The Versatile

The Versatile
Chapter 32



Entah untuk kesekian kalinya Josh telah berlari. Selama dia mengenal Hazel dia telah banyak melakukan pelarian, bahkan potongan-potongan kenangan yang dia ingat adalah pelariannya yang terakhir bersama Hamish untuk menyelamatkan Hazel.


Josh menarik napas dalam-dalam seolah dia akan menyelam. Kemudian berlari dan tarsus berlari walaupun kakinya terasa sakit dan kemungkinan besar akan bengkak. Namun, setidaknya kekuatannya masih cukup sampai beberapa menit kedepan.


“Sial! Kenapa orang-orang ini tidak  berhenti mengejar ku! apa mereka tidak lelah?” Josh menyergap kaca matan hitamnya yang dia gantungkan dikerah bajunya.


Kaca mata itu memang agak menggangu karena terus bergemerincing saat Josh berlari. Bukan seperti lonceng, melainkan seperti sesuatu yang terus mengganggu pikirannya apabila kaca mata itu jatuh dan Josh harus mengambilnya. Padahal itu bukan hal penting, tapi pikiran Josh untuk mengambilnya saat jatuh adalah pilihannya.


Jadi Josh memakainya. Bunyi yang sama muncul saat pertama kali Josh memakainya. “Pemindaian mata akan dilakukan.  Jangan keluar dari prosedur sampai pemindaian selesai!”  lima detik kemudian pemindaian selesai dan bunyi zlip muncul. “Pemindaian selesai! Selamat datang Mr. Josh.”


Josh sudah terbiasa dengan kaca mata ini. Kaca mata hitamnya memindai setiap orang yang dia lihat. Kemudian suara itu muncul lagi. “Mode penyelamatan dianjurkan. Ancaman terdeteksi! Ancaman terdeteksi! Arah pukul enam, ancaman terdeteksi!”


Josh memelototkan matanya, rupanya kaca mata hitamnya bisa berganti mode. “Mode penyelamatan!” ujar Josh pelan, agar tidak semua orang menganggapnya gila karena bicara sendiri.


“Mode penyelamatan diaktifkan!” suara itu kemudian menghilang, digantikan dengan perintah-perintah yang muncul di penglihatan matanya. Josh menghindar dari sisi kirinya, flazz meluncur sangat cepat kearahnya dan dia berhasil menghindar.


“Hey, kenapa tidak sejak tadi saja aku memakai kaca mata ini! rasanya seperti bermain game di rumah dan harus menghindar dari semua ancaman,” Josh berteriak kegirangan. Mungkin hanya dia orang satu-satunya yang suka dikejar oleh lebih dari selusin petugas dengan flazz-nya.


Josh mulai menghindar dari serangan-serangan tidak terduga dari mereka. Bahkan mereka juga tidak menduga jika Josh bisa menghidari semua serangan mereka. Josh berlaga seakan dia berada difilm Matrix. Dengan kekuatan super yang bisa memperlambat laju peluru, namun Josh dengan versi yang berbeda.


“Aku rasa dengan seperti ini, aku akan senang diburu oleh mereka,” ujar Josh pada dirinya sendiri.


Kaca matanya boleh hebat dan keren, namun kaki Josh yang sudah lebih dulu berlari sekarang merasa seakan tertimpa sesuatu. Dia hampir terjatuh karena kakinya sendiri. Josh harus bersembunyi untuk selamat, karena itu satu-satunya cara untuk kakinya kembali pulih.


Lagi-lagi serangan terdeteksi, mereka menembakkan flazz kearah Josh secara bersamaan. Kaca mata hitamnya telah memperingatkan, namun untuk yang kali ini Josh hampir tidak bisa menghindar. Kakinya terlalu lelah dan jantungnya juga terdengar tidak beraturan. Beberapa detik kemudian kaca mata hitamnya memperingatkan lagi, namun bukan serangan melainkan strategi persembunyian. Josh tersenyum lebar, inilah yang dia butuhkan.


Dari arah kanan segerombolan orang sedang menuju pusat kota, padahal sebentar lagi jam malam akan diberlakukan, tinggal tiga menit lagi sebelum semua orang sudah berada didalam rumah mereka dan mengunci pintu mereka rapat-rapat. Tapi orang-orang ini apa yang mereka lakukan malam-malam begini? Apa mereka datang untuk membantu Josh? Itu tidak mungkin.


