begitu kau tinggal dimana?” suara itu lagi.
Spencer menganalisis suara itu. Tidak terlalu jelas, tapi jelas itu suara perempuan. Mungkin umurnya baru sebelas tahun. Dan dia menanyakan bahwa dia berasal dari bawah, berarti ada orang lain yang tinggal di atas sini.
“Maukah kau tunjukkan diri mu? Dan aku akan menceritakan semuanya,” pinta Spencer.
Tidak ada jawaban lagi.
Satu menit kemudian sesosok gadis muncul dari balik reruntuhan gedung. Gadis itu memakai baju berwarna hijau yang sudah pudar, dengan sepatu yang sudah lusuh namun masih layak pakai. Sebuah topi menghiasi rambutnya yang diikat dengan pita.
Gadis itu mendekati Spencer, seperti dugaaannya dia terlihat masih kecil. “Hai.” Sapa gadis itu. Wajahnya kotor karena debu. “Aku sudah menunjukkan diri ku, sekarang giliran mu untuk bercerita.”
Spencer diam sesaat. “Maaf, ya. Tapi maukah kau bercerita juga?” tanya Spencer.
“Jika itu yang kau mau, tentu saja.”
Mereka berjalan ditengah-tengah trotoar. Itu bukan masalah karena tidak ada mobil ataupun kendaraan lain yang lewat.
“Aku memang dari bawah sana. Tapi aku tidak tinggal dibawah sana. Aku …” jeda sebentar, “aku tinggal diatas sama seperti kalian. Hanya saja diwaktu yang berbeda. Bagunan masih berdiri dengan bagus dan banyak kendaraan dimana-mana. Bahkan semua orang tinggal diatas. Mereka menggunakan bawah tanah hanya untuk tempat tertentu.”
“Tunggu! Selama ini diatas selalu sepi dan dibawah itu yang ramai. Apa kau dari masa lalu?”
Spencer tidak menjawab, dia belum yakin dengan anak ini. “Aku rasa begitu.” Spencer memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
“Hebat. Tahun berapa tempat kau tinggal?”
“2017. Apa ada orang lain yang tinggal diatas sini?”
Wajah gadis itu tiba-tiba saja berubah menjadi murung. “Banyak sekali. Orang-orang yang tinggal diatas sini adalah orang-orang yang tidak mampu membeli rumah dibawah sana. Itu sudah lama sekali. Nenek moyang kami adalah orang-orang gelandangan yang tidak memiliki uang.” Suaranya melembut.
“Saat itu era baru dimulai. Para ilmuan perpikir jika kita tinggal dibawah maka tidak ada lagi cuaca yang terlalu panas ataupun cuaca yang terlalu dingin, bahkan badai. Jadi mereka memutuskan membuat tempat dibawah tanah. Dua puluh tahun kemudian pembangunan selesai, orang-orang yang ingin tinggal dibawah sana harus membayar ratusan juta untuk mendapat tempat tinggal yang nyaman. Mereka menjanjikan keharmonisan dan kesetaraan antar masusia. Nenek moyang kami yang tidak bisa membeli tetap tinggal di atas sini, melanjutkan hidup dari sisa-sisa.”
Mereka berhenti tepat di depan sebuah patung yang sebagian telah hancur. Ada tempat melingkar yang terlihat seperti bekas tempat air mancur. Tapi airnya sudah kering sekarang. Spencer duduk dipinggirannya, gadis itu mengikuti dengan duduk disebelahnya.
“Berarti orang-orang dibawah sana telah dibohongi. Mereka bilang semua telah mencapai kesetaraan. Tapi Apa? Masih banyak orang-orang seperti kalian yang tinggal dengan kekurangan.”
Gadis itu menunduk, Spencer memandanginya. “Ngomong-ngomong namaku Spencer.” Spencer mengulurkan tangannya.
Gadis itu menyambutnya. “Dewi.” Dewi tersenyum pada Spencer.
“Lalu bagaimana kehidupan mu disini? apakah kalian sekolah?”
“Tentu saja, kami punya sekolah. Memang tidak sebagus dibawah sana, tapi setidaknya pengetahuan kami cukup luas. Lagipula jika kami tidak belajar, dari mana kami bisa menggunakan bahasa kalian.” Sekarang mereka melanjutkan perjalanan. “Sebenarnya bukan hanya kami yang tingal diatas sini, masih banyak orang-orang dari berbagai dunia yang tinggal diatas sini. Mereka sangat ramah dan kami berlajar menguasai bahasa mereka. Dibanding dengan bertahun-tahun yang lalu sekarang orang-orang disini memiliki kedekatan dan membuat kami saling kenal satu sama lain.”
