The Versatile

The Versatile
Chapter 33



“Hebat! Aku rasa semua orang telah percaya pada kita.” Spencer berbisik pada Nissa.


“Ya, tapi kau membuat kekacauan besar.” Nissa menepuk punggung Spencer.


Spencer mengerutkan dahinya, mereka berada diantara orang-orang yang sedang berdemonstrasi. Kebanyakan orang-orang yang ikut berdemonstrasi terlihat sekitar berumur dua puluh satu sampai tiga puluh. Mungkin ada yang lebih, tapi rata-rata terlihat berumur dua puluh sampai tiga puluh.


“Spencer, kau tahu ini mengingatakan aku pada apa?” tanya Nissa.


“Apa?”


“Aku pernah membaca sebuah buku sejarah dari sisa-sisa peninggalan nenek moyang kami. Hal seperti ini pernah terjadi, tapi mereka menduduki sebuah gedung yang disebut gedung MPR.”


“Benarkah? Mungkin Negara kalian sedang mengalami masa rengkarnasi.”


Nissa memandang jauh kotanya yang berbeda. Mungkin jika dia memiliki mesin waktu dia akan memilih untuk tinggal pada masa lalu. Orang-orang mulai mendorong-dorong maju dan Nissa mulai terpisah dari Spencer.


“Spencer!” Nissa berteriak. Namun suara orang-orang ini lebih keras darinya.


“Nissa! Dimana kau?” Spencer mulai panik dan mencari Nissa kemana-mana.


“Spencer! Aku disini!” Nissa berteriak lagi. Tapi Spencer benar-benar tidak mendengarnya.


Spencer berlari menjauhi kerumunan dan memilih untuk masuk kedalam Monas. Cukup ramai didalam, tapi tidak seramai diluarnya. Ada beberapa remaja yang sedang beristirahat. Di sisi lain ada sekumpulan orang yang berbicara. Tapi ada satu orang yang menarik perhatian Josh. Wanita berambut coklat yang menurutnya tidak begitu asig lagi dimatanya.


Spencer berniat memanggilnya. Namun kemudian dia ingat bahwa kakaknya itu telah melakukan hal bodoh. Spencer bersembunyi diantara orang-orang yang sedang berkerumun. Berusaha berbaur dan memperhatikan Olivia dari jauh.


Tidak lama setelah itu dia melihat Hamish dengan beberapa orang dibelakangnya sedang memegang punggungnya, seolah dia adalah temannya. Padahal jika dilihat dengan seksama, orang itu sedang berusaha mengancamnya dengan flazz.


Mereka pasti memancing Olivia dengan Hamish. Tentu saja mereka tidak akan memberikan Hazel begitu saja. Mereka lebih membutuhkan Hazel daripada Hamish.


Hamish dan orang itu berjalan entah kemana. Olivia tentu akan menjadi lawan yang berat. Bagaimana tidak, dia telah terlatih seperti Spencer untuk melakukan hal semacam ini. Pilihan Spencer yang tepat sekarang ini adalah menunggu saat yang tepat.


Dia tidak boleh menghilangkan kesempatannya yang hanya satu ini. Hamish juga penting baginya sekarang untuk mengetahui keberadaan Hazel.


***


Udara dingin yang sejak semalam menusuk kulit Josh membuatnya kebal sekarang. Hampir pukul sepuluh pagi dan Josh belum mendapatkan makan sejak kemarin. Tubuhnya gemetar, hampir setiap inci di tubuhnya dia bisa merasakan bahwa dia membutuhkan asupan makanan. Berkali-kali Josh mencoba untuk berdiri, namun kakinya tidak bisa menopang tubuhnya yang beratnya dua kali lipat dari kakinya.


Kaca mata hitamnya yang kemarin malam telah membantunya dalam pelarian berkedip-kedip mengantung dikerah bajunya. Seakan dia tahu apa yang menjadi masalah Josh. Tanpa ragu Josh memakainya.


“Terdeteksi adanya kekurangan zat mineral dan karbohidrat.” Suara mesin wanita itu mengingatkan Josh akan Hazel.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya uang?” tanya Josh pada kaca matanya yang tidak mungkin dapat dijawab. Namun ternyata suara wanita mesin itu menjawab pertanyan Josh.


Tanpa berpikir panjang Josh berdiri dari tempatnya yang seakan sekarang itu adalah rumahnya. Dengan santai dia berjalan keluar dari gang sempit itu. dia menoleh kembali kearah gang sempit itu.


Gelap dan sedikit mengerikan saat malam. Itu akan menjadi hal yang pertama kalinya dilakukan oleh Josh. Mungkin untuk yang terakhir kalinya juga. Tidur dijalanan memang tidak enak dan tidak menyenangkan, apalagi jika kau merasa lapar. Itulah yang dirasakan Josh saat ini. Hanya saja dia tidak tahu apa yang telah dirasakan orang-orang di zaman Hazel yang setiap hari harus tidur dijalan dan selalu merasa kelaparan.


