The Versatile

The Versatile
Chapter 16



Pukul tiga pagi, seseorang mengetuk kamar Hazel, dia melirik dari lubang pintu kamarnya. Tidak ada siapa-siapa. Saat dia kembali ke kasurnya, seseorang mengetuk kembali. Dengan cepat Hazel membukanya, dia pikir itu hanya orang iseng. Tapi lima kali orang itu mengetuk pintunya. Sebuah surat tertinggal dibawah pintunya, dia mengambilnya dan menutup kamarnya kembali.


“Temui aku sekarang dibawah, aku tahu apa yang kau cari,” ujar Hazel yang membaca surat itu. Dia tidak yakin ingin menemui orang itu, tapi dia tahu Hazel sedang mencari sesuatu. Jika orang ini benar-benar tahu apa yang dia cari, maka ia memang harus menemuinya. Tapi lain halnya jika orang itu tidak berkata bahwa dia tahu apa yang Hazel cari.


Dia mengambil jaketnya dan memakai celana panjangnya. Udara cukup dingin pagi itu. Siapa orang telah membangunkannya pagi sekali, yang jelas orang itu harus memiliki alasan yang penting. Semua orang masih tertidur, begitu juga dengan Josh dan Spencer. Awalnya Hazel ingin membangunkan mereka, tapi setelah mengingat kejadian tadi Hazel mengurungkan niatnya itu.


Sebenarnya satu-satunya jalan yang aman adalah tangga. Tapi terlalu pagi untuk berolahraga, jadi Hazel lebih memilih lift. Tidak ada orang dalam lift tersebut, tentu saja memangnya siapa orang yang bangun sepagi ini untuk pergi keluar. Hazel menekan tombol pada tulisan lantai dasar. Baru pada lantai tiga, lift tiba-tiba berhenti dan membuat Hazel panik. Tapi dia sudah bisa mengatasi kepanikannya, panik tidak bisa membuatnya berpikir jernih ataupun melakukan sesuatu yang masuk akal. Jadi dia berusaha tenang.


“Tenang Hazel, kau tidak akan tidur didalam lift!” ujarnya pada diri sendiri. Saat itu juga lampu lift mati, Hazel hanya terdiam dan menjauh dari setiap sisi lift. Apakah ada seseorang yang mengerjainya. Atau ada seseorang yang ingin menculiknya.


Keadaan semakin gelap, bahkan Hazel harus membulatkan matanya agar dapat melihat sekelilingnya, jelas hal itu akan sia-sia. Hazel mendengar hentakan kaki dari atas lift, apakah itu Josh atau Spencer yang ingin menolongnya. Atap langit-langit lift terbuka, seseorang turun dari atas sana.


“Ikuti aku jika kau ingin selamat!” ujar seorang pria. Hazel masih belum bisa melihat apa-apa. Jadi dia mengikuti pria itu. Pria itu kemudian naik kembali ke atas lift dan dia mengulurkan tangannya untuk Hazel. Hazel menggapainya. Setelah berhasil keluar dari lift itu, Hazel berusaha menyipitkan matanya akibat sinar lampu yang terlalu terang.


Seorang pria dengan celana hitam dan kaus hitam. Badannya kekar dan dari balik bajunya Hazel bisa melihat rompi anti peluru yang pria itu pakai. Orang ini jelas bukan orang biasa, dia punya rompi anti peluru yang tentu saja tidak diperlukan disini. Tidak ada peluru sejak flazz menggantikan semua senjata diseluruh dunia. Pria itu menuju tangga, Hazel mengikuti pria itu. Jalannya terburu-buru dan Hazel harus berlari utnuk menyamai langkahnya.


“Apakah kau yang menaruh surat didepan kamar ku?” tanya Hazel kemudian.


Pria itu diam, kemudian menjawab, “bukan saatnya untuk bertanya. Kau harus ikut dengan ku sebelum terlambat!”


“Tapi aku tidak mengenal mu! Dan kedua teman ku masih disini dan mereka tidak tahu kalau aku pergi.”


Seseorang datang dari bawah tangga, orang itu membawa sesuatu yang hazel kenal. Pistol. “Kenapa seseorang membawa pistol dizaman ini? bukannya pistol tidak digunakan lagi?” ujar Hazel kaget.


Pria itu menendang orang yang tadi memegang pistol, kemudian seoarang lagi muncul. Dia menggunakan teknik beladirinya dan orang itu terjatuh. Untuk seseorang yang tinggal dizaman ini, teknik beladirinya cukup bagus, bahkan bisa dibilang dia cukup mahir.


