
“Ayolah kau harus mengambil keputusan sekarang juga!” perintah seorang wanita kepada seorang anak gadis. Wanita itu memakai pakaian yang sudah pudar. Awalnya baju itu berwarna merah, tapi sekarang terlihat menjadi warna merah jambu.
“Tidak itu terlalu beresiko! Aku tidak bisa!” jawab gadis itu. Wajahnya pucat dan rambutnya yang pirang benar-benar menampakkan dirinya terlihat seperti hantu.
Kemudian gadis itu berbalik. Wajahnya menunjukkan kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk sekarang, tapi wanita itu terus mendesaknya untuk mengambil keputusan.
Tidak lama kemudian gadis itu menghela nafas pelan. Menyibakkan rambutnya yang menutupi matanya.
“Baiklah, kita akan melakukannya. Siapkan semuanya sekarang! Aku berangkat setelah matahari terbenam,” perintah gadis itu.
“Ya, membunuhnya akan memperbaiki keadaan.” Wanita itu tersenyum licik.
Kemudian wanita itu segera meninggalkannya. Sekarang gadis itu terlihat khawatir. Wanita itu telah membuatnya mengambil keputusan dengan cepat, namun apakah tepat? Bahkan gadis itu tidak yakin dengan dirinya sendiri apa yang harus dilakukannya.
***
“Hazel, jangan melamun saat sedang belajar!” suara Miss Britney menyadarkan Hazel dari lamunan. Gurunya itu berdiri di samping mejanya sambil memberikan pelototan yang tajam.
Hazel menoleh kea rah Miss Britney, namun dia kembali menatap halaman sekolah tidak menghiraukan gurunya itu. seolah apapun yang berada di halaman sekolah lebih tertarik dilihat ketimbang mendengarkan gurunya di kelas.
“Maaf Miss, tapi sepertinya halaman sekolah kita sudah dipenuhi sekumpulan polisi yang sekarang mulai masuk kedalam.” Hazel masih menghadap ke jendela. Kali ini semua teman-temannya mengikuti arah lamunannya. Begitu juga dengan Miss Britney.
Entah apa yang sedang terjadi disekolahnya, tapi Hazel berpikir bahwa sesuatu yang gawat sedang terjadi. Saat semuanya sedang sibuk melihat keluar jendela, tiba-tiba saja pintu kelas mereka terbuka. Seorang pria dengan jas hitamnya menghampiri Miss Britney.
Pria itu berbisik pada Miss Britney. Semua muridnya menatap ke arahnya dengan pandangan takut sekaligus penasaran. Hazel terlihat tenang di kursinya. Dia tahu ayahnya memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan, tapi bukan berarti itu untuk dirinya. Bisa saja ada keadaan darurat tingkat tinggi dan semua orang perlu dievakuasi.
Miss Britney mengangguk, bertanda dia telah mengerti apa yang pria itu katakan. Tidak lama kemudian Miss Britney mulai bicara.
“Miss Skylar, bisa kesini sebentar?” perintah Miss Britney dengan lembut.
Sekarang semua temannya sedang menatap ke arahnya. Seolah Hazel baru saja melakukan sebuah kesalahan fatal yang mengharuskannya dipanggil ke ruangan kepala sekolah, atau lebih buruk lagi, dikeluarkan dari sekolah. Hazel terdiam untuk beberapa saat, tapi dia sadar dan langsung mendekati Miss Britney.
Tanpa berkata-kata Hazel mengambil tasnya dan berlari keluar. Air matanya mulai mengalir sedikit demi sedikit. Apa yang dikatakan Miss Britney tadi, sudah jelas bahwa hal buruk telah menimpa keluarganya. Hazel tidak begitu yakin, tapi dia harus memastikan bahwa tidak ada hal yang buruk.
Orang-orang berseragam hitam-hitam tadi mengikuti Hazel dari belakang. Hazel terus berlari dan pergi kehalaman belakang mengambil sepedanya. Sepeda kesayangannya. Sepeda yang dibelikan ayahnya di ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
Sebenarnya dia telah disediakan mobil untuk sampai kerumahnya. Tapi dia selalu tidak suka duduk manis dibelakang seperti anak manja. Hazel mulai mengayuh sepedanya, semakin lama semakin cepat. Sekarang orang-orang itu juga mengikuti Hazel dengan mobil mereka. Tapi Hazel mengayuh secepat yang dia bisa. Air matanya keluar sekarang, tapi tidak banyak.
