The Versatile

The Versatile
Episode 24



Hazel sedang menyiapkan sarapan saat Josh menghampirinya didapur. Pakaiannya tidak seperti pakaiannya yang dia biasa pakai. Kaus oblong putih dan celana pendek selutut. Hamish muncul dan duduk di meja makan. Tanpa pakaian atasnya dan celana panjang hitamnya.


“Hey dimana pakaian mu kawan? Kau tidak ingat kita punya teman wanita disini?” Josh duduk dikursi, Hamish mengikutinya.


“Lebih baik dari pada mengintipi ku saat sedang tidur,” jawab Hamish.


Hazel tidak bisa menahan pandangannya pada Hamish jadi dia membalikan badannya berusaha menyibukkan dirinya yang sedang mencari piring. Hazel sedikit kaget, sekaligus merona, tapi dia harap Hamish dan Josh tidak melihatnya.


“Maksud mu apa? Ada yang mengintipi mu sedang tidur? Kau bercanda? Siapa yang ingin melihat pria jelek seperti mu? Apalagi saat sedang tidur!” ejek Josh.


Hamish membalikkan kursinya, kemudian duduk kembali. “Itu yang kau katakan. Tapi kenyataanya memang ada yang mengintipi ku saat tidur!” balas Hamish.


Hazel berbalik dengan pisau roti ditangannya. “Apa kalian akan terus mengatakan hal itu disini? sebaiknya habiskan sarapan kalian! Aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian!” Hazel melahap roti lapisnya.


Sekarang mereka hanya melahap roti lapis mereka masing-masing tanpa berbincang. Sepi, tapi lebih baik mereka diam daripada mereka membuat Hazel merasa bersalah membuka pintu kamar Hamish.


Hazel menggigit potongan terakhir dari roti lapisnya kemudian Hazel berjalan menjauhi kedua pria tersebut dan berhenti tepat sebelum dia keluar dari dapur.


“Ruang kaca yang aku temukan kemarin,” Hazel berhenti bicara, “aku menemukan sesuatu disana.” Kemudian melanjutkan jalannya menuju ruang kaca.


Hamish dan Josh saling memandang. Belum juga dia menghabiskan makanannya, Hamish telah meningalkannya dimeja. Sedangkan Josh menghabiskan mekanannya dengan santai, kemudaian meneguk minumnya dan berjalan menuju ruang kaca.


Hazel sedang berdiri menyandar pada salah satu kaca. Hamish masuk terburu-buru dan sudah memakai bajunya, diikuti Josh yang berjalan santai. Kemudian Hazel berdiri tegap dan melepaskan sandarannya. Kaca-kaca itu kemudian berbalik, tepat seperti apa yang telah terjadi tadi malam. Puluhan senjata dan alat-alat canggih terpajang disetiap sudutnya.


“Wow, ini semua milik ayah mu?” Josh yang tadinya terlihat santai sekarang menunjukkan wajah takjubnya.


Hazel melipat tangannya. “Aku rasa iya.” Kemudian dia berputar dan mengambil beberapa alat.


Hamish mengikuti Hazel, tapi yang dia ambil adalah revolver. Sedangkan Josh masih terpukau dengan semua ini. Hazel mengambil sebuah benda berbentuk gelang. Terlihat seperti gelang biasa,


Hazel memindai benda itu. Ada tombol kecil, sangat kecil. Hingga Hazel harus memastikannya dengan melihatnya lebih dekat. Tombol itu terlihat seperti penyambung dari kedua sisinya. Saat Hazel menekannya, gelang itu berubah bentuk menjadi menegak. Dan dikedua sisinya terdapat benda tajam yang dapat melukai kulitnya.


“Keren, kelihatannya biasa saja. Tapi ini pisau lipat berbentuk gelang,” Hazel bergumam. “Josh apa yang kau dapatkan disana.” Hazel beralih ke Josh yang sedang sibuk melihat benda-benda.


“Entahlah, tapi ini terlihat seperti kacamata biasa.” Josh mengenakan kaca mata itu dan menunjukkannya pada Hazel.


Josh menatapnya dari balik kaca mata hitamnya. Tiba-tiba matanya dipindai dari kaca mata tersebut.


“Josh pakai ini. Mungkin ada sesuatu yang bisa kau dengar,” ujar Hazel.


Josh mengikuti perkataan Hazel, dia memakainya ke telinganya. “Pemindaian mata sedang dilakukan.” Seseorang berkata lewat earphone kecilnya yang ditempelkan ke telinga. “Pemindaian selesai. Selamat datang Mr. Armor.”


