
Josh mendengar alarm berbunyi sejak tadi. Dia berusaha mematikannya, namun pertahananya sudah ditangguhkan dan butuh waktu satu jam untuk bisa masuk ke pertahanannya lagi.
Josh hanya bisa berharap Hazel dan Hamish keluar dengan selamat. Alarm terus menyala dan itu mengganggu Josh dan membuat pikirannya tidak tenang. Tapi Hamish berpesan jika dia tidak keluar selama sejam maka dia harus meninggalkannya.
Dia telah menyamakan jamnya dengan Hamish. Josh melirik jamnya, sudah hampir setengah jam dia mengunggu. Hampir setiap menit Josh terus menatap jamnya, hatinya gelisah memikirkan Hamish dan Hazel. Hingga satu menit lagi jamnya menunjukkan pukul sembilan, Josh masih yakin bahwa mereka akan keluar, walaupun kemungkinan itu sedikit.
Lima detik, empat detik, satu detik. Waktu mereka sudah habis dan kemungkinan besar mereka terrangkap. Dengan wajah sedih dan frustasi karena dia harus menghadapi kenyataan, bahwa dia harus menyusun rencana sendiri.
Hanya ada dua pilihan. Masuk untuk menolong mereka dan menjadi pahlawan atau pergi sebagai pecundang. Josh tentu akan memilih pilihan kedua jika dia ingin selamat, tapi jika dia berani mengambil resiko maka dia akan memilih pilihan pertama.
Tidak lama kemudian dia membuat keputusan. "Aku akan kembali!" wajahnya terlihat ganas saat ini. Semangatnya yang menggebu-gebu menjadikan dirinya berani menggambil resiko.
***
Udara cukup bersahabat malam ini. Dan itu menjadikan gadis berambut pirang ini menjadi kegirangan. Pasalnya rencananya yang telah dia susun sebaik mungkin pasti akam berhasil. Seolah-olah semua berada dipihaknya dan menjadi keberuntungannya.
"Cepat! Kita harus melakukannya sekarang. Aku tidak ingin menunggu mereka mengambil keputusan lama. Aku benci menunggu," ujar seorang wanita dengan memelototkan matanya ke si gadis berambut pirang tadi.
"Sabarlah! Aku sedang berusaha." Gadis itu tidak menatap ke wanita berambut coklat yang tadi memelototinya. Bukan karena takut, melainkan dia tidak ingin berdebat sekarang.
Wanita itu duduk dikursinya, memikirkan hal apa yang seharusnya dia lakukan. Sejujurnya dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia menemukan alat ini. Dia bahkan tidak memikirkan masa depan atau masa lalu yang saling berhubungan.
"Kita sudah siap! Kita akan mengudara ke seluruh dunia." Gadis itu berteriak kegirangan.
Wanita itu siap pada posisinya. Matanya tertuju pada kamera didepannya yang siap merekam setiap menit dan detik yang akan dia katakan. "Apa aku sudah rapih ?" tanyanya pada gadis itu. Ternyata sifat kewanitaannya yang ingin tampil cantik ditelevisi pun masih ada. Padahal niatnya ini untuk menguasai dunia.
Tanpa menjawab pertanyaan wanita itu, gadis pirang itu berbalik. "Kita mengudara sekarang!"
Wanita itu sedikit kesal karena pertanyaannya tidak dijawab, namun kamera sudah menyala dan dia harus bicara.
"Selamat malam seluruh dunia. Kalian memang tidak tahu siapa aku, tapi aku mengenal kalian bahkan mungkin nenek moyang kalian. Ya, aku berasal dari masa lalu. Tujuan ku kesini adalah untuk mengajak kalian berkerja sama. Aku tahu ada orang lain yang berasal dari masa lalu selain aku dan dia mengacau serta membuat masa depan berubah sedikit demi sedikit." Wanita itu berhenti sebentar. Kemudian mengangkat sebelah alisnya.
"Jika kalian bekerja sama untuk menyerahkannya pada ku, maka masa depan kalian akan aman. Tapi jika kalian tidak ingin bekerja sama, maka masa depan kalian akan berubah dan kalian akan terjebak dalam kesengsaraan hingga anak dan cucu kalian nanti." Suara wanita itu sedikit serak. Seakan paru-parunya menahan agar dia berhenti bicara.
"Waktu kalian hingga besok pagi, tepat pukul delapan pagi. Aku ingin kalian mengantarkan gadis itu ke Monumen Nasional dan jangan ada petugas polisi atau petugas bersenjata lainnya, atau kalian tahu akibatnya." Kamera mati dan wanita itu merasa sangat puas. "Kita akan mendapatkan apa yang kita mau," ujarnya pada gadis berambut pirang dengan nada jahatnya.
***
Beberapa menit yang lalu Spencer dan Nissa melihat siaran televisi yang dipajang disebuah toko. Spencer melotot tidak percaya, matanya seakan tidak ingin lepas dari siaran tadi. Tentu saja, dia tidak percaya bahwa selama ini yang memburu mereka adalah kakaknya sendiri.
Nissa melirik ke Spencer yang sejak tadi tidak menggeser matanya sedikit pun. "Spencer," panggil Nissa. "Kau baik-baik saja?" tanya Nissa.
Spencer masih tidak lepas dari televisi tersebut. "Ya, aku baik. Sebaiknya kita bergegas sebelum ada yang terluka."
Nissa menatapnya dengan tatapan bingung. "Maksud mu apa?"
"Cepat! Kau harus mengganti pakaian mu! Disana ada toko pakaian, lebih baik kita bergegas!" Nadanya terdengar khawatir sekarang.