Gerombolan itu semakin dekat dan Josh semakin cepat berlari. Tinggal jarak lima meter hingga Josh sampai di kerumunan itu, namun petugas menembakkan flazz kearah Josh dan tentu saja juga kearah kerumunan. Josh berhasil menghindar sebelum flazz berhasil mendarat di tubuhnya. Sayangnya salah seorang dari kerumunan itu terkena flazz dan membuat kerumunan itu menjadi marah. Mereka seperti banteng yang sedang diadu.


Gerombolan orang-orang itu ― yang kebanyakan terdiri dari anak-anak remaja ― berlari kearah para petugas yang mengejar Josh. Kini merekalah yang menjadi sasaran para petugas.


Josh menjadi orang yang satu-satunya berlari kearah yang berlawanan. Dia bukan pergi untuk bertarung, bukan karena dia takut atau semacamnya. Josh butuh istirahat untuk memulihkan kakinya yang sejak tadi telah menjadi tumpuan hidupnya. Dan hanya inilah kesempatan satu-satunya yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi.


Josh menghindar dari tempat pertempuran itu. Dia berhenti pada sebuah gang sempit dibelakang sebuah toko. Satu menit lagi jam malam akan diberlakukan. Semua toko telah tutup sejak tadi, namun Josh tidak yakin segerombolan orang tadi sekarang sudah pulang ke rumah mereka. Pasti yang sekarang sedang mereka lakukan adalah saling memukul dengan petugas.


Josh menarik napas panjang. Alarm berbunyi disetiap sudut jalan. Menandakan jam malam telah diberlakukan. Udara semakin dingin, bahkan hujan mulai turun. Biasanya mereka menurunkan hujan saat jam malam telah diberlakukan dikarenakan orang akan lebih suka berada dirumah jika hujan sedang turun. Apalagi cuaca yang bisa diubah sesuai keinginan para petinggi Negara mengharuskan mereka siap dalam cuaca apapun. Karena itu juga rumah mereka didesain agar menyesuaikan cuaca.


Angin semakin kencang dan Josh semaikn kedinginan diluar. Dia butuh sedikit coklat panas dan sup. Kulitnya yang putih sekarang semakin pucat. Untungnya gang sempit disini tidak kotor, tidak pernah kotor lagi sejak semuanya telah berubah. Tidak ada sampah yang berserakan dijalan, bahkan air hujan yang turun langsung mengalir ke bawah tanpa membuat genangan air yang banyak.


Josh duduk disebuah kursi dibelakang toko. Walaupun udaranya dingin tapi hatinya tidak pernah dingin untuk melupakan perualangan bersama Hazel dalam hidupnya.


***


“Hazel!” Suara itu mengagetkan Hazel. Suara yang hampir dia tidak kenali.


“Dad! Tapi …” Hazel tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


“Kau rindu pada ku?” suaranya sangat lembut seakan bisa dikunyah.


“Sangat! Bahkan tidak pernah serindu ini.” Air mata Hazel mulai mengalir. Ayahnya mendekatinya dan memeluk gadis kecilnya.


“Jangan menangis! Ayah tahu kau kuat walau rapuh didalamnya. Tapi kau harus bisa menjaga ibumu!” ayahnya menatap mata hijau Hazel dan kemudian mengelap air matanya.


Dengan suara yang gemetar Hazel menjawab, “Ya, akan aku lakukan!” suaranya benar-benar goyah.


“Ayah harus pergi Hazel! Jaga ibu mu untuk ayah! Dan ingat! Masa depan memang tidak bisa dirubah, tapi untuk menggapai masa depan itu kau harus berusaha.”Ayahnya melepaskan pelukannya dan mencium kening gadis kecilnya. Kemudian berlari menjauh.


“Dad! Dad! Dad!” teriak Hazel. Kemudian matanya membuka dan mendapatkan dia berada disebuah ruangan.


Mimpi tentang ayahnya lagi untuk yang kedua kalinya. Dia ingat rasa hangat dipelukan ayahnya, seakan hal itu baru saja terjadi dan nyata. Entah pukul berapa sekarang. Hazel merasa dia telah tidur untuk beberapa hari.


Hazel bangun dari tempat tidurnya. Berusaha berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya. Ada makanan dimeja samping kasurnya. Sebuah sup. Hazel yakin ini akan menjadi sup terenak yang pernah ia rasakan. Dengan cepat dia menyergap sup itu dan memakannya denganlahap. Hal terenak yang pernah dia rasakan setelah keluar dari tempat penyiksaan terburuk itu.