“Hey bagaimana dia bisa tahu nama ku?” Josh mengucapkannya dengan kaget.


“Semua ini alat mata-mata. Selama aku bekerja aku selalu biasa dengan alat-alat hebat seperti itu walaupun aku belum pernah menggunakannya. Tapi ini …” Hamish diam sesaat. Dia memegang revolver dengan peredam diujungnya. “Aku tidak pernah melihat senjata ini, sejak ratusan tahun lalu.”


“Ya, itu keren kan? Jadi ini yang aku ingin tunjukkan. Aku tidak berniat mengintip,” ujar Hazel sambil memandang ke Hamish dengan tatapan datar.


“Aku juga tidak berniat mengejek!” bantah Hamish dengan cepat.


Hazel memutar matanya tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin membahas masalah itu lagi. Lebih baik mengalihkan pembicaraan jika tidak ingin amarahnya meledak. Pertengkaran tidak akan membuat mereka akur, padahal mereka harus bersama selama ini.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Josh sambil memandang ke Hazel dan Hamish bergantian.


“Kita kembali ke monumen itu! aku yakin ada sesuatu yang ayahku ingin aku tahu.” Jawaban Hazel begitu meyakinkan.


“Tapi kemarin kita sudah kesana dan hasilnya kita ditembaki anak perempuan itu lagi,” keluh Josh.


“Kalian ditembaki anak itu lagi? Siapa sih anak itu?” tanya Hamish dengan kesal.


“Kau tahu, sepertinya aku pernah melihat gadis itu disekolahku.” Josh mengusap dahinya, seakan dia sedang berusaha mengingat sesuatu. “Ya, aku pernah meliahatnya beberapa kali dan aku selalu mendapatinya sedang melihat ke arah ku.”


“Mungkin dia menyukai mu,” canda Hamish.


“Ya, dengan menembaki ku hingga ingin mati.” Josh memelototkan matanya ke Hamish. “Lagipula semua orang sudah kenal dengan wajah kita. Kita tidak bisa kemana-mana.” Kali ini pandangannya ke Hazel.


Hazel diam sesaat, memikirkan cara bagaimana mereka bisa pergi tanpa harus ketahuan orang lain. “Kita akan menyamar. Hamish, kau kan biasa menyamar. Bukannya itu pekerjaan mu?” tanya Hazel.


“Ya, dan aku ahli dalam hal menyamar.”


***


“Lihat apa yang kau lakukan? Kau bisa saja mengacaukan semuanya!” wanita itu berteriak penuh amarah.


“Setidaknya aku sudah berusaha tidak seperti kau, yang hanya memerintah dan marah-marah!” balas gadis berambut pirang tersebut.


Gadis berambut pirang itu duduk bersandar. Sedangkan wanita yang satu lagi sedang mundar-mandir dengan wajah bingung. Rencana mereka telah gagal, tapi mereka memiliki sejuta rencana dengan menghalalkan segala cara.


“Semua sistem mereka rusak, bahkan ID mereka tidak bisa dilacak. Mereka sedang bebas berkeliaran,” ujar wanita itu khawatir. Suaranya sedikit parau sekarang.


Senyum licik membuatnya semakin terlihat seperti malaikat iblis. “Tapi, semua orang telah mengenali wajah mereka dan pihak kepolisian sedang mencari mereka dan menjadikan mereka sebagai buronan nomor satu,” gadis berambut pirang itu menjelaskan.


Wanita itu diam sebentar, menatap kearah gadis berambut pirang tersebut. “Kau benar, kita punya kesempatan.”


***


Setelah merapikan semua sisa-sisa barang yang dia gunakan, Hazel mengganti pakaiannya dengan T-shirt dan celana jeans yang. Kemudian dia tambahkan dengan hoddie, jaket dan topi. Hazel memang tidak pandai berdanan, tapi untuk kali ini dia tidak sedang ingin pergi ke acara formal. Dia ingin menyamar dan Hazel rasa ini penyamaran yang sempurna.


Diruang tamu Josh sudah berpakaian seperti orang pada umumya, hanya saja dia menambahkan kumis untuk penyamarannya. “Bagaimana? Keren kan kumis ku?” Josh terperanjat dari duduknya saat melihat Hazel telah mewarnai rambutnya. “Rambut mu hitam? Kau mewarnainya?” tanyanya pelan.