Saat sampai didepan halaman rumahnya, Hazel menjatuhkan sepedanya. Halamannya sudah dipenuhi karangan-karangan bunga untuk berduka cita. Hazel berlari saat berada dijalan setapak halamannya. Semua orang telah menunggunya. Termasuk ibunya yang sedang menangis di depan sebuah peti.
Hazel mendekati ibunya perlahan, kemudian menatap kedalam peti. Ayahnya telah terbaring kaku dan pucat. Namun ada sesuatu yang digenggam ayahnya. Sebuah kalung dengan bandul alphabets, ada dua huruf yang menyatu yaitu HS, mungkin maksudnya untuk Hazel Skylar. Hazel mengambil kalung itu dan ada secarik kertas menempel disana, tulisan tangan ayahnya sangat jelas sekali. Mungkin ini menjadi tulisan tangannya yang terakhir. Hazel mulai menangis kembali, kali ini lebih keras dari dugaannya.
Ibunya memeluknya erat, orang-orang mulai terdiam dan memandangi Hazel yang sedang menangis. Hazel masih menangis dipelukan ibunya, tidak lama kemudian dia berlari keluar dan pergi begitu saja.
Dia mengambil sepedanya yang tadi dia jatuhkan begitu saja ditanah. Orang-orang berseragam hitam tadi mengikutinya lagi, tapi kali ini Hazel tidak ingin diikuti. Dia ingin sendiri dan merenung. Hanya sendiri.
Jadi dia harus berusaha mengayuh lebih cepat. Tapi mobil itu lebih cepat dari sepedanya. Tentu saja, mobil mewah dengan kecepatan dua ratus empat puluh kilometer per jam dibandingkan dengan sepeda yang hanya lima kilometer per jam. Jadi dia memutuskan masuk ke sebuah gang yang sempit agar mobil itu tidak bisa mengikutinya. Dan usahanya itu membuahkan hasil. Orang-orang itu hanya diam di depan gang dengan kesal.
Sekarang dia tidak tahu harus pergi kemana. Dia tidak punya arah dan tujuan. Sekarang dia berada disebuah taman. Hazel duduk di sebuah kursi kosong. Tatapannya terpaku pada seseorang yang sepertinya dia kenal. Wajahnya sangat dia kenal. Beberapa detik kemudian dia sadar orang itu mirip dengan dirinya. Wajahnya hampir sama dengan wajahnya. Tapi dia yakin dia tidak memiliki saudara kembar.
Dia terus menatap orang itu. Tanpa disadari, orang-rang yang tadi mengejarnya telah berada dibelakangnya. Mereka menunggu Hazel, memintanya untuk ikut dan masuk kedalam mobil. Hazel menolak, tapi lengannya dicengkram kuat oleh salah satu dari mereka. Bahkan Hazel tidak tahu siapa nama mereka.
Dia tidak pernah dilakukan seperti itu oleh ayahnya. Bahkan jika orang itu melakukan hal seperti itu pada Hazel dia akan melawannya. Dan untuk beberapa saat Hazel bersikap tenang, tapi kemudian dia meninju wajah orang itu.
Pria itu terlihat muda, tapi dia tidak tahu berapa umurnya. Lagipula yang dia pedulikan sekarang adalah pergi sejauh mungkin. Semua orang berjas hitam itu sekarang mengejarnya. Dia masuk subway dengan menaiki sepedanya dan orang-orang itu masih mengejarnya. Sebuah kereta sedang berhenti dan sebentar lagi akan berangkat. Tepat sebelum pintu keretanya tertutup Hazel masuk dengan sepedanya.
Orang-orang itu hanya terdiam melihat Hazel pergi. Dan Hazel melambaikan tangannya dengan kegirangan. Sebenarnya dia tidak tahu kereta ini menuju kemana. Hazel hanya duduk dengan memegangi sepedanya. Wajahnya tertunduk, memikirkan ayahnya yang baru saja meninggal. Sekarang dia mulai mengantuk, jadi dia menyandarkan kepalanya di jendela. Matanya mulai tertutup perlahan.