“Tunggu!” Hazel berhenti sesaat dan dia ingat akan sesuatu. “Bukankah seharusnya ini terbuat dari uap?” namun Hazel kemudian melanjutkan makannya, dia terlalu lapar untuk memikirkan itu. “Masa bodo dengan itu!”


Setelah dia menghabiskan sarapannya dengan nikmat, Hazel mencoba untuk berjalan dan mencari tahu tempat ini. Hazel mendekati pintu yang ia kira akan terkunci dan ternyata tidak. Lagi-lagi hal mengejutkan dari rumah ini. pintunya memiliki kenop, tidak seharusnya pintu disini memiliki kenop.


Hazel memutar kenop itu perlahan dan melihat apa yang berada diluar sana. Rumah biasa yang seperti rumah-rumah lain disini, tapi sepertinya hanya pintu kamarnya yang memiliki kenop pintu. Hazel melewati beberapa pintu dan tidak satupun yang memiliki kenop pintu.


Televisi menyala dan ada seseorang yang duduk disana. Seorang wanita, yang mungkin telah  menjadi malaikat penolongnya. “Hai!” sapa Hazel kemudian.


Wanita itu berbalik dan tersenyum, “Kau sudah sadar?” tanya wanita itu.


“Siapa kau? Dan kenapa kau menolong ku?” tanya Hazel balik.


Wanita itu terlihat seperti wanita berumur tiga puluhan. “Ah. Aku teman ayah mu. Namaku Marie Curie. Kami bekerja untuk pemerintah.” Wanita itu berdiri dari tempat duduknya, menunggu Hazel untuk menghampirinya.


“Dad tidak pernah bercerita tentang mu.” Hazel sedikit ragu dengan orang ini, tapi dia yan telah menolong Hazel dari kesekaratannya.


“Tentu saja dia tidak akan bercerita mengenai ku sekarang. Ada saatnya dia akan bercerita nanti,” ujar Marie dengan penuh keyakinan.


“Aku rasa tidak,” tambah Hazel.


“Kenapa?” wanita itu mempersilahkan Hazel duduk.


Hazel mendekati Marie dan duduk disampingnya. “Ayahku telah meninggal,” jawab Hazel dengan pelan.


Wajah Marie berubah seketika, dia terkejut mendengar perkataan Hazel. “Apa? Tapi…” Marie melihat wajah Hazel sebelum dia menyelesaikan perkataannya. “Aku minta maaf. Aku turut berduka,” lanjutnya.


  Hazel mengangguk pelan, “Tidak apa.” Kini mereka berada pada keadaan yang sedikit canggung. “Apakah ayah pernah kesini sebelumnya?” ujar Hazel kemudian.


“Ya, kami teman kerja. Dia teman yang sangat baik. Dia juga sering menceritakan dirimu dan ibumu. Dia bilang dia orang paling beruntung didunia ini karena memiliki keluarga seperti kalian.”


“Benarkah? Dia cerita apa tentang ku?” tanya Hazel lagi.


“Dia bilang saat kaulahir dia sedikit kecewa karena kau perempuan.”


   “Ayah memang sangat ingin anak laki-laki. Tapi saat setelah melahirkan ku, ibu divonis tidak bisa melahirkan lagi,” Hazel menambahkan.


“Tapi setelah dia melihat kau tumbuh dia sangat menyayangi mu. Lebih sayang dari apapun didunia ini.”


Hazel termenung. Pikirannya keluar melayang jauh entah kemana. Namun dia masih bisa mendengarkan suara Marie walau samar-samar.


“Hazel! Hazel! Lihat!” Marie menunjuk televisinya.


Awalnya Hazel tidak mengerti tayangan televisi itu. Namun kemudian dia melihat Monas dan banyak orang yang berkerumunan. Dia mengira orang-orang itu ingin berwisata, tapi saat diperhatikan banyak orang dengan membawa poster-poster bertuliskan Kembalikan kepercayaan kami!


Hazel masih tidak paham dengan poster dan orang-orang itu, yang dia ingat sekarang Hamish. Pasti mereka membawa Hamish ke sana. Hazel mendengar beberapa percakapan petugas yang ingin membawa Hazel ke Monas untuk diserahkan entah kepada siapa.


Tapi Hazel telah kabur dan dia yakin Hamishlah yang akan menjadi umpan mereka untuk menangkap Hazel juga. Hazel tidak bodoh. Tapi dia akan kesana untuk menolong Hamish.


“Aku harus ke Monas! Kau bisa antarkan aku?” tanya Hazel pada Marie.


“Tentu,” jawab Marie singkat.