Jalanan berdebu itu sudah tidak ada, sekarang jalanan bertanah dan beberapa orang mulai terlihat. Semua orang memandangi mereka, tapi mereka bukan memandang seperti jijik ataupun marah, melainkan ingin tahu dan ingin bersahabat.
“Hampir semuanya, aku masih belum bisa menguasai bahasa Yunani, bahasa Thailand dan Jepang. Agak sulit untuk dibaca.”
“Wow, itu keren. Jadi kenapa kalian tidak menggunakan bahasa inggris saja?”
“Menurut kami bukan hanya bahasa inggris saja yang harus kami pelajari. Karena itu untuk mencapai kesamaan, kami mempelajari semua bahasa.”
Mereka menuju saebuah rumah dengan atap yang sudah bolong-bolong. Dewi mengetuk pintu itu dan seseorang muncul dari sana. Memakai sebuah tudung yang menutupi rambutnya.
“ Dari mana saja kau? Sudah ku bilang seharusnya kau membantu ku merapikan …” kata-katanya terputus saat melihat Spencer.
“Aku hanya berjalan-jalan. Kak ini teman baruku Spencer. Spencer ini Nissa, kakak ku.”
Spencer mengulurkan tangannya, mereka berkenalan singkat. Nissa melihat Spencer dengan tatapan aneh karena dia tahu pria ini bukan berasal dari atas. “Apa mau mu kesini? Apa sekarang orang-orang kalangan atas peduli terhadap kita? Atau mereka hanya ingin mengambil sebagian harta mereka yang tertinggal diatas sini?” pertanyaan itu terasa sangat menusuk.
“Kak dia bukan berasal dari bawah sana. Spencer ini berasal dari masa lalu. Bahkan orang-orang dibawah sana tidak tahu bahwa masih ada kehidupan diatas sini,” Dewi menjelaskan.
“Kau dari masa lalu? Kalau begitu kau bisa mengubah semuanyaa agar kita tidak perlu hidup seperti ini lagi,” ujar Nissa.
“Tidak-tidak. Tunggu! Aku mungkin saja bisa mengubah masa depan tapi aku tidak berhak merubahnya, hanya waktu dan seluruh umat manusia yang dapat menentukan semua ini. Menurut ku ini adalah keputusan bersama.”
Nissa mempersilahkan Spencer masuk, gadis ini tidak terlihat tua. Tapi dari sifatnya yang sudah dewasa dia terlihat seperti berumur tujuh atau enam belas tahun.
“Berapa umurmu?”
“Apa peduli mu?” sindir Nissa.
“Hanya bertanya.”
“Enam belas. Kau sendiri?” Nissa balik bertanya.
“Dua puluh tiga.”
“Kau tidak terlihat setua itu.” Nissa mengambil beberapa majalah lama dan membacanya.
“Apa yang kau kenakan itu? yang menutupi rambut mu itu?”
“Ini hijab. Untuk menutupi rambutku. Aku muslim.”
Spencer tidak begitu tahu mengenai agama. Tapi dia tahu orang muslim itu sebutan bagi orang beragama islam. Mereka tidak bicara untuk beberapa lama. Mata Nissa yang coklat mengingatkannya dengan Thania. Sifatnya memang jelas berbeda dengan Hazel. Walaupun mereka perbeda satu tahun, tapi Nissa terlihat lebih anggun dan lebih dewasa. Berkebalikan dengan Hazel yang terlihat kasar dan terburu-buru.
Dewi mengambil segelas air putih dan dua potong roti. “Maaf kami hanya punya ini untuk dihidangkan. Sebelumnya kami tidak pernah kedatangan tamu dari bawah sana. Jadi kami tidak tahu bagaimana makanan dibawah sana.” Dia hampir menghilang menuju dapur saat Spencer mengambil gelasnya. “Dan maaf jika itu tidak enak.”
Spencer meneguk airnya yang terasa sangat dingin dan segar. Lebih segar dari air yang dia minum di penampungan air milik orang-orang dibawah sana. “Rasanya lebih enak dibanding air dari bawah sana.”
“Benarkah, bagaimana makanannya. Apa mereka punya makanan jenis baru?” tanya Nissa sambil menurunkan majalah yang sedang dia baca.
“Ya, makanannya sangat baru. Hingga kita tidak bisa mengunyahnya. Kau hanya akan merasakan uap mengisi mulut mu dan boom kau kenyang.”
Kali ini Nissa menutup majalahnya dan tertarik dengan perkataan Spencer. “Benarkah? Hanya uap dan kau kenyang?”
“Tentu saja. Tapi mengunyah itu lebih enak.” Mereka berdua tertawa bersama.