The Versatile

The Versatile
Chapter 37



Hazel sudah bisa melihat Haikal dengan jelas. Dia mengintai pria itu, namun Haikal tidak menyadarinya. Hazel telah bersiap, dia menggunakan anti-flazz nya. Berjalan santai menuju Haikal dan seperti dugaanya, semua petugas menodongkan flazz kearahnya. Dia memang sudah terkenal disini. Ya, sebagai seorang yang menyebabkan semua kekacauan ini.


“Jangan mendekat!” ujar salah satu petugas.


Hazel mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. Haikal menatapnya dari jauh. Pandangannya penuh arti, tapi Hazel tidak bisa mengartikannya. Salah satu petugas mendekati Hazel. Anti-flazz memang tidak terlihat, karena itu mereka juga tidak menyadari jika Hazel memakainya. Mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan hal-hal seperti itu.


Salah satu petugas semakin mendekat dengan menodongkan flazz-nya. Hazel menatap petugas itu dengan tersenyum sinis.


“Kenapa kau tersenyum? dasar wanita aneh! Kami akan menangkap mu!” Pria itu mengambil borgolnya.


Disaat yang bersamaan Hazel merebut flazz-nya dan menembakkannya ke anti-flazz. Petugas itu membeku sesaat, dia mengira Hazel telah meleset untuk menembakkan flazz. “Kau tidak ahli dalam menembak, orang purba!”


“Memang seperti itulah intinya!” Hazel menghantam wajah petugas itu dengan gagang flazz nya.


Pria itu tersungkur ketanah. Semua orang menatap Hazel. Petugas yang lain menembakkan flazz ke arah Hazel, begitu juga dengan Hazel. Namun, yang dia incar adalah anti-flazz mereka. Mereka belum menyadari bahwa Hazel mengincar anti-flazz mereka agar Hazel lebih mudah melumpuhkan mereka semua.


Hazel mendekati Haikal seolah tidak ada yang menghalanginya. Flazz tidak mempan padanya, semua petugas telah kehilangan anti-flazz mereka. Karena kesal, semua petugas berlari ke arah Hazel untuk menangkap gadis itu.


Hazel berkelahi seperti seorang pria. Josh berlari kearah Hazel dan membatunya, Hamish, dan Spencer juga begitu. Hazel dan Spencer seperti pasangan Angelina Jolie dan Brad Pit dalam film Mr and Mrs Smith.


Seorang petugas berhasil memukul kepala Hazel dengan cukup keras dan itu membuatnya terhuyung. Pandangannya mulai berbayang, tapi dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Setelah pulih dari pukulan tersebut, Hazel mencoba mengumpulkan kekuatannya lagi. Setelah pulih, dia berbalik dan melayangkan tendangan sambil berputar. Petugas itu tersungkur ketanah. Hazel menertawainya dengan puas.


“Wow. Hazel keren! Dari mana kau belajar tendangan seperti itu?” Josh menghampiri Hazel.


“Film. Aku belajar itu dari film,” ujar Hazel yagn kemudian mendekati Haikal.


Josh tertawa geli, “Film? kau bercanda?” tanya Josh.


“Kau kira aku sedang bercanda?”


Setelah itu Josh hanya diam dan merasa heran. “Bagaimana bisa dia belajar tendangan sebagus itu dari film?”


“Tentu saja dia bisa. Dia Hazel, gadis yang bisa bertarung hanya dengan kedua tangan dan kakinya.” Spencer menepuk pundah Josh dari belakang.


Sekarang Haikal sedang menatap gadis yang selama ini dia ingin temui. “Jangan mendekat! Aku bisa menembak mu dari sini!” Jelas suaranya terdengar ketakutan.


“Silahkan saja. Kau sudah melihat bagaimana aku mengalahkan orang-orang disana,” ujar Hazel dan dia terus mendekati Haikal. Dan semakin dekat.


Jarak yang benar-benar dekat untuk bisa menembaknya, bahkan Haikal tidak perlu membidik gadis itu. Tapi dijarak yang sedekat ini Hazellah ahlinya, dia bisa melumpuhkan Haikal hanya dalam hitungan detik.


Saat seseorang membuat mu merasa lemah dihadapan orang banyak atau telah mempermainkan dan menyakiti mu, mungkin pacar atau teman pria mu, sebaiknya jangan pernah menampar mereka.


Sekali lagi, jangan pernah menampar mereka. Karena itu akan membuat mu terlihat lebih lemah. Menampar mereka itu tidak akan membuat mereka sakit, seperti yang kita rasakan. Lebih baik meninju wajah mereka hingga mereka terjatuh.


Hazel benci melihat gadis yang hanya diam karena telah disakiti. Jadi, dia akan meninju wajah Haikal yang telah menyiksanya dan membuatnya kelaparan. Dengan cepat Hazel meninju wajah Haikal. Haikal terjatuh ke tanah, namun dia berdiri kembali.


“Apa yang kau mau?” tanya Haikal. Hidungnya mengeluarkan darah dan dia mengelapnya dengan pakaiannya.


Hazel menatap pria itu lekat-lekat. “Aku hanya ingin kau ceritakan semuanya. Semua yang kau ketahui.”