“Yup, untuk penyamaran. Lagipula aku cocok sekali kan dengan rambut berwarna hitam?”


“Ya, sangat cocok.” Hamish muncul dari belakang Hazel sambil melihatinya dari bawah ke atas.


Kali ini Hazel tidak merona. Dengan cepat dia balas perkataan Hamish, “Kau juga cocok sekali dengan pakaian mu itu Hamish.” Hazel tertawa kecil, begitu juga Josh.


Hamish mengenakan kemeja bergaris dengan celana jeans seperti biasa. Yang aneh memang bukan pakaiannya atau cara dia memakainya. Tapi yang aneh adalah wajahnya yang berdandan ala orang culun dengan kaca mata besar dan tahi lalat besar dipipinya.


“Ini penyamaran tahu!” bentaknya. “Lagipula kaca mata ini punya fungi sama seperti kaca mata hitam mu Josh yang kau temukan di ruang kaca itu,” Hamish menjelaskan.


“Bagaimana dengan tahi lalat besar dipipi mu itu? itu juga bagian dari penyamaran mu?” tanya Josh dengan nada mengejek.


“Tentu saja bukan. Ini hanya sebagai pelengkap saja,” tambahknya sedikit malu.


“Baiklah, semunya sudah siap kan dengan penyamaran kalian? Kita berangkat bersama, tapi nanti kita berpencar setelah sampai. Sesuai dengan rencana. Pakai earpiece ini ditelinga kalian dan microphone-nya pasangkan digigi kalian.” Hazel menjelaskannya dengan cepat, tapi semua mengerti apa yang dikatakan.


"Kita berangkat sekarang!" ujar Hazel semangat.


Perjalanan mereka  berjalan lancar. Setelah memarkirkan mobil mereka, Hazel langsung menuju Monumen Nasional. Josh masuk sebagai keamanan, sedangkan Hamish sebagai wisatawan. Mereka sangat piawai saat berbaur. Hazel bergerak cepat, dia pergi melalui pintu darurat. Jalan akses menuju ke atas ditutup oleh besi dengan kode kunci keamanan.


"Aku rasa semua sistem disini telah rusak, jadi kenapa tidak sekalian aku rusak semuanya saja," ujar Hazel yang kemudian mengambil pistolnya yang dia selipkan di celananya.


Dia tidak pernah menaruh senjata tanpa tempatnya. Tapi dia harus menyembunyikan senjata itu. Hazel tidak pernah belajar menyimpan senjata seperti itu, karena itu berbahaya. Tapi dia biasa melihatnya dalam film-film action yang pernah ia tonton.


Hazel mengacungkan senjatanya ke pengunci tersebut. Dia menarik pengamannya dan menekan pelatuknya dengan cepat. Bunyi zlupp terdengar dari pistolnya. Untungnya Hazel memakaikan pistolnya peredam agar bunyi yang dikeluarkan tidak keras.


Dua tembakan baru bisa merusak pengunci tersebut. Tapi Hazel diam sesaat, seakan menunggu sesuatu. Tidak ada bunyi alarm, mungkin mereka tidak memasangkannya, atau mungkin alarmnya tidak bekerja jika kuncinya dirusak. Apapun itu yang membuat alarmnya tidak bekerja Hazel tidak perduli, yang penting dia harus masuk kedalam dan mencari apapun yang ayahnya tujukan kepadanya.


Tangga menuju puncak monumen ini cukup jauh. Jika dilihat dari luar Monas cukup tinggi. “Oke, pasti ini melelahkan,” ujar Hazel yang tidak lama dia sudah dekat puncak tanga. “Apakah aku hampir sampai? Tidak terlalu jauh,” ujarnya lagi.


Bagian atas Monas gelap, bagian pinggir-pinggirnya sudah ditutupi oleh besi. Pandangan Hazel disini terbatas, tapi untungnya dia memakai jam yang dia temukan di ruang kaca. Jam tersebut dapat menganalisis sebuah tempat dalam keadaan apapun bahkan gelap.


Tidak lama kemudian jam tersebut menemukan tombol pembuka besi-besi tersebut. Namun, tombol tersebut berada didalam sebuah kaca kecil dan kaca tersebut hanya bekerja dengan sistem suara dan Hazel tidak tahu apa yang harus dia katakan. Tapi Hazel beruasaha mencoba.