Josh sekarang telah berdiri dengan sekuat tenaga yang dia bisa. Satu-satunya hal yang dia harus lakukan sekarang adalah berdiri dan menuju toko penjual makanan. Sekali lagi, ini adalah kota penuh kemewahan dan kekayaan yang menuntut uang adalah segalanya. Jadi, tidak akan ada restoran murah dengan kualitas rendah, yang ada hanya restoran mahal dengan pelayan super mewah.


Pintu terbuka seketika, padahal Josh telah melepas ID-nya yang sudah terblokir. Sepertinya saat ini kaca mata hitamnya sedang bekerja. Tempat ini masih sangat sepi, hanya Josh dan tiga orang lainya yang sedang sarapan disini.


Josh duduk dipojok restoran. Dia memang telah lama tidak memakan-makanan beruap, tapi bukan berarti dia lupa pada sistem yang ada. Josh menulis di layar mejanya untuk memesan sarapan penuh karbohidrat dan tiga gelas air putih.


Tiga menit kemudian seorang pelayan membawa pesanan Josh. Josh memakannya denganlahap atau lebih tepatnya dia menghirupnya dalam-dalam. Josh hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menghabiskan makannya. Dia juga membayarnya tanpa berpikir panjang. Saat Josh akan keluar dari toko tersebut, pandangannya teralihkan. Layar televisi ditoko tersebut memberitakan bahwa ada demonstrasi besar-besaran didepan Monas.


Josh berlari keluar, dia harus pergi ke Monas sekarang juga. Dia yakin Hazel pasti disana. Jaraknya lumayan jauh jika dia harus berjalan, jadi Josh memutuskan untuk menaiki transportasi umum. Tidak jauh dari tempatnya sekarang ada pemberhentian bus. Beberapa menit yang lalu bus sudah berangkat, berarti tiga menit lagi akan ada bus berikutnya.


Josh berdiri menunggu bus datang. Hatinya tidak tenang jika dia belum sampai disana. Pikirannya terus dibayang-bayangi akan wajah Hazel. Dia yakin Hazel akan baik-baik saja. Dia gadis pintar yang tahu caranya berkelahi, tapi tetap saja dia telah tertangkap dan Josh semakin mengkhawatirkannya.


Josh melirik jam tangannya, satu menit lagi hingga bus berikutnya sampai. Tapi Josh benar-benar tidak sabar. Baginya waktu adalah segalanya, bahkan satu detik pun tidak akan dia sia-sia kan. Tiga puluh detik lagi dan bus sudah mulai terlihat dari jauh. Rasanya Josh seperti ingin menarik bus itu.


“Ayolah, cepat!” Josh mengeluh.


Dia sedang terburu-buru sekarang. Dan bus itu berjalan sangat lambat. Pintu terbuka dan Josh masuk kedalam dengan perasaan gundah yang terus menghantuinya. Dia tetap memakai kaca mata hitamnya. Kalau-kalau ada orang yang mengenalinya dan kaca matanya sangat hebat dalam mendeteksi.


Butuh sepuluh menit untuk sampai di Monas. Bahkan dia belum sampai di Monasnya, karena jalan menuju Monas ditutup sebagian dan mengharuskan Josh untuk berjalan sisanya. Akibat kejadian semalam, kakinya masih terasa sakit hingga sekarang. Tapi tidak separah semalam, dia hampir tidak bisa merasakan kakinya, seperti mati rasa.


Josh berjalan cepat, setengah berlari. Mencoba untuk sampai secepat yang dia bisa, secepat yang kakinya bisa. Lima menit kemudian dia sampai di Monas. Orang-orang berteriak, kata-kata yang mereka teriakan sama, tapi Josh tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Terlalu bising dan terlalu banyak orang.


Tanpa pikir panjang Josh memakai kaca matanya. Dia meminta kaca matanya untuk mencari Hazel. Kaca mata itu memindai semua orang dan mencarinya menggunakan satelit. Tidak lama kemudian kaca mata itu berhasil menemukan Hazel.


“Target ditemukan! Tiga kilo meter arah timur. Berada didalam Monumen Nasional,” kaca mayanya memberi tahu.


“Baiklah.” Josh berlari menuju Hazel. Walaupun kakinya mulai terasa sakit kembali. Orang-orang semakin padat disini. Bahkan Josh hampir tidak bisa bernapas.


Sekarang dia sudah berada didalam Monas. Josh melihat kesekeliling, orang-orang melihatinya seolah dia penjahat. Tapi dia tidak memperdulikannya, yang dia perdulikan sekarang adalah mencari Hazel. Josh berkeliling tempat ini seolah dia sedang melihat-lihat. Ada seseorang yang terlihat seperti Hazel, namun Josh sedikit ragu. Perlahan-lahan Josh mendekatinya, mencoba memanggilnya.


“Hazel!” panggil Josh dengan pelan.


Gadis itu menoleh, semua orang menoleh. Termasuk orang yang sedang gadis itu mata-matai.