Haikal mendekat ke Hazel, gadis itu secara refleks mundur kebelakang. Haikal mencondongkan tubuhnya ketelinga Hazel. “Aku tidak bisa katakan disini, semua orang melihat kearah kita. Aku tidak ingin pemerintah curiga padaku. Aku akan menemui mu setelah jam malam, tepat dimana aku membawa mu.” Haikal menunjukkan wajahnya yang serius.


“Bagaimana aku bisa mempercayai mu?” tanya Hazel kemudian.


Setelah itu dia kembali pada posisi tegapnya. Hazel tidak yakin dengan perkataan Haikal. Bagaimna dia bisa mempercayai pria itu setelah dia hampir membunuhnya. Dia tidak perlu keyakinan untuk mempercayai sesuatu, dia hanya perlu mengerti apa yang harus dia lakukan.


“Hazel petugas ada dimana-mana! Kita harus pergi sekarang!” Hamish berteriak kearah Hazel.


Haikal menatap temannya itu, entah kapan dia terakhir berbicara dengan temannya itu. Persahabatannya rusak akibat ulah haikal sendiri. Bahkan sahabatnya itu tidak mempercayainya lagi. Berkata jujur itu tidak akan membuat mu rugi dan berkata bohong itu akan membuat kau kehilangan segalanya.


***


Perkataan Haikal membuat kepala Hazel tidak karuan. Dia tidak tahu harus percaya atau tidak pada Haikal. Rumah kecil itu, tempat dimana Hazel dibawa oleh Haikal. Dia tidak tahu apakah itu jebakan atau tidak. Yang penting dia puas telah meninju Haikal hingga hidungnya berdarah.


Jam malam hanya tinggal sepuluh menit lagi dan Hazel tidak tahan untuk menunggunya. Gadis itu gelisah sejak tadi, dia sangat ingin tahu apa yang terjadi pada ayahnya. Dia harus melakukan ini, mau tidak mau.


“Kau yakin ini bukan jebakan?” tanya Spencer.


“Entahlah Spencer, aku juga tidak tahu. Tapi aku yakin dia adalah orang yang tepat untuk mencari tahu tentang ayah ku,” kata Hazel. Sebenarnya yang dia khawatirkan bukanlah dirinya atau jebakan mereka, melainkan cerita yang akan dia terima tentang ayahnya.


“Aku akan menjaga mu!” Hamish menggenggam tangan Hazel tiba-tiba.


“Hey! Apa kau harus menggenggam tangannya?” Spencer berkomentar.


“Kenapa? Kau tidak suka?” ejek Hamish. Sepertinya pria ini selalu bermasalah dengan pria lain.


“Aku tidak akan mengajak siapa pun untuk ikut dengan ku,” ujar Hazel dengan pelan.


“Apa? Itu berbahaya? Jika mereka membawa empat lusin pasukan kau akan kalah,” kata Hamish.


Hazel melipat tangannya didada. “Keputusan ku sudah bulat. Jika ini jebakan dan aku tertangkap, ada kemungkinan besar kalian untuk menyelamatkan ku. tapi jika kalian ikut dan kalian tertangkap juga, tidak akan ada harapan.”


Josh menyodorkan kaca mata hitamnya. “Bawa ini! aku yakin kau lebih membutuhkannya dibanding aku.”


Hazel mengambilnya dan memakainya. Seperti saat pertama kali Josh menggunakannya, kaca matanya memindai rentina. “Pengguna baru dikenali. Selamat datang Miss Skylar.”


“Hey Josh!” Hazel memanggil Josh yang sedang mengobrol dengna Nissa. “Dari mana kau dapatakan kaca mata ini?”


“Ruang kaca ayah mu,” ujar Josh, kemudian melanjutkan perbicangannya dengan Nissa.


Sudah jam sepuluh, jam malam telah diberlakukan. “Jika aku tidak kembali dalam waktu dua jam, cari aku.” Hazel pergi dari gang sempit tersebut.


Suasana sudah sangat sepi, bahkan rasanya angin seperti tidak berhembus disini. Hazel memandang ke atas, langitnya sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Karena gelap, Hazel mencoba untuk melepaskan kaca mata hitamnya. Lagipula ini malam, siapa yang memakai kaca mata hitam dimalam hari?


Tapi saat Hazel akan melepas kaca matanya, tiba-tiba penglihatannya berubah menjadi penglihatan malam. Kaca mata ini mendeteksi suhu panas dalam tubuh manusia. Jadi kaca matanya bisa menembus benda yang tidak bersuhu.


Hazel berjalan perlahan, dia sangat berhati-hati untuk tidak membuat keributan. Dari jauh kaca matanya telah mendeteksi kedatangan seseorang. Hazel mencoba mencari jalan lain, dia berputar yang membuat jalannya lebih jauh.


Dia tidak begitu ingat jalan menuju rumah itu. yang paling dia ingat dari tempat itu, rumah-rumah disana sangat berdekatan dan tidak memiliki halaman. Tidak seperti rumah-rumah disekitar sini yang memiliki halaman luas.


Hazel mencoba untuk mencari Haikal dengna kaca matanya. Pencarian dimulai, butuh waktu beberapa menit utnuk menemukan Haikal. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, namun tempatnya berada di ujung jalan.


Ada sebuah sepeda terparkir dihalaman seseorang. Hazel menatap kearah sepeda itu, perjalanannya cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Sedangkan dia tidak bisa menggunakan mobil karena akan terlalu berisik. Jalan satu-satunya hanyalah sepeda itu, yang tidak menimbulkan suara gaduh.