“Hey, dari mana kau belajar teknik beladiri seperti itu? oh ya, dan siapa nama mu? Aku tidak ingin ikut dengan orang asing. Jadi setidaknya aku mengetahui nama mu dan kau bukan orang asing lagi.” Jalan mereka semakin teburu-buru. Sekarang mereka berada diluar hotel, mereka keluar melewati belakang hotel.


“Haikal, itu nama ku. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus mencari tempat yang aman. Teman-teman mu aman, kita akan bertemu mereka nanti.”


  “Tunggu! Apakah ini jebakan? Kenapa kau bisa mengenal ku?” Hazel berhenti seketika.


Haikal berhenti dari jalannya. “Akan aku jelaskan nanti! Kita perlu bersembunyi sekarang!”


“Terserah kau saja!” Sekarang mereka berjalan di trotoar. “Tempat paling aman adalah rumah ku! jadi kita akan ke rumah ku!”


Malam itu sangat gelap, Hazel tidak bisa melihat dengan jelas arah mana yang ia tuju. Tapi pria itu, menuntunya kesebuah rumah, rumah yang cukup terpencil. Mereka banyak melewati rumah-rumah yang hanya berjarak lima senti meter dengan rumah yang lainnya. Memang terlihat sangat padat, tapi entah mengapa itu terlihat sangat nyaman.


Hingga sampai di rumah Haikal, Hazel tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekarang pukul tiga lewat tiga puluh, sebentar lagi akan fajar, tapi Hazel cukup lelah untuk tidak berbaring dan tidur. Haikal mempersilahkan dia tidur dengan kasurnya sedangkan Haikal diluar. Dia ingin memikirkan Spencer dan Josh, betapa dia mengkhawatirkan mereka. Tapi Hazel yakin mereka baik-baik saja. Pikiran itu terus terbayang dipikirannya hingga dia berminpi tentang Haikal.


***


Pagi itu kepala Hazel terasa pusing sekali saat dia bangun. Bau masakan tercium dari luar kamar, kemudian dia ingat disini tidak ada orang yang memasak. Maksudnya di zaman ini. Hazel keluar kamar dan mendapatkan Haikal yang sedang memasak, Hazel tidak tahu apa yang dia masak, tapi baunya enak dan membuat Hazel duduk di meja makannya. Seakan-akan menunggu masakan itu selesai Haikal masak.


“Kau sudah bangun? Cepat bersiap, pagi ini kita akan ke markas tempat ku bekerja,” Haikal menaruh masakan itu dipiring dan meletakkannya di meja. “Ini nasi goreng, kau akan suka ini. Mungkin saat di Amerika makanan mu instan kan? Disini tidak semua makanan instan, sebagian dari kami masih memakan-makanan yang perlu dikunyah.”


“Yeah, aku rasa pemikiran orang sekarang hanya yang serba instan ya? Padahal makanan seperti ini sangat enak.”


“Setelah sarapan, segera bersiap. Aku tidak mau kita telat!” perintah Haikal.


“Siap pak!” jawab Hazel seketika, seolah-olah Haikal adalah atasannya. Setelah sarapan Hazel melakukan seperti yang diperintahkan Haikal. Dia berpakaian dan setelah itu mereka meluncur menuju markas Haikal.


Markas itu berada di pusat kota, hanya saja tempat itu dilindungi keamanan yang ketat, hampir sama seperti markas CIA yang berada di Amerika. Namun perbedaannya dengan zaman dahulu adalah, zaman sekarang menggunakan ID yang berada dipergelangan tangan mereka, sehingga mudah dikenali.


Mereka menuju suatu ruangan. Mengingat keadaan seperti ini, mengingatkan Hazel dengan  Versatile tempat teraman diseluruh dunia. Tapi tempat ini tidak berada di bawah tanah.


“Kemarin kami membuntuti seseorang. Orang ini adalah orang yang telah kami cari selama dua tahun ini. Saat kami ingin menangkap pria ini, dia menemui seseorang dan berbicara mengenai sebuah mesin waktu,” Haikal diam, kemudian menatap Hazel. “Kami menunda penangkapannya dan mencari tahu apa yang sedang ia kerjakan dan kami menemukan namamu muncul, tapi anehnya namamu tidak kami temukan disemua identitas.” Haikal menatap Hazel kembali.


Hazel sedikit gugup dan terkejut, tapi dia berusaha menyembunyikannya. “Hmm, itu karena gelang identitas ku sedang dibetulkan dan ayahku mematikannya.”


“Tidak semudah itu mematikan identitas Hazel! Sebaiknya kau jujur padaku, apa yang mereka cari?”