Bahkan Nissa masih belum mengerti apa yang dikatakan Spencer. Tapi dia benar, mereka harus betgegas. Dari siaran langsung yang dia lihat tadi, Nissa bisa menyimpulkan bahwa gadis yang ada disiaran tadi adalah hal terpenting yang harus mereka cari.
"Kau pilih baju mu, aku juga harus berganti pakaian." Spencer pergi ke sudut toko dan memilah baju untuk dirinya.
Untuk Spencer, memilih baju mewah dengan jas dan dasi adalah hal biasa, bahkan kadang dia memakai baju itu untuk seragam resminya. Sedangkan Nissa gadis yang hidup dalam kesederhanaan dan lebih memilih membelanjakan uangnya untuk makanan daripada mmbeli pakaian baru.
Nissa mencari pakaian khusus wanita. Tepat berada di dekat pakaian anak-anak. Dia berputar-putar dan tidak menemukan baju yang cocok sama sekali dengan tubuhnya. Nissa memang tidak pintar memilih pakaian, apalagi dia tidak dibesarkan dengan kemewah seperti itu.
Keningnya berkerut dia tidak yakin memakai pakaian-pakaian ini. Bukan berarti tidak ada yang muat atau sesuai, melainkan karena ini akan menbuat dirinya terlihat sama dengan orang-orang diatas sini yang hidup dalam kemewahan dan tidak memperdulikan orang-orang diatas.
Nissa tidak ingin dirinya seperti zombie yang bisa dibunuh kapan saja, tapi hanya dengan berpakaian seperti merekalah dia tampak terlihat normal dengan yang lain.
Nissa memilih beberapa baju, mulai dari warna yang dia suka, model bajunya yang dia suka, bahkan yang cocok dengannya.
Dia mengeleminasi satu-persatu dan akhirnya pilihannya berada pada baju berwarna hijau muda dengan pergelangan satu garis putih. Spencer masih kecewa dengan apa yang telah kakaknya perbuat.
Tapi apa daya dia memang tidak terlalu dekat dengan kakaknya. Bahkan walaupun dia satu kantor dengannya. Spencer melihat Nissa yang sepertinya sudah selesai memilih pakaiannya. Spencer pun begitu, kali ini dia memilih t-shirt dan memadukannya dengan jas serta jeans. Mereka bertemu dikasir, mereka terdiam dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, apalagi mereka sama sekali tidak memiliki uang.
Wanita penjaga kasir itu menatap mereka bingung. "Tuan? Kau ingin membayar dengan tunai atau melalui ID mu?" tanya wanita itu kemudian.
Spencer menjawab tanpa ragu. "ID." Tentu saja karena dia tidak memiliki uang tunai.
Wanita itu diam dan seperti sibuk dengan mesin kasirnya. "Tuan? Silahkan pindai ID anda disini," ujar wanita saat melihat Spencer yang tampak kebingungan.
"Maaf, dia memang sedang mengalami masa-masa sulit sekarang ini. Dan menurut dokter dia kehilangan sedikit memorinya. Jadi maklum jika dia lupa dengan cara pembayaran disini." Nissa berbica secara spontan.
Untungnya itu membuat penjaga kasir itu percaya. "Tidak apa-apa. Silahkan pindai ID anda disini tuan." Penjaga kasir itu tersenyum kecil.
Dengan cepat Spencer meletakkan ID yang ada dipergelangan tangannya ke alat pemindai. Setelah berhasil melakukan pembayaran ― yang bahkan Spencer sendiri tidak mengetahui bahwa ID yang ia gunakan memiliki rekening.
“Rupanya menggunakan uang disini tidak mudah ya?” Spencer melontarkan sedikit lelucon, yang lebih kepada sebuah ironi.
Mereka berdua berjalan beiringan. Spencer menggenggam tangan Nissa agar mereka tidak terlihat mencolok. Tapi nyatanya itu justru membuat mereka tampak mencolok, orang-orang memandang mereka dengan senyum tersimpul dibibir mereka. Ada yang berbisik dan tersenyum kepada mereka. Akhirnya Nissalah yang melepaskan genggaman mereka.
“Aku rasa ini terlalu mencolok.” Nissa menarik tangannya, kemudian menggenggam tangannya sendiri seakan ingin berdoa. Tangannya sangat dingin, bahkan dia bisa merasakannya. Apakah karena itu Spencer menggengam tangannya, menurutnya itu hanyalah sebuah pengalihan.
Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan lewat tiga puluh malam. Semakin malam jalanan semakin sepi dan jam malam akan diberlakukan setengah jam lagi. Namun masih banyak orang-orang yang baru pulang dari kantornya. Dengan jas dan dasi-dasi yang tersimpul rapih dikemeja mereka. Sungguh ironi jika dibandingkan dengan orang-orang diatas.
Malam itu Spencer dan Nissa mencari tempat untuk menginap didekat Monas. Mereka berjaga-jaga saat keadaan genting, mereka bisa berlari ke Monas dan menyusup kedalam sana. Lagipula tempat pertemuan kakaknya dengan Hazel berada disana. Mereka tidak ingin melewatkan sedikit pun momen yang ada.
Spencer menatap ke langit yang terang, tapi sebenarnya langit itu gelap karena tidak ada bintang dan bulan. Bahkan lampu-lampu yang menyinari setiap sudut jalan, tidak bisa menandingi indahnya bulan purnama yang kadang berwarna kemerehan.
Spencer mengedipkan matanya, memikirkan semua kejadian yang telah dia alami belakang ini. Bahkan kali terakhir dia bertemu Hazel, dia menunjukkan sikap anehnya. Spencer mengedipkan matanya sekali lagi, menatap bulan yang hanya ada dalam bayangannya. Dan ide itu muncul tiba-tiba.