“Monas,” ujarnya pelan. Tombol itu tetap diam. “Monumen Nasional,” untuk kedua kalianya Hazel mencoba dan gagal. “17 agustus 1945,” untuk ketiga kalinya Hazel mencoba dan tidak membuahkan hasil. “Apa mungkin Lidah api emas ya?” tanya Hazel pada dirinya sendiri.


Tidak lama bunyi klik terdengar dari kaca tersebut yang kemudian membuka. Tombol tersebut Hazel tekan hingga besi-besi penghalang cahaya itu terbuka. Hazel mendekati pinggir bangunan tersebut. Dari atas sini Hazel bisa melihat kota tapi tidak seperti yang dia bayangkan. Pemandangan kota yang ia lihat cukup dekat.


“Ini aneh sekali.” Hazel mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti kenapa pemandangan dari sini tidak terlihat jauh. Hazel memang menaiki sedikit tangga, tapi dari luar Monas terlihat tinggi.


Hazel memutari tempat itu berkali-kali, tapi dia tidak mengerti apa yang terjadi. Apa yang ayahnya inginkan untuk berada diatas sini.


Hazel diam ditempatnya, earpiece berbunyi dengan keras. Suara Josh terdengar jelas ditelinganya.


"Hazel, mereka semua sedang menuju kearah mu! Segera keluar dari sana!" suara Josh tergesa-gesa. Josh sedang berjalan keluar dari kerumunan.


"Hazel kau bisa tertangkap! Cepat keluar dari sana!" ujar Hamish khawatir.


Dengan cepat Hazel menekan tombol itu lagi. Besi-besi tersebut perlahan menutup dan tombol itu tertutup kembali dalam kaca. Ruangan gelap seketika, hanya jamnya yang menjadi petunjuk jalan. Jamnya juga mendeteksi para petugas yang sedang menuju  kearahnya. Ada sekitar dua lusin petugas yang sedang menuju ke arahnya.


Tidak ada jalan lain kecuali lewat lift. Hazel membuka paksa pintu lift dengan pulpennya. Dia menancapkan pulpen tersebut ditengah-tengah, kemudian pulpen tersebut mengeluarkan besi pembuka dari ujung kanan dan kirinya.


Hazel masuk kedalam lift tersebut, dia turun perlahan dengan tangga-tangga dan pegangan seadanya. Perlahan tapi pasti. Untungnya tidak terlalu jauh untuk ke bawah. Hazel membuka penutup atas lift, hal yang sama saat Haikal menemukannya terjebak didalam lift. Tapi kali ini bukan untuk menyelamatkan seseorang, melainkan untuk menyelamatkan dirinya.


Lift kosong dan pintunya tertutup, tapi kemungkinan besar para perugas juga ada diluar sana. Jamnya mendeteksi ada sekitar enam sampai delapan perugas yang berjaga dibawah.  Hazel punya pistol, tapi mereka juga punya flazz yang bisa membuat Hazel terkapar dalam sesaat.


Hazel tidak punya pilihan, satu-satunya cara adalah dengan menodongkan pistolnya. Dia mengambil pistolnya dari celananya, kemudian menekan tombol pintu. Satu, dua, tiga. Pintu lift terbuka dan para petugas terpaku dengan kehadiran Hazel. Hazel mengacungkan senjatanya ke mereka, begitu juga mereka mengacungkan flazz ke arah Hazel. Earpiece Hazel terus berbunyi, suara Hamish dan Josh masih terus terngiang ditelinganya.


"Hazel kau dimana?" tanya Hamish.


"Hazel jawab kami!" Josh memaksa.


"Terkepung! Aku tidak bisa keluar," ujar Hazel pelan agar petugas tidak ada yang bisa mendengarnya.


Posisi Hazel tidak menguntungkan, dia kalah jumlah. Masih dalam posisi diam, seorang petugas melemparkan flazz-nya kearah Hazel. Namun, Hazel berhasil menghindar dan menekankan pelatuknya. Kali ini petugasnya lah yang terkena tembakan Hazel dikakinya.


Tidak lama seseorang petugas kembali melontarkan flazz mereka, dengan cepat Hazel membalasnya, seakan pistol mereka beradu. Tapi kali ini Hazel tidak beruntung, tembakan itu hanya jebakan agar petugas yang lain bisa mengenai Hazel dengan tepat.


Dalam hitungan detik Hazel terjatuh dan pistolnya terlepas dari tangannya. Hazel terkapar dilantai, matanya berkunang-kunang. Namun dalam pandangannya yang kurang jelas itu dia masih bisa melihat orang yang sekarang dia benci sekali. Haikal.